Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 63. [ Hari baru ]


__ADS_3

Suara tepuk tangan menyambutku dengan riuh rendah. Banyak mata yang menatapku dengan bibir yang tersenyum, mata para lelaki yang tak aku kenali.


Dipendopo belakang rumah keluarga besar Adiguna Pangarep semua berkumpul, suka cita terpancar dari wajah-wajah penikmatnya. Ibunda dan Ayahanda duduk khidmat sembari melihat tingkah laku anak-anaknya. Indy, anak perempuan satu-satunya terlihat duduk diantara mereka berdua. Diapit seraya takut ia akan terlepas.


Diantara kaum Adam ada yang memakai batik lengan panjang dan memakai celana kain, ada juga yang memakai kemeja santai dan celana cargo pendek.


Setelah aku diperkenalkan menjadi anggota baru di keluarga Adiguna Pangarep. Satu persatu adik Kaysan berkenalan denganku, seorang laki-laki berusia 30 tahunan dengan paras wajah yang maskulin menjabat tanganku, "Rama."


Lalu seperti antrian sembako murah, ke tujuh adik Kaysan yang berjenis laki-laki ini menyalami tanganku secara bergantian.


"Nakula..."


"Sadewa..."


"Bentar kalian kembar ya?"


"Iya." Lalu kedua saudara kembar itu, berlalu pergi kembali mengerubungi meja yang berisi banyak makanan.


"Dimas."


"Andri."


"Danu."


"Airlangga."


"Aksa."


Mereka tersenyum, menyambutku dengan tangan terbuka.


Namun aku mengernyit, jumlah adik Kaysan yang berkenalan denganku hanya sembilan orang---termasuk Nindy. Lalu dimana satunya.


"Mas..." Aku berjalan menghampiri Kaysan, karena sedaritadi dia hanya sibuk memegang kamera untuk mendokumentasikan momen.


"Iya, Jani?" Kaysan menaruh kameranya lalu, menggengam tanganku.


"Sudah hafal nama-nama adikku?"


Aku mengerutkan kening, lalu mengangkat bahu. "Nanti Jani hafalkan, tapi masih kurang satu adik mas. Dimana dia?"


Kaysan tersenyum, melepas genggaman tangannya. "Dia belum datang, masih ada kesibukan."


Aku melongo sambil mengangguk, aku cukup dibuat heran, apa tradisi memiliki banyak anak banyak rezeki diterapkan di keluarga ini sehingga Ibunda dan Ayahanda sampai memiliki sepuluh anak, tanpa mengikuti program KB. Lalu apa arti program-program yang dibuat pemerintah untuk mengurangi populasi penduduk, "Apa setiap tahun Ibunda melahirkan anak mas?"


Mata Kaysan terlihat membulat sempurna, lalu wajahnya mendadak tegang.


"Semua adik-adik mas adalah anak Ibunda dan Ayahanda. Tidak perlu kamu pikirkan apa Ibunda melahirkan anak setiap tahun." Matanya menatapku sebentar, lalu menunduk seperti menyembunyikan kegelisahan.


Bibirku mengerucut, "Jani gak mau punya anak banyak, Mas."


"Iya, nanti kamu pake alat kontrasepsi."


Alisku bertemu, lalu menyeringai. "Enggak mau pake alat kontrasepsi, mas aja yang pake ******!" Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada, bagaimana bisa Kaysan memiliki ide untuk memasang alat kontrasepsi, apa lagi kontrasepsi IUD yang alat pemakaiannya harus mengangkang kaki lebar-lebar dengan alat bernama cocor bebek yang dimasukan ke lubang ******, lalu dengan perlahan sebuah alat penunda kehamilan berbentuk T di sematkan diantara celah-celah sempit dan ditaruh di dekat rahim. Astaga, membayangkan saja aku sudah ngilu.


