Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 50. [ bakal beja datan kesasar ]


__ADS_3

Selepas mandi bersama dan bercengkrama tentang masa depan. Kaysan membawaku pada sajadah yang ia gelar, tanpa nafsu yang membara Kaysan membantuku memakai pakaianku dan mukenaku.


Sesaat, sejenak, sekejap. Ingin rasanya bumi ini berhenti berputar saat irama merdu mengalun lembut di telingaku.


Iramanya menyejukkan hatiku, saat lantunan ayat-ayat suci terucap dari mulutnya.


*


BAKAL BEJA DATAN KESASAR


Nilai seseorang akhirnya ditentukan oleh adabnya, tidak tentang garis silsilahnya. Bukan darimana dia berasal, namun apa yang telah ia kerjakan. Tidak soal apa agamanya, tapi bagaimana perlakuannya pada sesama. Bukan masalah gelar, semata-mata kepedulian serta kemanfaatan yang diterima oleh orang sekitar.


Memang benar adanya bahwa di bumi ada nyanyian merdu tanpa suara, sastra indah tanpa aksara, selalu bercahaya namun bukan matahari, selalu memberi kesejukan namun bukan hembusan angin, dipeluk oleh semua keyakinan serta diterima oleh semua golongan dan kesemuanya itu adalah kebaikan.


[ Sri Nalendra Kalaseba ]


*


"Bagaimana rasanya semalam saat tahu aku pingsan mas?" tanyaku saat Kaysan sibuk membuka laptop yang ia taruh di pangkuannya.


"Tiba-tiba lemas, terkulai."


Aku cekikikan, "Jadi mas belum sampai ke tahap pelepasan?"


"Belum." Tanpa menoleh dan masih sibuk dengan laptop di depannya. Jari jemari Kaysan sudah sibuk entah mengetik apa.


"Maaf ya mas. Harusnya tadi malam kita akhiri dengan berpelukan. Eh Jani malah pingsan. 'kan gak lucu." Masih berbaring di ranjang, aku berusaha mengintip apa yang Kaysan lakukan.


"Mas kerja?" tanyaku penasaran.


"Sebentar sajaz Rinjani. Hanya memeriksa laporan penting."


Aku mengangguk, "Jadi selain keluarga mas punya pabrik gula dan pabrik teh, keluarga mas punya apa lagi?"


Kaysan sama sekali tak menoleh, matanya menajam sambil menunjukkan alis yang bertemu.


"Maaf mas, Jani ganggu." Aku berbalik memunggungi Kaysan. Mengambil HPku dan melihat notifikasi yang masuk.

__ADS_1


"Assalamualaikum istri orang."


"Assalamualaikum Rinjani."


"Jani, Nina kangen."


"Jani...," Nina mengakhiri pesannya dengan emoticon cemberut.


Ku buka pesan lainnya.


"Jani, gimana kabarmu?"


"Percuma kamu gak ngblock nomerku lagi, tapi pesanku sama sekali gak pernah kamu balas. Segitunya kamu membenciku, Jani."


Nanang! Kenapa sih dia ini, rasanya sekujur tubuhku semakin dibuat sakit dengan pesan terakhir yang Nanang kirimkan. Bukan apa-apa, jika saja Kaysan tahu mantan kekasihku masih menghubungiku, apa jadinya pernikahan ini. Meski rahasia aku tetap tidak bisa membohongi diri bahwa aku sudah sebagai seorang istri.


Aku biarkan pesan-pesan dari Nanang, tapi Naas tanda centang dua sudah terbaca oleh matanya. Serbuan pesan masuk memenuhi notifikasiku, membuat ruang yang tadinya tenang menjadi brisik dengan nada pesan yang berupa kokokan ayam. Aku melirik ke arah Kaysan, tersenyum kaku. Kaysan sama sekali tidak merespon kegaduhan HPku, ia masih sibuk melihat layar laptop dengan mata nyaris tak berkedip.


Aku ragu untuk membacanya atau sekedar mengintipnya. Hingga akhirnya aku memilih untuk mematikan HPku saja. Aku menyembunyikan benda pipih itu dibalik bantal. Masih membelakangi Kaysan, aku mulai menyadari jika Kaysan sedang mengacuhkanku, anak gadis yang baru saja hilang perawan tadi malam.


"Mas?"


"Hmm."


"Boleh Jani lihat mas kerja apa?"


"Kemarilah."


Aku menyeret tubuhku hingga mendekati Kaysan. Mataku menatap layar laptopnya, seketika mataku mendelik saat melihat isi percakapan yang sama dengan isi notifikasi yang masuk ke ponselku.


"Mas menyadap nomerku?"


"Iya." Jawabannya begitu ringan dan tak berperasaan.


