Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Antologi cerpen [ Nakula I ]


__ADS_3

Hari-hari berikutnya. AKU RESAH.


Mas Kaysan benar-benar memberiku buku kamasutra yang bersifat rahasia. Tidak ada yang boleh tahu, termasuk Sadewa. Aku menyimpannya bak menyimpan data paling berharga dalam hidupku. Rapat dan tersembunyi.


Di suatu malam, aku berusaha menelan ludah susah payah saat melihat gaya-gaya erotis yang tergambar dalam buku tersebut.


Kenapa seperti akrobat? apa tidak ada gaya yang lazim dilakukan.


Aku menutup buku tersebut, tapi visualisasi gambarnya membuatku kembali penasaran. Aku membukanya, dan meneliti satu persatu gambar yang disajikan secara gamblang.


Apa dulu mas Kaysan juga belajar dari buku ini. Kalau iya, diam-diam ternyata mas Kaysan menghanyutkan.


Semenjak bunda Sasmita diangkat menjadi permaisuri, aku dan saudaraku tinggal di rumah utama. Alasannya slalu klasik, pengawasan terhadap kami putra mahkota. Sebenarnya aku tidak masalah jika hanya menjadi Bendoro Raden Mas, mengingat aku adalah si bontot. Dalam istilah Jawa, Tut Wuri Handayani ( dari belakang memberi dorongan dan dukungan ). Aku sudah nyaman dengan posisi itu, apalagi jikalau mas Kaysan tiba-tiba mengguncangkan istana 'lagi' dengan kepergiannya. Itu sudah pasti menjadikan kami, anak dari permaisuri kedua harus rela menerima titah Ayahanda untuk melanjutkan kedudukannya. Dan, itu diluar keinginan mas Nanang---kakak tertua---yang lebih memilih belajar menjadi dalang. Sedangkan Mas Rama, adik kandung mas Kaysan sudah tidak berminat untuk kedudukan itu. Mas Rama lebih suka terlibat dalam bisnis yang dimiliki oleh istana. Mas Rama mendukung istana dengan caranya sendiri.


Rumah yang dulu kami tinggali tidak dijual, melainkan tetap menjadi rumah kedua jikalau kami merindukan kenangan indah di rumah itu.


Aku menyimpan buku kamasutra itu dibawah ranjang. Tempat paling mudah dijangkau oleh akal sehat namun jarang diketahui, Sadewa.


Saudara kembarku masih marah, dan tidak mau bertegur sapa denganku. Tapi mas Kaysan sudah mewanti-wanti agar aku mendekati Sadewa baik-baik.


Wajar saja, selama 25 tahun kami hidup bersama. Ada aku pasti ada Sadewa. Ikatan batin kami tentu sudah terjalin sejak kami berada di kandungan bunda Sasmita.


Sebenarnya aku sedih berpisah dengan Sadewa, tapi lebih sedih lagi jika melihat kak Rahma tak kunjung di pinang kekasih hatinya. Aku akan merasa bersalah, jika kak Rahma terus di sebut 'perawan tua' oleh tetangganya. Walaupun kak Rahma slalu menutupi kegundahan hatinya dengan afirmasi positif yang slalu ia katakan untuk dirinya.


Berkat bantuan dari mas Kaysan, semua setuju jika aku menikah duluan diantara kakak lainnya. Mereka menyebutnya


'Dilangkahi', yang berarti aku harus memenuhi persyaratan dari kakak-kakak tertua untuk memenuhi keinginan mereka sebagai bentuk izin dariku untuk menikah dan meminta restu.


Mas Rama menginginkan parfum dari Crocodile brand. Dari semua anak Ayahanda, hanya mas Rama yang maskulin dan cenderung metro seksual. Berbeda sekali dengan mas Kaysan yang gentleman dan galak! Huft...


Mas Dimas menginginkan sepatu limited edition yang aku miliki---aku tidak rela---tapi demi kak rahma---aku harus rela melepasnya---berat 70 juta buat mas Dimas yang suka bercanda kelewatan.


