Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 61. [ Side Story - Melepas semuanya ]


__ADS_3

Kami tiba di villa keluarga saat matahari mulai menyingsing tinggi.


Tidak ada yang spesial di villa ini kecuali bidadari yang membuntuti langkahku, bidadari yang turun dari mobil sambil mengedarkan pandangannya.


Bibirnya seperti biasa, cerewet. Menanyakan ini itu hingga membuatku semakin lapar dan mengantuk. Ocehannya bagaikan dongeng sebelum tidur.


Kami memasuki halaman belakang rumah, hanya ini pemandangan spesial dari bulan madu untuk Rinjani. Tapi gadis itu seakan menikmati semua yang aku beri tanpa menanyakan alasan mengapa dan kenapa.


Kami berdua larut dengan sepiring nasi padang, tak ada mulut yang bersuara. Rinjani makan dengan lahapnya, beginikah caranya membuatnya senang?


Berapa banyak luka yang tertoreh di hatimu, istriku? Berapa banyak kepahitan hidup yang kamu jalani, hingga hal sepele yang aku lakukan untukmu sangat begitu berarti.


Mataku merah, ngantuk sekaligus prihatin. 'Tidur yuk mas, Jani ngantuk.'


Tanpa sebatang rokok setelah makan, aku menggandeng Rinjani masuk ke dalam kamar.


*


Tanganku meraba, ada sesuatu yang ganjil terjadi. Tidak ada tubuh hangat di sampingku, tidak ada Rinjani.


Ku lihat jam di pergelangan tanganku. Mataku membulat, ini sudah hampir petang. Aku tertidur cukup lama, dengan langkah yang berat aku turun dari atas ranjang, mencari Rinjani.


Terdengar suara yang tidak asing dari arah dapur. Indy!


*


Raden Ayu Nindy Kencana Ambarwati.


Nindy adalah anak perempuan satu-satunya yang dimiliki Ayahanda. Dia terus membangkang, dengan peraturan dan tata krama yang Ayahanda katakan.


Dia memilih untuk keluar dari rumah saat usianya menginjak 20 tahun, dengan dalih mencari jati dirinya sendiri diluar tanah kerajaan. Meski begitu Ayahanda tidak melepasnya begitu saja, Ayahanda menaruh orang kepercayaannya disekeliling Indy. Tak jarang Ayahanda sering membujuk Indy untuk kembali ke rumah, kembali menjadi anak emas kami.


Ada kalanya hari-hari tertentu setiap anak Ayahanda akan dikumpulkan menjadi satu, tidak ada yang merebutkan kasih sayang Ayahanda, semua merasa sama dan adil. Bisa jadi kehadiran Rinjani bisa membujuknya untuk kembali ke rumah, karena terkadang Indy slalu mengeluh tidak mempunyai teman sejenis jika sedang berkumpul di rumah utama.


Setiap selir Ayahanda memiliki rumah sendiri-sendiri, tak jarang Ayahanda sering meninggalkan Ibunda untuk berkunjung ke rumah selir-selirnya. Tidak ada persaingan diantara istri-istri Ayahanda. Semua terlihat rukun, atau mungkin ada sesuatu yang tidak aku ketahui. Bagiku, Ibunda terlahir seperti malaikat tak bersayap.


*


Ku baca pesan Ibunda, jika Indy akan menyusul kami. Katanya dia tidak sabar bertemu dengan Rinjani. Gadis yang mampu meluluhkan hati sang kakak yang amat ia sayangi.


Di dapur hanya ada Indy yang tersenyum sambil berlari ke arahku, memelukku seperti biasanya.


"Tadi Indy diam-diam ngintip kamar mas." katanya sambil tersenyum lebar.


"Tidak sopan." ku jewer telinganya, "Mana Rinjani?" tanyaku setelah Indy melepas pelukannya.


"Dihalaman belakang, Mas. Tadi Indy foto kalian berdua saat berpelukan." Indy menunjukkan hasil jepretannya, dengan senyum jenakanya, ia bertanya, "Asyik mas?"


"Nanti kirim fotonya ke WhatsApp. Mas mau menemui Rinjani dulu."


