
Pukul empat sore, pendopo belakang sudah geger.
Aku ternganga heran dan ragu-ragu berjalan mendekati Isabelle yang membawa serta kakek, nenek, adik, om, tante, ketua RT, dukuh, dan kedua orangtuanya.
"Kan, acaranya makan malam, bukan makan sore." kataku sengit.
Isabelle berbalik, "Beib, kamu mau melamarku?" kata Isabelle, senang.
Keningku berkerut. Melamar dari lubang sedotan. Aku mengacak-acak rambutku.
"Kan hanya acara keluarga, Beib. Kenapa ramai sekali." Aku menarik tangan Isabelle untuk menjauh dari keluarganya.
Mereka disambut oleh abdi dalem yang menjamu mereka dengan teh hangat dan bakpia. Sedangkan Ayahanda dan Bunda belum ada dirumah, bahkan abdi dalem juga belum mendekorasi pendopo belakang dengan tatanan bunga. Yang ada hanya karpet hijau yang di gelar rapi. Mereka duduk dengan harap-harap cemas. Tapi senyuman mengembang penuh suka cita.
"Aku kira kamu mau buat kejutan, Beib. Makanya aku bawa sekalian keluargaku dan aparatur desa." Isabelle bergelayut di lenganku. Ia tersenyum, semringah.
Duh Gusti... ribet! Bisa-bisa bakal ada perang antar bahasa. Bahasa Belanda, bahasa Inggris dan bahasa Jawa.
"Aku memanggilmu dan keluargamu kesini atas permintaan Ayahanda. Termasuk keluarga Irene. Bukan untuk membuat kejutan untukmu."
Isabelle melepas tangannya, ia menatapku tajam. "Kamu?"
Aku menghela nafas panjang. Sebelum akhirnya kalimat yang aku ucapkan membuat Isabelle menampar pipiku.
"Kami jahat, Wa!"
Belum pernah aku melihat Isabelle marah besar padaku. Wajahnya merah padam, begitu juga urat-urat lehernya sudah menegang. Bibirnya pasti sudah ingin meracau, tapi sayang semua itu sudah tercekat saat air mata juga mengalir di wajahnya.
Ku cekal tangan tangan Isabelle sebelum dia melangkah pergi.
"Sopan?" tanyaku.
Isabelle semakin terisak, kepalanya menggeleng pelan.
"Aku memang salah, dan aku akan meluruskan niatku untuk memilih diantara kalian. Tapi jika kalian berdua sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Aku akan menikahi kalian berdua. Tapi dengan syarat! Syaratnya adalah kalian bisa melakukan semua titah Ayahanda yang berkaitan dengan aturan istana dan kebijakan yang telah disatukan dengan aturan menjadi istri seorang pangeran."
Isabelle masih menggeleng. Tangisnya semakin menjadi-jadi, hingga membuat keluarganya menoleh ke arah kami.
"Kamu mencintaiku, tapi kamu tidak mau mencintai budaya yang ditinggalkan oleh leluhurku. Aku rasa, ini memang berat untuk kita, Isabelle. Tapi jika kamu masih menginginkan kesempatan untuk kita, kamu bisa menunjukkan niatmu menjadi satu-satunya. Aku rasa..."
Isabelle menggeleng, "Jangan putus. A-ku mau memperbaiki diriku, untuk hubungan kita. Wa, tolong..." ujar Isabelle tersedu-sedu.
"Maafkan aku sudah menduakan cintamu. Maafkan aku Isabelle. Marahlah dan hukum aku." ucapku menyesal. Sekaligus untuk meredakan emosi Isabelle.
Lagi-lagi Isabelle menamparku. Lebih kencang dari sebelumnya.
"Itu hukumannya. Kamu jahat! Selama ini aku sudah setia. Aku sudah banyak menolak perasaan laki-laki lain. Itu hanya demi kamu, Wa. Demi kamu!" Isabelle menusuk-nusuk dadaku. Dia murka. Wajahnya yang putih sudah tak lagi indah, dan yang tersisa hanya air mata dan amarah yang membuat wajahnya seperti banteng yang sedang PMS.
__ADS_1
"Aku akan mengartikan dua tamparan keras ini sebagai caramu memaafkan salahku." Aku merangkul bahu Isabelle dan mengajaknya untuk bergabung dengan keluarganya.
*
Aku pergi ke kamarku, lalu menelepon Bunda untuk segera pulang karena Ayahanda dan Bunda sedang menghadiri rapat kerja dengan pemerintah setempat. Sedangkan Ibunda sedang ada di luar kota untuk mengurus izin pembukaan lahan yang akan menjadi pabrik roti berskala besar. Dan, semua itu akan dilimpahkan untuk keluarga Rinjani. Karena nanti setelah Ibunda pensiun, Ibunda akan menghabiskan masa tuanya dengan cucu-cucunya di istana. Menemani mas Kaysan dan Mbak Jani.
Karena tak mendapati Bunda mengangkat teleponku. Aku memilih untuk menelpon mas Kaysan. Karena hanya mas Kaysan yang bisa menjadi penengah di antara kedua belah pihak.
Mas Kaysan • Kenapa, Wa?
Aku • Jam berapa pulangnya, Mas?
Mas Kaysan • Sebentar lagi. Kenapa gugup?
Aku lalu menceritakan apa yang terjadi di pendopo belakang. Mas Kaysan justru tertawa. Aku memohon, hingga mas Kaysan mengiyakan untuk pulang cepat.
