
Kecurigaan terhadap Ibunda yang pergi keluar negeri sudah terendus oleh Ayahanda. Terlebih tujuan Ibunda adalah Australia, tempat dimana Kaysan dan Rinjani tinggal. Ayahanda menyuruh pihak otoritas bandara internasional NYA untuk memberi kabar jika Ibunda ratu kembali.
Dan, disinilah Ayahanda menunggu Juwita Ningrat dan Sasmita menampakkan batang hidungnya.
Kedatangan pesawat Boeing yang membawa ratu Juwita Ningrat membuat semua pihak keamanan bandara berjibaku menyiapkan pengawasan ekstra terhadap beliau.
"Mau gak mau memang tidak ada yang bisa disembunyikan, Sas." ucap Ibunda. Ia tahu pihak pengawas bandara yang menerima kehadirannya adalah utusan Ayahanda dan prajuritnya.
"Piye meneh Mbakyu, umpomo dolanan delik-delikan, awakdewe ndelikke kurang primpen." [ Gimana lagi Mbakyu. Seandainya mainan petak umpet, kita sembunyinya masih mudah di cari.] Bunda Sasmita menyenggol lengan Ibunda Ratu.
"Gimana cara menjelaskan tentang Kaysan dan Jani, Sas. Sampai ke penjuru dunia manapun Sultan Agung tetap akan mencari Kaysan."
Mereka berdua masih berucap dengan lirih. Takut-takut ada pihak yang mendengar obrolan mereka.
Tiba di ruang VIP. Ayahanda menatap Ibunda ratu dan bunda Sasmita secara bergantian.
"Apa kalian sedang melakukan konspirasi global? Dimana putraku, Wi?" tanya Ayahanda tanpa basa-basi. Ia tahu dari gelagat kedua istrinya yang berbinar senang.
Ibunda Ratu mengangkat bahu.
"Aku dan Sasmita liburan ke Australia dalam rangka peninjauan kualitas pelayanan terhadap masyarakat, terutama masyarakat Jawa yang tinggal di Australia." jelas Ibunda. Ayahanda tak percaya dengan alasan permaisurinya.
"Itu sudah menjadi tanggung jawab KBRI di Australia, permaisuriku. Coba katakan alasan yang lebih logis? Seminggu di Australia tanpa memberi kabar, apa itu yang dilakukan seorang istri? Sudah mau membangkang?" Ayahanda masih gencar membombardir pertahanan Juwita dan Sasmita.
Hingga Sasmita yang lelah akhirnya menjawab pertanyaan Ayahanda.
"Anakmu baik-baik saja, dan lima bulan lagi kita resmi menjadi nenek dan kakek. Suamiku, lunakkan hatimu. Kelak cucumu akan kaget jika memiliki kakek seorang raja yang tidak bijaksana. Anak tetaplah anak, sampai kapanpun tetap ada ikatan batin yang terjalin diantara kalian."
Ibunda ratu menyenggol lengan Sasmita, "Piye to Sas, inikan rahasia." ucap Ibunda. [ Gimana to Sas! ]
"Sudahlah Mbakyu, garwo kita ini perlu tahu. Sudah ayo pulang, kepalaku pusing Mbakyu." [ garwo : sigarane nyowo ] Sasmita menepuk-nepuk dahinya. Kepalanya masih pening. Terlebih naik pesawat selama tujuh jam adalah pengalaman keduanya.
"Aku mumet Mbakyu, aku kangen kasurku, aku kangen Nanang."
Ayahanda tersenyum lebar, "Sudah ayo kita pulang istri-istriku. Nanti ceritakan lagi pengalaman kalian di negeri kangguru." Dalam hati Ayahanda seperti mengalami musim semi. Penuh warna dedaunan, dari awal tumbuh hingga terurai bebas. Menjadi seorang kakek adalah impian baginya, terlebih lagi Ayahanda ingin dipanggil dengan sebutan, "Grandpa."
__ADS_1
*
Setibanya di rumah utama dengan dibantu iring-iringan mobil polisi. Ayahanda meminta kedua istrinya untuk istirahat terlebih dahulu. Mereka akan berjumpa lagi saat makan malam tiba. Sedangkan Ayahanda masuk ke dalam kamar Kaysan.
"Putraku, apa harus aku sendiri yang menjemputmu." gumam Ayahanda.
Tidak ada yang berubah sejak kepergian Kaysan dari rumah. Semua masih terlihat sama karena Ayahanda yakin bahwa Kaysan dan Rinjani akan kembali.
"Hanya kamu yang Ayahanda percayai untuk menjaga nagari. Keras kepalamu akan membuat nagari di masa depan tetap terjaga. Keras kepalamu akan dipandang sebagai bentuk pemerintahan yang demokratis tanpa mengurangi unsur budaya leluhur kita."
Ayahanda masih bergumam sendiri, dengan pigura foto ditangannya.
*
Makan malam menjelang diiringi sambutan hangat dari Ayahanda dan para abdi dalem yang ikut senang mendengar keberadaan Kaysan dan Rinjani yang sudah ditemukan.
