Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Part spesial IV.


__ADS_3

...Kidung ketresaning kapti...


...Yayah nglamong tanpa mangsa...


...Hingan silarja jatine...


...Satata samaptaptinya...


...Raket rakiting ruksa...


...Tahan tumaneming siku...


...Karasuk sakeh kasrakat...


Tembang Asmaradana dilantunkan bait perbait dengan irama yang teratur oleh sinden yang memiliki wajah cantik. Sinden itu bukanlah seseorang yang asing untukku atau keluargaku. Dia Anisa, sedang duduk bersimpuh sembari mengamati lembaran kertas berisi lirik tembang yang harus ia nyanyikan.


Setelah putus dengan Nanang lima tahun yang lalu, Anisa melamar pekerjaan sebagai abdi dalem Keraton. Dia dipilih menjadi sinden muda untuk menjadi contoh bahwa yang muda pun bisa menjadi sinden pengiring langkah anggun nan luwes para penari istana.


Sebagai acara pembuka dimana mulainya pesta rakyat yang diadakan Ayahanda. Aku dan mas Kaysan memberikan pertunjukan yang berupa tarian yang cukup membuatku merasa khawatir karena aku harus si tandu oleh seseorang sebelum aku harus menari mesra dengan mas Kaysan.


Hentakan kakinya dan sorot matanya memberikan ketegasan sekaligus kelembutan. Mas Kaysan terlihat gagah, mesti wajahnya juga di poles dengan makeup. Tangannya yang luwes terulur untuk menyambut kekalahanku.


Aku memegang tangan mas Kaysan, kami berdua tersenyum dan membungkuk hormat sesudah menarikan tarian yang bernama Beksan Janaka Suprabawati.


Tarian yang mengisahkan Dewi Suprabawati yang melawan Raden Janaka dalam pertarungan merebut Dewi Siti Sundhari yang ingin diperistri oleh Prabu Dasalengkara kakak dari Dewi Suprabawati. Sedangkan Dewi Siti Sundhari udah menikah dengan adik Raden Janaka. Dalam pertarungan antara keduanya, Dewi Suprabawati terpesona dengan ketampanan Raden Janaka. Ia berhasil di taklukkan oleh raja dari negara Simbarmanyura dan diboyong menuju istana untuk diperistri oleh Raden Janaka.


Suara riuh tepuk tangan meriah dari para penonton menjadi hadiah untuk kami berdua. Kami membungkuk seraya tersenyum lebar.


Dari arah masuk ke panggung, Ayahanda dan Ibunda berjalan mendekati kami berdua, diikuti anak-anak kami tercinta di belakangnya.


Aku menyambut Suryawijaya dan Pandu Mahendra yang memakai busana kejawen. Keduanya tampak lucu-lucu dan menggemaskan. Sedangkan Dalilah sudah tidak diragukan lagi piawainya. Ia menyambar mic yang tersedia di depan panggung untuk menyuarakan isi hatinya.


"Duhai penonton.. Izinkan hamba memperkenalkan diri dihadapan penonton yang terhormat. Perkenalkan namaku Raden Ajeng Dalilah Sekar Kinasih Putri Adiguna Pangarep. Aku adalah cucu pertama dari Eyang Kakung dan Eyang Putri Sultan Agung Adiguna Pangarep. Aku memiliki dua adik bernama Raden Mas Suryawijaya Putra Adiguna Pangarep dan Raden Mas Pandu Mahendra Putra Adiguna Pangarep. Izinkan kami memperkenalkan diri sebagai calon penerus takhta kerajaan Hadiningrat."


Aku menunduk, tidak bisakah putriku tercinta tidak membuat suasana menjadi gempar seperti sekarang.


Mas Kaysan yang melihatnya hanya tersenyum maklum. Ia masih merangkul bahu kedua putranya.


Ayahanda mendorong kursi roda Ibunda. Mereka berdua berada di samping Dalilah yang masih menunjukkan senyum cerianya. Tanpa beban.


