Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 64. [ Rasio ]


__ADS_3

Hidupku mulai berjalan sedemikian rupa, selepas menyelesaikan ritus pagiku dengan Kaysan dan pemilik semesta. Aku dan Kaysan masih terbenam pada selimut yang menutupi tubuh kami.


"Hari ini apa mas sudah bekerja?"


"Sepertinya, Jani. Tidak apa-apa aku tinggal sendiri dirumah?"


"Kenapa masih ditanyakan mas, kalau Jani protes nanti Jani salah. Nanti mas bilang gini, 'Mas kerja untukmu, Jani. Mas punya tanggung jawab', lalu aku seperti mengekang mas untuk hanya dirumah saja, nanti aku seperti yang mengurung mas didalam kamar." kataku sambil meniru gaya Kaysan jika sedang memberiku penjelasan, tersenyum manis dengan wajah datarnya.


"Aku akan pulang sore hari, jika tidak lembur."


"Nanti kalau Jani rindu gimana?"


"Simpan rindumu baik-baik."


"Untuk apa disimpan, Mas. Kan Jani mau mas membalas rindu Jani."


Aku menyusuri mata Kaysan, "Lalu apa mas juga akan rindu dengan Rinjani?" lanjutku sambil menunduk, mengingat Kaysan tak pernah mengatakan perasaannya dengan gamblang.


"Aku akan menyimpan rinduku, sampai akhirnya nanti kita bertemu."


"Apa di tempat kerja mas banyak karyawan perempuannya?"


"Semua ada, dari yang muda hingga tua. Kenapa, Jani?"


Raut wajahku menjadi merengut, "Pasti banyak yang suka sama mas, Iya?"


"Tidak ada yang berani kurang ajar denganku, Rinjani. Buang rasa curigamu."


Aku mengangguk, "Nanti mas telepon Rinjani, bisa?"


Kaysan mengacak-acak rambutku, seulas senyum menghiasi wajahnya.


Sangat menawan, "Ada apa denganmu, Jani? Apa kamu tidak bisa berjauhan denganku?"


Mataku membulat, sambil tersenyum malu-malu.


"Beberapa hari dengan mas, membuat aku semakin tidak menentu. Mas tahu, semua sudah aku berikan untukmu, aku sudah tidak punya apa-apa lagi, selain rasa yang sedang aku biarkan tumbuh di dalam sini." Aku menunjuk letak hatiku.


"Apa yang kamu tumbuhkan?"


"Cinta."


Kaysan memegang daguku, "Saat pertama kali bertemu, aku menyadari ada sesuatu yang menarik dalam dirimu, Rinjani. Ada sesuatu yang membuatku merasa kamu memang bisa menjadi kekuatanku. Jani, lihat mataku."


Aku mendongak, menatap mata Kaysan dalam-dalam.


"Tumbuhkan cintamu perlahan, dari dalam sini dan sini." Kaysan menunjuk hatiku dan kepalaku.


"Tapi mas sendiri mengebu-gebu menikahi ku!"


"Karena aku tidak mau membawamu pada sebuah kesalahan. Bukannya lebih asik pacaran setelah pernikahan?"


"Iya asik, tapi banyak yang belum aku ketahui tentang kamu mas. Selain mas bisa menari, mas bisa apa lagi?"


"Bisa membuatmu senang."


Aku terkekeh geli, "Jangan mas... Jani lelah, seluruh tubuh ini linu."


"Mintalah Mbok Darmi untuk memijatmu." Kaysan menyelipkan anak rambutku, matanya mulai terpejam.

__ADS_1


"Tadi ciuman selamat pagi sudah mas."


"Hmm... anggap saja sebagai bekal berangkat kerja, Rinjani."


Aku menghela nafas panjang, lalu dengan perlahan mengecup bibir Kaysan.


*


Sinar matahari menyusup melalui jendela kamar yang terbuka, semakin memberi kehangatan dari segala kehangatan yang tercipta. Saat tubuhku dan Kaysan masih bersentuhan.