"Kalian bahas apa?" Tiba-tiba, salah satu anak kembar itu mendekati kami. Membawakan sepiring jajanan pasar lalu duduk di sampingku, "Kata Ibunda, Mbak Jani harus makan."


Ditaruhnya piring itu diatas meja. "Terimakasih, Ehm... kamu Sadewa atau Nakula?" sambil mengamati wajahnya dengan seksama, aku mengambil sebuah kue cucur dan memakannya.


"Enak. Mas, mau?" Aku mengambil kue cucur lagi dengan topping keju, lalu menyodorkannya ke depan mulut Kaysan.

__ADS_1


"Buka mulutmu, Mas."


Kaysan menggeleng, "Makanlah yang banyak, biar badanmu berisi."


"Mas, nanti main game ya, aku ada PS baru."


"Game?" dahiku mengerenyit lalu menatap Kaysan yang tersenyum lebar.


"Iya, Wa."


"O... jadi kamu Sadewa?"


"Iya Mbak. Aku kuliah ditempat yang sama dengan Mbak. Tapi beda gedung."


"Mas, tapi kita belum bicarain urusan kuliah. Kenapa tiba-tiba?" Aku menatap tajam ke arah Kaysan.


"Nanti Mbak berangkat bareng aku, sama Nakula."


Sadewa yang tersenyum jenaka ini, membuatku menggerutu. "Mas, kamu sedang tidak menyerahkan tanggung jawabmu dengan adik-adikmu kan?"


"Tidak, Jani. Kamu tetap tanggung jawabku. Hanya di kampus saja kamu menjadi tangung jawab mereka berdua."


"Berapa umurmu, Wa?"


"11 12 sama umur, Mbak."


"Kuliah dimana kamu?"


"Rahasia."


Aku mengadu pada Kaysan yang sibuk melihat hasil jepretannya, "Lihat mas."


Kaysan menunjukkan layar kameranya.


"Tapi kamu cantik seperti ini."


Wajahku tersipu, "Mas sedang tidak merayuku kan?"


"Tidak... kamu memang cantik, Rinjani."


"Ibunda, apa penganten baru seperti ini?"


Sadewa tiba-tiba mengadu pada Ibunda saat beliau menghampiri kami.


"Kenapa, Wa? Penganten baru emang lagi anget-angetnya." Ibunda menepuk pundak Sadewa sambil tersenyum.


"Pengganggu!" Indy yang berada di belakang Ibunda, tiba-tiba menyeletuk dengan senangnya. Sadewa berdiri sambil menentengkan kedua tangannya.


"Aku akan disini sama Nakula. Habis kamu, Mbak Indy."


"Jadi mas lebih memilih Nakula dan Sadewa untuk menjaga Rinjani di sini daripada memilih Indy? Mas lebih memilih untuk menyimpan selendang hijau itu?" Indy berucap dengan berapi-api, sepertinya rasa kesal seperti sedang menyelimuti hatinya.


"Apa itu selendang hijau, Mas?" tanyaku penasaran.


Semua orang nampak saling melempar pandang, semakin membuatku penasaran. "Mas, apa selendang hijau yang dibicarakan Indy?"


Ibunda terkekeh kecil, lalu duduk disampingku. "Hanya selendang hijau cah ayu, selendang milik Ibunda Ratu."


Ku tatap Kaysan yang hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Labirin pertanyaan mulai berlarian di pikiranku. "Memang untuk apa sebuah selendang, Ibunda?"


"Untuk menari, besok siang Ibunda akan berkunjung ke kamarmu. Ada beberapa hal yang ingin Ibunda bicarakan. Sekarang nikmatilah waktumu dengan adik-adikmu disini, mereka sekarang adalah keluargamu."


"Apa Rinjani juga harus menari?"


"Tentu, sudah diwajibkan semua anak-anak Ibunda dan Ayahanda harus bisa menari. Apalagi besok kamu akan menjadi Ratu."


Aku menatap Kaysan, "Apa mas juga bisa menari?"