Menghadapi situasi yang tidak biasa aku hadapi, membuatku kalang kabut. Mbak Jani dan Mbak Nindy ikut Ibunda pergi ke luar kota setelah kondangan kemarin. Kami berpisah diparkiran, mas Kaysan ikut pulang bersama keluarga ke rumah utama. Nakula dan kak Rahma melanjutkan kegiatannya di hotel.
Aku memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap. Paling tidak aku harus terlihat segar dan keren di hadapan kedua keluarga kekasihku.
Selang tiga puluh menit, mas Kaysan masuk ke dalam kamarku. Aku masih bersembunyi seperti seorang pengecut.
Mas Kaysan menggeleng sambil menjewer telingaku.
"Kamu mau membuat perang dunia di rumah?" tanyanya.
"Terus?"
Aku tersenyum kecut.
"Ini semua rencana Ayahanda, Mas. Soalnya aku bingung milih Irene atau Isabelle. Kalau menurut mas Kaysan, siapa gadis yang panas bersanding denganku?"
"Tanyakan pada hati kecilmu!"
Mas Kaysan keluar dari kamar. Membuatku semakin bingung.
Isabelle, Irene, Isabelle, Irene, Isabelle, Irene...
Aku menjatuhkan tubuhku diatas ranjang, terlentang dengan tatapan mata yang menerawang ke langit-langit kamar.
*
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Itu artinya, semua tamu undangan sudah berkumpul di pendopo belakang.
Aku menyiapkan mental ku sebelum aku benar-benar keluar menunjukkan batang hidungku.
Pintu kamar terbuka, Bunda menggeleng sambil menarik tanganku.
__ADS_1
"Jangan buat semua orang mumet karena ulahmu!"
Aku berjalan dengan gontai, sembari mendengar ultimatum Bunda yang gak ada habisnya.
Di hadapan tamu undangan, aku tersenyum kecut. Isabelle masih terlihat sama, matanya sembab meski wajahnya sudah tidak berurai air mata. Irene, justru menunjukkan wajah bingung. Ia berniat mendekatiku, tapi dilarang oleh Ayahnya.
Aku terpaku di tempatku. Di sampingku ada Bunda dan mas Kaysan. Begitu juga jamuan makan malam yang sudah tertata rapi diatas meja.
"Maafkan saya sudah terlambat untuk memulai acara ini. Perkenalkan saya ayah dari putra terakhir saya, Sadewa." kata Ayahanda sudah duduk di kursi kebesarannya.
Semua orang hanya mengangguk, lalu Ayahanda kembali melanjutkan perihal inti undangan makan malam bersama.
Semua langsung berbisik-bisik dan menunjuk ke arahku. Aku menunduk.
"Lihat... kamu sudah bikin kegaduhan!" bisik Bunda di telingaku.
"Iya, aku salah, Bun! Makanya harus diluruskan keadaannya."
"Otak dan hatimu yang harus diluruskan!"
"Iya, iya. Bunda jangan galak-galak!"
Bunda menghela nafas. Lalu, Bunda meminta Ayahanda untuk melanjutkan makan malam agar suasana hati sedikit lebih tenang.
Makan malam berjalan dengan tenang, kedua belah keluarga menikmati sajian sedap yang berupa makanan western yang sengaja di pesan untuk menjamu tamu undangan.
Setelah acara 'merokok setelah makan' selesai. Ayahanda memintaku untuk menjelaskan niatan baik untuk memilih satu diantara dua hati yang mengisi hatiku.
Aku menjelaskan kesalahanku dari A - Z. Isabelle mulai menangis lagi. Irene hanya menyandarkan kepalanya di lengan bapaknya yang kekar.
Suasana kembali riuh. Mas Kaysan mulai menimpali.
"Adik saya tidak pantas untuk diperebutkan. Isabelle, Irene. Mas mengenal kalian berdua sebagai gadis yang baik. Alangkah lebih baik, kalian sendiri yang memutuskan apa kalian masih mau berpacaran dengan Sadewa atau tidak? Katakan saja sejujurnya. Sebelum semua semakin tersakiti."
Isabelle menggeleng, aku yakin diapun bingung dengan keputusannya. Karena setelah pengkhianatan yang aku lakukan, semua rasa tak lagi sama.
Irene yang sedaritadi diam, mulai gusar. Ia menatap bapaknya, mencari persetujuan melalui telepati.
Ayahanda mulai angkat bicara. Karena keadaan tak juga tenang.
"Menjadi istri seorang Ningrat bukan hal mudah. Apalagi kalian berasal dari kebangsaan yang berbeda. Memang tidak masalah, asal menuruti semua pakem-pakem yang sudah ada. Isabelle, Irene. Tentukan pilihan kalian, Ayahanda tidak mempermasalahkan soal kewarganegaraan kalian. Hanya saja menjadi anak mantuku perlu belajar, contohnya seperti ndoro ayu Rinjani."
Kini mas Kaysan yang menjelaskan apa saja yang harus Mbak Jani lakukan selama menjadi anak mantu Ayahanda.
Isabelle dan Irene tercekat mendengar penuturan dari mas Kaysan. Aku pun begitu. Ternyata selain harus mempunyai mental baja, mas Kaysan juga mengeluarkan jumlah uang yang tidak sedikit. Sedangkan aku, uang kuliah sama uang jajan saja masih harus menunggu transferan Bunda dan Ayahanda.
Akhirnya, dengan berat hati aku memutuskan hubungan cinta dengan Isabelle dan Irene. Memutuskan hubungan sepihak yang membuat Isabelle berteriak histeris dan Irene yang menangis di pelukan Bapaknya.
__ADS_1
Happy reading 💚