Mbak Nindy hanya menginginkan aku bahagia, tanpa perlu merepotkannya saat kak Rahma melahirkan nanti. Hahaha, dimana ada Mbak Jani slalu ada Mbak Nindy yang kerepotan mengurus Dalilah dan Suryawijaya. Sedangkan Mbak Jani sendiri sibuk kuliah online dan belajar dengan Ibunda. Rutinitas sehari-hari Mbak Jani kembali seperti semula. Belajar menari, membuat sesaji, ditambah parenting dan olah jiwa. Kelihatannya Mbak Jani sibuk sekali, tapi Mbak slalu menyempatkan waktu untuk mengasuh anak-anaknya sendiri dan memanjakan mas Kaysan, tentunya.


Mas Andri. Anak bunda Sekar Tanjung, tidak ada di rumah. Bunda Sekar membawanya pergi karena bunda Sekar terlibat dalam kasus penggelapan uang istana yang melibatkan mas Andri. Waktu itu terjadi geger geden di istana. Hingga Ayahanda memutuskan untuk menceraikan istri keduanya. Aku merasa bersalah karena setelahnya justru kami bertiga anak Bunda Sasmita diangkat menjadi putra mahkota. Dengan alasan keamanan, Ayahanda memboyong kami untuk tinggal di rumah utama atas izin Ibunda Ratu.


Mas Danu... Banyak yang belum mengenalnya karena mas Danu termasuk orang yang suka menyendiri. Hobinya memancing dan bekerja di bidang perairan yang masuk dalam kepemimpinan keluarga Tirtodiningrat.


Mas Danu adalah anak dari bunda Desy Hapsari dan termasuk saudara kandung dari Mas Dimas. Istri ketiga Ayahanda. Permintaan tidak aneh, tapi sulit di cari.


Begitu juga mas Aksa dan mas Airlangga, mereka anak dari istri ke empat Ayahanda. Mereka jarang di ekspos karena mereka melanjutkan pendidikan S2 di Singapura. Hanya sesekali pulang untuk acara penting, termasuk acara pernikahan ku yang akan di gelar satu Minggu lagi.


Tapi yang paling sulit dari permintaan mereka, adalah meluluhkan hati Sadewa.


Aku keluar dari kamar untuk menemui Sadewa di kamarnya. Tapi, sebelum sampai ke kamar Sadewa, aku sering mendapati Santosa dan Mbak Nindy ngobrol berdua di ruang keluarga. Mas Santosa memang bekerja untuk mas Kaysan, dan Mbak Nindy mengabdi untuk Mbak Jani. Keduanya sering berkeluh kesah tentang kedua majikannya yang slalu memiliki banyak permintaan 'aneh'.

__ADS_1


"Mbak, lihat Sadewa?" tanyaku pada Mbak Nindy.


Mbak Nindy mengangkat bahunya, ia mengibaskan tangannya mengusirku.


"Kamu butuh seribu rayuan untuk merayunya. Sana... ganggu orang pdkt aja." cibir Mbak Nindy.


"Mana mau mas Santosa sama Mbak!" balasku yang membuat Mbak Nindy geram.


"Usaha, Dik!"


Wajah Mbak Nindy masam, ia menoleh untuk melihat mas Santosa.


"Jangan memberi harapan, jika nantinya kamu hanya menghempasnya pada jurang kepedihan."


Mas Santosa memandangi Mbak Nindy, dan hanya tersenyum.


Aku... tergelak. Sungguh Mbak Nindy yang kasian.


"Kan sudah di peringatkan untuk tetap membawa paugeran dan jati diri seorang Ningrat, dimanapun kita berada. Mbak Nindy saja yang lalai." ujar ku yang semakin membuat Mbak Nindy murka.


Sebelum Mbak Nindy benar-benar menyerang ku, secepat mungkin aku menghilang dari pandangannya.


Aku mengetuk pintu kamar Sadewa.


Sesekali aku memanggilnya, tapi Sadewa masih tetap saja membisu di kamarnya. Dengan setia aku menunggunya, sambil bersandar di pintu kamar.