Sadewa yang sedari tadi hanya mengunyah makanan mengacungkan jempolnya, "Pokoknya mas Kaysan pintar menari dimana saja."


"Dimana saja, maksudnya?" dahiku berkerut, kenapa semakin kesini semakin banyak hal yang tidak aku ketahui tentang Kaysan. Apa lagi yang ia sembunyikan dariku, hingga harus dari mulut orang lain aku mendengarnya.


"Kenapa kalian membuat Rinjani penasaran. Mbak, mas Kaysan adalah idola kami saat menari. Setiap gerakan tubuhnya semakin membuatnya terlihat gagah dan berwibawa. Mbak Jani sendiri sudah merasakan kegagahan mas Kaysan kan?" Indy tersenyum lebar, senyumnya seperti mengejekku karena pingsan.


Ibunda menggelengkan kepalanya, "Nindy..."


"Hehe... Ya Ibunda."


"Sudah sudah, Ibunda pusing lihat kalian bertingkah. Kembalilah ke kamar masing-masing jika sudah selesai."


Semua anak Ibunda mengangguk.


Indy dan ibunda pergi, Sadewa bergabung dengan saudara kembarnya.


"Jani, pengen lihat mas menari."


"Nanti."


"Tidak menari diatas ranjang. Menari dengan diiringi musik atau gamelan."


"Suaramu adalah iringan merdu saat menari diatas ranjang, Rinjani." Senyumnya menyeringai, mesti wajahnya terlihat datar.


"Kenapa mas jadi monster sih! Rinjani jadi takut sama mas." Aku mengambil segelas air putih lalu meminumnya.


"Takut? Lebih takut mana, aku atau surga yang semakin menjauhimu?"


Mataku membulat, "Mas emang pinter bikin Rinjani serba salah."


"Hidup sebuah pilihan, Jani. Memilih untuk menuruti suami atau membantah suami?"


"Rinjani akan menurut, tapi mas juga tahu diri. Kalau Jani hamil gimana, bukannya Rinjani harus kuliah?"


"Kamu akan mengambil jurusan sejarah dan budaya. Semua berkas sedang diurus Nakula dan Sadewa, Minggu depan kamu sudah bisa kuliah."


Kaysan menarik salah satu tanganku, lalu menaruhnya di pipinya, "Mas tetap akan menjagamu, Jani. Tapi mas memiliki tanggung jawab sendiri, bisakah Rinjani menjaga diri saat di kampus nanti?"


Aku mengangguk, "Tapi mas janji tidak mengabaikan Rinjani? Mas janji meluangkan waktu untuk Rinjani meski mas di kepung pekerjaan?"


Aku mengelus pipi Kaysan, menatap matanya dalam-dalam mencari sebuah kebohongan yang tersimpan. Mata yang sedikit memerah itu, menatapku sayu. Aku berusaha menangkap semua maksud dari benak Kaysan, yang ku lihat hanyalah sebuah mata yang perlahan memejam. "Nanti jika ada waktu kamu boleh mengunjungi mas di tempat kerja, ajaklah Indy atau Nakula dan Sadewa."


Malam semakin menyiratkan gelap, menyisakan kesunyian. Satu persatu adik-adik Kaysan pergi meninggalkan pendopo belakang. Masuk ke kamar mereka, kamar yang berjajar dengan kamar Kaysan.


Saat aku dan Kaysan berjalan menuju kamar. Indy masih berdiri di depan kamarnya, ia menyeletuk dengan nyaringnya, "Ingat mas, banyak adik-adik disini. Jangan buat kami bersembilan kesusahan tidur karena kalian!"


Aku menatap Kaysan, "Memang kamar mas tidak kedap suara?"


"Tidak, semua biasa-biasa saja."

__ADS_1


Aku bergelayut di lengan Kaysan, "Jadi kita pake nada getar saja mas. Tidak pake nada suara."


Jangan lupa kasih like n vote ya kekasih ๐Ÿ’š


__ADS_2