
Baru tujuh hari aku berjauhan dengan Dalilah, tapi rasa rindu sudah menguasai dan tak bisa aku bendung lagi. Aku rindu kelembutan wajahnya dan bau minyak telon yang mampu mengalahkan harum parfum Rinjani. Istriku pasti akan marah jika dia aku bandingkan dengan Dalilah. Kasian sekali nasibnya, sudah aku tinggal pergi, aku bandingkan dengan anaknya. Huft, tak ada tempat seindah rumah... Namun apa daya, ku pergi dalam sesak penuh curiga.
Setiap hari aku menghubungi Ibunda untuk mengetahui perkembangan Dalilah. Dan, keadaan Rinjani. Ada perasaan lega karena Ibunda slalu berkata Rinjani baik-baik saja. Begitu juga Dalilah yang tidak rewel. Putriku sungguh mengerti jika keadaan orangtuanya tidak tinggal bersama---hanya sementara.
Samar ku dengar suara pintu yang terbuka. Ternyata Anne.
"Ada apa?"
"Daddy sudah waktunya latihan."
"Sudah aku katakan, jangan panggil aku Daddy!"
"Terus Dalilah memanggil Daddy dengan panggilan apa?"
"Heiii, Dalilah putri kandungku. Sedangkan kamu putri abal-abal!"
"Apa aku panggil Bapak saja, seperti Keenan saat memanggil eyang Herman?"
"Keras kepala!!! Sudah ayo ke ruang teater."
Anne tersenyum, "Daddy besok Anne ikut ke nikahan Laura dan Eyang Herman ya?"
"Berhentilah berlagak menjadi anakku, Anne." Sudah jengah sekali aku menghadapinya, tapi ia masih saja gentar menjadi anak abal-abal ku.
"Setelah aku lulus nanti aku akan pergi ke New York, Daddy. Aku akan kuliah disana dan kursus modeling."
"Bagus kalau begitu, pergi saja yang jauh. Jika perlu sampai ke Antartika."
Anne menghentikan langkahnya.
"Aku akan membuat Daddy bangga denganku." Aku menyugar rambutku. Anak ini emang membuat pusing. Keinginannya untuk membuatku takluk pada dirinya semakin menjadi-jadi. Namun, Anne juga tahu batasannya.
"Buatlah bangga kedua orangtuamu, Anne. Mereka yang berhak mendapatkannya."
Anne kesal. Ia hanya menunduk dan menghela nafas.
"Jangan pernah terpuruk karena kurangnya kasih sayang dari orangtuamu. Kemewahan yang kamu dapatkan tak berasal dari kerang ajaib atau sulap. Anne, orangtuamu bekerja untuk memenuhi kebutuhanmu. Asal kamu tahu, kamu lebih beruntung dari Rinjani sebelum ia bertemu denganku. Buatlah bangga dirimu sendiri, dan jaga dirimu baik-baik."
Anne mendongkak menatap ku, "Thanks Daddy." Ia tersenyum.
Aku bukan alasannya untuk ia berjuang keras mencapai cita-citanya, aku bukan cahaya yang menerangi jalannya. Aku hanya ingin, seorang gadis menjalani masa mudanya tanpa duri yang menancap luka.
Ruang teater sudah dipenuhi oleh anak didikku yang terpilih memerankan karakter-karakter dalam sandiwara kisah cinta Rama dan Shinta. Melanjutkan kisah cinta seorang Shita yang kembali pada pelukan hangat Prabu Rama Wijaya.
__ADS_1
Kali ini aku benar-benar ketar-ketir karena hanya aku sendiri yang mengawasi dan mengajari mereka. Bisa jadi satu bulan lebih waktuku akan tersita oleh perlombaan sandiwara antar sekolah yang akan di adakan di Sydney opera house.
"Daddy, kita mau latihan apa dulu?" Anne menghampiriku dengan selendang yang sudah ia ikat di pinggangnya. Anne mendapat peran utama, memerankan tokoh Shinta.
"Reading... Pematangan karakter, setelahnya baru latihan dialog."
Anne memanggil teman-temannya untuk bergabung.
Kami mulai membaca skrip
dalam hening dan memahami karakter-karakter yang akan kami perankan. Seperti sandiwara kemarin, aku yang akan memerankan tokoh Prabu Rama Wijaya.
Aku menghela nafas, sesekali aku melirik Anne dengan ekor mataku. Kami akan berada dalam scene menari bersama. Itu tidak mudah, apalagi aku sendiri yang akan mengajarinya menari.
Ampuni aku Rinjani... Kadang hidup butuh seperti bajing*n yang rela melakukan apa saja untuk menunjukkan yang terbaik. Seperti aku yang sedang melakukan yang terbaik sebagai cenderamata indah untuk sekolahku. Pun, aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Nyalaku hanya untukmu yang ada disana, yang sedang menyusui putriku.
Empat hari berikutnya.
Di sebuah ruangan, di gedung KBRI. Bapak mertuaku dan Laura resmi menjadi sepasang suami istri. Pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh keluarga inti Laura. Aku dan duta besar RI sebagai saksi dari pihak mempelai pria.
