Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Kado? ]


__ADS_3

POV Kaysan.


Senyum tipis mengembang saat mobilku berhenti di salah satu rumah anak didikku. Pesta ulang tahun Anne diadakan secara mewah yang dihadiri semua guru kelas XII. Termasuk aku.


Sang empu rumah, menyambut ku dengan wajah berseri-seri. Aku memberinya sebuah kado. Anne tersenyum senang, wajahnya mendadak semakin merona. Seperti wajah Rinjani saat tersipu malu. Bukan karena ada maksud apa-apa, hanya saja berkunjung ke pesta ulang tahun tidak lengkap jika tidak membawa kado.


Anne dan kedua orangtuanya mengajakku masuk ke ruang keluarga untuk bergabung dengan guru yang lainnya. Mereka menyambutku dengan antusias---mungkin karena mereka tahu siapa aku sekarang. Aku menyapanya satu persatu dan ikut bergabung dengan para guru, sedangkan Anne berlalu menuju meja tempat semua kado tertumpuk. Kadoku ia taruh di tempat berbeda, paling atas.


Musim dingin yang berakhir dua bulan lagi, membuat botol-botol anggur merah masih setia memenuhi gelas sloki malam ini. Orang luar slalu menyimpannya banyak-banyak atau bahkan ada yang mengoleksinya. Disini, anggur merah bukan sebuah kejahatan melainkan kehangatan dari sebuah minuman. Seperti halnya minuman jamu yang memiliki khasiat. Anggur merah bermanfaat untuk menghangatkan badan saat musim dingin.


Anne menatapku sekilas, dengan senyum yang mengembang. Terlebih saat teman-teman perempuannya berbisik-bisik yang semakin membuat wajah Anne semakin merona.


Gosip yang beredar jika Anne menyukaiku, aku tepis sejauh mungkin. Tidak mungkin! Dan, tidak bisa. Aku hanya sebatas guru seni yang akan resign saat kontrak kerjaku sudah selesai. Sudah jauh-jauh hari aku membicarakan hal ini dengan komite sekolah. Dan, mereka menyetujuinya.


Aku sadari, hanya Rinjani yang tercipta untukku. Tidak ada yang lain. Bahkan aku tak sabar menunggu putriku yang akan terlahir tujuh Minggu lagi. Waktu yang lama dan sangat lama untuk bertemu.


Puncak acara berlangsung, Anne seperti Cinderella di negeri dongeng.


Ia menjadi pusat perhatian dikalangan teman laki-lakinya.


Kami para guru hanya tersenyum dan ikut bertepuk tangan. Aku jarang bernyanyi, dan sekalinya bernyanyi hanya untuk melembutkan hati Rinjani yang sedang 'pundung'.


Suara mas tidak serak-serak basah. Tapi serak-serak becek. Ejek Rinjani waktu itu.


Sekilas aku bisa tersenyum manis, dan senyumanku yang bukan untuk Anne, di anggap berbeda untuknya.


Ia memberiku potongan pertama kue ulangtahunnya. Aku kikuk, bukan apa-apa, Rinjani memang jauh dan Bapak tidak tahu kejadian ini. Tapi hatiku seperti menghianatinya jika aku menerima kue itu.


Sedangkan Anne, dengan wajah penuh harap ia masih berdiri di depanku. Orangtuanya pun mengangguk seraya menyuruhku untuk menerimanya. Aku mengerti, orangtuanya pasti menginginkan yang terbaik untuk putrinya, tapi akan menjadi masalah jika membawa-bawa urusan hati.

__ADS_1


Aku menghela nafas, dan menerima kue ulangtahunnya yang berupa Red Velvet cake dengan buah Cherry diatasnya. Cih, semua ini hanya terus mengingatkan aku pada Rinjani. Buah dadanya dengan pucuk merah miliknya.


Anne masih saja berdiri di depanku saat pesta dansa akan dimulai. Padahal teman-temannya sudah berbaur dengan lawan jenisnya di lantai dansa. Jangan bilang jika, Anne---bocah tujuh belas tahun ini menginginkan aku menjadi rekan dansanya. Tidak!!! Teman dansaku hanyalah Rinjani dan Dalilah---kalau sudah besar nanti.


Sepertinya aku harus menjelaskan kesalahpahaman ini.


"Anne... Berdansalah dengan teman sebayamu." kataku sedikit sarkasme.


"Mr.kay tidak mau berdansa dengan ku?" Terlihat guratan sedu di wajahnya. Mungkin ia kecewa dan terlalu berharap.


"Maaf Anne, tidak bisa."


