
Tingkeban adalah salah satu tradisi daur kehidupan manusia dalam selametan kehamilan anak pertama yang menginjak usia kandungan tujuh bulan. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan mendoakan bayi yang dikandung agar terlahir dengan normal, lancar, dan dijauhkan dari berbagai kekurangan dan berbagai bahaya. Di Jawa sendiri tingkeban memiliki nama lain Mitoni yang berawal dari kata Pitu atau Tujuh.
Sejarah mitoni tak lepas dari peran Raja Jayabaya yang iba sekaligus terharu terhadap pasangan Nyai Niken Santingkeb dan suaminya Sediya yang berkeluh-kesah jika kesembilan anaknya tak memiliki umur panjang. Raja Jayabaya memberi saran pada Nyai Niken untuk mandi air suci setiap hari Rabu dan Sabtu. Tak lupa pembacaan do'a yang harus di rapalkan selama mandi ;
Hong Hyang Hanging Amarta. Martini Sarwa Huma. Humaningsun ia wasesaningsun, ingsun pudyo sampurno dadyo manungso.
Laku prihatin yang dilakukan Nyai Niken Santingkeb dan Ki Sediya membuahkan hasil dan memiliki anak yang berumur panjang. Dari situlah tercetusnya Prosesi Mitoni yang bertujuan pengharapan yang terbaik untuk jabang bayi dan ibunya.
[ source : Wikipedia ]
Aku memakai kain jarik berwarna hijau dengan motif batik parang asal solo. Bahuku juga tutupi dengan melati-melati yang di ronce dengan model melati siraman. Rambutku di sanggul polos dengan hiasan melati putih yang membuatku seperti memakai bando.
Senyumku mengembang saat Ayahanda selaku salah satu dari tujuh sesepuh mulai menyiramkan air kembang tujuh rupa ke tubuhku. Bibirnya sedaritadi sibuk merapal Do'a.
Satu persatu sesepuh lain, berganti menyiramkan air ke tubuhku. Do'a-do'a baik terus terdengar di gendang telingaku.
Selepas siraman selesai, Ibunda dan bunda Sasmita membantuku membersihkan tubuh dan memperbaiki riasan di wajahku.
Siraman diadakan di rumah utama, yang berarti semua keluarga besar Ayahanda berkumpul. Kepulanganku tidak disambut dengan baik oleh salah satu istri Ayahanda. Sedaritadi, meski kadang sesekali tersenyum, gelagatnya bisa aku katakan ia menaruh rasa cemburu terhadapku. Begitu juga Indy yang dulu dekat denganku, kini ia memilih menjaga jarak denganku. Entah, aku tidak aku kenapa.
Ketiadaan Kaysan membuatku merasa ada yang kurang. Tidak ada tameng yang melindungi ku, tidak ada laki-laki arogan yang membuatku aman dan nyaman. Sesaat aku merasa ada sesuatu yang ingin menyergap ku diam-diam.
Selepas siraman, dan bada isya. Akan di lakukan Do'a bersama sebagai bentuk syukur dan selametan atas jabang bayi yang aku kandung. Sambil menunggu waktunya tiba, aku duduk dengan Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya.
"Apa eyang di marahi Ayahanda?" tanyaku pelan-pelan karena tak jauh dari kami duduk, ada Ayahanda yang menatapku dengan tatapan nyalang. Dan, itu menakutkan. Aku benar-benar yakin, anakku nanti lebih sering berada di pangkuan Ayahanda daripada di pangkuannya ibu kandungnya.
"Tidak, justru kami diberikan pesangon untuk membeli oleh-oleh."
Eyang Dhanangjaya dan Mbah Atmoe lanjut menghabiskan makan malamnya, karena nantinya mereka akan melanjutkan dengan sholat malam dan wiritan di pendopo belakang.
Terdapat tumpeng nasi kuning, ayam Ingkung dan jajanan pasar lainnya yang tersaji disini. Terlihat sederhana tapi sekali lagi aku katakan, sesederhana apapun sebuah masakan/makanan, kita tetap patut bersyukur karena Gusti Sang Hyang Jagat telah melimpahkan rahmat-Nya dan kebaikan-Nya.
Sementara di pojok pendopo ada sepasang kekasih yang sedang bercengkrama. Aku tersenyum, waktu itu aku tak sengaja memergoki mereka berpelukan. Mesra, hampir saja berciuman. Jika aku tak bangun, pasti mereka sudah berbuat dosa. Cih... bukannya aku seperti ahli surga.
Ku hampiri mereka berdua, sambil membungkuk hormat saat melewati sesepuh yang aku tahu sebagian adalah mertua Ayahanda---orangtua bunda Sasmita dan Ibunda Juwita Ningrat.
__ADS_1
"Terimakasih eyang Uti, eyang Kakung untuk do'anya. Tadi mantul." kataku seraya mencium punggung tangannya.
"Mantul?" Mereka bingung dan saling menatap.
"Mantap betul eyang. Hihihi." Kembali lagi aku mencium punggung tangannya. Dan, lalu pergi.
Pengawal Ayahanda tak pernah sedikitpun mengedipkan matanya dari setiap gerak-gerikku. Huh, tak ada Kaysan, Ayahanda pun jadi.
"Nanang..." Aku memanggilnya dengan nada menggoda. Nanang melihatku, lantas ia menarik tangan Anisa dan menaruhnya di atas pahanya.