"Iya sana, wajahnya tadi kusut."


"Kamu penyebabnya!"


"Hehehe... Tes kesabaran mas. Sudah sana temui Rinjani, apalagi mau ada sunset pasti romantis."


"Kamu masak ya, Ndy."

__ADS_1


"Siap, mas."


Dihalaman belakang, aku mendapati Rinjani hanya berdiri sambil memegang ponselnya, "Sedang apa, Rinjani?"


Langkahku mendekati Rinjani, dia menekuk wajahnya. Perkataan Indy tadi sedang meracuni pikiran Rinjani.


Rinjani seperti memberi kosakata baru dalam hidupku. Rasanya aku ingin tergelak dengan kata-kata yang terucap dari mulutnya. Rinjani ternyata sudah tidak sabar menjamuku. Tak habis pikir, ternyata gadis kecil ini cukup berani menyerahkan jiwa dan raganya untukku.


Sunset kali ini lebih romantis saat bersamanya. Saat Rinjani membalas kecupanku, dan kami berdua larut dengan bibir yang tertaut.


*


Makan malam penuh dengan keheningan. Rinjani memilih terdiam, begitu pula Indy, ia memilih untuk tak acuh dengan kami. Ya, aku menyadari dua gadis ini masih bersitegang karena salah paham.


Apa yang dimaksud Indy, bukanlah sesuatu yang serius. Berbeda dengan Rinjani, yang menganggapnya menjadi momok menyebalkan. Sedari tadi wajahnya masih di tekuk. Begitu terus sampai akhirnya kami bertiga terdampar di ruang keluarga.


Aku menyadari jika Rinjani mulai terabaikan, sedangkan Indy dengan sengaja membuatku tak memperhatikan Rinjani. Dia terus bercerita tentang kehidupannya diluar tanah kerajaan. Umurnya memang lebih tua dari Rinjani, tapi Indy slalu mengira dia masih berumur belasan tahun dengan sikapnya yang manja sekaligus pemberontak.


Sikapnya yang seperti ini, hanyalah untuk menggoda Rinjani. Apa emosinya bisa stabil atau Rinjani akan meluap-luap.


Aku tidak melarang Indy dengan sikapnya. Dia tahu bagaimana cara memperlakukan Rinjani sebagai kakak perempuan yang bisa ia jadikan teman.


Karena jengah, Rinjani memilih untuk ke kamar.


"Mas..."


"Dia marah karena ucapanmu tadi sore."


"Benaran, mas? Kalian berdua benar-benar belum melakukannya?"


Indy tergelak-gelak, "Oke... oke, aku akan memperbaiki hubunganku dan Rinjani besok."


"Lalu kapan kamu akan memperbaiki hubunganmu dengan Ayahanda, Ndy? Pulanglah, semua orang merindukanmu."


"Nantilah mas, Indy masih malas ke rumah. Apalagi sekarang Indy lagi sibuk-sibuknya kuliah."


"Rinjani besok juga akan kuliah, Ndy. Kalian bisa jadi teman."


"Kuliah? Yang benar saja mas! Bagaimana jika Rinjani kuliah, akan banyak yang mendekatinya. Mas yakin siap?"


"Pulanglah, jadi kamu bisa menjaga Rinjani untuk mas di kampus nanti."


"Apa mas menghukumku karena sudah menganggu malam pertama kalian?"


Aku melihat pintu kamar Rinjani terbuka, gadis itu masih berwajah masam. Terlihat pahit seperti empedu.


"Jani, belum tidur?" tanyaku sambil tersenyum, Indy kembali berakting dengan bersandar di bahuku. Anak ini benar-benar akan mengacaukan malam pertamaku. Bibirnya kembali menyeletuk dengan senangnya.


Saat Rinjani pergi ke dapur, aku mencubit hidung Indy. "Kembalilah ke kamar."


"Lucu ya mas... Bagaimana bisa mas bertemu dengannya?"


"Masuk ke kamar."


"Iya... iya Indy masuk. Indy gak akan ganggu sampai besok pagi!"


Aku tersenyum, lalu masuk ke dalam kamar. Menunggu Rinjani.

