
POV Kaysan.
Perjalananku menemani masa kehamilan Rinjani membuatku bahagia. Banyak hal sepele yang aku rasa itu justru membuat cinta kami bertumbuh subur. Dari mulai menemaninya melakukan hal konyol, menjadi kelinci percobaannya, dan menuruti hal-hal aneh yang membuat kepalaku pusing sendiri, tapi itu semua membuatku senang. Ada kesempatan merasakan anugerah terindah dari Tuhan yang tumbuh di dalam rahim istriku.
Gerakan-gerakan Dalilah yang menendang seakan masih terasa di telapak tanganku.
Aku mulai terusik dengan kabar jika Rinjani sering menangis cengeng, dan menjadi pendiam.bSeringkali aku terbayang wajahnya yang meringis kesakitan.
Ada masa dimana aku menyesali diri karena tidak ada di sampingnya. Rinjani pasti melewati kesulitannya sendiri. Kesulitan mengandung putriku.
Aku menghembuskan nafas panjang bersama asap rokok yang menjadi pelarian ku sekarang. Tidak ada Rinjani, rokok pun jadi, yang penting ada saja yang aku sesap.
Aku tidak munafik, ketiadaan Rinjani membuatku merasa sepi, kejantananku hanya menegang saat pagi dan semakin berkerut karena kedinginan. Ingin sekali fantasiku bermain liar, tapi tidak adanya rival yang menjadi lawan mainku, membuatku malas memikirkan hal-hal yang menyenangkan dan berbuah shake in the bathroom.
Selama ini aku berusaha mencari persetujuan dari pihak sekolah untuk memberiku kompensasi pemberhentian lebih awal dari tanggal jatuh tempo kontrak kerja. Tapi mereka terlalu menyayangiku dan berharap aku masih mengajar sampai perhelatan seni budaya antar sekolah musim semi di gelar.
Ku hembuskan nafas pelan sebelum berdiri dan keluar dari kamarku.
"Pak..." panggilku pada mertuaku.
"Hmm..."
"Lapar."
"Manja... masak sendiri! Bapak lagi pusing membuat surat pengunduran diri sedangkan nanti saat menikah harus di KBRI."
"Kalau gitu Bapak menikah saja dulu, setelah itu baru mengundurkan diri. Begitu saja pusing."
Aku memutar kenop kompor. Akhir-akhir ini aku hanya memasak makanan kaleng yang tinggal dipanaskan, atau jika tidak mie instan.
"Besok jadi pulang, Kay?"
"Jadi. Bapak mau titip sesuatu?"
"Titip putriku, dia akan cengeng melebihi cucuku."
Aku tergelak singkat, "Sudah dari dulu Rinjani Bapak titipkan padaku, sejak Bapak memilih tinggal di Australia dan belajar disini." Aku mengaduk gudeg kaleng yang dibawakan Ibunda waktu itu.
"Ya... dan pilihan Bapak tidak salah menitipkan Rinjani padamu. Bapak tidak akan mengambilnya, kecuali kamu memang menginginkan Rinjani kembali pada Bapak. Detik-detik seorang istri akan melahirkan adalah detik paling di tunggu semua istri. Jani membutuhkanmu."
__ADS_1
Aku membawa dua piring berisi nasi dan gudeg ke meja makan.
"Rinjani kuat. Sekuat saat dulu menghadapi Bapak yang mabukan."
Mertuaku tertegun sekaligus jengkel mendengar suaraku.
"Jika dulu aku menolaknya, kamu akan terus mengejar-ngejar anakku dan menjadi pengemis cinta! Ingat baik-baik itu!"
Senyum tipis mengembang. Benar, aku akan menjadi pengemis cinta jika Rinjani menolakku. Dulu.
*
Aku membawa koper besar berisi oleh-oleh untuk Rinjani dan Dalilah. Semua berisi pakaian bayi yang dibelikan Laura dan Anne. Mereka berdua semakin akrab layaknya ibu dan anak. Dan, Anne tidak lagi menggangguku. Ia justru menganggapku sebagai Bapak---katanya aku seperti bapak-bapak, dan dia menyesal pernah menyukaiku.
Laura excited menyambut kehadiran cucu pertamanya. Anne yang berlagak sebagai kakak perempuan untuk Dalilah menginginkan adiknya terlihat pretty seperti dirinya.
"Hati-hati, daddy. Sampai ketemu mommy." Anne melambaikan tangannya, di sampingnya ada Bapak dan Laura. Anne memang menganggap Rinjani adalah ibu kecilnya, karena tingginya jauh dibawah Anne.
