Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Antologi cerpen [ Nakula III ]


__ADS_3

..." Kebahagiaan adalah momen dimana kita duduk bersama dengan dua raga dan dua wajah, namun hanya satu jiwa "...


...Maulana Jalaluddin Rumi...


...***...


"Saya terima nikah dan kawinnya Rahma Anindita Putri binti Abraham Satya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Ucapan itu terdengar terasa berat. Saat aku melepas masa lajang ku diusia 25 tahun. Begitu penghulu dan para saksi mengucapkan kalimat SAH. Aku yakin, takkan pernah mencintai wanita lain selain istriku. Rahma.


Kak Rahma tersenyum, ia mencium punggung tanganku. Mataku berbinar-binar senang.


Untuk pertama kalinya, aku mencium kening kak Rahma. Kemudian, dahi kami saling bertemu. Membiarkan mereka yang melihat kami berdua berdecak kagum dan bersorak, 'cium, cium, cium.'


"Istriku." ucapku kikuk.


Kak Rahma tersenyum manis, "Suamiku." Tangannya mengusap lenganku. Menenangkan diriku, "Rilex." katanya.


Aku tersenyum getir, sungguh aku sekarang resmi menjadi suami. Beginikah rasanya. Wow... aku tidak bisa berkata apa-apa.


Ayahanda dan mas Kaysan menjadi saksi pernikahanku. Sedangkan Sadewa ia memilih menjadi tim dokumentasi.


Sejujurnya ada hal lain yang ia hindari. Irene benar-benar datang ke rumah utama. Bersama rombongan keluarga Keenan dari Melbourne yang ingin menjenguk baby Kylie.


Sedangkan Isabelle juga datang, bersama keluarganya.


Sungguh, saudaraku itu ingin lari dari tanggung jawab.


Mas Kaysan menepuk bahuku, "Ajak istrimu makan dan istirahat." ujarnya sambil beranjak berdiri.


Aku menatap mas Kaysan dengan tatapan memohon. Memohon agar aku diajari cara merayu yang terlihat seperti laki-laki dewasa.


"Makan saja dulu dan istirahat. Dua jam lagi resepsi. Banyak tamu yang akan datang, jadi belum saatnya untuk..."


Bunda berdehem, "Kay... Dalilah mencari mu." kata Bunda, sambil menunjuk Dalilah yang berada di gendongan mas Santosa.


Mas Kaysan terkekeh, "Belum saatnya kan, Bun... Nanti lutut udah lemes duluan." Mas Kaysan tersenyum jenaka.


"Kamu ini, Kay. Kasian Nakula kamu doktrin terus dengan hal-hal yang absurd."


Ayahanda tertawa, "Memang Nakula harus belajar dari yang sudah berpengalaman. Ajari adikmu, putraku. Ia masih terlalu awan dengan hal itu."


Kak Rahma menunduk malu. Sedangkan Bunda menggelengkan kepalanya. Mas Kaysan semakin tertawa, lalu menjawab.


"Tapi aku juga tidak perlu praktek langsung kan? Bisa-bisa Suryawijaya nanti punya adik." seloroh mas Kaysan.


Bunda Sasmita menarik mas Kaysan menjauhiku. Membiarkan Ayahanda mengobrol dengan besan barunya.


"Kak, ayo makan dulu." kataku sambil malu-malu.

__ADS_1


Entah kenapa, status kami yang sudah menjadi suami istri membuatku dirundung kegugupan yang aneh. Sedangkan kak Rahma, justru sedaritadi dengan santainya membalas senyuman dari semua kerabat dekat dan sanak keluarga yang menghadiri pernikahan yang berlangsung tertutup.


"Rilex sayang. Sedaritadi aku lihat wajahmu tegang banget. Kenapa?" tanya kak Rahma. Ia mengelus lenganku.


"Kakak masih tanya kenapa!" jawabku sambil menunjukkan wajah masam.


"Tapi berhasilkah. Rilex dong, nanti wajahmu lebih tua dari kakak kalau seperti itu terus. Ayo makan, kakak lapar." ujar kak Rahma, sambil beranjak berdiri.


Kakak adalah panggilan sayangku untuk kak Rahma. Dan, kak Rahma tidak mempermasalahkannya.


"Kakak mau makan apa?" tanyaku.


"Apa saja sayang."


Aku berjalan mendekati meja makan yang tersedia secara prasmanan.


Hampir tiga tahun bersama, aku tahu apa makanan kesukaan kak Rahma. Dia adalah pecinta ayam goreng kremes. Dan, kebetulan, aku kemarin meminta agar disediakan ayam kremes dengan sambal matah.


"Pengantin baru...,"


Aku menghela nafas panjang, "Apa Mbak?"


"Gimana? Lega?" tanya Mbak Jani. Sebagai ibu menyusui dirinya sangat antusias melihat banyaknya makanan di depannya. Terlihat dari banyaknya camilan yang ia taruh di piringnya.


"Lega... Terimakasih Mbak."


Mbak Jani terkekeh, "Sudah sana, suapi istrimu. Setelah itu istirahat sebentar dan persiapan makeup untuk resepsi."


"Ada apa? Aku mau makan dengan kak Rahma!" ujarku, malas jika harus ikut campur dalam urusannya.


"Bagaimana caranya menjelaskan tentang kisah ini?"


