Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 111. [ Mendekati Ayahanda ]


__ADS_3

Sudah lima belas menit aku menunggu Mbok Darmi membuat teh hangat dengan madu dan jeruk nipis. Kini minuman kesukaan Ayahanda sudah Mbok Darmi seduh di cawan emas kesayangan Ayahanda.


"Biar Mbok saja yang mengantarnya, jika cah ayu tidak berani." Mbok Darmi tampak khawatir dengan keputusanku yang ingin mengambil alih pekerjaan Mbok Darmi sore ini. Sore dimana Ayahanda sering menghabiskan waktu di taman belakang.


"Mbok Darmi do'akan Rinjani saja biar tidak melakukan kesalahan." Ku angkat nampan dengan mantap.


"Cah ayu, hati-hati." ujar Mbok Darmi. Aku mengangguk. Aku berjalan dengan hati-hati menuju taman belakang.


Ayahanda tetaplah Raja dimana saja, termasuk di rumahnya sendiri, terlihat ada beberapa abdi yang menjaganya, termasuk sore ini.


Mereka menatapku sekilas lalu salah satu abdi dalem berbisik di telinga Ayahanda. Ayahanda yang sedang membaca surat kabar mengangguk pelan dan menutup korannya.


"Kemarilah putriku." Ayahanda melambaikan tangannya, ku balas dengan senyuman dan melangkah mendekati Ayahanda.


"Ayahanda, Rinjani bawakan teh hangat kesukaan Ayahanda." Ayahanda tersenyum, beliau menerima uluran cawan yang aku berikan. Dengan sekali tenggak teh hangat itu sudah habis tak tersisa.


"Buatan Mbok Darmi?" tanya Ayahanda setelah mengulurkan cawan itu kembali ke tanganku.


"Iya Ayahanda." Aku menunduk. Ayahanda menepuk sisi sebelah tempat duduknya.


"Duduklah, sudah lama Ayahanda ingin berbicara denganmu, terlalu banyak waktu yang Ayahanda habiskan tanpa sadar ternyata Ayahanda memiliki putri yang cantik sepertimu." Pipiku tersipu, dengan malu-malu duduk di sebelah Ayahanda.


"Letakan saja nampan itu di atas meja."


"Ah ya." Dengan tergesa-gesa aku menaruh nampan yang aku bawa sedaritadi ke atas meja. Aku gugup, baru kali ini aku berada di dekat Ayahanda. Degub jantungku sudah tak karuan, nyaliku mendadak ciut.


"Ayahanda, terimakasih untuk paviliun unik yang Ayahanda buatkan, Rinjani suka."


"Kamu sudah memikat dua putraku. Hmm... apa kali ini kamu juga akan memikat hati Ayahanda?" Seperti tertancap busur panah, gelagatku sudah terbaca Ayahanda, aku tersenyum jenaka.


"Seperti apa hakikat cinta sesungguhnya menurut Ayahanda?"


Ayahanda kembali mengambil surat kabar dan membacanya. Sedangkan aku di buat kebingungan sendiri menjawab pertanyaanku. Aku bergeming.


"Ora ana sing bisa napsirake sejatine katresnan. Amarga katresnan iku universal. Kayane tresna karo lingkungan, tresna marang makhluk urip lan tresna marang Sang Hyang Jagad. Kabeh bisa ngrasakake katresnan, nanging inti saka katresnan mung bisa dirasakake kanthi ati sing tulus."


"Apa Ayahanda bisa merasakan cinta yang tulus itu? Bagaimana rasanya?" tanyaku pada Ayahanda, yang ditanya hanya melirikku dengan ekor matanya.


"Kamu masih muda putriku, masih panjang perjalanan cintamu. Kelak, kamu sendiri yang akan tahu apa hakikat cinta itu sesungguhnya."


"Sejak kecil Rinjani tidak pernah mendapat kasih sayang yang utuh dari cinta seorang laki-laki. Tapi karena pernikahan ini, Rinjani bisa mendapatkan kasih sayang yang luar biasa dari mas Kaysan dan adik-adiknya, termasuk welas asih dari Ayahanda."


"Sayembara akan dilakukan secara bertahap, maka siapkan dirimu dengan baik-baik. Kemampuan mu akan Ayahanda uji selama satu Minggu. Jika tidak berhasil, maafkan Ayahanda putriku. Semua demi apa yang sudah Ayahanda dan Leluhur perjuangkan."


"Rinjani mengerti Ayahanda, sebab itulah Rinjani ingin dekat dengan Ayahanda. Sebelum nantinya jika Rinjani kalah, Rinjani bisa merasakan kasih sayang dari seorang Bapak."


Ayahanda melipat surat kabarnya, "Nindy putriku tercinta tak pernah semanja ini."

__ADS_1


Lalu Ayahanda memelukku erat.


"Kabeh iku sing udu dalane pancen abot anakku, butuh waktu dan tidak cukup dengan hanya kesabaran." [ Semua itu yang bukan jalannya pasti berat ]


"Baik Ayahanda."


"Satu lagi, berat untuk bersaing dengan Nurmala Sari, tapi satu yang menjadi kelemahannya yaitu Kaysan."


"Ayahanda curang! Tapi bukankah mas Kaysan juga menjadi kelemahanku?"


