Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Antologi cerpen [ Nanang V ]


__ADS_3

Sulit rasanya untuk menenangkan benaknya setelah pembicaraan dengan Rinjani. Pikiran-pikiran Anisa ingin berpacu mendahului tanpa mendengar alasan apa di balik Rinjani menceritakan masa lalunya bersamaku.


Dalam kasus ini, aku merasa memang tidak baik membahas mengenai masa lalu yang aku dan Rinjani jalani. Disisi lain, aku kira Rinjani hanya mengatakan bahwa aku adalah laki-laki setia. Aku adalah laki-laki yang bertanggungjawab dan bisa di percaya.


Tapi Anisa menganggap Rinjani hanya memancing suasana hati Anisa untuk membuatnya merasa menderita.


Ketika hujan mulai reda, mobil mas Kaysan berhenti di depan store. Begitu juga makan siang yang sudah habis tak tersisa. Aku memutuskan keluar dari store untuk merokok. Membiarkan Anisa dan Rinjani meneruskan perbincangan yang membuat kepalaku berdenyut nyeri.


Dalilah menghampiriku, memeluk kakiku, "Om Nanang." panggilnya. Aku mengelus puncak kepalanya, lalu membantunya membuka pintu store.


Tak hanya gadis kecil kesayangan satu keluarga, Suryawijaya juga berada di gendongan mas Kaysan. Sepertinya, mas Kaysan memang pulang terlebih dahulu untuk menjemput Suryawijaya sebelum menjemput istrinya disini.


Seromantis itukah mereka? Memang seperti itu, mas Kaysan adalah laki-laki panutan kami. Laki-laki yang menunjukkan sifat laki-laki yang sesungguhnya. Bahkan Mas Kaysan tidak pernah marah saat Dalilah dan Suryawijaya membuat keributan di rumah. Mas Kaysan dengan semua anugerah yang diberikan Tuhan untuknya memang layak menjadi Raja menggantikan Ayahanda.


Hanya saja berbeda urusan jika yang membuat keributan adalah Rinjani. Mas Kaysan akan membawa Rinjani keruangannya dan memberinya hukuman. Cukup andil karena mas Kaysan memang menginginkan istrinya tahan banting dan mematuhi aturan.


Mas Kaysan menatapku, seakan tahu apa yang terjadi di dalam toko. Mas Kaysan memintaku untuk mengikutinya ke dalam.


Semua ternganga melihat mas Kaysan yang meminta semua orang untuk berkumpul. Rinjani mengulum senyum, ia mengambil alih Suryawijaya saat putranya merengek minta gendong.


"Sulya nangis telus bubu, Sulya cengeng."


celetuk gadis cilik yang masih membawa selendang untuk menari.


Rinjani mencubit pipi Dalilah, "Adik gak cengeng, adik cuma kebanyakan air mata."


"Pinter banget bikin alasan kamu, Jan." Nina menimpali, Rinjani menajamkan matanya.


"Anakku gak ada yang cengeng. Anakku cuma sensitif. Takut kehilangan hingga membuat semuanya harus turun tangan. Sama seperti Nanang dan Anisa. Aku, mas Kaysan, sekaligus Ayahanda harus ikut campur urusan pribadi mereka."


"RINJANI!" sergah mas Kaysan.


"Kalian kembali kerja!" pintaku pada aji dan Cyntia. Mereka mengangguk sambil lalu.

__ADS_1


"Kalian berdua ikut mas! Rinjani jaga anak-anak. Dan, kamu..." Mas Kaysan menatap Nina, "Jangan lupa berdo'a!"


Nina melongo, ia lalu menatap Rinjani yang mengangkat bahunya.


"Suamimu sehat, Jan?" tanya Nina.


"Sehatlah, orang minum jamu tiap hari."


Nina manggut-manggut, seketika itu aku sudah tidak lagi mendengar pembicaraan Rinjani dan Nina.a


Berada di ruangan ku, aku dan Anisa pasrah mendengar semua ultimatum yang mas Kaysan katakan. Sungguh, pria satu ini memang menakutkan jika semua kata-kata bijak sudah terucap dari mulutnya.


"Mas hanya memberitahu, semua keputusan ada di tangan kalian." Keheningan kembali menyandera ku dan Anisa. Tak ada yang membuka mulut hingga setengah jam kemudian. Kami memilih diam, hingga mas Kaysan kembali lagi mengeluarkan kalimat-kalimat ajaibnya.


