Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 46. [ Mas.... ]


__ADS_3

Kening kami bertemu, nafas kami saling beradu, "Berdoa dulu mas."


Ia tersenyum sambil memejamkan mata, akupun juga ikut begitu. Dalam do'aku, semoga apa yang sudah ku putuskan akan menjadi pilihan terbaikku.


Belum ku buka mataku, kecupan manis mendarat di bibirku. Aku terkesiap, ku buka mataku perlahan. Terlihat Kaysan masih memejamkan matanya. Ia mengulum lembut menikmati setiap inci bibirku. Tapi aku yang tak tahu cara berciuman akhirnya hanya diam.


Dibawahnya aku bagikan kepiting yang terjepit batu. Tak bisa bergerak, tangannya menggenggam tanganku, ciuman yang mengalun lembut kini berubah menjadi ciuman yang menuntut. Bibirnya menggoda, memintaku untuk membalas ciumannya. Aku memegang bahunya, mengigit kecil bibirnya.


"Kenapa?" Matanya terbuka.


"Aku gak bisa nafas mas." Nafasku tersengal-sengal, Kaysan tersenyum lalu menyandarkan tubuhnya di bahu ranjang. Sambil menarik nafas dalam-dalam, aku menarik tubuhku dari cengkeramannya.


"Kemarilah." Ia tepuk pahanya.


Dengan malu-malu aku menuruti perintahnya. Meskipun sudah berstatus suami istri. Aku belum yakin dengan perasaan kami berdua.


"Kenapa?" tanyanya.


"Malu, mas." jawabku dengan pipi yang tersipu.


"Pengalaman pertama memang masih malu-malu kucing, lihat mataku." pinta Kaysan. Aku menatap mata Kaysan sejenak dan mengangguk. Namun, Kaysan justru menggodaku dengan kata-katanya. Ku peluk Kaysan erat dan bersembunyi di ketiaknya.


Seperti kuncup bunga yang perlahan merekah, tubuhku menginginkan lebah untuk menyesapi maduku. Semakin menggeliat, semakin dalam Kaysan mencumbu bibirku. Tubuhku sudah tak bisa dikendalikan lagi.


Nafasku tersengal-sengal bahkan aku tak bisa menahan diri lagi. Keringat sudah membasahi tubuhku.


Tangan Kaysan berhenti bermain, ia melepas ciumannya dan melepas bajuku dengan cepat. "Mas..." Aku menutup dadaku.

__ADS_1


"You're so cute, Rinjani." Bisiknya membuat telingaku geli. "Mas, aku malu."


Ku rasakan bagian bawahnya mulai menegang. Tangannya mulai menyusuri setiap lekuk tubuhku, menggoyangkan pinggulku untuk memberi sentuhan lembut dibagikan intimnya yang mengeras. "Masss..."


Nafasnya memburu, wajahnya menegang. Rasanya aku ingin memberontak, semakin banyak bergerak semakin ia tindih tubuhku dengan badannya. "Ja-ni... Ja-ni..." Suaranya terdengar serak, ia melepas bajunya dan mendorong tubuhku ke atas ranjang.


Dibawah pendar cahaya lilin yang remang-remang, Kaysan tersenyum lalu mengecup bibirku. Tangannya berkelana mencari kenikmatan. Bulu-bulu halus ku mulai meremang saat tangannya mulai berlari ke tempat dimana segala kenikmatan duniawi berada.


Aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Merasakan setiap sentuhannya. Mataku terpejam seraya menikmati sentuhannya.


"Buka matamu dan tatap aku Rinjani." Bisiknya sambil menggigit cuping telingaku.


"Mas, Jani malu."


"Tidak apa-apa. Apa kamu sudah siap?"


Kaysan tersenyum, tangannya menarik tanganku untuk menyentuhnya. Menyentuh sesuatu yang membuatku bergidik ngeri. "Ini menggelikan, mas." Wajahku tersipu dan terbenam di ketiaknya. "Aku malu mas." kataku lagi.