Masih teringat jelas, saat kami dulu sering bertengkar karena merebutkan hati seorang gadis SMP. Waktu itu ketertarikan kita hampir sama. Hingga akhirnya kami berjanji untuk tidak menaksir seseorang yang sama.


"Wa... buka pintunya. Aku ingin bicara."


"Wa..." panggilku lagi.


Berkali-kali aku mengetuk pintu kamarnya.


"Wa, apa perlu aku menunda pernikahanku. Dan, kita menikah di hari yang sama? Tapi syaratnya kamu harus memilih satu perempuan, dan jadilah laki-laki yang setia. Wa!" Aku menendang pintunya.


"Buka pintunya!"


Aku menggedor berkali-kali kamarnya hingga membuat Mbak Nindy dan mas Santosa mendatangiku.


"Belum keluar juga kembaran mu?"


Aku menghela nafas, "Sungguh marahnya Sadewa mengalahkan marahnya Mbak Jani waktu mendapati mas Kaysan di cium wanita lain."


"Apa!"

__ADS_1


Aku menoleh. Mbak Jani menggendong Suryawijaya, di sampingnya ada Dalilah yang menggelitiki kaki Suryawijaya.


"Kalian pada ngapain?" tanya Mbak Jani.


"Biasa, ndoro ayu. Masih menyelesaikan perselisihan antara si kembar." ujar Santosa.


"Cuma ditinggal nikah aja ngambeknya kayak ditinggal belahan jiwa selingkuh! Wa... makanya jadi laki-laki setia. Pacar dua, tapi ditinggal Nakula nikah kayak ditinggal pergi pacarmu dua-duanya. Malu sama tingkah laku mu..."


Mbak Jani memang blak-blakan. Di depan kamar Sadewa, dia masih berorasi menyuarakan kebenaran yang nyata.


Aku manggut-manggut setuju, sembari menggendong Suryawijaya dan membiarkan ibunya mengeluarkan pendapatnya.


"Bu... Bu... clewet." kata Dalilah.


"Sssttt... sana main dengan om Santosa."


Mbak Jani memberi kode kepada Santosa untuk membawa Dalilah bermain.


"Wa, cobalah mengerti. Dan, bicarakan dengan baik-baik."


Pintu terbuka, Sadewa berdiri sambil menguap dan mengusap wajahnya kasar.


"Kalian ngapain sih, brisik!"


Aku dan Mbak Jani saling melempar pandang, "Kamu tidur? Jam segini?" tanya Mbak Jani


"Kenapa memangnya? Ada masalah?" tanya Sadewa dengan ringan.


"Masalahnya itu kamu. Nakula mengkhawatirkan mu. Nakula ingin tahu, apa kamu sudah merestuinya untuk menikah dulu?" tanya Mbak Jani.


Sadewa melihatku. Ia mengangguk ragu.


"Tapi jangan pernah berubah menjadi orang lain dan suami yang menyebalkan seperti mas Kaysan."


"Hei!!!" sembur Mbak Jani.


Aku menyerahkan Suryawijaya ke dalam gendongan Mbak Jani.


"Terimakasih, Wa. Kamu bisa menjadi pagar bagus nanti." Aku memeluk Sadewa.


Sadewa membalas pelukanku, "Aku hanya minta, kamu harus bahagia dengan keputusanmu menikah muda. Karena setelah menikah nanti, kita tidak bisa bersenang-senang seperti biasa." Sadewa melepas pelukannya, "Satu lagi, ceritakan waktu malam pertama." lanjutnya lagi yang membuatku menjentikkan jariku di telinganya.


"Enak saja. Kalau kamu pengen, kamu repot sendiri, Wa."


"Iyalah repot, bisa-bisa nanti meninggalkan kenangan dengan sabun mandi."

__ADS_1


Kami berdua tertawa. Ada perasaan lega ketika Sadewa sudah mengizinkan aku untuk menikah. Kini giliran aku yang menunggu hari pernikahan dengan perasaan campur aduk dan ketar-ketir.


Happy reading ๐Ÿ’š


__ADS_2