"Kalian berdua punya potensi untuk menjadi orang-orang hebat. Tapi jika hubungan kalian justru membuat kalian terpuruk sekaligus menjadi tidak produktif, mas rasa kalian sudah tahu jawabannya. Jangan terjebak dalam hubungan yang merugikan diri sendiri dan orang lain." Mas Kaysan tersenyum, lalu keluar dari ruangan ku.


Aku bimbang, aku masih berharap Anisa bisa berubah. Setidaknya hubungan ku dan Anisa bukan hubungan yang sia-sia.


Jika kami menikah nanti, kita bisa menjadi pasangan yang saling berkaitan. Aku bisa menari, Anisa bisa bernyanyi. Kami bisa menjadi anak muda yang menggebrak dunia dengan membawa identitas sebagai masyarakat Jawa yang masih menjunjung tinggi kearifan budaya. Namun, semua itu hanya angan-angan ku.


"Lebih baik kita putus. Aku belum siap mengemban amanah yang harus aku jalani bersamamu nanti."


"Kamu memutuskan hubungan ini?" tanyaku ragu. Aku berdiri, menyamakan tinggi badanku dan dirinya.


"Ya... Aku capek!"


"Bukankah kita masih bisa memperbaiki keadaan ini? Aku bahkan masih berharap kamu bisa menerima keadaanku. Harusnya kamu juga tahu, bagaimana hubungan mas Kaysan dan Mbak Jani."


Aku memegang tangan Anisa saat dirinya masih menggeleng dan bersikukuh menyudahi hubungan ini.


"Aku tidak mau jika keputusan yang kamu buat hanyalah keputusan yang impulsif. Anisa... tidak ada yang membandingkan dirimu dengan Rinjani. Tidak ada. Aku, Bunda, Ayahanda, menerima kamu ada adanya. Kamu bahkan jauh lebih beruntung daripada Rinjani. Ayahanda langsung menyetujui hubungan kita. Berbeda dengan Rinjani dan mas Kaysan dulu. Anisa..."


"Berbulan-bulan aku berusaha untuk meyakinkan diri bahwa aku bisa menerima masa lalu mu yang terus berada di kehidupanmu. Meskipun aku percaya, kamu sudah legawa. Tapi... Hatiku masih saja dipenuhi oleh rasa curiga. Maaf, aku tidak bisa melanjutkan ini ke jenjang yang lebih serius."

__ADS_1


Jadi aku yang di putusin?


Aku mengejar Anisa yang keluar dari ruangan ku. Suasana sudah sepi, satu keluarga bahagia itu sudah tidak ada. Yang tersisa hanya Nina yang duduk sembari pura-pura tidak mendengar pertengkaran ku dan Anisa.


"Kenapa belum pulang?" tanyaku sembari menyaut waistbag dan kunci mobil.


"Aku kan di jemput sama kamu, Nang. Itu artinya kamu juga mengantarku pulang!" ujar Nina.


"Ya udah ayo sekalian ikut aku ke rumah Anisa. Ambil motor."


Sudah berkali-kali Anisa slalu seperti ini, kabur duluan. Padahal aku belum mengiyakan apa aku setuju dengan keputusannya untuk melepas diriku.


Keadaan memang sudah cerah, awan mendung kini beralih ke hatiku. Ada sesuatu yang mengalir deras di dalamnya. Mungkin karena hatiku yang menangis saat tahu Anisa juga mengembalikan barang pemberianku.


"It's Over." katanya.


"Senang bertemu denganmu. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi cinta pertama yang indah bagimu."


Aku membawa satu kardus berisi boneka-boneka dan kaos metal yang aku belikan untuk Anisa ke dalam mobil. Nina menatapku penuh iba.


"Kamu bawa motornya, Nin."


Nina hanya mengangguk, lalu keluar dari mobil. Ia menatap rumah Anisa sejenak, lalu dengan cepat meninggalkan rumah mantan kekasihku.


Aku tak menyangka jika Anisa menyerah begitu saja. Padahal aku masih ingin berjuang bersama.


Ironi sekali kisah cintaku, sepertinya memang rencana yang aku tunda untuk kuliah di Jerman benar-benar akan aku lakukan.


Tiba di rumah utama, Nina sudah bertemu dengan Rinjani.


Wanita itu menatapku sendu, wajahnya penuh penyesalan, "Maafkan aku."


"Gak papa, bukan salahmu Mbak."

__ADS_1


Aku mengulum tersenyum. Berusaha menyembunyikan lelah saat aku terluka dan terjatuh lagi.


Happy Reading ๐Ÿ’š


__ADS_2