Dan, malam itu aku pulang dengan babak belur. Bodyguard suruhan orangtua Anne menghadang laju mobilku. Aku kalah telak jika harus berkelahi tiga lawan satu, terlebih badannya lebih kekar dariku. Mereka berkata jika Anne kecewa dengan pesta ulang tahunnya karena 'aku' tidak mau menemaninya berdansa. Dan, sebagai hadiahnya aku mendapat bogem mentah bertubi-tubi. Inilah sebabnya, jika mencintai seseorang hanya mengutamakan kepentingan pribadi, ego akan menjelma menjadi apa saja untuk memenuhi ketamakannya.


Bapak menertawaiku saat beliau membantuku mengompres lebam-lebam di wajahku. Aku di ingatkan untuk tidak tebar pesona di hadapan murid-muridku.


Bukan salahku, heyy. Wajahku tampan dari lahir bukan salahku. Salahkan saja Ayahanda dan Ibunda yang menghadiahiku bibit tampan bak Arjuna.


"Biarkan saja dulu, Pak. Jika dia tahu wajahku seperti ini. Dia pasti menangis dan kepikiran. Anak Bapak, kan sangat mencintaiku dan takut aku kenapa-kenapa."


Bapak terkekeh mendengar nada berlebihan dariku, "Dia bakal ngamuk! Dan bisa-bisa besok pagi sudah nonggol di depan pintu." ucap Bapak sambil menggeleng. Bapak lalu dari sampingku menuju ke dapur.


"Pasti kamu lapar karena habis berkelahi. Bapak akan membuatkan makan malam untukmu. Tunggu sebentar."


Aku mengangguk, ku rebahkan tubuhku di sofa dengan tangan yang memegangi kompres es batu.


Aku berpikir sejenak. Sampai lebam di wajahku menghilangkan, aku tidak bisa menerima panggilan video dari Rinjani. Ataupun, sebaliknya. Dan, itu berarti rinduku semakin tertumpuk.


Bapak menelengkan kepalanya. "Mau Bapak suapi?" tanya Bapak dengan nada ragu.

__ADS_1


Aku diam sekian menit. Lucu juga jika aku disuapi Bapak mertua. Jarang-jarang aku disuapi Ibunda atau Ayahanda saat kecil dulu. Hidupku rasanya sudah keras dari kecil.


Aku mengangguk pelan, Bapak tersenyum.


Satu mangkok mie rebus dengan telur ceplok dan irisan cabe rawit masih mengepulkan asapnya di atas meja. Bapak dengan cepat-cepat mengipasnya. Membuat asapnya menyeruak dan menusuk lubang hidungku. Lagi-lagi aromanya mengingatkan aku pada Rinjani. Istriku suka sekali membuat mie seperti ini.


Aku harus bersabar sebentar, jangan sampai rinduku padanya justru membuatnya kepikiran dengan apa yang terjadi denganku. Belum lagi kecurigaan lainnya, yang membuatku takut semua itu akan berpengaruh pada perkembangan Dalilah.


Baru kali ini aku berkelahi karena menolak cinta seorang gadis SMA. Untung bukan di tanah Jawa. Jika iya, pasti ia akan memahami istilah, 'Cinta di tolak dukun bertindak', payah sekali.


"Buka mulutmu." ujar Bapak. Aku menahan tawa saat Bapak benar-benar akan menyuapiku.


"Pedas tidak, pak?"


"Cabe rawit baru mahal, satu kilonya seratus ribu."


Aku tak bisa lagi menahan tawa, Bapak memang yang mengambil tugas membeli urusan dapur di pasar.


"Baguslah, jadi Bapak tidak sering membuat sambal. Aku mulas setiap hari jika makan sambal." Setelah Rinjani pulang Bapak hanya membuat sambal bawang, sambal terasi dan sambel pecel. Dengan lauk-pauk itu-itu saja. Lama-lama aku yakin saat pulang nanti, Rinjani akan menyodorkan timbangan. Jika hanya tersisa tulang, mungkin aku akan berakhir di kiloan.


"Orang Indonesia tidak makan pakai sambal tidak nikmat. Sudah ayo buka mulutmu dan habiskan ini."


"Berapa jumlah cabe yang bapak masukkan?"


"Satu! Ini tidak pedas, lebih pedas kata-katamu saat menasehati Bapak waktu itu."


Perutku yang linu, semakin linu saat aku tak tahan lagi menahan tawa. Bapak benar-benar berani saat aku tak berdaya.


Dengan pelan, Bapak menyuapiku. Ada rasa haru yang membuat dadaku bergemuruh sesak. Jadi inilah nikmatnya si suapi dengan kasih sayang. Pantas saja, Rinjani tak pernah absen memintaku untuk di menyuapinya. Lain kali, aku akan memintanya melakukan itu.

__ADS_1


Happy Reading πŸ’š


Nih buat yang kangen mas Kay 😁


__ADS_2