"Mas nanti cepat terkena osteoporosis kalau setiap hari kita seperti ini. Jani, kasihan dengan tulang lutut mas." kataku sambil mengusap keningnya yang masih menyisakan keringat.


"Jika tidak olahraga, nanti aku yang akan kehilangan stamina. Jani, tidak mau kan kalau aku tidak bisa membuatmu tersenyum senang." Kaysan tersenyum lebar. Penuh isyarat.


"Yee... bisa aja bikin alasan. Mas emang curang, slalu Jani yang dijadikan alasan!"


Aku mendengar Kaysan terkekeh kecil. "Terimakasih, Rinjani. Ayo kita mandi, karena setelah ini kita akan berkumpul untuk sarapan pagi."


"Kenapa setelah menikah aku jadi sering mandi ya mas? Mas tahu alasannya?"


Kaysan menatapku mataku dalam-dalam, "Jangan kamu berikan mata polosmu untuk laki-laki lain, Rinjani! Mata yang membuat laki-laki ingin melindungimu sekaligus menginginkanmu."


"Apa aku seperti kucing yang minta dikasihani?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Kamu kucing yang mengemaskan, yang bisa membuat siapa saja ingin membawamu pulang."


Aku menunjukkan wajah masam, "Mas sering menjulukiku dengan nama-nama hewan. Menyebalkan, apa tidak ada yang lebih bagus?"


Aku terkekeh geli, pagi ini tidak lebih dari diskusi kecil tentang perasaan yang masih sama-sama tabu. Perasaan yang tak pernah kita ucapkan secara jujur dan terbuka.


...Kadang ada rasa yang tak lebih dari sekedar rasio....


*


Pukul 06.45 di ruang makan yang lebarnya minta ampun, seluruh keluarga besar Kaysan sudah berkumpul di meja berbentuk oval memanjang. Aku duduk disamping Kaysan, kakak tetua dari sebelas bersaudara ini benar-benar menunjukkan wibawanya.


"Nikmati apa yang sudah Tuhan berikan, syukuri setiap sesuap nasi yang kalian telan."


Aku mengedarkan pandanganku, semua tampak mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Ayahanda lalu dengan khidmat memimpin Do'a.


Aku masih mengamati satu persatu cara mereka mengambil makanan, tepatnya mengamati Ibunda dan Ayahanda. Ibunda dengan telaten mengambilkan nasi dan lauk pauk ke piring Ayahanda.


Aku memegang paha Kaysan dan menggelitiknya. Kaysan menoleh ke arahku, dengan isyarat mata dan gerakan kepala, aku berbisik pada Kaysan, "Apa Jani juga harus mengambilkan nasi seperti Ibunda?"


Kaysan tersenyum, "Tidak perlu, Jani."


Aku mengangguk paham, ku tatap sajian sarapan pagi sekarang. Semua tampak menggiyurkan dimataku, sajian sarapan yang tak pernah aku lihat atau rasakan.


Tangan Kaysan yang sedari tadi diam akhirnya bergerak dari tempatnya, dengan telaten ia mengambilkan sepiring kudapan untukku. Mataku membulat tak percaya dengan tingkah Kaysan terhadapku.


"Apa yang kamu lakukan, putraku? Seorang istri harus melayani suami, bukan terbalik seperti ini! Apakah kamu mau, semakin teriris derajatmu?" Ayahanda menaruh sendoknya lagi ditempatnya, begitu pula adik-adik Kaysan yang menghentikan makannya. Mereka nampak menundukkan kepalanya, tanpa berani menatap Ayahanda ataupun Kaysan.


"Tidak ada salahnya memanjakan seorang istri, Ayahanda. Dan, ini tidak ada persoalannya dengan derajat."


Nafasku mendadak tercekat, oksigen seperti sulit untuk masuk ke rongga dadaku. Bapak-anak ini tidak akan bertengkar karena aku kan? Aku menunduk.

__ADS_1


"Putraku, sepertinya kamu perlu belajar lagi cara menjadi suami dan penerus Raja dengan baik. Lanjutkan makan kalian, habiskan semua yang sudah kalian ambil ke dalam piring kalian!"


