
Kata 'Sudjiwo Tedjo', perempuan suka coklat dan es krim, namun perempuan lebih suka kepastian. Seperti aku sekarang, perempuan yang butuh kepastian. Harus seperti apa aku kedepannya. Berpura-pura tidak tahu semuanya, hingga menyaksikan fakta baru lagi yang aku ketahui dari orang lain. Atau, aku harus mencari sendiri fakta-fakta lain yang tidak aku ketahui tentang keluarga Kaysan.
Apa mungkin tujuan Kaysan memilihkan jurusan budaya dan sejarah adalah untuk membuka sendiri fakta yang ia sembunyikan. Jika sudah seperti itu, aku harus mengadu pada siapa, Ibunda? Tidak! Jika aku mengadu pada Ibunda sama saja aku memupuk hati Ibunda semakin terluka.
Akankah aku bisa mendampingi Kaysan hingga ikut memimpin pasukan. Bahkan aku belum bisa membayangkan bagaimana nasibku nanti. Ingin ku lebur rasa gundahku, ingin ku kubur semua rasa yang menyakitkan dada. Tapi bagaimana! Aku belum ikhlas jika Kaysan menduakanku, menduakan cintaku yang perlahan membuncah dan meluap-luap.
Disudut ini, aku termenung sejenak. Ku tatapi diorama bisu kenangan dengan Kaysan dikamar ini. Kadangkala dia suka sibuk sendiri, kadang juga dia suka melamun sendiri.
Jika sudah begitu, aku takut mendekatinya. Paling hanya menatapnya diam-diam. Memang apa yang sedang ia pikirkan. Kadang aku heran, dia tidak pernah berkeluh-kesah denganku, atau sekedar bercerita tentang masalah pekerjaannya. Aku menyadari jika Kaysan tertutup dengan masalah pribadinya, Kenapa? Apa aku tidak bisa menyeimbanginya, apa begitu tidak setaranya aku dengan Kaysan. Hingga Kaysan enggan mengungkapkan semuanya padaku.
Aku mulai menyusuri setiap sudut kamar, melihat satu persatu hiasan dinding atau hiasan-hiasan yang dipajang di kamar ini. Semua nampak biasa-biasa saja, hingga aku menatap lemari khusus baju-baju Kaysan. Dilemari kaca ini, terlihat keris-keris pusaka dan batu akik milik Kaysan. Meski tidak pernah dipakai akik-akik ini terlihat asli, begitu juga keris-kerisnya yang terlihat wingit.
Aku bergidik takut. Aku juga melihat selendang hijau yang pernah disebut Indy. Apa istimewanya selendang hijau itu untuk Kaysan hingga ia bersikukuh untuk tetap menyimpannya.
Aku menoleh melihat sekeliling. Ku telan ludahku susah payah, sebelum akhirnya aku membuka lemari kaca itu. Harumnya menyengat, terdapat wewangian dan bunga setaman di dalam lemari ini.
Aku berangsur mundur, tapi rasa penasaran yang berlebihan menarikku lagi untuk mendekati benda-benda keramat itu.
Ku sentuh selendang hijau, lembut selembut sutra. Terdapat bulatan manik-manik diujung selendang itu berwarna emas. Semakin ku genggam selendang itu, semakin ingin aku memakainya.
Aku memastikan keadaan, dirasa tidak ada seseorang yang mengawasiku.
Aku membelitkan selendang hijau itu di pinggangku. Sesuatu mendadak membuatku lemas. Aku terkulai di atas lantai. Perlahan mataku terpejam.
*
Pagi harinya, aku mendapati Mbok Darmi berada dikamarku. Sedangkan aku sudah berada di atas ranjang.
"Sudah bangun, cah ayu?" Mbok Darmi tersenyum simpul. Tercium bau dupa menyengat di dalam kamar.
"Ada apa, Mbok?" tanyaku sambil mengingat kejadian semalam. Ku lihat selendang hijau yang terbelit di pinggangku sudah tidak ada.
"Jangan disentuh apapun yang ada di dalam lemari itu. Kecuali sukmamu sudah siap, jika tidak tubuhmu akan menolak dan membuatmu tidak sadarkan diri." [ Sukma : jiwa ]
Ku pijat keningku, "Maksudnya, selendang hijau itu bertuah?"
Mbok Darmi menggeleng, "Selendang itu miliknya." Mbok Darmi menunjuk lukisan seorang wanita yang digambar Kaysan.
__ADS_1
"Tidak benar, 'kan, jika mas Kaysan memiliki pendamping gaib? Semua itu bohongkan?" tanyaku mencoba mencari jawaban.
"Setiap-setiap manusia yang terlahir dibumi pasti memilik Qorin (jin pendamping), Dan suamimu memilikinya. Seorang perempuan yang telah lama berada di sampingnya sejak ia terlahir, karena suamimu adalah laki-laki terpilih."
