
Kemarin, aku benar-benar melewati masa-masa sulit dan sangat berharga dalam hidupku. Aku benar-benar merasakan pengorbanan seorang ibu saat melahirkan seorang anak. Aku terharu dalam tangis saat menatap asing wajah baru di hadapanku. Bayi merah yang masih di selimuti bercak merah dan putih. Parasnya seperti Kaysan, hidungnya sudah bangir sejak lahir.
Sekarang, dalam sebuah keanggunan. Aku sudah resmi menjadi seorang ibu muda satu anak. Rasa sakit di sekujur tubuhku terbalas sudah dengan suara tangisnya yang terdengar mengisi ruangan.
Dua darah bercampur pada satu tubuh mungil di dekatku. Tubuh bayi perempuan yang memiliki nama Raden Ayu Dalilah Sekar Kinasih Putri Adiguna Pangarep. Nama yang panjang sekali untuk putri kecilku yang istimewa. Tubuhnya putih sepertiku, bibirnya mungil berwarna merah jambu, namun parasnya... membuatku semakin sulit melupakan dirinya, suamiku sendiri.
"Istirahatlah cantik, biar Dalilah tidur di baby box." ujar Bunda Sasmita seraya mengambil Dalilah dari pelukanku.
Aku menggeleng, "Tidak Bunda, aku tenang jika Dalilah bisa aku sentuh." kataku sambil tersenyum getir.
Dirumah sakit hanya ada kami berlima, aku, Kaysan, Bunda Sasmita, Ayahanda dan pak Santoso.
Ibunda Juwita berada di rumah untuk mengawasi jalannya proses penguburan ari-ari bayi yang dilakukan oleh pinisepuh istana dan proses membuat brokohan. [ Brokohan serupa dengan kenduri, sebagai wujud berkah syukur atas kelahiran bayi dengan selamat. Brokohan golongan bangsawan berupa : dawet, telur mentah, jangan menir, sekul ambeng, nasi dengan lauk, jeroan kerbau, pecel dengan lauk ayam, kembang setaman, kelapa dan beras. ]
"Baik, bunda akan menjaga kalian disini. Tapi tidurlah." Aku mengangguk, ku peluk Dalilah dalam pelukan kecewa. Kata-kata Kaysan yang berkencan dengan wanita lain masih terngiang di kepalaku. Dia tidak mungkin bercanda dengan hal yang sering membuat kami bertengkar hanya semata-mata untuk membuatku marah.
Setelah ini, setelah aku membaik. Jangan harap ada cinta di balik rahasia, atau cinta diatas dusta.
*
Kelahiran Dalilah adalah peristiwa yang menggetarkan istana. Riuh rendah gosip menggema di seluruh antero gang sempit. Segala sesuatu yang pelik akan kembali melanjutkan kiprahnya. Menghampiriku dan menatapku sengit.
Di hari ketiga aku sudah cukup membaik. Aku sudah bisa jalan sendiri dan di perbolehkan untuk pulang.
Ayahanda sedang menggendong Dalilah dengan mimik wajah yang senang dan gemas. Entah sudah berapa kali, beliau mencium pipi Dalilah. Ditimang-timang cucunya, dan tak memberikan kesempatan Kaysan untuk bersama putrinya.
"Selamat atas kelahiran Dalilah ndoro ayu. Cantik alami." ujar Santoso yang sedang membereskan barang bawaanku.
"Terimakasih pak Santosa. Bujang kapan nikah dan punya anak?" tanyaku sambil menyisir rambutku di depan cermin.
Sebelum pulang, dokter kandungan dan dokter anak melakukan visit untuk memeriksa kondisiku dan Dalilah. Mereka mengangguk sambil memberikan surat izin pulang. Aku senang, itu tandanya aku bisa menikmati suasana pagi di taman belakang.
"Saya masih harus mengabdi kepada Kanjeng Sultan." Santoso menunduk hormat kepada Ayahanda yang masih menimang Dalilah.
"Ayahanda, dia masih muda. Kasian sekali jika harus menjadi ajudan Ayahanda seumur hidup."
"Dia sudah berjanji untuk menggantikan posisi ayahnya yang meninggal. Janji seorang laki-laki harus ditepati, bukan begitu tuan putri?"
"Betul Baginda Raja." Dari pantulan cermin, ku lihat Kaysan mengepalkan tangannya. Ia menatap Santosa dengan tatapan permusuhan.
"Rinjani sudah siap untuk pulang, Ayahanda." Ku mengulurkan tanganku untuk mengambil Dalilah. Awalnya aku merasa kaku saat pertama kali menyusui dan menggendongnya. Tapi kata Bunda Sasmita semua akan terbiasa seiring berjalannya waktu.
Pak Santoso menyiapkan kursi roda di depanku.
"Ayahanda, apa benar Santosa nama aslinya?"
"Itu tidak penting Rinjani!" tukas Kaysan. Ia menghampiriku dan memegang kursi, "Duduklah dan jangan banyak bergerak."
__ADS_1
Aku menatap Kaysan dengan malas, belum cukup rasanya aku mencengkeram punggungnya. Jika tahu kebenarannya, aku sudah pasti akan mencakar-cakar wajahnya. Biar Kaysan buruk rupa dan tak banyak yang mendekatinya. Aku kesal.
"Kita pulang sayang." Kaysan mencium puncak kepalaku dihadapan Santosa yang hanya tersenyum melihat tingkah Kaysan.
Ayahanda menepuk bahu Kaysan, "Sudah jadi ayah, jangan cemburuan. Harusnya kamu berterimakasih padanya, karena selama kamu tidak disini, dialah yang menjaga Rinjani." jelas Ayahanda.