"Mas gak percaya sama aku, sampe-sampe mas harus diam-diam menyadap nomerku. Ini curang, bahkan aku saja segan untuk hanya membuka ponsel mas." Nafasku naik turun menahan geram. "Kenapa mas gak minta Jani buat gak usah pakai HP sekalian!"


Aku membuka selimut yang menutupi sebagian kakiku. Dengan tertatih-tatih aku berjalan keluar kamar, tak peduli dengan Kaysan yang berkali-kali memanggil namaku.

__ADS_1


Tempat yang ku tuju adalah halaman belakang, tapi sayang gadis tengil itu asik duduk sembari menikmati keindahan alam. Menyadari kehadiranku, Indy melambaikan tangannya, "Sini Mbak." Panggilnya dengan riang gembira.


Apa Indera pendengaranku sudah soak, atau gadis ini salah makan seperti ibunya. Kesambet penghuni pohon mana dia sampai memanggilku dengan sebutan 'Mbak'. Apa jangan-jangan dia punya maksud tersembunyi.


"Iya, Ndy." Aku ikut duduk disampingnya.


"Masih sakit?" tanyanya.


"Ehm, bisa dibilang begitu." Aku tersenyum kecut.


"Berapa umur Mbak?"


"20."


Mata Indy membulat, lalu tawanya terbahak-bahak seperti mendengar lelucon dari seorang pelawak. Tawanya memenuhi gendang telingaku. Kepalanya menggeleng-geleng seakan tidak percaya.


"20?" Sepertinya dia masih tidak percaya dan berusaha meyakinkan dirinya lagi.


"Ada yang aneh, Ndy?"


"Benar-benar aneh, jadi kamu dan mas Kaysan selisih umur 14 tahun, Hahaha." Tawanya meledak lagi, lalu kepalanya menengadah ke langit. "Lucu sekali, kamu lebih pantas menjadi adik kita Rinjani. Kamu bagaikan menikah dengan om-om."


Aku tersenyum kecut, "Apa terlihat seperti itu?"


Indy menoleh dan mengangguk, "Aku kira dulu mas Kaysan akan mencari pendamping hidup yang dewasa, yang bisa mengerti semua tanggung jawabnya. Lalu, tiga hari yang lalu Ibunda memberiku kabar jika mas Kaysan menikah. Tapi sembunyi-sembunyi."


Aku mendengarnya dengan seksama, Indy masih bercerita lagi dengan lagak tengil dan tidak mempertontonkan sikapnya seperti seorang putri keraton. Apa dia sedang melakukan pemberontak seperti rezim monarki?


Parasnya ayu seperti orang Jawa pada umumnya, hidungnya tak begitu mancung, alisnya simetris, bola mata coklat dan dagunya yang runcing, bibirnya ia polos sedemikian rupa dengan lipstik warna magenta, telinganya berhias sueng dengan manik mata berwarna megenta. Jika aku simpulkan, gadis tengil ini menyukai warna magenta dan kamar yang bercat warna senada yang berjarak tujuh meter dari kamar Kaysan adalah kamarnya. Tergantung pula ukiran kayu bertuliskan, "I'm a Rebellious Princess" / Aku putri pemberontak.


"Memilih hidup bersama keluarga kami adalah keputusan besar yang kamu buat Rinjani. Aku akan standing applaus untuk keberanianmu, apa lagi kamu bersanding dengan penerus tahta kerajaan. Kamu adalah tombok masa depan kerajaan. Setelah Ayahanda dan Ibunda turun tahta, semua keberlangsungan kehidupan kerajaan Hadiningrat ada ditanganmu dan mas Kaysan."


Biji salak ini masih saja menyangkut di tenggorokanku, aku tercekat tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata. Atau hanya menunjukkan ekspresi wajah yang terperangah.


Indy menatapku sambil tersenyum, "Apa lagi umurmu yang masih 20 tahun, itu artinya kamu adalah permaisuri termuda di kerajaan kami." Mengelus tanganku lembut, seperti sedang menyalurkan energi ke tubuhku, "Mas Kaysan adalah anak pertama yang menanggung banyak beban, beban kerajaan, beban pekerjaan dan tanggung jawab sebagai suami. Aku paham diusiamu yang masih terbilang baru saja memasuki usia dewasa, akan banyak pertentangan antara batin dan ragamu yang berselisih. Apa lagi akan banyak peraturan di rumah nanti, berusaha meyakinkan diri untuk berusaha sebaik mungkin. Karena mas Kaysan juga sedang memperjuangkanmu dihadapan para petinggi kerajaan dan Ayahanda."


Lanjut -----> Like dulu, ✌️

__ADS_1


__ADS_2