
Sudah terhitung sejak puasa yang dilakukan Kaysan enam belas hari yang lalu. Semakin hari semakin terlihat guratan lelah di wajah Kaysan. Berkali-kali aku menyuruhnya untuk menyudahi laku prihatinnya.
Sejak kepulangan dari villa beberapa hari yang lalu, aku memutuskan untuk menemani Kaysan tidur di kamar, akan terlihat semakin menyedihkan jika Kaysan harus berjuang keras di tambah rindu yang menggebu-gebu, pun dikamar ini kami masih berdebat tentang masalah rumah sakit dan dokter kandungan.
"Tak cium sini mas, aku kangen." godaku sambil beranjak ke pangkuannya.
"Stop!" Belum juga aku mendaratkan bibirku di pipinya, Kaysan sudah menahan bahuku.
"Kenapa? Aku kangen loh mas, kangen ku sudah tak tertahankan." ucapku mengebu-gebu dengan gaya yang sok manis.
"Apa hasilnya tadi? Positif atau negatif?" tanya Kaysan penasaran.
"He-he-he. Belum ke rumah sakit, Nakula gak mau nemenin mas. Kalaupun ke dokter kandungan nanti ditanya siapa nama Bapaknya. Nakula gak mau pura-pura jadi suamiku."
Kaysan mengusap wajahnya. "Pangku to mas, Jani gak macam-macam. Janji." Aku mengangkat kedua jariku, "Ya sudah, sini." Kaysan menepuk pahanya. Aku bersorak gembira, dengan cepat aku duduk di paha Kaysan, "Aku kangen, mau cium pipi saja boleh." rayuku lagi.
"Itu sudah termasuk macam-macam, Rinjani."
"Mas yakin kuat? Mas nanti kurus, nanti Rinjani yang di salahkan karena gak bisa mengurus mas dengan baik."
"Siapa yang menyalahkanmu Rinjani, katakan?"
"Nanti kalau mas sakit di periksa sama Nurmala Sari, Rinjani gak suka badan mas di sentuh-sentuh wanita lain." Aku melipat kedua tanganku.
"Mas akan mengganti dokter pribadi yang lainnya, tidak perlu Nurmala Sari. Kamu cemburu Rinjani?" tanya Kaysan dengan konyolnya.
"Kalau perut Rinjani yang di sentuh-sentuh dokter laki-laki memang mas gak cemburu? Mas biasa aja gitu?"
"Biasa aja. Itu sudah menjadi tugas seorang dokter."
"Oh..." Aku manggut-manggut, "Yasudah mas sakit saja biar nanti disentuh-sentuh Nurmala Sari, karena itu sudah tugasnya sebagai dokter."
"Semakin kamu cemburu semakin aku suka."
"Ya sudah ayo kita main dokter-dokteran mas, biar Jani periksa tubuh mana saja yang sakit."
__ADS_1
Kaysan menyeringai, "Di situ sakit, beberapa Minggu ini cuma lemas, apa obatnya dokter apa ada solusinya?" Kaysan menunjuk celananya.
Aku beranjak berdiri sambil berpikir menjadi dokter spesialis kulit dan kelamin, "Oh, mungkin itu salah pergaulan Pak, keseringan main sama yang muda jadi lupa diri. Ada baiknya Bapak mengurangi jatah malam dengan istri Bapak."
"Tapi istri saya suka nakal, Dok. Sukanya rebahan dan hanya menggunakan celana pendek. Saya tergiur, bagaimana menasihati istri saya agar tidak memancing kejantanan saya?"
Aku menahan tawa, "Bapak punya adik? Bisa di kenalkan dengan saya? Akhir-akhir ini saya kesepian, Pak. Butuh hiburan."
Kaysan menjewer telinga ku, "Sudah aku bilang jangan memancingnya!"
"Kenapa sih mas? Kan Rinjani gak bawa kail dan umpan." Aku mengusap telingaku yang terasa panas.
"Duduk! Bicarakan yang serius." Kaysan kembali menepuk pahanya.
"Apanya?" sungutku.
"Kapan kamu mau memeriksa kondisi rahimmu?"
"Mas tidak sabar ya? Tunggu setelah selesai sayembara ya, atau tunggu kalau Rinjani belum haid juga. Gimana?"
"Baiklah, tapi jagalah dengan baik perutmu, jangan asal makan! Aku suka melihatmu jajan di pinggir jalan saat berada di kampus, aku tidak mau anakku dan penerusku menjadi generasi micin sepertimu." cecar Kaysan yang membuatku melotot.
