Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 47. [ Honey moon ]


__ADS_3

Hanya dua jam aku terpejam, tubuhku terguncang oleh tangan yang memegang lenganku. Memekik dengan lembut, "Bangun, Jani. Sudah subuh." Mataku berat untuk terbuka, tubuhku pegal semua.


"Bangun, Jani. Mandi." Kaysan menepuk bahuku.


Aku berdehem, mengerjap-ngerjapkan mataku pelan. Cahaya lampu utama memancar dengan terangnya.


"Silau mas." Ku tutup lagi wajahku dengan selimut.


"Bangun, ayo sholat berjamaah." Ajaknya sambil menarik selimutku, memiting hidungku agar kehilangan nafas.


Benar saja, aku terengah-engah. Dengan buru-buru dan perasaan yang malas aku bangun dan duduk disisi ranjang. Benar saja ini seperti early morning blue. Dimana perasaan gelisah, cemas, malas, dan tak karuan beradu menjadi satu. Perpaduan rasa yang membuyarkan segalanya. Aku masih ingin tidur dan bangun nanti malam.


"Mandi dulu, Rinjani."


"Hmm..." Aku mengangguk, dengan berat hati aku membuka mataku. Aku terkesiap, aku lupa jika tidak pakai celana.


"Tutup matamu, mas. Jangan lihat aku!" kataku cemas. Terlebih semalam kita melakukan pemanasan dibawah cahaya temaram. Kini lampu utama begitu menyoroti tubuhku yang nakal.


Mataku mengedar mencari Kaysan.


Dia duduk disofa, rambutnya sudah basah dan sudah menggunakan baju Koko dan sarung. Tak lupa kopiah hitam dikepalanya.


Aku menarik kaos yang aku pakai sampai ke bawah. Biar saja molor, aku tak peduli.


"Curang." Aku berjalan mendekatinya, menyaut handuk yang ia pegang. Dia hanya membalas dengan senyuman.


"Carikan Mbok Darmi mas." pintaku sambil berjalan menuju kamar mandi, Kaysan mengiyakan, lalu berjalan keluar dari kamar.


Belum ada tiga jam, aku sudah keramas dua kali. Ingin ku catat rekor baru di buku harianku.


Suara ketukan pintu terdengar, "Ya, sebentar." kataku sambil mengguyur tubuhku dibawah guyuran shower. Entah kenapa aku lebih suka mandi pakai gayung, sensasinya lebih greget daripada mandi dibawah shower begini.


Selesai, aku menangkup tubuhku dengan handuk. Membuka pintu kamar mandi, terlihat Kaysan berdiri diambang pintu sambil membawa tas ranselku.


"Mbok Darmi menaruhnya di depan pintu semalam." jelasnya sambil menyerahkan tas ranselku.


"Terimakasih mas." Aku masuk lagi ke kamar mandi, akan menggelikan jika harus ganti di kamar utama, ditatap Kaysan dengan mata galaknya. Membayangkan saja aku sudah merinding.


Aku keluar dari kamar mandi, Kaysan masih berdiri sambil menatapku dengan wajah datar.


"Biasakan untuk terbiasa."


Dahiku mengerenyit, "Maksudnya?"

__ADS_1


"Ini kamarmu, kamu bebas melakukan apa saja yang kamu mau disini. Termasuk ganti baju di kamar utama."


Tenggorokanku seperti tersedak biji salak yang tersangkut, "Gila..." kataku sambil berjalan tergesa-gesa menuju kamar. Tanganku sudah mengobrak-abrik isi tasku untuk mencari mukena.


Kaysan datang, tersenyum riang. "Sudah siap?"


"Siap." kataku mantap.


Kaysan berjalan menuju sisi kamar yang terlihat senggang, sembari menggelar dua sajadah besar. Ia melakukan kewajibannya sebagai imam.


*


Rasa kantukku mengajakku untuk berbaring lagi diatas ranjang. Namun, suara ketukan pintu kamar terdengar selepas kami berdua menyelesaikan sholat subuh.


"Siapa mas?" tanyaku dengan raut wajah bingung. Kenapa sepagi ini sudah ada orang yang mengetuk pintu kamar, apa jam segini para abdi sudah harus melakukan pekerjaannya. Bahkan semalam ku lihat para abdi juga baru beristirahat setelah acara selesai. Mereka juga harus membereskan sisa-sisa pesta semalam, jadi apa kesimpulan hidup disini harus tahan banting? Termasuk aku nanti, termasuk Kaysan juga? Ini luar biasa mengejutkan.


"Cah ayu sudah bangun?" Mbok Darmi membawa nampan yang berisi dua teh hangat. Menaruhnya dimeja dekat sofa sambil membungkuk ke arah Kaysan dan ke arahku. "Diminum cah ayu pumpung masih hangat." Aku melongo, aku tak biasa mendapatkan perlakuan istimewa. Dipagi ini, dipagi yang masih belum memancarkan cahaya matahari, aku menyadari jika Rinjani telah hilang.


Ku tatap Kaysan yang hanya tersenyum, tak menjelaskan apa-apa. Mbok Darmi yang menyadari kecanggungan ini akhirnya angkat bicara, "Setiap hari 'den bagus bangun jam segini dan slalu ditemui teh tawar hangat."


Aku mengangguk, "Terimakasih, Mbok." Seulas senyum ku kembangkan. Karena aku tidak tahu lagi harus berkata apa lagi selain mengangguk, tersenyum.


"Mbok Darmi akan menjadi abdimu, yang akan membantumu selama disini. Belajarlah dengan baik jika tidak Mbok Darmi yang akan dihukum oleh Ayahanda."


