
Keluarga Irene memutuskan untuk kembali ke Australia lebih cepat.
Sekurang-kurangnya dua hari lagi, Irene akan lenyap dari pandanganku, dan jarak akan memisahkan kita.
Bukan karena statusku yang sudah menjadi mantan, tapi ada penyesalan yang mendalam tentang kisah cinta ini.
Terpikir olehku, apakah aku harus minta maaf lagi kepada Irene?
Aku tidak mau Irene membawa luka yang akan berbuah rasa dendam yang justru membuatnya semakin susah melupakanku.
Rencana-rencana yang aku susun saat Irene berkunjung ke Jawa, hanya berakhir menjadi susunan kata untuk membuang waktu bersama, dan berakhir menjadi kalimat janji yang tak bisa aku penuhi.
Keliling kota menggunakan Vespa, lalu berakhir makan malam di sebuah angkringan. Irene slalu memimpikan itu.
Dalam imajinasinya, ia bisa menikmati tawaku di temani hiruk-pikuk kota dengan kelakar yang sering aku lakukan.
Imajinasinya melambung tinggi, lalu dalam satu hari, imajinasi pudar, cintanya tak seindah khayalannya.
Aku kapok bermain dusta, kemelut suka cita untuk menyongsong cinta telah menodai hati satu gadis cantik berhati murni.
Sayang, perih itu telah meredam amarah Irene menjadi seorang yang tak aku kenali. Irene menjauh... dan, aku merasa seolah aku kehilangan.
Duh Gusti, betapa gilanya permainan mental ini. Aku bahkan pusing dengan pikiranku yang bertolak belakang dengan apa yang aku rasakan.
*
Dalam keluargaku, tradisi adalah pengganti cinta. Kami jarang menumpahkan darah atau melimpahkan kasih sayang yang berlebihan. Tapi sebagai gantinya, ada tradisi yang sering kami adakan di istana, yang membuat kami, semua keturunan keluarga Ayahanda berkumpul.
Seperti malam ini, lagi-lagi aku harus menjadi penari di bangsal kencana. Hanya anak-anak Ayahanda yang sudah menikah yang boleh duduk-duduk santai.
Mas Kaysan sedang menyiapkan diri untuk menjadi Raja. Banyak yang harus mas Kaysan siapkan, termasuk dalam hal seni tari yang sudah sejak lama leluhur kerajaan ciptakan. Pertunjukan kali ini adalah satu ide yang di cetuskan mas Kaysan untuk mengenalkan tarian sakral kepada keluarga Irene, sekaligus menjadi salam perpisahan.
Bunda hanya slalu mengingatkan, darah biru harus bisa menari, meskipun kamu laki-laki!
Ada yang lebih sulit dari menari bukan dari gerakannya. Tapi, Irene. Konsentrasi ku buyar karena dirinya.
Gadis itu sekarang menggunakan baju kejawen yang di belikan Mbak Jani. Duduknya bersimpuh, rambutnya bersanggul. Parasnya sedaritadi menyita perhatian abdi dalem yang membantu berlangsungnya acara.
Pahit... Irene memang cantik, meski bule, kecantikannya terlihat natural.
"Wa... ayo." panggil mas Dimas. Sekarang kita masih bersiap di ruang rias. Sudah sejak lahir aroma ini menemani tumbuh kembang kami, aroma kemenyan dupa yang selalu ada di setiap ritual budaya kejawen.
__ADS_1
"Aku di barisan belakang ya, mas." ujarku.
"Formasi tetap!!!" cetusnya.
Dasar sok galak. Mas Dimas ini memang nyebelin, tidak tahu jantungku sudah tidak berdetak normal. Formasi tetap berarti yang paling muda ada di bagian depan. Aku tidak tahu, Irene duduk dimana sebelah mana, yang aku tahu tadi dia masih mengikuti Dalilah.
Irene... Irene. Kamu lebih mengacaukan pikiranku dibanding Isabelle yang sudah move on dengan adik tiri Mbak Jani. Aku gak peduli, mereka mau jadian, pacaran, atau mau nikah pun aku juga gak peduli. Paling tidak, satu masalah gadis sudah selesai.
Isabelle tinggal kenangan!