Mbok Darmi memegang tanganku, "Jika kamu ingin memakai selendang hijau, harus dengan seizin beliau. Jika beliau sudah mengizinkan, kamu bisa memakainya untuk menari."
Aku menengadah menatap langit-langit kamar. Mataku terpejam lalu sebutiran air mata menetes begitu saya tanpa permisi.
Aku tak mengerti ini semua harus terjadi kepadaku, aku seperti korban yang tak tahu apa-apa dan aku tetap harus menjalaninya.
"Hidup dikeluarga darah biru memang seperti ini cah ayu, apalagi suamimu bukan orang biasa. Semua darah biru pasti dilindungi oleh Leluhur, bermaksud untuk menjaga dan menjadi guru spiritual."
"Apa mas Kaysan juga menemaninya tidur?" Mbok Darmi menggeleng.
"Sudah waktunya sholat subuh. Kerjakan kewajibanmu, itu pesan dari 'den bagus sebelum pergi." Aku mengangguk.
*
Diatas sajadah yang sama, tidak ada laki-laki yang memiliki punggung bidang dengan suara yang mengalun merdu saat mengucap doa-doa kehidupan.
Tak ada laki-laki yang ku cium punggung tangannya. Aku merasa sepi.
Dulu, ku pikir menikah dengannya adalah cara menyempurnakan ibadahku.
Dulu, ku pikir menikah adalah dua orang yang menjadi satu tanpa ada selir-selir lain atau pendamping lain.
Menikah dengan Kaysan adalah keputusan besar dengan resiko besar. Kini semua resiko itu harus ku tangung. Ku lepas mukenahku, ku usap air mataku.
Jika memang benar adanya. Akan ku pupuk rasa percayaku agar semakin bertumbuh tinggi dan dalam mengakar. Agar aku terus bisa mempercayai Kaysan hanya memilihku.
Ku rapikan tempat ibadahku seperti biasanya, lalu ku langkahkan kakiku menuju lukisan wanita cantik yang tergantung di atas TV.
Aku menatapnya, jika aku hanya orang biasa. Aku akan mengaguminya meski aku bukan manusia yang memahami seni rupa.
Sekarang aku paham, jika Kaysan melihat TV yang di lihat bukan TV-nya, tapi lukisan ini.
*
__ADS_1
Pagi harinya aku sudah bersiap pergi ke kampus, karena tidak ada Kaysan aku bisa sejenak bernafas dari rutinitas ranjang. Terbesit ide untuk membawa motor sendiri, dan aku bisa pergi sebentar menemui Nina. Aku rindu gadis gempal itu.
Aku bersemangat untuk itu, dengan dalih aku ingin mengerjakan tugas kampus yang tidak aku mengerti. Aku meninggalkan si kembar dan berpamitan dengan Ibunda.
Tidak ada Ayahanda, mungkin beliau sedang dirumah istri lainnya, pikirku.
Mengendarai motor KLX hitam milik Kaysan adalah kesenangan. Sudah lama sekali aku tak menikmati udara sebebas ini. Aku seperti terlepas dari aturan yang mengekang. Ada baiknya Kaysan pergi ke Bali, aku bisa sejenak menjadi diriku sendiri, tanpa berpura-pura bahagia atau terlihat baik-baik saja. Aku memang sedang tidak baik-baik saja, aku sedang berada di fase 'capek', aku sedang butuh hiburan meski hanya bertemu dengan Nina.
*
Tiba di kampus, aku memilih tempat parkiran yang agak jauh dari kerumunan mahasiswa lain. Mencari tempat duduk untuk mengerjakan tugas-tugasku. Aku lupa, jika tugas kemarin harus dikumpulkan paling lambat jam satu siang. Sedangkan aku sama sekali belum mengerjakannya. Semalam justru aku malah menyentuh benda keramat yang membuatku pingsan.
Ku buka laptopku, sambil membuka buku-buku pelajaran yang bisa membantuku menjawab tugas dari pak Rahmat. Semoga seperti namanya, hari ini aku mendapatkan Rahmat berserta hidayahnya untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
"Susah?" Aku menoleh pada sumber suara.
"Kamu?" Mataku membulat.
"Perlu aku bantu?"
"Pergi!"
"Suatu keajaiban bisa bertemu denganmu, lagi."
Aku menghela nafas panjang, "Bukan jurusanmu, Pergi!"
"Aku mengerti, cari saja jawabannya dihalaman 13."
"Pergilah, aku sudah pusing dengan tugas ini. Ditambah dengan kehadiranmu semakin membuatku pusing."
"Aku adalah asisten dosen, jadi aku tahu tugas-tugas mana yang di berikan untuk mahasiswanya."
"Jurusanmu bahasa Jerman, jadi tidak mungkin kamu asisten dosen sejarah."
Aku menutup laptopku dan memasukkan lagi ke dalam tasku.
"Jangan ganggu aku!"
__ADS_1
*
Next π Like ya. Terimakasih π