
[ Buat yang tanya, aku pusing gak mikirin nama anak Ayahanda yang banyak. Jawabnya IYA. π ]
*
Hari-hari berikutnya aku disibukkan dengan mencari printilan barang sebagai simbol 'langkahan' untuk semua kakakku. Tentunya dibantu oleh Sadewa. Ia dengan semangat membantuku mencari segala macam benda keinginan saudaraku yang lain, yang membuatku pusing.
"Yakin, kamu mau ngasih mas Dimas sepatu Nike limited edition itu?" tanya Sadewa tidak percaya.
"Iya, mau gimana lagi." kataku pasrah. Sepatu ini aku beli bukan dari merengek memintanya kepada Ayahanda. Tapi sepatu ini aku beli hasil dari tabungan uang jajan bulanan saat aku putus cinta dengan Narnia.
Waktu itu hidupku rasanya hambar, tidak bergairah. Makan pun harus di suapin Bunda. Jika ku ingat betapa menyedihkan diriku saat itu, hingga aku memutuskan uang tabunganku untuk membeli sesuatu yang mahal, seperti cinta Narnia terhadapku.
"Buat mas Dimas aja kamu ikhlas, aku pinjam buat ngedate sama Isabelle, kamu pelitnya minta ampun." seru Sadewa tidak terima.
"Ya, maaf. Kamu kalau pinjem barang-barang ku, suka jarang pulang." jawabku jujur. Meskipun kami kembar, kami memiliki kesukaan yang berbeda dalam urusan berpakaian. Tidak jarang, Sadewa sering mengambil barang-barang ku yang cocok untuk ngadate dengan Isabelle. Dan, berakhir menjadi hak miliknya.
"Kamu beneran cinta sama kak Rahma?" tanya Sadewa, "Atau, kamu hanya nyaman saja dengan wanita dewasa, La?" lanjutnya lagi sembari membersihkan telinganya.
"Apa sih, Wa." tepis ku.
"Jawab saja, kamu nyaman atau memang cinta dengan kak Rahma? Bisa jadi kamu hanya nyaman dan merasa aman dengan kak Rahma. Kamu merasa terlindungi dengan semua kata-kata mutiara kak Rahma yang notabene adalah seorang psikiater."
"WA!"
Sadewa tertawa, "Aku hanya tanya, jangan marah!" Lalu ia buru-buru menjelaskan maksudnya.
"Wa..., sekalipun kak Rahma bukan psikiater. Aku tetap jatuh cinta dengannya. Ia memiliki sifat keibu-ibuan seperti Bunda. Dan, itu membuatku nyaman."
Selesai sudah aku membereskan semua barang yang akan aku beri untuk semua kakakku.
"Aku capek, Wa."
"Belum nikah udah capek, apalagi setelah nikah nanti. La, aku pikir kamu harus mencoba jamu buatan Mbok Darmi. Biar strong seperti mas Kaysan." ujar Sadewa memberiku segelas air putih.
Aku mendesis, "Dasarnya mas Kaysan dan Mbak Jani aja yang doyan kawin!"
__ADS_1
Sadewa terkekeh, "Besok kamu juga sama dengan mereka. Hati-hati saja. Sekali tancap lupa untuk melepasnya."
"Hmm... kamu harus memilih, Wa. Kasian Isabelle yang sudah mendampingi mu sejak lama." Aku membujuk lagi. Berkali-kali meminta Sadewa untuk hanya memiliki satu pacar dan tidak menggantungkan harapan kepada dua gadis cantik. Sadewa memang menyukai produk luar, katanya sih ingin memperbaiki keturunan.
"Isabelle baik, tapi kalau dia udah mempunyai keinginan harus aku turuti dan hari itu juga. Orangtuanya juga baik, tidak ruwet. Bahkan rela menyerahkan putrinya dengan suka rela. Mungkin papa dan mamanya sudah pusing memikirkan bagaimana cara mengasuh Isabelle." ujar Sadewa dengan wajah memelas.
"Irene juga baik, dia setia. Karena kesetiaan itulah, aku jadi tidak rela menyakitinya." elak Sadewa.
"Tapi kamu jelas-jelas menyakitinya, Wa!" Aku geram. Sepertinya Sadewa memang berbakat dalam berakting. Ia benar-benar menuruni bakat Ayahanda dalam membagi cintanya.
"Terus, aku harus gimana? Isabelle kalau aku putusin bisa nangis tujuh hari tujuh malam, Wa. Aku repot dan malas mendengarnya."
"Buat aja sayembara seperti Ayahanda waktu itu. Siapa yang sanggup menjalani kehidupan Ningrat, itulah yang pantas untuk kamu bawa ke pelaminan. Karena pasti Ayahanda juga menginginkan menantu yang mampu belajar dan ikut membantu melestarikan budaya kita."
"Boleh juga idenya. Kebetulan besok waktu kamu nikah, dua-duanya bakal datang." Sadewa tersenyum bingung.
"Jangan buat kekacauan. Awas saja!" Ancam ku.