Aku menatap Mbok Darmi dan Kaysan secara bergantian, "Kenapa bukan aku yang dihukum? Kenapa Mbok Darmi, itukan tidak adil."


Alisku bertemu, "Aku tanggung jawab mas Kaysan."


"Sudah-sudah cah ayu, kamu tangung jawab kami berdua disini. '*de*n bagus, mobil sudah siap."


Aku terkejut, padahal niat awalku mau tidur lagi.


"Baik, Mbok. Terimakasih. Tolong bilang pada Ayahanda dan Ibunda jika Kaysan dan Rinjani akan pergi ke villa dekat pantai."


Mbok Darmi tersenyum penuh arti, "Baik, silahkan bersenang-senang 'den, cah ayu." Mbok Darmi membungkuk dan berlalu keluar dari kamar.


"Mas, kita mau kemana?" Aku pindah ke sofa setelah sedaritadi hanya duduk di sisi ranjang. Menemani Kaysan yang belum juga menyeruput teh hangatnya.


"Minum mas." Ku ambilkan cangkir miliknya.


"Besok kamu yang buat teh tawar hangat, setiap pagi setelah sholat subuh."


Ini bukan hal baru untukku, tapi ini sungguh-sungguh permintaan pertama setelah statusku menjadi istri.

__ADS_1


"Baik mas, lalu apa lagi?" tanyaku, sekalian saja bertanya daripada nanti tersesat di jalan. Eh, tersesat di kebingungan.


"Ciuman selamat pagi." Kaysan menaruh cangkir teh di meja, lalu menatapku dengan manja. Tersenyum mengisyaratkan sesuatu.


Kaysan menempelkan keningnya di keningku, "Lakukan."


Ku telan ludahku susah-susah, tiba-tiba matanya terpejam. Astaga, dia menunggu aku melakukan itu. Aku memang pernah menyuruhnya dulu untuk menciumku, tapi itu dulu saat aku menguji nafsunya. Kini malah aku yang terjebak dalam situasi 'seperti ingin berlari tapi tak bisa.'


Ku pejamkan mataku, lalu menempelkan bibirku di bibirnya. "Sudah." kataku sambil tersipu. Kaysan membuka matanya, "Baiklah. Cukup untuk pagi ini. Ayo kita pergi."


"Jani mau tidur lagi mas."


"Nanti boleh tidur di villa, sepuasmu." Kaysan berjalan menuju lemarinya, mengambil beberapa baju ganti dan memasukkan ke tas ranselnya.


"Apa mas bermaksud mengajakku bulan madu?" Aku tersenyum kaku sambil mengekori langkahnya.


"Kamu mau?" Kaysan berbalik sambil merengkuh pinggangku. Menempelkan bibirnya di telingaku.


"Tadi malam baru uji coba, Rinjani. Malam nanti kamu akan habis diranjangku!"


Meletup-letup hatiku, jika uji coba tadi malam sudah membuatku basah Apa lagi nanti malam... benar-benar akan banjir.


Pipiku semerah Cherry, ku sembunyikan wajahku di ketiaknya. Entah kenapa ketiak ini begitu candu untukku. Apa lagi bulu-bulu ketiaknya, membuatku ingin menjerit.


*


Aku berusaha membesarkan hati saat berada di depan pusara ibu. Makam ibu terlihat lebih cantik dari terakhir aku kemari, banyak sekali bunga mawar putih dan melati disini. Kaysan bilang ini adalah makam keluarga, aku dibuat bingung. Jika pernikahan kami adalah Rahasia, kenapa Kaysan membawa jasad ibu bersemayam di sini, bukannya ini akan menjadi hal yang membuat tanda tanya di kalangan keluarga lainnya. Aku tak mengerti, kenapa begitu rumit untuk kisah ini. Bahkan lebih rumit dari cinta pertamaku.


"Terimakasih mas." Aku tersenyum kecut, dibalas sentuhan lembut di pipiku.


"Ibu akan bahagia jika kamu tersenyum manis dan tulus. Tersenyumlah, Rinjani. Ibu disini dijaga dengan baik dan di do'akan abdi-abdi kerajaan. Tenanglah, tidak ada yang menganggap ibumu orang lain."


"Bukankah ini rahasia? Bahkan ini pemakaman dibuka untuk ziarah kubur. Lalu bagaimana jika ada orang yang curiga?"


"Tidak perlu dipikirkan. Ayo, mas udah tidak sabar." Mata Kaysan mengerling nakal, aku mendengus kesal.


"Kita belum sarapan mas, ayo mas gendong aku lagi seperti waktu itu." Kataku sambil melebarkan tangan, tersenyum lebar.


"Rinjani, waktu itu kamu pingsan. Mas gak tega ninggalin kamu sendirian di pemakaman tengah malam." Kaysan begitu mendramatisir suasana, meledekku sambil menjentikkan jarinya ke dahiku.


"Jalan sendiri." pekiknya sambil meninggalkanku.


Aku mengadu pada nisan ibu, "Lihatlah bu, dia hanya romantis saat mendekatiku saja. Setelahnya dia mengacuhkanku." Aku tersenyum, tanganku mengelus nisan ibu lalu mengecupnya seperti mengecup pipi ibu, "Jani pamit ya, Bu. Nanti Jani bikinkan cucu."

__ADS_1


Tak ku duga ternyata Kaysan mendengar ocehanku yang absurd.


Like yang banyak reader, biar aku semangat dan rajin up πŸ˜‚πŸ™


__ADS_2