
Hatiku mengembang dengan terangnya harapan, namun tidak malam ini. Tubuhku panas, sesuatu yang basah sudah merembes keluar dari celana ku.
"Mas, Jani pengen... Mas..." Aku terus menggedor pintu kamar Kaysan, sambil mengapit kedua kakiku seperti orang kebelet pipis.
Tadi setelah aku menenggak minuman yang di berikan Dimas, mendadak ada sesuatu yang ingin aku lakukan. Melihat Kaysan, nafsu duniawi ku berubah menjadi nafsu angkara. Aku ingin sekali menelanjangi Kaysan sekaligus menelanjangi diri.
"Mas... ayo..."
"Ayo to mas..." Berkali-kali aku menggedor pintu, tak kunjung Kaysan membukanya.
"Mas, ayo mas. Biar Jani yang main." Semakin aku tahan gejolak bercinta ini rasanya justru semakin aku tak bisa menahannya, "Mas, Jani udah gak tahan!" Tubuhku merosot ke bawah lantai, "Mas... mas..." Aku terus mengetuk pintu kamar.
Tak lama Kaysan membuka pintu dengan memejamkan matanya, ia menaruh baju ganti ku di depan pintu. "Itu akibatnya jika membangkang. Tidur di kamar indy!" Nada suara Kaysan meninggi.
"Tapi Jani pengen, huhuu.... Adikmu memberi obat perangsang di minuman tadi. Sekarang jadi basah, harus bagaimana ini. Jani tidak mungkin main sendiri." Aku menggeleng cepat.
"Berendam saja di air dingin, kalau perlu hujan-hujanan! Kamu ini memang setan berwajah cantik! Menyebalkan!" Kaysan menutup pintu dengan kencang.
"Dosa apa aku mas? Kamu tega melakukan ini padaku. Awas saja jika nanti kamu minta jatah!"
Aku beranjak berdiri, ku bawa langkah kakiku yang lesu menuju kamar Indy.
Akan aku balas perbuatan Dimas nanti, awas saja sudah mengerjaiku dengan obat perangsang. Batinku menggerutu kesal.
"Midnight horny, Mbak." Sadewa tersenyum jenaka, wajahnya sungguh tidak enak dilihat.
"Jadi semua ini rencana kalian? Awas!" kataku masih menahan segalanya. Rasanya aku hanya ingin dimanja-manja oleh Kaysan.
"Lain kali lebih hati-hati. Jangan mudah percaya dengan orang lain, sekalipun itu atas dasar 'tidak-enak-hati', mas Dimas emang kakak kami. Dan, dia adalah kakak paling usil."
"Mbuh." [ Tidak peduli ]
Sadewa semakin terkekeh, "Emang enak? Itu yang kami rasakan saat kami mendengar kalian bercinta tapi kami sendiri tidak bisa melakukannya. Tertahankan!" Sadewa terpingkal-pingkal saat melihat ku hanya mengeraskan rahang.
"Aku akan mengadu pada Ayahanda dan bunda Sasmita. Lihat saja, kalian pasti di hukum!" Aku berusaha menggeretak Sadewa, ia malah menajamkan matanya, "Coba saja. Hari ulang tahun adalah hari dimana kami bisa bertingkah laku seperti orang biasa. Ayahanda akan maklum dan kami tidak akan dihukum." jelas Sadewa yang membuat ku harus mengibaskan BH ke arahannya, "Awas!"
Aku kesal, ingin sekali malam ini aku akhiri dengan bercinta sepanjang malam, tapi apalah dayaku, pisang Ambon itu sedang tidak mau di ganggu. Akhirnya aku benar-benar memilih untuk berendam air dingin, ditambah lilin aromaterapi membuat ku membayangkan saat kali pertama Kaysan menyentuh tubuhku. Ah! Sial...
*
Aku menggunakan rasa di setiap langkahku.
Aku menggunakan pikir di setiap perjalananku.
__ADS_1
Dan kini engkau, sama seperti langkah dan perjalananku.
Ah.. Aku terjebak..
Entah aku menambah beban di punggungmu atau
Aku akan mendekap punggungmu..
Januari 27 2021 Yogyakarta - Rully JT.
*
Pagi harinya aku keluar dari kamar, badanku lesu. Semalam aku tak bisa tidur dengan nyenyak, aku gelisah. Berkali-kali aku minum susu untuk menetralisir tubuhku, justru aku sering mengalami kebelet pipis yang berkepanjangan.
Aku marah dengan keluarga ini, bisa-bisanya rencana jahat mereka akan membuat Kaysan membatalkan rencana puasanya.
Aku menunggu Kaysan keluar dari kamar, karena berkali-kali aku putar daun pintu tak juga bisa terbuka.
"Mas, buka dong. Rinjani sudah tidak nakal." kataku sambil mengetuk pintu kamar. "Mas, ayo buka. Rinjani sudah tidak minta jatah."
Waktu masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, masih ada waktu luang untuk bercengkrama sebentar sebelum waktunya sarapan pagi dan kembali memulai aktivitas.