Aku menatap isi piring yang diambil oleh Kaysan, dengan kesal aku menyendok satu persatu kudapan yang jumlahnya akan membuatku kesulitan untuk menelan.


Hening...


Sarapan pagi ini berakhir dengan selamat, tanpa adanya piring terbang atau piring yang sengaja terjatuh di lantai.


Ayahanda dan Ibunda pergi meninggalkan meja makan, tersisa aku dan adik-adik Kaysan. Jangan tanya suamiku dimana, karena ia sudah ditarik oleh Ayahanda untuk mengikutinya.


"Mbak, takut ya?" Indy, menghampiriku dan duduk di kursi bekas Kaysan.


Airlangga yang setahuku sedaritadi hanya menunjukkan wajah datarnya juga ikut menimbrung, "Jika menjadi bidak catur, jadilah pion yang bisa menjadi apa saja di ujung papan lawan. Bisa menjadi Ratu, Raja ataupun Bathara. Jangan menjadi seekor kuda yang bisa bermain menyamping."


"Maksudnya?" dahiku mengernyit bingung.


"Maksud mas Airlangga itu maju terus pantang mundur, tapi jangan main serong, Mbak."


Aku mengangguk, "Gitu ya?"


"Jalan-jalan asik nih... Mbak Jani mau?" kata Indy.


"Tidak bisa. Nanti siang Ibunda mau berkunjung ke kamarku."


Sadewa terkekeh, "Siap-siap aja Mbak. Segepok tulisan harus kamu makan. Keblinger..."


"Memang tulisan bisa dimakan, aku saja sudah kenyang!"


Semua orang terkekeh mendengarnya. "Sudahlah, sepertinya Mbak Jani butuh waktu untuk beradaptasi disini. Biarkan dia istirahat." Airlangga mendorong kebelakang kursinya, lalu pergi meninggalkan meja. Disusulnya Andri, Dimas, Nakula, Danu, dan Rama.


Tiga orang abdi datang untuk membereskan sisa makanan. Indy melolong, "Sabar ya Mbak, Ayahanda memang begitu. Semua yang terjadi harus berjalan dengan keinginannya, termasuk Mas Kaysan dan Mbak Jani."


"Kenapa seorang Raja dan Ratu harus dilindungi. Karena sekali saja bidak mereka diambil lawan, seluruh bidak pengikutnya akan kalah. Tidak mengapa menjadi pion, itu sudah bisa menjadi salah satu pemain catur yang mumpuni. Mbak Jani paham?" timpal Nakula.


"Apa kalian juga diajari untuk menjadi seorang penyair?"


Indy terkekeh, "Sudah sana, antar suami Mbak ke pelataran parkir."


Aku melihat Kaysan keluar dari pintu belakang rumah utama. Dengan tergesa-gesa aku mendekati Kaysan yang menggeleng melihat kelakuanku.


"Mas, tidak bertengkar dengan Ayahandakan?" tanyaku gelisah, karena terlihat dari wajah Kaysan yang berubah masam.


"Berjalanlah yang anggun, Jani."


"Maaf, nanti Jani perbaiki." Aku menunduk, "Mas gak jawab pertanyaanku."


"Tidak bertengkar, Rinjani. Ayo kita ke kamar, mas perlu mengambil beberapa baju ganti dan berkas perkebunan."


Diruang keluarga.


"Jangan seperti budak cinta, anakku." Ayahanda mengetuk meja kerja di depannya, berulangkali berusaha menyadarkan identitasku.


"Ayahanda memang mengizinkanmu menikahi gadis itu, tapi Ayahanda tidak mau melihatmu seperti laki-laki yang tergila-gila karena cinta."


"Tapi Kaysan tidak akan seperti Ayahanda, istri Kaysan hanya akan tetap satu yaitu Rinjani Alianda Putri."


"Omong kosong apa anakku. Pergilah ke perkebunan teh tiga hari. Istrimu akan diurus Darmi dan Ibumu. Biarlah dia belajar menjadi istri yang mengagungi suami."


Makin greget kan, hehe. Kasih like yang banyak ya, terimakasih. Salam Rahayu ๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2