
Ada banyak hal indah di rumah ini, tak terkecuali malam Minggu. Buat mereka yang memiliki kekasih yang bisa di pandang meski tak bisa diraba, itu sudah hal yang menyenangkan. Tak terkecuali saat ini.
Aku mendengus sebal saat Nanang dan Anisa menghabiskan waktu bersama di paviliun Rinjani, Nakula pun begitu ia dan kak Rahma berada di ruang keluarga, bersama si playboy Sadewa. Irene adalah pacar jarak jauhnya, sedangkan cewek blesteran Jawa-belanda itu masih menjadi kekasihnya. Bagaimana Sadewa menjalani hidup dengan satu hati yang terbagi, membayangkan saja aku tak sampai.
Di lain ruang, tepatnya di ruang makan masih ada Ayahanda dan bunda Sasmita, Ayahanda menemani bunda Sasmita untuk membuat makan malam. Manusia di rumah ini seakan menunjukkan masing-masing cinta kasih kepada pasangannya.
Aku duduk termenung, ternyata 'sendiri' dan menyaksikan kemesraan orang lain membuatku gigit jari. Rasanya tidak adil saat mereka mengumbar kemesraan di depan ku, di depan ibu hamil yang merindukan kasih sayang, sentuhan, dan kecupan.
"Cieee, sendirian aja." ejek Nanang. Ia melewati ku untuk mengambil makanan di dapur.
"Cieee, cieee...," ujarku dengan malas.
"Jangan banyak cemberut ibu hamil, nanti Dalilah juga cemberut. Mau aku elus?" Alisnya naik-turun, ia tersenyum lebar.
Aku menggeleng cepat, mengelus perutku dan disaksikan banyak orang itu terlalu berisiko.
Aku ingin mengecoh hatiku. Mengelus perutku adalah tindakan sederhana yang membuatku senang. Apalagi Dalilah akan menjadi tenaga dan tak bergerak secara Rock n roll.
"Kembalilah ke pacarmu, nanti dia pingsan lagi kalau tahu kamu mengelus perutku." kataku sambil mengibaskan tangan. Nanang terkikik,
"Yasudah nanti malam saat sepi." Nanang mengedip-edipkan matanya.
"Tunggu ya, Endut." lanjutnya lagi. Nanang melenggang pergi ke paviliun.
Aku menggeleng dengan tingkahnya yang bisa saja menghiburku.
Makan malam tiba, semua berkumpul di ruang makan termasuk pacar-pacar ke tiga anak bunda Sasmita. Mereka menunduk hormat, dan tampak malu-malu saat Ayahanda menatap mereka satu persatu.
"Anak dalang Ki Ageng Nugroho kelak bisa menjadi sinden istana. Belajar dari sekarang!" Anisa mengangguk, "Baik Kanjeng Sultan."
Nanang mengelus rambut Anisa dan tersenyum puas, pilihannya memang tepat, meskipun nantinya dia juga harus belajar menjadi seorang dalang.
"Rahma... Sudah mengerti apa yang harus dia lakukan jika menikah dengan Nakula nanti."
Rahma mengatupkan kedua tangannya. "Sendiko dhawuh, Kanjeng Sultan."
Tatapan Ayahanda kini berada tepat ke arah Sadewa dan kekasihnya.
"Tentukan pilihan kalian!"
Sadewa dan bule blesteran Jawa-belanda itu saling menoleh, Sadewa tentu paham maksud Ayahanda, si bule blesteran mengernyit heran.
"Jalan kita masih panjang." Sadewa menenangkan.
Bunda Sasmita bertepuk tangan, "Semua anakku sudah tidak jomlo lagi."
Ayahanda kembali bertitah, "Satu lagi syarat menjadi istri anak-anakku, kalian akan menjadi dayang istana dan mendampingi ndoro ayu Rinjani."
__ADS_1
Aku menunduk, menjadi istimewa tak selamanya enak. Hidupku akan penuh dengan kawalan dan ancaman.
Ayahanda meminta ku untuk duduk di dekatnya dan melayaninya dengan baik.
"Banyak orang yang akan membantumu. Jadi, kamu sekarang yang harus mematangkan diri untuk menghadapi semua tanggung jawabmu nanti."
"Baik Ayahanda."
"Sekarang ambilkan Ayahanda nasi dan lauk-pauk."
Semua orang menatapku dengan ragu dan menahan senyum. Aku membenci senyuman mereka, seperti tahu saja jika aku gerogi di samping Ayahanda.
Ku balas dengan senyuman sinis, dan melanjutkan menjamu Ayahanda.
MAKAN MALAM SELESAI...
Semua berkumpul di ruang keluarga. Berbincang-bincang, dan ramah tamah dengan Ayahanda. Aku mengikuti acara mereka dengan malas. Sungguh, aku dan mas Kaysan lebih romantis dari ke empat pasangan di depanku.
Lamunanku terpenggal saat bunda Sasmita menepuk pundakku. "Malam-malam melamun, nanti di sambet penghuni pohon asem lho."
Aku tersenyum, "Apa sih bunda!"
"Iya nih, Mbak Jani tumben diam. Kenapa?" tanya Nakula.
"Paling juga kangen kangmas, itu masalah hidupnya sekarang." sahut Nanang.
Bunda dan Ayahanda menatapku, bunda Sasmita tersenyum dan mengangguk.
"Paling itu cuma mimpi, sekarang antar pacar kalian pulang. Bunda tidak mau anak bunda di anggap sebagai garangan." [ garangan : musang jawa ]
"Bagus-bagus kok dianggap garangan, Bu." bela Ayahanda.