*
Memasuki bangsal kencana, suara gamelan Jawa dan sinden yang menembangkan tembang Asmaradana sudah terdengar memenuhi bangsal kencana. Tembang Asmaradana adalah tembang yang menggambarkan cinta, menggambarkan keadaan manusia ketika beranjak dewasa dan mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Itulah kenapa, sekarang yang menari adalah kami, kaum pria yang belum menikah.
Seperti terhipnotis oleh suara sinden yang mengalun merdu, para tamu undangan sudah duduk dengan khidmat.
Berbeda dengan gerak tari wanita yang lemah gemulai, gerak tari laki-laki lebih menunjukkan gerak ketangkasan, gagah, impur dan kembeng, yang menggambarkan watak sederhana, tidak banyak tingkah, dan penuh percaya diri.
Sebagai penari, memang di tuntut untuk berkonsentrasi, dan disiplin. Disinilah letak kegugupan ku sekarang. Konsentrasi ku buyar tatkala Irene duduk tepat di depanku.
Aku yang menggunakan busana terbuka, dan sudah bertelanjang dada, semakin di telanjangi diam-diam. Irene, sesekali tersenyum saat tatapan kami tak sengaja bertemu.
Duh Gusti... Aku mau nari dulu, setelah ia aku luruskan niat ku untuk meminta maaf dan memenuhi janjiku pada Irene.
*
"Aku tidak bisa!" jawab Irene. Ia kebingungan saat melihat jok Vespa yang memang tidak nyaman untuk seorang wanita yang menggunakan jarik.
"Duduknya miring!" ujarku lagi.
Setelah selesai menari. Aku buru-buru mengganti pakaian dan menghapus sedikit make-up di wajahku.
Aku bahkan meninggalkan acara yang belum selesai di bangsal kencana. Aku menculik Irene dari bapaknya yang sedang bercakap-cakap dengan Ayahanda.
"Nanti jatuh!" saut Irene.
"Pegangan!"
"Gak! Kamu bukan pacarku!"
"Ayolah... keburu papamu tahu aku membawamu pergi. Ayo! Kalau tidak aku akan..."
__ADS_1
Gadis itu lalu mendudukkan tubuhnya di jok belakang. Tangannya dengan kaku melingkar di perutku ragu-ragu.
"Pegangan yang benar! Kalau kamu jatuh, bukan salahku!" Ha-ha-ha...
Irene mencubit perutku. Lalu tangannya dengan erat memegang perutku.
"Jangan di lepas, apalagi saat melewati polisi tidur."
Dasar akal bulus, pantes aja mas Nanang suka banget membawamu saat pacaran dengan Mbak Jani. Emang ya, laki-laki memang memiliki banyak akal untuk mendekatkan diri dengan seorang gadis yang di incar.
"Wa... kita mau kemana?" tanya Irene saat kita sudah memasuki jalanan kota.
"Wa... nanti kita di tangkap polisi, aku tidak memakai helm!" ujar Irene lagi penuh ketakutan.
"Polisinya teman Ayahanda! Tidak ada yang berani dengan beliau!" kataku lagi.
"Kenapa begitu? Tapi kita menyalahi aturan!"
Aku mendesah lelah, akhirnya kami berhenti di depan sebuah cafetaria. Gadis ini masih saja berkelit mempermasalahkan hal yang harusnya tidak ia pikirkan.
"Di sini orang yang memakai sanggul tidak di tangkap polisi. Lagipula, mana bisa memakai helm saat rambutmu masih ada kondenya!"
"Lalu untuk apa kamu mengajakku pergi?" tanya Irene, ia menatap sekeliling.
"Aku malu!"
Bule memakai baju kejawen? Slalu menjadi pusat perhatian! Apalagi mesin Vespa yang tidak aku matikan. Kami berdua menjadi pusat perhatian.
"Ada hal yang harus aku bicarakan! Sekarang..." kataku mengebu-gebu.
"Apa?" Irene menatapku.
"Aku akan melanjutkan S2 di Australia! Kamu mau menemaniku?" tanyaku...
"Tapi di Australia tidak ada keluargamu? Kamu sendiri!" jawab Irene, ia tidak percaya. Aku pun begitu. Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku, begitu ringan.
"Aku akan belajar untuk dewasa! Seperti mas Kaysan dulu!"
Irene mengangguk, "Aku akan menunggumu... di sana, di rumahku."
Senyum itu merekah, membuat indah...
__ADS_1
Hingga malam itu, kami kembali melanjutkan perjalanan lagi memutari kota yang akan membuatku rindu.
...TAMAT....