"Mas." Aku bersandar di dinding, masih tak menyerah mengetuk pintu kamar. Hingga tak lama, pintu inipun terbuka.
"Adinda jangan menyentuhku." Kaysan menahan kepalaku. "Sepertinya efek obat itu masih bekerja. Pergilah sarapan dan kuliah. Kita bertemu lagi nanti malam."
"Aku mau bilang kangen." kataku berusaha meraih bajunya, "Aku sudah sadar mas. Yakin." kataku meyakinkan.
"Apa kado yang kamu berikan adalah pilihanmu dengan Dimas?"
Aku mengangguk setelah Kaysan melepas tangannya.
"Mas sudah membuka kadonya, tanpa aku?" Aku menatapnya tidak percaya, membuka kado ulang tahun Kaysan adalah hal penting yang aku tunggu.
"Semalam aku memilih membuka kado-kadonya, daripada aku yang harus memikirkan mu. Maaf." kata Kaysan tanpa merasa bersalah.
"Apa yang Nurmala Sari berikan?" tanyaku penasaran. Tidak mungkin jika ia datang tanpa membawa hadiah.
"Jam tangan." jawab Kaysan sambil menunjuk dimana letak kado yang sudah dibuka bungkusnya.
"Pasti mahal, dan kado yang aku berikan tidak ada artinya."
Aku melihat 10 macam kado yang aku pikirkan dengan kecemasan berada di atas ranjang. Sebuah boneka Teddy bear, kaos metal, kepingan CD Girl Generation, action figure Godzilla, Sneakers yang sama seperti punyaku, kemeja flanel, ikat pinggang kulit sapi, celana Cargo, kaos kaki, dan satu lagi testpack.
__ADS_1
"Apa benar hasil testpack yang kamu berikan?"
Aku merangkak ke atas ranjang, "Belum rezekinya mas." Aku mengulum senyum, "Nanti setelah mas selesai melakukan puasa mutihan, kita bisa mencobanya."
Sebenarnya aku juga sedih dengan hasil testpack kemarin. Iseng-iseng aku membeli beberapa testpack setelah pulang dari Mall. Dimaslah yang berpura-pura menjadi Suamiku, berkali-kali aku meracau padanya jika aku gelisah dengan hasilnya nanti.
Mungkin itulah sebabnya, Dimas dengan bodohnya memberiku obat perangsang.
"Mas, jangan sedih ya."
Kaysan menatapku dengan mata nanarnya. "Mungkin belum waktu yang tepat untuk membuat Rinjani kecil."
"Maaf ya mas, maafkan Rinjani kalau mas Kaysan kecewa dengan hasil pembuahan kemarin." Aku meraih jari jemari Kaysan,
"Maafkan Rinjani semalam."
Kaysan mencoba tersenyum, "Lebih baik kita sarapan, kamu pasti lelah."
"Mas akan menyimpan kado-kadonya?" tanyaku heran, apa mungkin Kaysan juga akan menggunakan jam tangan yang di berikan Nurmala Sari, jam itu pasti mahal. Terlihat dari merknya yang bernama Rolex.
"Menurutmu, bagaimana caranya menghargai pemberian orang lain?"
Suamiku pandai sekali membalikkan pertanyaan. Jawabannya jelas Kaysan akan menyimpannya.
"Lebih baik mas membeli lemari kaca baru." kataku sambil melihat pernak-pernik hadiah dari teman-teman Kaysan. Sedangkan Kaysan melanjutkan kegiatannya merapikan baju dan rambutnya.
"Hari ini mas ke kampus?" tanyaku setelah selesai menyiapkan tas ranselku. Pagi ini aku ada jam mata kuliah sejarah perkembangan budaya Islam di tanah Jawa.
"Aku akan mengantarmu ke kampus, setelah itu aku harus menemui Dimas."
Mataku membulat. "Mas tidak akan memarahi Dimas, kan?" Aku memegang lengan Kaysan. Sedangkan Kaysan hanya menyunggingkan senyum.
"Adik ku itu perlu dikasih perhitungan, dan aku perlu obat perangsang itu setelah semua ini selesai. Aku mau kamu yang bekerja semalam suntuk untuk menebus waktu yang aku tunda."
Rahangku jatuh bertepatan dengan Kaysan yang mencium keningku, "Mas, jangan begitu. Semalam aku tidak bermaksud menggoda." Aku berkata dengan mengiba, mati saja aku jika Kaysan benar-benar menggunakan obat perangsang itu untuk membuat ku kalang kabut seperti semalaman.
"Lihat aja besok adinda sayang." Kaysan menyeringai penuh arti.
*
Setelah sarapan bersama keluarga, aku dan Kaysan pergi bersama menuju kampus, tapi kali ini Kaysan hanya mengantarku sampai ke depan gerbang kampus. Berkali-kali aku mewanti Kaysan untuk tidak melakukan hal yang merugikan dirinya. Karena jika Kaysan marah, aku pastikan akan terjadi permasalahan internal yang semakin rumit.
Sehat slalu ๐
__ADS_1