"Lakukan pelan-pelan seperti saat kamu menyetrika baju." jelasnya membuatku tersenyum lebar. "Tapi ini bukan setrika mas."


"Memang bukan, tapi akan membuatmu panas." Aku terkekeh, malam pertama macam apa ini, pelajaran biologi tidak ada gunanya, Kaysan malah mengibaratkan si benda tak bertulang ini seperti setrika.


"Mas..."


"Hmm..." Mulutnya sibuk lagi dengan si kembar Cherry, tangannya sudah menelusuri sumber mata air yang siap banjir membasahi jarinya. Aku menggeliat, "Masss..." Ku usap dahinya yang sudah banyak mengeluarkan keringat.


Kaysan menghentikan aktivitasnya, ia mengangkat tubuhku dan mendekapnya erat.

__ADS_1


"Jika sudah ku hamburkan calon-calon penerus tahta dirahimmu. Maka kamu tidak akan pernah lepas dari lingkungan hidup keluarga Hadiningrat. Tubuhmu, jiwamu harus siap mengabdi sebagai istri dan penerus tahta keluarga Hadiningrat."


Aku tidak menyangka, benar kata Nina. Rinjani yang dulu akan hilang setelah ijab Kabul diucapkan. "Jika mas akan mendukungku dan menemani setiap langkahku. Jani tidak ada alasan lain untuk menolaknya."


"Rinjani, untuk sekarang status kita memang dirahasiakan. Tapi percayalah, hanya kamu satu-satunya gadis yang aku miliki. Kamu adalah gadis yang beruntung karena aku bisa memilikimu. Kamu percaya?"


Hatiku merasa teriris pisau, terbelah menjadi dua. Disatu sisi aku menjadi seorang istri yang harus mengabdi kepada suami dan keluarga Hadiningrat, disisi lain aku harus berpura-pura tidak mengenal suamiku dan menyembunyikan status ku. Aku harus menjadi ratu drama selama dua tahun. Aku benar-benar wanita dengan status yang dipertanyakan!


"Jika mas mencari kebahagiaan di sebuah pernikahan rasanya itu tidak adil. Karena pernikahan bukan untuk mencari kebahagiaan semata, tapi juga untuk mencari kesempurnaan hidup."


Aku tenggelam di sebuah rasa yang bimbang. Bahkan nafsuku sudah hilang ditelan kenyataan.


"Kita sedang belajar mengasihi, dan masih terus mendalami karakter." Kaysan seperti menangkap sorot mataku yang redup, "Jangan sedih, kamu tetap satu-satunya. Percayalah, bukannya aku tak terlihat seperti pria-pria nakal?" lanjutnya lagi.


Aku mendengus kesal, "Mas emang gak seperti pria nakal. Tapi banyak cewek nakal yang mendekati dan menggoda mas!" Aku cemberut, "Sudah, tidur yuk mas. Uji cobanya besok lagi. Jani sudah gak berselera." lanjutku lagi sambil menjauhi tubuhnya.


"Marah?"


"Gak ada alasan untuk marah. Memang sebaiknya status kita disembunyikan dari khalayak umum."


"Maaf Rinjani."


"Besok mas kerja gak? Kalau kerja, sekarang mas juga tidur." Ku ambilkan bajunya dan memakainya, "Celananya mas pakai sendiri." Aku menyaut kaos putih dan memakainya. Uji coba membuat penerus tahta keluarga Hadiningrat batal malam ini. Momentum yang tidak tepat sasaran untuk membuat suatu perunding masa depan.


Aku tidur membelakangi Kaysan, "Tidak sopan tidur membelakangi suami." katanya pelan tapi menyindirku, dengan cepat aku berbalik dan memeluk tubuhnya, "Bangunkan Rinjani saat adzan subuh nanti." pintaku sebelum akhirnya aku memejamkan mataku. Tubuhku sudah lelah, namun telingaku masih samar-samar bisa mendengar suara Kaysan. "Have a good dream my empress."


Di Puk... Puknya bahuku sambil dikecup keningku. ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2