Ayahanda mengambil alih mic dan menghela nafas sebelum mengutarakan pidatonya.


"Alhamdulillah, sebagian pekerjaan sudah diambil alih oleh cucu saya tercinta." Ayahanda tersenyum ramah diantara berisiknya penonton yang memadati alun-alun.


"Perkenalkanlah mereka adalah anak-anakku dan cucu-cucuku. Mereka..." Ayahanda menunjukku dan mas Kaysan, "akan mengantikan takhta ku yang akan aku sahkan esok hari di bangsal kencana." kata Ayahanda dengan lugas, beberapa penonton lantas terdiam.


"Terimalah anakku, sebagai Raja dan Ratu! Karena saya Sultan Agung Adiguna Pangarep memutuskan untuk menaruh mahkota Raja dan digantikan oleh putraku Gusti Pangeran Haryo Kaysan Adiguna Pangarep. Saya harus menemani istri saya yang sudah merelakan sebagai jiwanya untuk mengabdikan diri kepada saya. Sudah waktunya untuk kami berdua menikmati masa senja bersama keluarga tercinta. Izinkanlah saya dan istri saya Juwita Ningrat untuk berpamitan dengan semua rakyat yang sudah mendukung perjalanan panjang membawa istana ini menuju peradaban yang maju. Izinkanlah putraku Kaysan untuk meneruskan mandat yang saya serahkan. Terimalah anak-anakku sebagaimana saya mengayomi rakyatku selama masa kepemimpinan saya. Terimalah, Sultan Agung Kaysan Adiguna Pangarep dan Gusti Kanjeng Ratu Rinjani Hadiningrat sebagai Raja dan Ratu."


Ayahanda menghela nafas setelah pidatonya selesai. Beliau melemparkan bunga mawar putih yang Dalilah bawa dalam keranjang rotannya.

__ADS_1


Hari ini memang bukan pelepasan mahkota Ayahanda acara resmi, karena tujuan diadakannya pesta rakyat ini adalah untuk memperkenalkan kembali aku dan mas Kaysan.


Banyak orang-orang yang seolah lupa dengan kejadian tempo lalu. Entah kenapa aku sedikit lega.


Ayahanda dan Ibunda kembali ke kursi yang disediakan oleh pihak penyelenggara acara. Begitu juga dengan aku dan keluargaku.


Kami mendampingi mereka sebentar karena puncak acara masih akan diselenggarakan sampai tengah malam. Pertunjukan sendratari tadi hanya sebagai pembuka, setelahnya banyak bintang tamu yang akan memeriahkan acara hari ini.


Berbagai musisi dari subgenre masih berada di backstage. Sebut saja Sheila on 7, Endang Soekamti, Nella kharisma, Soimah dan tak ketinggalan musik metal yang akan dibawakan oleh Down For Life.


Aku tersenyum saat mas Kaysan terus menerus mengenggam tanganku.


"Jangan jingkrak-jingkrak." bisiknya di telingaku.


"Iya." jawabku sambil mengangguk. Namun dalam hatiku sesuatu sudah bergejolak. Rasanya jiwaku sudah tidak sabar menikmati distorsi gitar listrik.


Aku semakin menahan senyum saat band asal kota Solo itu sudah memainkan alat musiknya. Pemanasannya saja sudah membuatku gigit jari.


"Yakin mas Rinjani hanya boleh diam saja?" tanyaku memastikan. Siapa tahu suamiku masih mengizinkanku untuk memanggut-manggutkan kepala.


"Nanti sanggulnya copot, kembennya melorot. Apa yang mau kamu tunjukkan? Semua sudah kempes!" ujar mas Kaysan tidak berperasaan.


Aku memejamkan mata, menyusui tiga anak ternyata membuat buah dadaku mengecil dari ukuran semula.


"Mas hanya bercanda... Tapi berusahalah menahan diri jika di hadapan banyak orang. Kamu... bukan Rinjani anak metal lagi. Kamu adalah panutan!" kata mas Kaysan mencubit hidungku.


