
Makan siangku terganggu dengan hadirnya kakek-kakek yang memakai baju surjan dan blangkon dikepalanya, tangannya menggenggam sebuah tongkat dengan pahatan ukiran yang berujung pada kepala naga sebagai pegangan tangannya.
Sungguh antik pikirku, baru kali ini aku mendapat tamu unik di kantorku. Laki-laki tua itu tak sendiri, dia membawa tiga orang dibelakangnya dengan seragam yang sama. Datang dari mana orang-orang ini, pikirku. Dan ada perlu apa sampai datang ke kantorku, tidak tahu jika janin diperutku sudah minta jatah nutrisi dari makanan yang aku telan.
"Silahkan duduk." Pintaku sambil menunjuk bangku sofa di depanku. Ke empat tamu unik di depanku ini seraya tersenyum dan duduk di sofa. Matanya mengedar menatap seisi ruang di kantorku.
"Uhuk, mau minum apa bapak-bapak?" Tanyaku sambil mengambil tablet di meja kerjaku.
"Sadap semua nomer yang ada diruanganku, sekarang!"
"Apa saja asal bukan minuman keras." Kakek tua itu tersenyum lebar, sepertinya dia adalah tetua dari grup ini. Baiklah.
"Biar aku pesankan dulu dari tablet ini, lihat perutku. Sudah besar, aku bahkan malas untuk berjalan." Kataku sambil mengangkat tablet ditanganku dan menunjuk perutku.
"Sepertinya sudah hamil besar, berapa usia kehamilanmu ibu?"
Mataku melotot dipanggil ibu, "Panggil aku Mommy!"
"Mommy?" Tetua grup ini tampak lucu sekali membuatku tertawa, Astaga mimpi apa aku semalam mendapat tamu unik di siang hari.
"Ada perlu apa kalian kemari kakek?" Aku mengelus perutku saat janin di rahimku menendang dengan hebatnya, sepertinya ia juga terhibur dengan ucapan tetua ini.
"Perkenalan saya Dhanangjaya, say..." Aku menganggat tanganku, saat orang yang aku hubungi mengirim beberapa teks laporan sadapan nomer-nomer yang ada diruanganku.
Aku membacanya dengan teliti, sambil sesekali melirik diantara ketiga orang yang lebih muda dari Dhanangjaya.
"Sepertinya pesanan makanan dan minuman saya terlalu banyak, bisakah pengikutmu mengambilnya di lantai dua. Sudah saya bayar tinggal diambil." Kataku sambil tersenyum ke arah Dhanangjaya. Sepertinya dia mengerti maksudku, dia memberi titah pada ketiga pengikutnya untuk turun mengambil pesanan di cafe Amarilis.
"Apa keperluanmu kakek? Tidakkah lebih baik seusia kakek dirumah saja bermain dengan cucu atau cicit?" Aku duduk setelah menutup rapat pintu dengan remote otomatis.
"Cucuku butuh bantuanmu, carikan orang ini." Dhanangjaya menyerahkan secarik kertas ke atas meja.
"Siapa cucumu, jika ku lihat tampilanmu bukan sembarang orang biasa."
Dhanangjaya menyunggingkan senyumnya. "Uang atau tanah, katakan saja apa imbalannya?"
Aku tergelak, "Katakan secara terperinci."
Dhanangjaya menceritakan maksud tujuannya menemuiku, "Sesuai titah, lebih cepat lebih baik. Apapun imbalannya cucuku sanggup memenuhi."
"Baik, secepatnya aku urus. Satu lagi, pengkhianat ada di sekeliling kita. Suruh cucumu untuk berhati-hati."
__ADS_1
Dhanangjaya mengangguk, "Saya permisi, hubungi nomer yang saya taruh di balik kertas itu."
"Baik, bawa makanan yang sudah ku pesan. Pulanglah, dan ingat suruh cucumu tidak memanggilku ibu saat bertemu nanti." Aku mengantar Dhanangjaya keluar dari dalam kantor.
*
Selepas kepergian Dhanangjaya aku menghubungi Candra di markas Brandles Wolfgang.
"Cand, aku akan mengirimmu tugas yang cukup ribet. Kalian harus meretas data perceraian di pengadilan negeri agama belum lama ini, mungkin sekitar satu-dua bulan yang lalu. Dengan nama Herman yang memiliki anak bernama Rinjani Alianda Putri. Cari nama mantan istri Herman. Setelah dapat, retas semua cctv di sekitar rumahnya. Kau mengerti ......, ya secepatnya."
*
Tiga hari berturut-turut tim peretas melakukan tugasnya, siang ini Candra akan datang membawa laporan lengkapnya. Lama menunggu akhirnya dia datang.
"Gimana, apa yang kalian dapat?"
"Ada perlu apa dengan wanita bernama Lastri?"
"Jadi wanita itu bernama Lastri, dimana dia sekarang?"
"Pemakaman khusus orang tak dikenal, di makam pemerintah."