Mereka ikut duduk di pendopo belakang. Menunggu cerita dari Ibunda ratu dan bunda Sasmita.
"Makan yang banyak istri-istriku." Ayahanda merayu. Senyumnya mengembang sedangkan Ibunda ratu memilih bungkam soal keberadaan Kaysan. Ia ingin tahu bagaimana rasanya merindu tanpa bisa bertemu.
Kepulangan bunda Sasmita pun tak luput dari telinga Nanang. Ia bergegas menuju rumah utama setelah mengantar pulang Anisa.
"Bun, dimana Nakula dan Sadewa?" tanya Nanang.
Bunda Sasmita menaruh jarinya di depan mulutnya.
Nanang mengangguk. "Bunda bagaimana Jani?"
Ya, belum sepenuhnya Nanang melupakan mantan kekasihnya.
"Dia senang kamu move on." kata bunda Sasmita.
Ayahanda yang merasa tidak diperhatikan dan diacuhkan menyuruh mereka untuk diam.
"Sekarang siapa yang akan bercerita tentang Kaysan dan Rinjani? Apa Dhanangjaya dan Atmoe masih hidup?" tanya Ayahanda, kedua abdi dalem yang ikut berkomplot dengan Kaysan tak luput dari perhatian Ayahanda.
__ADS_1
"Lebih baik kita makan malam dulu. Kata putriku jika lapar akan membuat kita mapar." ucap Ibunda. [ mapar : marah dan lapar ]
Juwita Ningrat tak luput dari tugasnya melayani suaminya. Ia mengambilkan nasi dan lauk pauk ke dalam piring Ayahanda. Bagi bunda Sasmita, pemandangan yang ia lihat adalah hal yang lumrah. Jika di rumah utama, Juwita Ningratlah yang memiliki kedudukan istimewa di hati Ayahanda.
Makan malam selesai. Ayahanda benar-benar tidak sabar menunggu Juwita Ningrat dan Sasmita bercerita.
"Kaysan tidak akan pulang ke tanah Jawa. Mereka akan melahirkan di Australia. Jadi jangan harap bertemu cucumu." jelas Ibunda.
"Apa benar begitu selir kinasih?" Ayahanda bertanya kepada bunda Sasmita. Ayahanda tahu jika Juwita Ningrat masih kesal dengan dirinya.
"Benar, sulit membujuk mereka untuk pulang. Satunya keras kepala, satunya lagi asal bersama, makan gak makan slalu suka. Hmm, apa tabungan Kaysan masih ia bekukan?" tanya bunda Sasmita.
"Masih. Apa putraku kesusahan? Bagaimana keadaan calon cucuku? Apa Rinjani tidak ada keinginan untuk bertemu dengan mertuanya."
Nanang sedaritadi mendengar, ia jelas masih ingat dimana Kaysan dan Rinjani tinggal.
"Ayahanda, aku tahu dimana mas Kaysan dan Mbak Jani." seru Nanang.
Ibunda menjewer telinga Nanang.
"Mau Ibunda hukum? Awas jika kamu membocorkan rahasia!" Ancam Ibunda. Bunda Sasmita tidak terima anaknya dijewer.
"Mbakyu, anakku."
Nanang terkekeh. Ia sendiri memiliki ide cemerlang yang menguntungkan banyak pihak.
"Ayahanda harus merestui hubungan mereka dan hubunganku dengan Anisa. Jika Ayahanda setuju, aku akan memberi tahu dimana mas Kaysan tinggal."
Ayahanda menggeram. Ia seperti dikerjai istri dan anak-anaknya.
Maka sepanjang malam itu, Ayahanda menimbang-nimbang apakah ia menyetujui permintaan Nanang. Terlebih Kedua istrinya memilih bungkam soal keberadaan Kaysan. Mereka berdua hanya menceritakan seperlunya saja, dan membiarkan Ayahanda sekonyong-konyong memikirkan bagaimana langkah selanjutnya.
Akankah ego masih bersemayam di hati Ayahanda, atau Ayahanda sudah bisa menerima Kaysan sebagai calon raja dan membiarkan Rinjani menjadi seorang Ningrat yang terhormat. Terlebih Ayahanda sudah tahu, Rinjani sedang hamil keturunan Ningrat.
Ayahanda merasa tersayat, ia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Tapi bukankah Ayahanda menyukai anak kecil. Terlihat dari banyaknya anak yang ia miliki. Ayahanda memutar otak, mencari-cari cara, tapi tak berhasil. Pilihan yang di berikan Nanang tak sesederhana itu. Memberi restu, menerima kembali dan hidup bahagia. Lantas, bagaimana dengan bibit, bebet dan bobot yang menjadi acuan dalam memilih jodoh ala bangsawan. Hilangkan, atau masih berdiri kokoh di garis depan.
__ADS_1
Ayahanda kalap, pusing sendiri. Nanang tidak bisa di rayu, apalagi dia bukan bocah yang mudah di iming-iming hadiah.
Happy Reading ๐