Mbak Jani menyerahkan satu lemper ke tangan Sadewa.


"Ajak makan lemper, dawet, gudeg, dan makanan sederhana lainnnya. Kamu bisa menilai mana yang bisa kamu ajak serius. Jujurlah dihadapan kedua pacarmu." kata Mbak Jani.


Sadewa menggeleng cepat. "Irene bawa Bapaknya. Belum pasukannya badannya tegap-tegap. Takut aku, Mbak."


"Pengecut."


Aku tertawa, Sadewa menghela nafas kasar. Ia kembali menghampiri mereka berdua, "Ayo kita makan bertiga. Kalian mau makan apa? Maaf Irene, disini tidak ada makanan western. Jadi makan apa yang ada saja, bisa?"


Irene terlihat mengangguk, ia menggandeng tangan sebelah kanan Sadewa. Sedangkan Isabelle menggandeng tangan sebelah kiri Sadewa.


Sadewa memang gila.


Aku kembali mendekati kak Rahma. Dan, menghabiskan waktu bersama di tengah keluarga yang asyik menikmati jamuan prasmanan. Setelahnya kami beristirahat di kamar. Dan, berduaan di dalam kamar dengan seorang wanita untuk pertama kalinya membuat jantungku berdetak kencang. Aku bingung harus melakukan apa, menyentuh kak Rahma pun, tanganku masih kaku. Alhasil aku malah menyuruh kak Rahma untuk tidur siang, sedangkan aku mencari mas Kaysan untuk meminta bantuan darinya.


...***...

__ADS_1


Acara resepsi berlangsung dengan ramai dan dihadiri oleh semua tamu undangan. Semua jajaran petinggi istana datang untuk memberi selamat atas pernikahan yang terbilang unik.


Aku dan kak Rahma menjadi bulan-bulanan para orang dewasa yang sudah paham dengan apa yang akan terjadi setelah ini.


Entah kenapa, justru aku yang tersipu.


"Apa kakak mau malam ini juga aku melakukannya?" tanyaku tiba-tiba.


Kak Rahma mengulas senyum, "Kalau kamu sudah siap, kak mau-mau saja."


Astaga. Aku benar-benar akan kehilangan keperjakaan ku malam ini. Tapi aku gelisah.


"Tidak usah buru-buru, kalau kamu belum siap sayang. Kakak setia menunggu."


Apa kekalutanku begitu kentara?


Aku mengangguk pelan, dan melanjutkan lagi beramah-tamah dengan tamu undangan. Teringat dengan pesan mas Kaysan untuk tidak melakukannya dengan tergesa-gesa karena akan menghilangkan keintiman dengan pasangan.


Dari banyaknya tamu undangan, mataku tertuju pada sepasang suami istri yang tersenyum manis kepadaku. Mereka ada orangtua Narnia.


"Om, Tante." sapa ku, sambil membungkuk hormat.


Om Tama memelukku erat, "Om senang kamu bisa melanjutkan hidupmu, Nakula. Sudah waktunya kamu untuk berbahagia." Om Tama melepas pelukannya. Ia menepuk pundakku, menyemangati ku.


Kini giliran Tante Risa yang mengelus pipiku, "Jangan cengeng ya anak manis."


Aku tersenyum malu, "Tante...,"


"Hahaha... Narnia beruntung pernah menjadi milikku. Sudah ah, Tante mau menemani om Tama bertemu dengan ayahmu. By the way, kami juga mengenal orangtua istrimu." jelas Tante Risa yang membuatku mengarahkan pandangan ku kepada ayah Abraham.


Ayah Abraham menghampiri kami bertiga.


"Dunia ternyata selebar daun kelor. Sempit, bahkan ayah dari mantan kekasihmu adalah rekan bisnis ayah." ucap ayah Abraham sembari merangkul bahuku. Ayah Abraham awalnya tidak percaya putrinya memiliki pacar seorang mahasiswa patah hati yang gagal move on.


"Wajar saja bocah ini sulit move on dari Narnia, Tam. Putrimu memang yang terbaik." ucap ayah Abraham kepada om Tama.


"Narnia sudah bahagia, Bram. Dan, aku yakin Narnia akan senang jika melihat Nakula bersanding dengan Rahma. Seseorang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya." ujar om Tama.


Aku berdehem, membuat kedua laki-laki dewasa di depanku merangkulkan tangannya di bahuku secara bersamaan.


"Apa yang bisa dilakukan bocah 25 tahun ini, Bram?" kata om Tama.


"Aku rasa, justru Rahma yang akan memulainya, Tam. Secara mental, Rahma sudah siap untuk melakukan hubungan suami istri. Tapi, bagaimanapun tergantung kejantanan pria di sebelah kita." Ayah Abraham dan Om Tama tertawa meledek.


Aku menelan salivaku susah payah.


Apa benar malam ini aku harus melakukan malam pertama?


Naluriku mengatakan aku belum siap melakukannya, namun entah dengan reaksi tubuhku nanti jika melihat tubuh kak Rahma.

__ADS_1


Happy reading πŸ’šπŸ˜‚


Gimana malam pertama Nakula nanti ya. Ah, sulit aku bayangkan. Brondong gak punya pengalaman pasti bakal kocak. 🀭


__ADS_2