"Ayahanda membiarkan mereka berduaan!?" sela Kaysan dengan nada tinggi. Cepat-cepat aku menutup telinga Dalilah.
"Jangan berteriak di depan Dalilah!"
Pak Santoso berbalik, "BRAy Sasmita sudah berada di lobby rumah sakit. Sebaiknya kita bergegas, karena tidak memungkinkan untuk Ayahanda di lihat banyak orang di sekitar rumah sakit."
Pak Santoso kembali berjalan mendekati Ayahanda. Kaysan menghentikan kursi roda saat jarak kami dan Ayahanda sudah jauh. Ia berjongkok di depanku, "Bubu ingin membalas dendam?"
"Siapa yang dendam? Mas, Jani lelah." Sejujurnya aku ingin cepat-cepat sampai ke rumah dan mengompres payudaraku yang mengeras dan membuat sekujur tubuhku nyeri.
"Kamu bisa percaya padaku, Jani. Aku tidak berbuat di luar batas dengan Anne." Kaysan memegang lenganku, mengusapnya perlahan.
Jadi benar Kaysan berkencan dengan seorang gadis SMA. Oh shit! Aku melihat wajah Dalilah yang terpejam menikmati pelukanku. Ia seperti tidak terusik dengan apapun di sekitarnya. Aku mengecup kening Dalilah, dan berakhir helaan nafas panjang.
"Ayahanda sudah menunggu kita." kataku sambil membuang muka.
Kaysan berdiri, ia mengusap kepalaku. "Ingatlah singgasana kerajaan yang menanti kita berdua, Jani."
Kaysan berkencan dengan gadis SMA sama sekali tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Disaat aku harusnya bahagia, justru ada yang memudarkan asa saat aku kembali pulang. Pelik yang aku rasakan tidak bisa diurai dengan pelukan.
*
"Ini bubu Rinjani yang cantik, Dalilah." Aku tersenyum sambil menempelkan tangan kecil Dalilah di dadaku. Dalilah tak menggubrisnya, ia asyik menyusu dan hanya melihatku.
"Besok kita akan menjadi saingan berat, Dalilah. Persiapkan dirimu sejak bayi." gumamku lirih.
Kaysan mendekat perlahan, dan membaringkan tubuhnya di sampingku.
"Sudah selesai?" tanyaku.
"Hmm..."
"Tidurlah, besok mas harus mengurus surat-surat perlengkapan nikah Bapak dan akta kelahiran Dalilah."
"Kamu tidak marah aku hanya seminggu disini?"
Aku tersenyum getir, "Yang penting mas sudah menepati janji untuk menemaniku lahiran."
Aku mengangkat tubuh Dalilah dan menaruhnya di baby box saat ia sudah terlelap puas dan merasa kenyang. Aku beruntung Dalilah tidak rewel dan mengerti keadaanku.
Aku mengecup kening Dalilah. Sejujurnya bunda Sasmita dan Ibunda tidak melepas begitu saja Dalilah dan aku di kamar berdua. Di sebelah kamar kami, ada abdi dalem yang siap untuk membantuku mengasuh Dalilah.
__ADS_1
Ku lirik Kaysan dengan ekor mataku. Dia masih berbaring diatas ranjang. Astaga, apa yang ia pikirkan. Wajahnya muram dan kusut.
Aku mengganti bajuku karena semua sudah basah sekali karena ASI yang terus merembes keluar. Setelahnya aku keluar dari kamar untuk mencari makanan.
Di dapur masih ada si kembar. Padahal ini sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Belum ngantuk?" tanyaku.
"Ada tugas baru, sist. Mengawasi Santosa!"
"Kenapa diawasi? Badannya lebih kekar dan usianya lebih tua dari kalian. Ribet banget." kataku, sambil mengambil nasi dan lauk pauk.
"Yang ribet itu suamimu, Mbak!" tukas Sadewa.
Aku terkekeh kecil, "Sabar ya."
"Mbak sudah sehat?" tanya Nakula.
"Seperti yang kamu lihat, ada apa?"
Aku menunggu Nakula mengutarakan maksudnya. Ia tampak tersenyum kecil.
"Ini file video waktu Mbak lahiran kemarin." Nakula memberiku flashdisk.
"Kamu melihatnya?"
"Sedikit."
"Malu!!!"
Nakula tersenyum lebar, "Bisa-bisanya bertengkar saat situasi genting."
"Sssttt.. kamu gak tahu masalahnya. Mas Kaysan kencan dengan Anne. Menurutmu kencan versi kalian itu bagaimana?"
Sadewa dan Nakula saling menatap dan mengangguk, "Ciuman, mojok, jalan-jalan, makan malam, nonton film, atau..."
BRAKKKK!!!!
Aku menggebrak meja dengan kencang, dan terpogoh-pogoh menuju kamar.
Kaysan yang mendengar suara kegaduhan, beranjak dari tempat tidur. Ia menatapku panik. Aku mencengkeram kerah kemeja Kaysan, "Apa yang mas lakukan dengan Anne, hah!? Apa mas juga melakukan hal yang sama dengan yang kita lakukan!!! Mas berkencan dengannya dan membiarkan aku menderita sendiri mengandung anakmu!!!" Aku berteriak dan mendorong Kaysan hingga menempel di dinding.
"Kamu kesurupan?" ujarnya. Aku kesal, ku tepis tangan Kaysan saat ia memegang pinggangku.
"Jangan menyentuhku!!!"
Aku kenyang dengan kemarahan. Ku ambil bantal dan menghempasnya di dada Kaysan, "Tidur diluar!"
__ADS_1
Happy reading ๐