"Istirahatlah, besok kamu sudah mulai memasuki tahap awal menuju pernikahan." ujar Sadewa, ia menepuk bantal disebelahnya.
"Jadi maksudmu, kamu mengajakku tidur berdua?" tanyaku sambil mengernyit heran.
"Baiklah, tapi jangan memelukku!"
Sadewa justru tertawa, "Kamu yang melodrama. Gayanya gak bisa move on dari Narnia. Eh, udah buru-buru minta nikah. Jangan-jangan, gara-gara sering mendengar suar gaib dari kamar mas Kaysan. Dan, kamu pengen. Hahaha."
"Pengen kan wajar. Yang penting tidak salah tempat. Orang berhak melakukan apa saja dengan alat kelaminnya. Tapi tidak untuk menyakiti orang lain."
"Aihhh, bijak banget. Sudah ayo tidur. Mimpi indah saudaraku."
Aku tersenyum dan membaringkan tubuhku disampingnya. Berharap semua mimpi indah akan segera terwujud.
*
Keesokan paginya, aku sudah bersiap untuk melakukan siraman di pendopo belakang. Aku gugup, aku benar-benar akan menikah dua hari lagi.
__ADS_1
"Bismillah, niat ingsun ngedusi temanten jaler." ucap Ayahanda sembari mengguyur air bunga telon ke tubuhku. [ bunga telon : mawar, melati, kantil ]
"Ingatlah dengan baik, pitutur luhur yang Ayahanda katakan. Wanita yang kamu nikahi bukan wanita muda yang bisa kamu bohongi. Rahma, lebih dari sekedar wanita yang cantik. Tapi, dia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Jangan cemburu, jika nanti Rahma memiliki kedekatan dengan pasiennya." ujar Ayahanda.
Aku mengangguk. Kak Rahma memang istimewa. Karena sangat istimewa, aku tidak rela kak Rahma menikah dengan orang lain.
Bunda Sasmita terus menemaniku, tapi sialnya. Mbak Jani dan mas Kaysan sering menatapku dengan senyuman usil.
Mereka serasi menggunakan baju kebaya yang mereka desain dengan gaya sederhana namun terlihat elegan. Maklum 'couple goals' harus menjadi panutan dari semua adik-adiknya.
Mas Kaysan menghampiriku, kini giliran dia yang menyiramkan air dari dalam kendi. "Welcome to the club, adik. Jangan sungkan untuk bertanya apapun tentang masalah rumah tangga dan lain sebagainya."
Aku berdehem, satu guyuran air semakin membasahi tubuhku.
"Terimakasih, mas." ucapku.
Mas Kaysan hanya tersenyum. Ia kembali menghampiri Dalilah yang sudah merengek minta di gendong. Keponakan ku memang lucu sekali. Bahkan Mbak Jani dan Dalilah sering berebut untuk mendapatkan perhatian khusus dari mas Kaysan. Betapa beruntungnya mas Kaysan saat ini, ia mendapat cinta yang luar biasa dari Mbak Jani dan Dalilah. Hmm... jangan ditanya Suryawijaya, ia tetap bucin terhadap Mbak Jani. Hingga Mbak Jani sering mengeluh tentang Suryawijaya yang slalu rewel jika sehari saja tidak melihatnya.
Seusai acara siraman, aku sudah berganti pakaian. Seperti biasa, menggunakan baju kejawen dengan atribut lengkap beserta keris dan blangkonya.
Upacara selanjutnya adalah dodol dawet dan tumpengan. Semua itu dilakukan oleh Ayahanda dan bunda, sedangkan aku hanya duduk dan menerima 'dulangan pungkasan' yang berarti suapan terakhir yang melambangkan tanggung jawab terakhir Ayahanda dan Bunda terhadapku.
Ayahanda menatapku tidak percaya, sedangkan bunda sudah menitihkan air mata.
"Ayahanda masih tidak percaya, kamu anak terakhirku justru sudah mengikuti jejak Kaysan. Kamu benar-benar sudah dewasa, anakku."
Aku tersenyum, "Aku sudah siap Ayahanda." Ayahanda menepuk kedua bahuku dan mengangguk, "Laki-laki memang harus siap berkomitmen."
Bunda semakin terisak, "Jangan lupakan Bunda."
Aku menggeleng cepat, "Bunda tetap nomer satu, tidak ada gantinya! Tapi Sadewa masih membutuhkan bunda untuk meluruskan jalannya." ujarku.
Bunda memelukku, "Saudaramu memang mirip dengan ayahnya. Sudahlah, kita lanjutkan upacara lainnya."
Aku mengangguk, dan prosesi pernikahan akan terus berlanjut hingga nanti malam. Saat aku datang ke rumah kak Rahma untuk menyelesaikan prosesi Midodareni dan menyerahkan seserahan.
__ADS_1
Aku tidak sabar, menanti datangnya hari esok. Saat aku mengucapkan kalimat sakral ijab qobul dihadapan penghulu.
Happy reading. π