Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Melawan hati ]


__ADS_3

Kami dipisahkan amarah yang membuncah dan tersekat dinding pemisah, memang tak seharusnya aku mengatakan jika aku berkencan dengan Anne. Bukan, bukan berkencan. Aku hanya menjinakkannya agar tidak agresif mendekatiku dan berakhir jatuh cinta yang berkelanjutan.


Aku menuju salah kamar adikku, namun sebelum aku masuk. Ku lihat si kembar sedang tertawa terbahak-bahak. Mereka menyalahi aturan!


"Diamlah!!! Ini sudah malam!" kataku geram, tawa itu seakan mengejekku yang sedang di hadapankan pada kemarahan Rinjani. Sekejap suara itu menghilang di gantikan anggukan kepala Nakula dan Sadewa.


"Mas kenapa bawa bantal keluar kamar?"


"Bukan urusanmu, tidur!!!"


Ku dekap bantal yang hanya diam di pelukan.


...harusnya aku bisa memeluk Rinjani


...harusnya aku bisa melepas rindu


...tidakkah ia paham, aku hampa tanpanya


*


Bara api masih membakar amarahnya. Dia mengunci dirinya, dan Dalilah berada di dekapan kecewa ibunya.


Di pagi hari yang cerah, di taman belakang ada Dalilah yang menikmati sentuhan hangat mentari pagi.


"Santoso..."


Teriak Rinjani saat ia merasa aku mulai mendekatinya.


Terpogoh-pogoh laki-laki itu mendekati Rinjani. Aku menghadangnya.


"Pergilah."


"Ndoro ayu ada dalam pengawasan saya, atas titah Paduka raja." ucap Santosa dengan sopan, tapi sesopan apapun dia dihadapan ku rasanya percuma. Bagiku, sekalipun dia hanya ajudan Ayahanda, dia berbahaya untuk rumah tanggaku.


"Aku suaminya, dan aku berhak ada disampingnya."


Rinjani menggendong Dalilah, dan berjalan tepat di antara kami.


"Pastikan laki-laki ini tidak menyentuhku, pak Santosa."


"Bubu memanggilnya dengan sebutan 'pak', TUA!"


Santosa hanya tersenyum mendengar hardikku.


"Baiklah ndoro ayu." Tangannya kemudian mencekal ku, menarik ku menjauhi Rinjani.


"Kamu salah paham sayang. Aku tidak pergi berdua dengan Anne, ada Keenan dan Bapak. Laura juga tahu." kataku mencoba menjelaskan.b

__ADS_1


Rinjani masih bergeming, ia melanjutkan menjemur Dalilah. Terpaan sinar matahari membuatnya terlihat indah, dengan rambutnya yang tergerai hitam panjang yang di hembus angin.


"Maafkan saya Gusti pangeran haryo."


"Dibayar berapa kamu oleh Ayahanda?"


"Cukup banyak untuk menghidupi keluarga." jawabnya.


"Berapa umurmu?"


"30 tahun."


"Sejak kapan Ayahanda memilih laki-laki muda menjadi ajudannya. Pasti tidak ada yang beres!" ujarku merayakan suara patah hati.


"Jaga istriku, tapi jangan sampai kamu menyentuhnya sedikitpun!"


"Baik, saya akan menjaganya dengan segenap jiwa dan raga saya." Santoso tersenyum dan mengangguk.


Persetan dengan kata-katanya. Aku menghampiri Ayahanda, "Rencana apa lagi yang Ayahanda siapkan? Belum cukup menghadirkan Nurmala Sari, sekarang ada Santosa."


Ayahanda meminum teh hangatnya. Senyum tipisnya mengembang. Dan, aku sangat tahu arti senyumannya.


"Santoso hanya menjaga Rinjani, karena tidak mungkin Ayahanda membiarkan cucu kesayanganku terancam bahaya."


"Maksud Ayahanda, Rinjani tidak becus mengurus Dalilah?" Suaraku meningkat.


"Sabar putraku. Rinjani dan Dalilah bisa saja menjadi ancaman bagi mereka-mereka yang menginginkan kedudukan mu. Santoso bekerja dengan baik, ia menghormati Rinjani sebagai istrimu. Sekarang masalahnya bukan itu, tapi bagaimana denganmu? Bukannya semalam kamu tidur di luar."


"Aku membutuhkan dana untuk mengelola pabrik gula beroperasi kembali, uangku tidak akan cukup untuk membayar pinalti jika aku tidak kembali ke sekolah."


"Kenapa tidak kamu serahkan kepada adikmu Rama untuk mengurus pabrik? Kalian bisa bekerja sama layaknya adik dan kakak. Sudah lama Ayahanda tidak melihat kalian bersama."


"Rama... Bocah kesayangan Ayahanda sudah kembali dari luar negeri?"


Ayahanda tertawa kecil, "Masih cemburu pada adikmu?"


"Ayahanda tinggal menjawabnya."