"Enak saja generasi micin! Aku tu generasi muda penuh gairah, dan tentunya aku ini generasi milenial yang jatuh cinta dengan seorang pria misterius sepertimu, laki-laki yang menyuruhku hamil karena takut aku tinggalkan. Lucu, padahal kalau dipikir-pikir mas ini tidak terlalu tua, apa ada alasan lain kenapa mas buru-buru menikahiku? Sedangkan aku bukan darah biru. Katakan selain jawabannya karena cinta! Itu basi."
"Memang tidak ada alasan lain, selain hanya ingin hidup bersamamu dan menambah warna dalam hidupku. Kamu tahu pelangi? Setiap manusia pasti memiliki warna, dan warna yang kamu miliki seperti pelangi."
Entah sudah jam berapa ini, aku dan Kaysan masih asyik duduk di sofa di temani laptop yang menayangkan adegan film Godzilla.
"Sayangku mas Kaysan, boleh Rinjani tidur di sana?" Aku menunjuk ranjang yang sudah seminggu tidak pernah di ganti seprainya.
"Sebentar lagi selesai, tidurlah nanti aku gendong." Kaysan kembali menepuk pundaknya, menyuruhku untuk bersandar disana.
"Jangan begadang mas, nanti tambah lemes. Ayo tidur sekarang." Bujuk ku lagi sambil mengelus punggungnya.
"Hidup ini rasanya tidak logis ya mas? Saat kita saling mencintai, tapi justru membuat semua orang harus berkorban untuk kita berdua. Apa itu tidak egois?"
__ADS_1
"Orang akan menganggap egois jika tidak tahu perjuangan kita. Tidurlah, nanti matamu seperti mata panda. Tidak cantik." Jari-jari Kaysan mengisi sela-sela jariku, ia genggam begitu erat.
"Jangan pernah merasa jika cinta yang kita miliki adalah sebuah kesalahan, aku mencintaimu dengan tulus, jika aku bisa mencintaimu dengan sederhana, aku akan melakukannya. Tapi sayang, aku tidak bisa. Cintaku padamu sudah luar biasa."
Sebelum aku benar-benar terpejam, aku ingat dengan sesuatu, "Kapan mas ulang tahun?"
"Tiga hari lagi, dan akan diadakan di sebuah cafe. Datanglah aku akan mengenalkanmu dengan teman-teman kerjaku."
"Jangan, itu namanya mas melanggar janji."
"GR! Hanya mengenalkanmu sebagai kekasihku, bukan istriku."
"Yee..." Aku bersorak tidak terima.
"Sudah selesai, ayo tidur ke ranjang." Kaysan menutup laptopnya.
"Gendong mas, sudah lemes tidak bisa berdiri."
"Manja sekali, apa dengan Nanang dulu kamu seperti ini?" Kaysan memposisikan dirinya untuk mengendongku, dengan sekali 'hap' aku sudah nemplok di punggungnya.
"Tidak, dulu Nanang hanya sering mengajakku ikut touring vespa."
"Kamu suka?" tanya Kaysan setalah mendaratkan tubuhku diatas ranjang.
"Suka mas. Vespa itu mengajariku untuk bersabar, dulu sering sekali macet di tengah jalan, lalu kalau di tanjakan curam, Nanang suka menyuruhku untuk turun dan ikut mendorongnya." Aku merangkak lalu merebahkan diri, diikuti Kaysan setelah ia menghabiskan segelas air putih.
"Apa lagi yang membuatmu jatuh cinta dengan Nanang?"
"Mas tahu enggak, dulu pertemuan pertama ku dengan Nanang terjadi di arena konser metal. Waktu itu aku ikut sahabatku lihat konser metal di sport hall Kridosono. Terus dikenalin sama Nanang. Eh... keesokan paginya dia SMS aku." Aku menutup mulutku saat aku tersenyum mengingat awal pertemuan ku dengan Nanang. Ada rasa bahagia sendiri saat aku jatuh cinta untuk pertama kalinya.
"Kenapa tiba-tiba membahas Nanang, Mas? Tumben, nanti cemburu sama adik sendiri."
"Tidak sayang. Coz we are brother, we support each other." Kaysan mencium keningku, "Mimpikan aku."
"Mas ini bikin repot, masa mimpi saja harus diatur." Aku tersenyum jenaka, "Mimpikan aku juga mas, tapi jangan sampai mimpi basah." Aku mencium pipi Kaysan, lalu memeluknya erat.
__ADS_1
Te**rimakasih untuk dukungannya yang luar biasa, much love to all my Reader. Rahayu ππ**