Laura menjadi mualaf, sedangkan Keenan masih dengan kepercayaan sebelumnya. Biarlah dia mencari kenyamanan dalam mencari jalan Tuhan. Karena sejatinya perbedaan bisa dirangkul dengan di lebur dining pangastuti. [ Dihancurkan dengan kasih sayang ]
"Mas, Bapak dan mama mau menginap di hotel." ujar Keenan. Ia menghampiriku dengan tatapan jengah.
"Apa yang kamu takutkan?" tanyaku.
"Mama sudah tua, mas. Bagaimana jika mama hamil?" Keenan menghempaskan tubuhnya di sebelahku, tangannya di tekuk dan bertaut hingga membuat bantalan kepalanya.
"Memang tidak boleh kalau mama dan bapak punya anak? Kamu akan menjadi kakak, Keen. Dan, adikmu pasti lucu." kataku menghiburnya. Matanya semakin berputar jengah.
"Yang benar saja, mas! Nanti mama dan kak Sheila memiliki bayi secara bersamaan. Terus, aku yang menjadi baby sitternya." Keenan bergidik ngeri.
"Itu akan membuatmu lebih dewasa." ujarku menasihatinya, sambil tersenyum lebar. Keenan mengingatkanku saat aku berusia 17 tahun. Aku yang sering meracau sendiri karena melihat banyaknya adik di sekitarku. Belum lagi Ayahanda yang memintaku untuk menjaga adik-adikku agar tidak bertengkar tapi justru aku sendiri yang terkadang mengajak adik-adikku bertengkar---dengan alasan adik-adikku tidak mau di beri nasihat.
"Mas kenapa senyum-senyum sendiri?"
Keenan menepuk lututku. Aku terhenyak.
"Sudah ayo pulang, kita lanjut bersenang-senang dirumah." Aku beranjak berdiri, merapikan kemejaku.
"Hahaha... Bersenang-senang dengan Anne?" Aku menoleh kilat, sorot mataku yang galak membuatnya terkekeh.
"Jangan membahasnya! Nanti dia merasa terpanggil dan membuat kekacauan."
__ADS_1
Aku tak bisa menerima Anne di rumahku. Itu sudah di luar batas kebaikanku untuknya. Dan, sesungguhnya alasannya bisa bermacam-macam. Terlebih gagasan sinting Keenan membuatku semakin jengkel dengannya.
"Kau adikku sekarang, jika kau sama saja dengan si kembar! Kamu akan habis ditangan Rinjani." semburku, karena Rinjani lebih seram dari aku sekarang.
"Ada pertengkaran yang berakhir dengan tidur di luar." Keenan tertawa renyah.
Aku memiting lehernya.
"Kalian bersekongkol?"
Keenan mengangguk, dan menyengir kuda, "Mbak pasti tambah galak dan tambah cerewet setelah melahirkan."
Aku ingin segera di bebaskan diri situasi yang menyedihkan ini. Takdir sudah bersikap konyol dan kejam dengan memberiku waktu yang tak ada habisnya untuk mengurus anak abal-abal, Anne. Ia berlari terpogoh-pogoh menghampiriku dan Keenan yang sedang berjalan melewati koridor gedung bermaksud untuk kembali pulang.
"Mana Laura dan Eyang?" tanyanya sambil terengah-engah.
Aku dan Keenan melempar pandang dengan dahi yang berkerut. Anne sepertinya sudah sinting, dandannya terlihat seperti pengantin wanita, ia mengenakan gaun putih dan Stiletto. Mengalahkan Laura yang hanya mengenakan kebaya putih yang sengaja Ibunda bawakan sebagai hadiah.
"Lebih baik kamu pulang, Anne. Acara sudah selesai satu jam yang lalu." kata Keenan. Ia menahan tawa saat mendapati Anne menepuk jidatnya dan menunjukkan raut wajah menyesal.
"Aku tadi harus ke salon dulu dan menunggu makeup artist langganan ku."
Keenan menyenggol lenganku, "Sepertinya ada calon pengantin yang mau menikah lagi disini." ujar Keenan tanpa tahu wajah gadis di depannya sudah berubah merah.
"Omong kosong!!!" tukas ku cepat dan bergegas meninggalkan Keenan dan Anne.
"Lalu bagaimana denganku?" sela Anne yang tergesa-gesa mengekori langkah kakiku.
"Itu urusanmu, Anne." jawabku sambil menyiapkan kuda-kuda untuk berlari.
"Sayang sekali, Daddy. Makeup ku mahal." Anne meraba wajahnya membuat Keenan membuang muka malas.
"Pergi saja dengan Keenan atau anggap saja koridor ini arena catwalk."
Anne dan Keenan saling menatap, meneliti setiap inci pakaian yang mereka berdua kenakan. Tanpa mereka sadari, secepat mungkin aku berlari menuju mobilku.
"KALIAN BERDUA PERGILAH!!!" teriakku sebelum aku menghempaskan tubuhku di dalam jok mobil dan menghidupkannya.
Ku lihat dari kaca spion, Keenan dan Anne melambaikan tangannya, mereka berdecak kesal. Aku terkekeh kecil
...siapa suruh asal bicara. itu hukumannya.
Happy reading ๐
__ADS_1