Ayahanda tersenyum simpul. "Sudah sore, kembalilah ke kamar mu, Ayahanda tahu, kamu dan Kaysan sedang menjalani puasa Mutihan. Ayahanda hanya berharap, tidak perlu banyak yang di korbankan demi menjadikanmu Ratu."


"Jika Ayahanda mengizinkan. Rinjani ingin ikut saat Ayahanda berkunjung ke rumah istri Ayahanda yang lain."


"Apa kamu ingin melakukan survei?"


"Rinjani hanya ingin mencari dukungan dan mengenal lebih dalam istri-istri Ayahanda."


"Apapun alasannya, yang paling penting adalah izin dari suamimu. Lihat, dia sudah pulang. Sambutlah."


Aku mengangguk, ku cium punggung tangan Ayahanda dan berlalu pergi tanpa meninggalkan nampan dan secangkir teh sogokan.


Kaysan menunggu di dekat kolam ikan,


"Mas." panggilku.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Temani sebentar." Kaysan menarik nampan dari tanganku dan menaruhnya di pinggir kolam ikan.


"Mas, itu cawan emas kesayangan Ayahanda. Kalau hilang mas nanti di hukum." Ku ambil lagi nampan itu dan membawanya.


Menggunakan jarik saat di rumah membuatku kehilangan kebebasan saat berjalan, hingga akhirnya tangan Kaysan menepuk pantat ku, senyumnya melebar.


"Apa sih mas? Jaga ya tangan nakalmu itu!" Aku melotot.


"Harus berapa purnama lagi aku merindukanmu, Jani."


"Orang sabar disayang Tuhan, jadi bersabarlah seperti aku."


"Kamu sabar karena kalau bukan aku yang memintanya, kamu tidak mau memulainya."


"Sebaiknya mas mandi dulu, dan bersiap-siap untuk buka puasa." Aku menyerahkan nampan berisi cawan emas ke tangan Mbok Darmi.


"Mbok, siapkan seperti biasanya." Mbok Darmi tersenyum.


"Mau sampai kapan kalian seperti ini 'den bagus dan cah ayu? Wajah kalian sama-sama pucat, Mbok Darmi tidak tega melihatnya."

__ADS_1


Aku dan Kaysan saling melempar pandang. "Mbok cukup do'akan semoga berjalan lancar." ucap kami serempak.


Mbok Darmi menghela nafas panjang, "Sepertinya Mbok harus memanggil Dhanangjaya untuk datang kemari. Kalian sama-sama mengorbankan diri demi sebuah kekuasaan. Jangan serakah, jangan lupa apa yang kalian tanam mungkin sekarang sudah menjadi janin yang siap berkembang." Mbok Darmi tersenyum.


"Ada baiknya kamu memang menyudahi untuk berpuasa Rinjani. Aku takut jika kamu sudah hamil."


Aku tersungut-sungut, "Mas juga asal buat, gak tahu apa jika Rinjani sedang ingin memperjuangkan kemerdekaan."


"Sudah-sudah, kenapa kalian bertengkar." Mbok Darmi berusaha melerai.


"Mas Kaysan yang gak tau diri Mbok, sudah tahu Jani mau melakukan sayembara. Malah benih nya sudah di tanam disini." Aku menunjuk perutku.


"Lebih baik kita periksakan kandungannya." usul Kaysan yang di iyakan Mbok Darmi.


"Sekalipun begitu, mas juga gak akan menemani, 'kan?"


Kaysan menyeringai, "Nakula yang akan menemanimu."


Aku mengangguk, "Boleh, tapi setelah itu, Rinjani minta izin untuk menginap di rumah Bunda Sasmita."


"Jika niatmu hanya ingin melepas rindu dan membahas masa lalu dengan bunda Sasmita, tidak aku izinkan!"


Kaysan membopong tubuh ku, aku meronta-ronta, "Itu balasannya, yang buat siapa yang menemani periksa siapa? Mas cuma mau enaknya saja."


"Memang enak, siapa bilang tidak."


Kaysan tertawa. "Kamu juga merasakan enaknya bukan? Jangan bilang tidak! Jika tidak itu tandanya kamu membuatku menjadi suami yang gagal."


Aku merengut, "Enak, enak banget mas, bikin ketagihan, mantap pokoknya."


Kaysan semakin tertawa, "Terimakasih sudah memujiku, sekarang siapkan baju ganti, sebentar lagi kita menghadap Sang Kuasa."


Kaysan menurunkan ku saat kami berdua sudah berada di dalam kamar, "Mas mau pakai baju warna apa?"


"Apa saja, yang penting bukan baju tidur, karena nanti aku akan pergi sebentar."


"Kemana?" tanyaku penasaran.


"Ini malam Minggu sayang, tidaklah ini waktunya berkencan?"


Aku mengangguk mantap, "Siap mas, aku juga mau malam mingguan."


Kaysan menarik tanganku, "Mau kemana? Aku turuti asal jangan ke tempat keramaian."


"Kemana ya, Jani tidak tahu. Mas saja mau kemana, Jani yang akan menurut."


"Baiklah. Tunggu sebentar dan jangan ikut ke kamar mandi."

__ADS_1


"Siapa yang mau ikut, mas ini GR!"


Selamat malam Minggu, semangat akhir pekan ๐Ÿ’š


__ADS_2