"Hmm..., jaga dirimu. Tolong pilihkan teman-temanmu untuk pertunjukan nanti. Aku akan mengirimkan skenarionya lewat email."
"Yes, daddy." Anne menghela nafas panjang dan tersenyum kecil.
"Sudah pasti, take care, sampai ke rumah dengan selamat. Kabarin jika Rinjani sudah melahirkan, satu lagi, pakaikan baju unicorn." Laura sedikit berteriak. Mereka bertiga melambaikan tangan. Aku mengangguk, membalasnya dengan senyuman.
Harapan ku melambung tinggi, setinggi pesawat terbang yang menembus awan. Kedatanganku yang tak aku sembunyikan, seperti membawa ancaman sekaligus harapan. Ancaman bagi musuh-musuhku dan harapan bagi Rinjani.
Hatiku melankolis, hanya butuh waktu tujuh jam lagi untuk bertemu dengan Rinjani dan Dalilah.
*
Delapan jam kemudian.
Hari masih gelap dan jalanan masih terbilang sepi. Mobil yang menjemput ku sampai di rumah bunda Sasmita. Aku mengendap-endap masuk ke dalam rumah bunda Sasmita karena aku memiliki kunci cadangannya.
Siapa sangka, baru saja aku sampai di ruang tamu. Aku melihat Rinjani keluar dari kamar Nanang, ia berjalan tertatih sambil memegang punggungnya. Wajahnya berantakan. Jadi benar, setiap malam ia akan kelaparan dan sulit tidur.
Aku melewati banyak kesempatan untuk mendapat titel suami siaga. Aku mendekatinya diam-diam. Karena tidak mungkin aku membuat kehebohan sepagi ini dengan mengejutkan Rinjani.
*
__ADS_1
POV Rinjani.
Aku bangun lebih pagi dari biasanya. Bahkan aku hanya mampu memejamkan mataku beberapa jam saja. Pikiranku tidak tenang. Aku benar-benar berbeda dalam titik terendah dalam hidupku. Aku mengalami perubahan mood secara luar biasa.
Pagi masih gelap dan hanya terdengar suara ayam berkokok saat aku menyeret kakiku dengan gontai menuju dapur. Sejak semalam aku lapar, tapi ngilu yang menekan punggungku semakin membuatku kesusahan untuk beranjak. Seringkali perutku kram dan terasa keras, rasanya mulas luar biasa seperti mau pup tapi masih tertahankan.
Tiba di dapur aku ingin membuat susu coklat dan menyantap roti tawar dengan selai kacang. Dengan perasaan yang enggan tapi butuh, aku membuatnya dengan cepat. Tak butuh waktu lama, semua sudah tandas tak tersisa.
Setelahnya aku bingung mau melakukan apa. Karena biasanya pagi-pagi aku akan pergi ke taman untuk jalan-jalan. Tapi pagi ini---aku hanya mampu bersandar di kursi ruang makan.
Dalam keheningan aku memejamkan mataku sambil mengusap perutku pelan. Masih ada dua rakaat yang harus aku kerjakan. Sekuat tenaga, aku menumpu tubuhku untuk berdiri. Aku menghela nafas pelan, mengerjapkan mataku yang terasa berat.
Jujur, aku tidak bermimpi tentang Kaysan. Tapi mataku menangkap sosoknya ada di depan meja makan, memandangiku dengan senyum manisnya.
Aku juga tersenyum, "Baba." lirihku.
"Ini baba, peluklah."
Aku menggeleng. "Baba palsu..."
"Ini baba asli, sentuh saja. Kamu tidak mimpi."
Susah payah aku berdiri, namun sosok itu dengan sigap membantuku. "Kok..." Mataku membulat, sentuhannya nyata. Aku menatap lamat-lamat wajah Kaysan yang terlihat benar-benar nyata.
"Kok...kok...petok." Balasnya sambil menghujani ciuman di pipiku, dahiku dan berakhir kecupan mesra di bibirku.
"Baba..." Aku merangkulkan tanganku di lehernya, "Baba... pulang..."
Kaysan mengelus punggungku pelan, menenangkan.
"Baba..."
"Sssttt..."
Kaysan memelukku. Perutku yang buncit semakin terhimpit oleh pelukannya yang erat hingga terasa ada cairan hangat yang keluar dengan derasnya dari ****** ***** yang aku kenakan.
"MAS... KETUBANKU PECAH!!!"
Happy reading ๐
__ADS_1