
Saat hari masih terang, aku sudah siap dengan balutan kebaya dan selendang sutra berwarna keemasan. Begitu juga dengan Dalilah yang memakai baju laksana princess dari Jawa. Ia cantik, pipinya tambah gembul, sudah banyak perkembangan yang cukup banyak yang Dalilah tunjukkan. Meski demikian, Dalilah masih saja tetap rewel. Dan, hanya pada Samudera Adinoto Salahudin Rumi ia akan terdiam. Saat aku mengadu pada Ayahanda, Ayahanda hanya tersenyum penuh arti, saat aku mencari si kembar untuk mencari bantuan. Mereka angkat tangan, lagipula mereka juga dihadapkan dengan ujian semester. Hingga Ibunda menyarankan Santosa untuk melakukan hal yang membuat Kaysan akan marah, Ibunda meminta hal yang tak terduga pada Santosa, sementara---ia menjelma menjadi ayah untuk Dalilah---demi kebaikan bersama.
Wahai jentaka apa lagi yang kamu rencanakan, tidakkah bosan mempermainkan nasibku!?
Sesuai tanggalan Jawa, Dalilah kini genap berusia 35 hari. Yang berarti hari ini kami akan melakukan acara selapanan dan aqiqah.
Sedari kemarin sudah banyak kesibukan di rumah belakang. Orang Jawa menyebutnya dengan 'rewang' atau gotong royong memasak membantu sanak saudara/tetangga yang memiliki hajat.
Begitu melangkah keluar kamar, Santosa sudah menyambutku. Ia meneliti penampilanku, "Ada yang salah?" tanyaku ikut melihat penampilanku. Kebaya yang aku kenakan memang kebaya saat aku belum hamil. Terlihat sangat ketat di tubuhku, hingga membuat gundukan daging kenyal sedikit terlihat.
"Saya takut ndoro ayu tersandung, biar saya yang menggendong Dalilah."
Aku merasa lelah menaruh curiga dan keraguan. Ku ulurkan Dalilah ke dalam pelukannya.
Tiba pendopo belakang, aku disambut oleh Ayahanda. Dan, semua keluarga yang berdiri mengelilingi Ayahanda.
"Cantik sekali..." puji Ayahanda. Beliau mengambil alih Dalilah.
"Jani pikir, Ayahanda memujiku." kataku sambil tersenyum kaku.
"Cukup Kaysan yang memujimu cantik, tuan putri." jawab Ayahanda, "Bagaimana menurutmu, Santosa. Apa tuan putri Rinjani cantik?"
Sungguh pertanyaan macam apa yang Ayahanda lontarkan. Jawaban Santoso jelas akan memicu timbulnya permasalahan dengan Kaysan.
Aku berbalik, menatap Santosa yang menunduk dan tersenyum. "Jangan lupa kamu hanya ajudan disini!!!" kecamku sebelum Santosa bilang aku cantik dihadapan Ayahanda dan bunda-bunda yang menanti proses selapanan Dalilah.
Santosa menunduk, dengan tangan kanan yang ia silangkan di dadanya. "Maaf Kanjeng Sultan, saya tidak bisa menjawabnya." ucapnya sopan.
"Sudah-sudah, acara akan dimulai!" tukas Ibunda.
Prosesi selapanan dimulai dengan acara berdoa bersama. Setelahnya rambut Dalilah akan di cukur untuk pertama kalinya. Namun, lagi-lagi proses sakral yang Dalilah lewati tanpa hadirnya Kaysan. Terkadang aku hanyut dalam kecemasan, cemas jika Dalilah lebih menyukai Samudera dibanding Kaysan.
Aku di hadapkan pada keputusan, menyerah atau bekerja sama demi Dalilah. Semoga pilihanku bukan dusta, membiarkan Samudera mengambil alih tugas Kaysan. Pikirku ini hanya sementara karena hanya lima puluh hari lagi Kaysan akan kembali.
__ADS_1
Acara ramah tamah masih belum selesai. Tapi Dalilah harus minum ASI dan istirahat. Dalam gendongan Mbok Narsih, kami kembali ke kamar.
Aku membuka kebaya ku yang terasa engap di badan dan menggantinya dengan baju santai.
"Maaf ndoro ayu, Mbok harus kembali ke rumah belakang untuk menyiapkan nasi berkat yang akan dibagikan untuk abdi dalem di istana."
"Baik, Mbok. Selesaikan saja dulu tugas Mbok Narsih. Dalilah sudah bisa ditangani oleh Santosa."
Aku tersenyum getir. Ku dekati Dalilah saat matanya mengerjap-ngerjap memandangi langit kamar.