Ku nikmati semua musisi yang sudah menunjukkan performanya dengan diam. Tapi bukan Pandu yang membiarkan ibunya duduk dengan tenang.


Bocah petakilan itu sudah berada dipanggung sambil ikut berjoget ria.


"Anak siapa itu, Mas?" tanyaku berkelakar.


"Anak siapa ya, Dik. Mas tidak kenal." jawab mas Kaysan yang menahan senyum.


"Anak kalian berdua memang sangat menyenangkan. Lihatlah, goyangannya seperti sudah hafal dengan jogetan jarang goyang." timpal Ibunda.


"Sebab dia sering melihat istrinya pak Parto joget-joget di rumah belakang, Ibunda. Ampun..." kataku lirih.


"Sabar ya, Nduk. Anak adalah ujian. Kalian juga harus bersabar menghadapi mereka bertiga."


Aku dan mas Kaysan mengangguk. Ibunda dan Ayahanda berpamitan setelah memberi wejangan dan mengumumkan besok akan diadakan konferensi pers di halaman bangsal kencana.


Kini, malam semakin dingin. Aku mencari Pandu untuk mengajaknya pulang. Mas Kaysan mencari Dalilah yang ternyata asyik berswafoto dengan artis-artis yang terlibat dalam acara ini.


Hanya Suryawijaya yang tidak berbuat ulah, ia duduk dengan mata yang terkantuk-kantuk.


"Kasian mas Surya sudah capek. Pulang yuk." rayuku yang di tolak mentah-mentah oleh Pandu Mahendra.


"Ndu... mau gital." ujarnya cadel.

__ADS_1


"Besok pagi Ndu, main gitar dengan om Nanang di rumah. Sekarang Ndu, Mbak Lilah, dan Mas Surya pulang ke rumah."


Pandu masih menggeleng, "Ndu... mau gital."


Duh Gusti... Seliweran ide berputar-putar di kepalaku. Aku menghela nafas.


"Oke... Ndu duduk manis. Bubu cari gitar!" Aku menaikkan Pandu ke atas kursi, ditemani Suryawijaya yang mengangguk paham dengan tatapan mataku.


Di belakang panggung, aku mencari keberadaan Eross Candra karena sebentar lagi Sheila on 7 akan memeriahkan puncak acara. Aku butuh gitarnya untuk membujuk Pandu Mahendra agar mau pulang.


"Loh... Loh... Gusti ayu kenapa seliweran di sini. Kalau di gondol codot kan repot."


Aku semringah, kebetulan yang telat waktu bertemu dengan pak Duta.


"Mau pinjem gitar. Tolong. Anakku gak mau pulang Pak kalau belum main gitar."


"Yowes, ayo melu."


"Ning endi?"


"Nyanyi!"


Aku mengikuti rombongan kru yang membantu SO7 di atas panggung. Tanpa restu dari mas Kaysan kini aku sudah berada di atas panggung sambil membawa mic di tanganku. Sungguh, aku gemetaran. Tapi sudah kepalang basah. Seruan dari penonton sudah menyemangati ragaku.


"Mau nyanyi apa?" tanya pak Duta.


"Sebuah kisah klasik."


...***...


...Jabat tanganku mungkin untuk yang terakhir kali. Kita berbincang tentang memori di masa itu....


...Peluk tubuhku usapkan juga air mataku. Kita terharu seakan tidak bertemu lagi....


...Bersenang-senanglah... Karna hari ini yang kan kita rindukan....


...Di hari nanti, sebuah kisah klasik untuk masa depan....


...Bersenang-senanglah karena hari ini yang kan kita rindukan, dihari nanti....


...Sampai jumpa kawanku....


...Smoga kita selalu....


...Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan....


...Mungkin diriku masih ingin bersama kalian. Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian....


...Happy Reading ๐Ÿ’š...

__ADS_1


__ADS_2