Ketiga anak bunda Sasmita mengancungkan jempol.
"Kalau kami garangan, berarti bunda juga bunda garangan."
Bunda Sasmita tertawa kecil, "Betul itu, bunda adalah bunda garangan yang membasmi ular-ular berbisa di luar sana, tentunya ular-ular betina yang menggoda Ayahanda." Bunda menekuk sikunya dan mendesis lagaknya seekor ular yang mau menggigit Ayahanda. Bunda berlagak seperti musang yang bergulat dengan ular-ular itu dan berakhir bergelayut manja di lengan Ayahanda. Ayahanda tak pernah memamerkan senyum manisnya, namun matanya sering mengerjap penuh kasih sayang, "Sasmita, Sasmita." Jauh di dalam jiwa bunda Sasmita, ada asa yang kadang mengerlip terang, dan meredup akibat angan Bunda Sasmita untuk dijadikan istri sah dan tak hanya menjadi selir Kinasih. Bunda banyak cerita tentang kisahnya, dan banyak kisah yang semakin hari membuatku beruntung karena Kaysan tak ingin memiliki istri lain. Cintanya pada Ayahanda adalah cinta penuh dan ringan, hingga Bunda akan tetap setia menunggu sampai waktunya tiba---entah kapan.
"Bilang aja curhat, Bun. Dan mau berduaan dengan Ayahanda. Pakai ngusir tamu untuk pulang." ujar Sadewa, ia mengambil jaket dan kunci motornya.
"Beib, ayo aku antar pulang."
"Siapa nama pacarmu, Wa? Mbak dari dulu gak tahu."
"Isabelle." jawab gadis blesteran tersebut.
"Double i, right." gumamku sambil tersenyum simpul. Sadewa memberi tatapan peringatan padaku. Aku melengos dan menahan tawa. Kalau saja aku tega dengannya, pasti sudah aku bilang tentang Irene.
__ADS_1
"Isabelle pamit pulang, Kanjeng Sultan dan bunda Sasmita." Isabelle mengatupkan kedua tangannya, tersenyum manis. Sadewa merangkul bahunya, "Ayahanda, bunda, nanti aku pulang agak malam. Mau lanjut lagi."
"Ingat, anak orang!" ujar bunda Sasmita.
Sadewa mengangguk sambil lalu. Kini giliran Nakula dan Rahma. Pasangan paling kalem sejagat rumah bunda Sasmita ini sedang membereskan barang bawaan kak Rahma.
"Adik, Mbak ikut." Aku ingin keluar dari rumah sebentar. Jika tidak, aku masih akan terus berada di bawah sutradara atas hidupku sekarang, Ayahanda.
Nakula manggut-manggut, "Ayo, tapi Mbak pakai sweater dan izin dulu dengan Ayahanda." kata Nakula.
Aku menatap Ayahanda dengan mata manja, berbinar-binar dan penuh harap, bak kucing yang merengek keluar dari kandang. Ayahanda terlihat berat mengatakan iya, "Sebentar saja Ayahanda, tuan putri ingin melihat lampu kota."
"Izinkan mereka keluar, mas. Ada Nakula yang menjaganya." Bujuk bunda Sasmita.
"Tidak sampai jam sepuluh. Bawa Santosa untuk menjaga kalian."
Aku ingin bersorak girang, tapi yang ku lakukan malah mencium punggung tangan Ayahanda, "Terimakasih, Grandpa."
*
Dalam satu mobil yang melesat di jalanan kota, bukan hanya ada aku, Nakula, Rahma, dan pak Santosa. Tapi, Nanang dan Anisa juga ikut serta. Mereka bilang, jalan-jalan keliling kota paling enak di adakan bersama-sama.
"Siapa dulu yang mau di antar pulang?" tanya pak Santosa.
Anisa dan Rahma yang duduk di bangku penumpang, serentak tak menjawab pertanyaan pak Santosa. Mereka hanya tersenyum, sambil memegang tangan pacar mereka yang merangkul di leher.
"Mereka mau ikut jalan-jalan, pak. Sudah biarin aja, anak muda begitu, belum puas ketemu." Aku kembali menoleh ke luar jendela, memanjakan mataku dengan keindahan malam kota yang istimewa. Sesekali tanganku sibuk ketak-ketik--- berbalas pesan dengan Kaysan.
Pak Santosa mengangguk, "Ndoro ayu juga sibuk sepertinya."
Aku tersenyum, dan membuat panggilan video dengan Kaysan.
Kaysan • Bubu...
...Dari bangku belakang, kedua pasangan itu berkata....
• Baba, bubu kangen. Pengen pacaran dan malam Mingguan.
...Netraku berputar jengah. Aku tak menanggapi ejekan mereka. Sedangkan mereka terkekeh, dan kembali memamerkan kemesraan di hadapanku---kemesraan yang masih wajar....
Kaysan • Sabar bubu. Besok kalau baba pulang, kita adu kemesraan dengan mereka.
Aku mengangguk, lantas mengobrol hal-hal yang tidak penting yang membuat orang-orang di belakangku mendesis tak terima.
Lepas memanjakan mata, dan mengantar pulang Anisa dan Rahma. Kami berhenti di depan gerobak penjual kaki lima yang menjual wedang ronde.
Aku berbincang dengan Nanang tentang Anisa. Nanang tersenyum, dirinya mengiyakan gagasanku. Sudah seharusnya ia tidak fokus dengan masa lalunya, karena masa depan sedang menantinya dengan senyuman. Masa depan menjadi seorang dalang yang memiliki istri seorang penyanyi sinden. Perpaduan yang serasi dan melengkapi.
__ADS_1
Happy reading 💚