Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Antologi cerpen [ Sadewa III ]


__ADS_3

Tiga hari setelah aku mengumumkan hari patah hati. Aku mulai mengumpulkan barang-barang pemberian Isabelle ke dalam box. Aku akan memberikannya kepada panti asuhan, tempat dimana aku dan teman-teman kuliahku sering menghabiskan waktu dengan anak-anak yatim piatu di hari Minggu.


Satu persatu benda kenangan ini mengingatkan ku pada Isabelle yang slalu royal memberiku barang-barang berharga.


Bagiku, semua barang pemberian wanita adalah benda berharga. Meski kadang belinya harus menunggu saat diskon. Seperti sepatu Converse ini, dia membelinya saat ada promo beli 1 gratis 1. Katanya biar couple. Lalu, jaket Boomber yang ia beli di Belanda saat di dekat rumahnya ada pasar kaget. Lalu, ini sepasang angsa putih yang melambangkan simbol cinta. Belum gembok yang Isabelle berikan, sedangkan dia yang menyimpan kuncinya. Tapi yang paling banyak dari semua pemberian Isabelle adalah kaos. Jumlahnya hampir tiga lusin.


Aku mendorong box yang memiliki roda empat keluar kamar. Sungguh, sebenarnya selama tiga hari ini aku malu keluar kamar, karena pasti aku akan di olok-olok semua manusia yang ada di rumah utama.


Malam-malam panjang pun aku lewati dengan kegelisahan, tidur-tidur singkat yang diwarnai dengan keresahan. Seringkali aku menunggu malam beringsut lewat sembari menyaksikan lagi video yang Irene kirimkan. Aku masih berhutang janji untuk menemaninya jalan-jalan dengan mobil kodok.


Mungkin bukan waktu yang tepat, tapi janji tetaplah janji. Aku harus menemuinya dan meminta maaf padanya secara gentleman. Aku mulai menyadari, perkataan Nakula memang benar. Jika aku sering bermain api dan menyepelekan perasaan wanita. Kelak karma buruk akan aku tuai.


Aku melewati lorong kamar, membuat bunyi roda box ini menggema di kesunyian. Lalu, seorang bocah kecil dengan rambut yang di kuncir kuda berdiri di depan box sembari merentangkan kedua tangannya.


"Om Wawa, Dalilah mau naik." Seperti ibunya, bocah ini sudah naik di atas box, sebelum aku mengizinkannya.


"Om Wawa, dolong..." Dasar bocah, masih cadel saja sudah pintar menyuruh seorang pangeran.


Aku mengambil ancang-ancang, dan menyuruh Dalilah untuk berpegang pada sisi box. Dalilah tertawa cekikikan saat aku mendorong box itu dengan penuh semangat. Hingga box membentur tembok karena aku terlambat mengeremnya. Tawa Dalilah semakin terbahak-bahak.


"Sudah turun. Om Wawa mau pergi."


Dalilah menggeleng, tangannya mencengkram sisi box dengan erat.


"Om Wawa, lagi."


"Bulik Nindy mana?" tanyaku.


"Bulik Indy balu pipis." jawab Dalilah.


"Satu kali lagi udah, om Wawa mau pergi."


Dalilah mengangguk, aku memutar box dan mendorongnya cepat-cepat hingga sampai ke kamarnya.


"Sudah sampai, sekarang turun!"


"Telimakacih om Wawa." Dalilah berlari kecil, entah kemana tujuannya bermain sekarang.


*

__ADS_1


Angin melempar surai-surai rambut pirang di wajah Irene.


Aku sengaja mengajaknya untuk menemaniku ke panti asuhan. Meskipun kami tidak hanya berdua, tapi Irene tetap tanggung jawabku. Ia terus berada di sampingku. Sesekali anak panti terkagum-kagum melihatnya. Irene slalu melempar senyum meski tidak tahu arti kata yang dilontarkan anak-anak panti kepadanya.


Bukan hal mudah membujuk Irene untuk ikut denganku. Terlebih bapaknya tadi sudah menodongkan pistol ke arahku. Jika bukan Laura yang menengahinya, aku pasti sudah berlumur darah dan berada di UGD.


Aku dan Irene memang tidak berpisah baik-baik. Aku pun tak bisa menebak suasana hatinya sekarang. Tapi, bagaimanapun juga, aku selalu tahu, banyak yang ingin aku---Irene bicarakan.