"Jangan ganggu!" ujarnya. Anisa yang melihatku hanya tersenyum simpul. Tangannya bergerak mengeratkan genggaman tangan mereka.
"Hehehe, terimakasih om Nanang dan Tante Anisa. Dalilah suka hadiahnya."
Iya, kedua sejoli tadi memberiku hadiah tujuh bulanan yang berupa Parcel perlengkapan mandi dan kostum sapi. Begitu juga dengan Dimas ia memberi Dalilah berupa piano playmat. Aku mendesis jika mengingat kelakukannya saat ulang tahun Kaysan waktu itu.
Aku menarik diri dari kedua sejoli yang tak mau di ganggu. Langkahku kembali mendekati Ayahanda saat kerumunan tamu agung sudah memadati pendopo belakang dan bersiap untuk melakukan selametan tujuh bulanan.
Aku menghela nafas lega. Setelah acara selametan tujuh bulanan berlangsung lancar dan khidmat.
Aku merangkak ke arah tiang penyangga untuk menyandarkan punggungku.
Sadewa dan Nakula, jangan tanya. Kelakuan kedua anak bontot Ayahanda ini memang di luar nalar. Saat semua kakaknya berpamitan untuk pulang, mereka masih berkutat dengan piring yang berisi makanan. "Menghadapi ibu hamil memang menguras tenaga ya, La. Aku tidak membayangkan saat Ayahanda menghadapi istri-istrinya yang hamil sampai sepuluh anak lagi." Sadewa menggeleng, ia melahap kue cucur dan mengunyahnya cepat-cepat.
"Kalian mau pulang ke rumah atau menginap disini?" tanyaku sambil mengusap perutku yang tertutupi kebaya berwarna kuning keemasan.
"Terserah Mbak mau tidur dimana, tapi kalau kita pulang dirumah tidak ada makanan." Alasan klasik, Sadewa kembali mengunyah makanannya.
"Lama-lama gendut kamu, Wa. Saingan sama Mbak Jani." ujar Nakula. Sadewa tak acuh, katanya mubadsir jika banyak makanan yang terbuang.
Saat semua orang khusyuk berdoa. Sedaritadi yang ku lihat, Nakula menjadi juru kamera. Apa Kaysan yang menyuruhnya untuk mengirim foto saat prosesi mitoni berlangsung. Jika iya, Suamiku pasti pangling karena malam ini aku tambah cantik, berseri-seri dan aduhai. Aku tersenyum kecut, berpisah baru satu Minggu saja aku sudah mulai rewel saat telepon tak diangkat,.pesan tak dibalas. Duh Gusti... aku seperti pasangan muda yang baru dilanda cinta.
Tak mendengar suaranya hatiku galau, tak mendapat balasannya hatiku curiga. Ah! cinta, satu kalimat berjuta rasanya.
*
__ADS_1
Ibunda Juwita menghampiriku dan berkata bahwa kamar yang aku tempati dengan Kaysan dulu sudah siap untuk digunakan.
Menuju kamar itu dan mengenakan kebaya. Seakan mengingatkanku saat pertama kali aku datang kesini. Tepatnya setelah pernikahan dua puluh bulan yang lalu. Waktu itu aku masih malu-malu kucing saat berdekatan dengan Kaysan. Menatapnya saja sudah membuat jantungku berdebar kencang. Ditambah lagi saat Kaysan sudah menciumku. Rasanya... aku tak bisa berkata-kata.
Tiba di dalam kamar, suasana tampak berubah. Banyak ornamen yang sudah di ganti, begitu juga ranjangnya.
"Ibunda, kamarnya habis di renovasi?"
"Iya, biar lebih bagus dan memiliki suasana baru. Kamu suka?"
Aku mengangguk, satu box bayi bercat putih juga sudah berada di samping ranjang utama.
"Ibunda juga yang membeli ini?"
Ibunda menggeleng, "Grandpa yang membelikan, itu di pesan khusus dari pabrik mebel Jepara."
Aku tersenyum. Ayahanda begitu antusias hingga membuatku 'takut' jika anakku nanti tidak seperti yang Ayahanda harapkan dan membuatnya kecewa.
"Jani sangat bersyukur Ayahanda akhirnya Ayahanda mau menerima Jani disini."
Ibunda melepas penjepit sanggul dan menyisir rambutku dengan sela-sela jarinya, "Jangan kecewakan kepercayaan Ayahanda."
Aku mengangguk, kesempatan ini akan ku gunakan sebaik mungkin.
"Mbok Darmi sudah menyiapkan air hangat untuk mandi. Mandilah. Ibunda akan keluar sebentar untuk membuatkan susu Dalilah." Ibunda mengusap perutku sebentar, lalu keluar kamar.
Ku buka almari yang menjadi satu-satunya barang lama yang di tinggalkan di kamar ini. Masih ku lihat tumpukan baju-baju milik Kaysan. Begitu juga sarung peninggalan malam pertama yang gagal.
Rinduku menguap menjadi embun malam yang membasahi pipiku. Ku ambil baju Kaysan dan mengendusnya seraya mengusap air mataku dengan kaos miliknya.
Baba kangen.
Happy Reading 💚
Maaf jika ada penggalan sejarah yang tidak lengkap 🙏
__ADS_1