"Saat kamu pergi, dia kembali."


Terangnya matahari tak ubahnya kekacauan yang menyilaukan dan membakar kulitku.


"Pastikan Santoso bisa menjaga kepercayaan ku, jika tidak. Ayahanda tahu bahwa aku sudah tidak mau menjelma menjadi anak durhaka."


Dengarkan pesan lara yang aku katakan Ayahanda. Jika tidak aku akan binasakan semua orang yang mengusik ketenangan keluargaku.


Ku melihat dari kejauhan saat Rinjani di pendopo belakang. Senyuman manis dan sesekali berbincang dengan Dalilah yang terpejam. Aku beruntung, putriku tak menuruni sifat ibunya yang cerewet. Ia kalem sepertiku, tapi cantik sekali. Kelak aku akan menjadi bapak yang kerepotan membasmi garangan yang mendekati putriku. Belum sampai disitu, aku masih harus menjaga Rinjani dari laki-laki yang duduk tak jauh darinya. Menatapku tajam.

__ADS_1


Apapun yang aku katakan saat ini, tak akan mampu meredam emosinya. Yang bisa aku lakukan hanya menuruti keinginannya untuk tidak menyentuhnya. Sayang, kenyataan tak seindah ekspetasi. Ia tetap tak mengacuhkan tatapanku saat makan siang bersama.


"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya bunda Sasmita.


"Bunda, Jani mau ke kamar takut Dalilah di gigit nyamuk." kata Rinjani. Sungguh itu bukan alasan yang tepat, karena aku tahu Dalilah di tutup dengan kelambu nyamuk. Ia hanya beralasan untuk menghindari ku.


"Kay..." Bunda meminta penjelasan.


Aku menghela nafas, "Aku berkencan dengan anak didikku. Tapi Keenan menemaniku, Bapak dan Laura mengetahuinya."


"Berkencan? Apa yang kamu lakukan?"


"Hari pertama ia mengajakku ke bar, dia mabuk dan aku bawa ke rumah Laura. Laura pacaran sama Bapak mertua."


"Katakan yang sebenarnya!!!" tukas bunda Sasmita.


Hilang sudah wibawa ku jika berhadapan dengan Ibunda dan Bunda Sasmita. Mulut ibu-ibu memang slalu pandai bersilat lidah.


Satu persatu aku menceritakan kejadian waktu aku menemani Laura dan Anne pergi belanja, menghias kuku mereka dengan cat kuku, pergi ke salon kecantikan dan di hari terakhir kami berempat dinner bersama. Sungguh itu bukan termasuk dalam kategori perselingkuhan. Dan, Rinjani harus mengerti kondisiku sekarang. Aku rindu, dan waktu cuti tinggal tiga hari lagi.


"Kalau Rinjani sampai baby blues dan tidak mau mengurus Dalilah, habis kamu Kay di tangan Ayahanda!" Ancam bunda Sasmita.


Aku merasa terpojok, "Bun... bantuin."


"Nanang saja gentleman!" tukasnya.


Berbekal ilmu pengetahuan merayu wanita yang aku pelajari dari google. Aku masuk ke dalam kamar saat penjagaan Santosa sedang lengah.


Ini masih kamarku, tapi Rinjani sudah mengendalikan semuanya.


Rinjani yang menyadari kedatanganku, lantas membuat ancang-ancang untuk menyerang.


"Dengarkan aku baik-baik, Rinjani. Aku akan menjelaskan." kataku selembut mungkin.


Ia masih memberi jarak. Tapi tidak memberi argumen sedikitpun.


"Maaf jika kepercayaan yang kamu titipkan sudah aku ingkari. Kamu patut curiga, memang harus dan semestinya karena kamu mencintaiku. Anne... hanyalah gadis yang butuh perhatian, dan ia menganggap aku bisa memberikan kasih sayang seperti yang ayahnya berikan. Rinjani... maaf membuatmu marah, tapi biarkan aku melepas rindu denganmu dan Dalilah." Langkah kakiku mendekatinya.


"Sebelum aku kembali lagi ke Australia dan menjadi saksi pernikahan Bapak dan Laura."


Rinjani berbalik, ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Berkali-kali aku mendengar rentetan argumentasinya dan berakhir helaan nafas panjang.


"Kepercayaan yang kamu titipkan masih aku jaga selalu, Rinjani."


"Kali ini saja demi Dalilah, aku memintamu untuk berada disini, bersamaku dan Dalilah."


Aku merentangkan kedua tangan dan memeluknya dari belakang, "Terimakasih, baba tidak akan mengulanginya lagi dan berimbas pada memburuknya hubungan kita bersama. Aku, kamu, Dalilah."

__ADS_1


"Tidak perlu menjadi cerewet untuk meyakinkanku!" ujar Rinjani dengan nada tegas yang membuat Kaysan gemas dengan tingkahnya.


Happy reading πŸ˜‚πŸ’š


__ADS_2