"Jadi ini panti asuhan yang slalu kamu bicarakan?" tanya Irene. Memakai bahasa Inggris.


Aku mengangguk, "Kegiatanku begini saat hari Minggu, tidak dengan Isabelle. Kami mempunyai pandangan yang berbeda tentang hidup. Isabelle dengan kepopulerannya. Aku yang suka dengan kegiatan sosial."


Irene menatapku seolah tak percaya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Aku hanya tidak menduga kamu bisa mencintai dua wanita sekaligus. Lalu apakah artinya aku selama ini? Ciuman pertama kita."


Ciuman pertama yang gagal. sahutku dalam hati.


"Mas Kaysan dan Nakula sangat mencintai cinta kedua mereka. Dan, kamu adalah cinta keduaku. Irene..."


"Makanan disini jauh berbeda dari yang dirumah, semoga kamu suka." Aku tersenyum simpul. Irene hanya mengangguk, ia berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang kotor karena kami hanya duduk di atas rerumputan.


Ibu panti asuhan memang sering menjamu kami dengan makanan khas anak panti. Makanan murah meriah yang istimewa, soto ayam dan tempe goreng.


Kami mengambil piring dan gelas plastik. Seperti anak panti pada umumnya, kamipun ikut mengantri untuk mengambil jatah makan siang.


Aku berada di belakang Irene. Mungkin jika kami belum putus, aku akan menggodanya. Meniup rambutnya hingga Irene kesal dengan tingkah lakuku.


Irene berbalik, membuat ku ternganga saat lamunanku terpenggal karena Irene mengguncang bahuku.


"Apa?" tanyaku.


"Apa aku boleh mengambil semua yang di sajikan oleh ibu panti?" tanya Irene.


"Satu orang hanya boleh mengambil satu. Kamu mau apa?" tanyaku.


"Aku mau semua jatah makan siang mu." jawab Irene. Membuatku semakin dibuat ternganga.

__ADS_1


"Kamu yakin?" tanyaku memastikan.


Irene mengangguk sambil mengambil piring ku.


Irene menaruh kedua piring di hadapan ibu panti, Irene tersenyum. Sedangkan aku, hanya mengambil air putih dari dispenser dan berlalu pergi menuju meja makan.


"Mas Sadewa gak makan?" tanya seorang anak panti.


Aku menggeleng, "Makanan ku sudah diambil dia..." Aku menunjuk ke arah Irene yang sedang berbasa-basi dengan ibu panti.


"Kasian mas Sadewa. Tapi aku lapar, jadi aku gak bisa berbagi."


Aku tergelak, "Makanlah, dan habiskan. Nanti mas bisa beli bakso di ujung jalan."


"Aku juga mau bakso pak mandol, Mas." ujarnya penuh harap.


"Besok Minggu depan, mas borong buat kalian semua."


"Oyyy... Temen-temen, besok Minggu depan kita makan bakso! Ditraktir mas Sadewa..." Si anak panti ini berdiri dan berteriak keras mengumumkan hal yang membuatku menjadi pusat perhatian.


"Kamu yakin? Aku ikut." kata Irene, duduk di sebelahku. Sembari menaruh piring milikku tadi.


"Buat kamu, aku hanya mengambilkan saja. Lagipula aku juga tidak tamak sepertimu. Mengambil dua bagian, lalu kamu nikmati sendiri dan tidak memahami keadaan orang lain."


"Irene..." kataku lirih.


Irene mendengus dan memejamkan mata, "Sadewa..." balasnya.


"Apalagi? Mau marah?" tanyaku.


"Aku masih mencintaimu."


Kali ini, aku terhenyak. Apakah Irene bermaksud memintaku untuk kembali.


Dan aku tak ingin bertanya kepada diriku sendiri mengapa Irene berkata seperti itu. Bukankah apa yang aku lakukan adalah hal yang tidak bisa di maafkan?


Sementara Irene menghabiskan makan siangnya dengan lahap, aku justru tidak bernafsu sedikitpun untuk melahapnya. Perkataan Irene membuatku gundah gulana. Aku merasa seolah ada yang menonjok ulu hatiku.


"Lupakan kata-kataku."

__ADS_1


Happy reading ๐Ÿ’š


__ADS_2