"Hei cantik, ***** dulu yuk. Isinya udah full ini." Dalilah menatapku. "Ini bubu, hanya saja make-upnya belum bubu bersihkan. Kenapa, bubu cantik?"
Bukannya tersenyum kecil Dalilah justru menunjukkan mimik wajah yang ingin menangis. "Iya-iya, bubu jelek. Yang cantik hanya Dalilah seorang, kesayangan Ayahanda dan baba Kaysan!" ujarku sambil menyodorkan susu ekslusif ke bibir mungilnya.
Selama Dalilah menyusu, ia menatapku dengan tangan mungil yang ia tempelkan di dadaku.
"Kira-kira baba sedang apa ya? Apa baba juga kangen dengan kita berdua. Dalilah, kamu sekarang punya Grandma asli Australia yang pandai membuat kue. Besok, kalau kamu sudah bisa bicara. Minta saja Grandma untuk membuatkan kue yang banyak, tapi. Bagaimana jika bubu nanti punya adik?"
Tak bisa aku bayangkan jika Bapak dan Laura kawin dan memiliki anak diusia senja. Aku menggeleng cepat untuk mengusir imajinasiku. Dalilah tersenyum dan melepas ****** susuku.
Mulutku meracau seperti membacakan dongeng sebelum tidur. Dalilah yang biasanya mudah tertidur jika sudah kenyang, kini malah mengedarkan pandangannya. "Bubu sering begadang dan tidak bisa minum kopi. Jadi, anak bubu Rinjani yang cantik sekali seperti princess Elsa dengan kearifan lokal tanah Jawa. Tidurlah."
Lelah berdiri dan ocehanku tidak mempan, aku berjalan menuju sofa.
"Baik kalau itu mau Dalilah. Kita hubungi baba."
Ku ambil ponselku dan menghubungi Kaysan. Butuh beberapa menit menunggu, akhirnya wajah suamiku terpampang di layar ponselku.
Kaysan • Cantik...
...sapa Kaysan yang membuatku tersenyum....
Aku • Baba, Dalilah kangen.
__ADS_1
...Diam-diam aku meneliti dimana Kaysan berada sekarang....
Aku • Mas belum pulang ke rumah?
...Kaysan mengangguk, ia mengalihkan layar ponselnya untuk menunjukkan keadaan di sekelilingnya. Terlihat banyak siswa yang mengenakan atribut pementasan....
Kaysan • Besok sekolah akan mengikuti lomba di Sydney opera house. Do'akan semoga menang dan aku bisa cepat-cepat pulang.
...Ingatanku berlari liar di kepalaku. Dulu waktu mengadakan pentas teaterikal di sekolahnya. Kaysan sebegitu sibuknya. Ditambah sekarang tidak ada eyang Dhanangjaya dan Mbah Atmoe membuatnya melakukan itu semua sendirian dan tidak ada yang mengawasinya....
Kaysan • Dik, besok aku memerankan tokoh Prabu Rama Wijaya.
...Aku hanya tersenyum dan mengangguk, perkataan itu sudah berarti telak yang tidak bisa aku ganggu gugat....
Kaysan • Sudah makan?
Aku • Sudah mas, Dalilah sudah selapanan dan aqiqah. Lihatlah rambutnya sudah tidak rapi." Aku menunjukkan kepala Dalilah.
...Samar-samar ku dengar suara yang memanggil namanya. Kaysan menaruh ponselnya yang seketika menjadi gelap....
Terdengar pembicaraan mereka yang jelas tertangkap oleh gendang telingaku.
Aku masih menunggu, dan berharap Kaysan masih memanggil namaku dan berpamitan dengan Dalilah. Sayang, panggilan terputus. Ku taruh ponselku dengan hati-hati, seperti aku menaruh kepercayaan kepada Kaysan.
"Dalilah, baba sibuk." Aku tahu tanpa diberitahu Dalilah akan mencoba mengerti.
Lambat-laun matanya mulai terpejam saat ku tepuk-tepuk pantatnya dengan lembut. Ku taruh Dalilah di atas ranjang.
......kita memiliki laki-laki yang bertanggungjawab, yang berarti secara langsung, kita harus siap dengan segala kesibukannya yang menyita waktu dan perhatian......
......kelak, jika kamu sudah dewasa nanti, jangan sampai terjerumus pada lubang kelam kehidupan karena kekurangan kasih sayang......
......buktikanlah, jika kamu menjadi gadis yang tangguh sepertiku, yang tidak terlena dengan kebebasan dunia gemerlap......
__ADS_1
......pesanku untukmu, Dalilah......