Aku menghela nafas panjang, memikirkan bagaimana nasib gadis itu setelah tahu ibunya sudah tidak ada.
Candra mengangguk, "Istirahatlah, kau terlihat pucat."
"Urusan ini belum selesai Cand, siapkan tim lainnya untuk pembongkaran makam dan tim forensik untuk mengecek kondisi jasad apa benar itu Lastri Ibunya Rinjani."
"Baik."
Setelah memeriksa isi flashdisk yang Candra berikan aku menghubungi nomer yang Dhanangjaya berikan. Berkali-kali nomer itu sulit untuk dihubungi, hingga panggilan terakhir berdering terdengar suara laki-laki yang dingin dan tanpa emosi.
Setelah bercakap-cakap cukup lama, dia berjanji untuk datang setelah urusan pekerjaannya selesai.
Lima jam menunggu di kantor akhirnya dia datang. Aku menelan ludah susah payah, orang inilah penguasa tanah yang aku pijaki.
"Silahkan duduk Tuan." pintaku sambil menaruh laptop di depannya.
"Baik Mommy."
Aku tergelak, "Jadi kamu cucu kakek tempo lalu?"
__ADS_1
"Benar, apa sudah ada hasil?"
"Lihatlah isi flashdisk itu, lalu bisa kamu simpulkan apa yang harus kami lakukan setelah ini."
Laki-laki bernama Kaysan ini melihat isi flashdisk dengan teliti, tanpa berkedip. Sesekali menatapku, terlihat dari raut wajahnya yang mulai terlihat merah, menahan tangis.
"Apa benar wanita itu ibu kekasihku, Lastri?"
"Katakan sejujurnya pada gadis itu, karena kejujuran adalah kunci dari sebuah hubungan. Jika niatmu baik, akan ada jalan baik untuk menuju jenjang itu. Jika kamu setuju, kami sudah menyiapkan untuk pembongkaran makam dan tim forensik untuk mengecek DNA ibu Lastri. Aku perlu rambut gadis itu untuk memastikan kebenaran apa itu ibu Lastri atau bukan. Dan, tentunya biayanya tidak murah." Aku menyeringai penuh arti.
"Simpan baik-baik rahasia dan katakan berapa biayanya?"
"5% saham di perusahaan milikmu."
"Hanya itu saja?"
"Itu sudah lebih dari cukup, saham 5% berlaku seumur hidup."
"Setuju, laporkan padaku jika sudah ditangani tim forensik. Biar ku ambilkan rambut Rinjani. Satu lagi, pindahkan jasad ibu Lastri dimakam milik keluargaku, di perbukitan Mirisewu."
"Baik Tuan, segera laksanakan."
Aku membuka pintu otomatis, mengantar tuan tanah ini keluar kantor. Dengan hati yang gembira beradu dengan hati yang kesal, aku menghubungi Candra. Saham 5% seumur hidup sudah cukup untuk bisa terlepas dari genggaman Dika. Aku bisa hidup bahagia dengan suamiku dan anak-anakku kelak.
*
Hanya butuh satu hari melakukan pembongkaran makam di pusara ibu Lastri, tentunya dengan pengawasan alot dari pihak pemerintah. Kini jasad ibu Lastri yang hanya menyisakan tulang belulang sudah berada di RS mabes polri dan ditangani tim forensik untuk dilakukan pengecekan DNA.
Hanya butuh waktu seminggu, semua rincian tentang jasad ibu Lastri keluar. Termasuk rincian tentang DNA dari rambut Rinjani yang Kaysan berikan setelah pertemuan terakhir denganku.
Aku menepuk-nepuk kedua amplop berlabel rumah sakit itu dengan gelisah, di dalam kantor menunggu tuan tanah datang.
"Maaf, tidak sesuai jadwal. Bagaimana hasilnya?"
"Sesuai dugaannya, dia memang Lastri ibu kekasihmu. Bersabarlah anak muda, ini ujian dalam mencapai tujuan kisah cinta kalian." Aku menyerahkan kedua amplop dari rumah sakit.
Kaysan membukanya, meneliti baik-baik skema DNA Lastri dan DNA Rinjani secara bergantian. Ku lihat ia menunduk cukup lama.
"Jasad ibumu masih di rumah sakit, kami menunggu perintahmu untuk menyemayamkan jasad ibumu di pemakaman Mirisewu."
"Lakukan, jangan lupa tabur bunga tujuh rupa dan seikat mawar putih diatasnya. Akan ku bayar semua kinerja kalian, Terimakasih."
__ADS_1
Laki-laki ini berusaha tersenyum, aku tahu dia sedang getir memikirkan caranya untuk memberitahu kebenaran kepada kekasihnya. Malang sekali nasibnya.
[ Jasmine Adriana adalah salah satu cast di novelku satunya, Kiss the Rain, yang bercerita tentang seorang mata-mata. Karena banyak yg bingung jadi aku jelaskan ๐ ]