__ADS_1


*


Aku mengakui salah, saat Rinjani hanya menundukkan kepalanya. Dengan wajah datarnya, dia meraung membuatku semakin dibuat gelisah dengan kata-katanya.


Tanpa aba-aba, aku mencium bibirnya. Bibir ranum yang membuatku semakin bergairah. Aku membawanya ke atas ranjang untuk lebih leluasa menjamah seluruh tubuhnya.


Aku sudah dibawah pengaruh gairah seksual, mulutku terus mengulum pucuk merah Rinjani. Rinjani menggeliat, semakin membuatku ingin merengkuh tubuhnya.


Dia tak kalah memanas, dia mengecup bibirku dengan ganas. Tubuhku mulai merasakan kenikmatan, aku mulai terbuai dengan kemesraan yang semakin mengelora.


Rinjani, begitu manisnya bibirmu dan lekuk tubuhmu. Rinjani, aku sudah tidak bisa menahannya lagi untuk menyatukan tubuh ini.


Dengan satu hentakan kejantananku sudah menyusup celah sempit Rinjani. Dia menangis dan merintih kesakitan. Seakan telingaku tuli, dan mataku sudah buta, aku tak memperdulikan tangis Rinjani dan air mata yang membanjiri wajahnya.


Terbesit rasa bersalah karena telah menyakiti Rinjani karena nafsu. Tapi tubuhku menginginkan lebih, tubuhku menginginkan lebih... Apa lagi melihat tubuh kecilnya yang penuh dengan keringat, semakin membuatnya eksotis.


Bak sebuah buah apel yang baru saja di petik, dia dalam keadaan segar dan renyah, membuatku ingin mengigitnya berulang kali.


Kabut gairah semakin tak bisa aku atasi, Rinjani dengan sisa air matanya mulai terlihat kelelahan, terlihat tak berdaya menghadapi ku.


Berbeda denganku, aku masih ingin terus memacu tubuhku dan menikmati masa-masa indah malam pertama.


Rinjani mendesah, menggeliat hebat lalu matanya terpejam. Ku tepuk-tepuk pipinya untuk menyadarkannya.


Tubuhku mendadak lunglai, saat menyadari Rinjani tak kunjung membuka mata. Dengan keperkasaanku yang masih menancap di muara kenikmatan Rinjani. Aku menariknya perlahan, terlihat sisa-sisa darah segar yang masih mengalir membasahi seprai.


Aku mengutuk diriku sendiri. Aku mengeram, memukul kepala berkali-kali.


Nafsu membuat segalanya menjadi runyam, harusnya aku bisa mengendalikan diri, harusnya aku memperlakukan dengan lembut.


Ku tutup badannya dengan selimut. Mengecup keningnya, sambil mengucap maaf berkali-kali ditelinganya, malam itu aku akhiri di kamar mandi sebelum mencari Indy.


*


Diluar kamar, aku mendapati Indy dengan senyum cerahnya.


"Sudah mas?"


"Rinjani pingsan, Ndy."


"Pingsan! Bagaimana bisa, mas ngawur pasti." Indy tergesa-gesa masuk ke dalam kamar untuk melihat Rinjani.


Mulut Indy ternganga, matanya membulat, "Mas, yang benar saja. Apa yang kalian lakukan sebrutal ini?"


"Apa kamu bawa minyak kayu putih, Ndy?"


"Tubuh Rinjani masih berkeringat, akan menyumbat pori-porinya kalau dikasih minyak kayu putih sekarang. Coba aku lihat denyut nadinya."


"Jangan dibuka selimutnya!" kataku spontan, aku tidak mau Indy melihat hasil cetakan bibirku.


"Astaga..." Bukan Indy yang menurut, dia menutup mulutnya sambil menggeleng.


"Aku paham umur mas sudah tua, tapi mas benar-benar..." Indy menggeleng tak percaya.


"Indy rebusin air hangat, nanti mas bersihkan tubuh Rinjani. Ingat! Hanya bersihkan saja!" Mata Indy menajam, aku mengangguk sambil menunggu Rinjani disampingnya.


[ flashback Kaysan end ]

__ADS_1


__ADS_2