Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 23. [ Ragi cinta ]


__ADS_3

Siang harinya setelah aku berberes toko, aku dan Kaysan berada didalam mobil. Berkali-kali aku tanya pada dirinya, mau dibawa kemana tubuhku ini, jawabnya slalu sama, hanya tersenyum.


Entah kenapa senyumnya seperti sumber mata air yang ada manis-manisnya. Begitu mempesona seperti candu bagiku untuk terus menatapnya, "Jani, ada apa?"


Tanyanya membuatku terperanjat, dia ternyata mengamatiku diam-diam. "Ehm, tidak mas. Tidak ada apa-apa." kataku sambil tersenyum kaku.


Bibir yang tak banyak mengucap kata itu, membuatku penasaran, bagaimana rasanya. Hahaha. Aku lebih memilih untuk menatap pemandangan luar. Terlalu lama menatap bibir itu membuatku merinding. Lebih merinding lagi jika Nina tahu pikiran kotorku.


Bisa kena ceramah tujuh hari tujuh malam aku. Atau sampai pening kepalaku dibuatnya. Ku buang pikiran kotor itu kalau perlu besok-besok aku bawa sampo anti bilas, biar kepalaku adem.


Hiruk pikuk kota di siang hari ini cukup menarik mata. Banyak tulang punggung dan tulang rusuk berjibaku mencari rezeki karena saat ini dunia sudah begitu banyak terbalik kodratnya. Atau, mereka sekedar berboncengan dengan motor dengan anak kecil yang diapit kedua badan kedua orang tuanya sambil menikmati akhir pekan. Ah manis sekali, aku suka cemburu melihat keharmonisan satu keluarga yang utuh. Rasa sesak mengisi rongga dadaku, aku rindu ibu. Rindu masakannya, rindu omelannya. Rindu semua yang pernah dia beri untukku. Aku rindu ibu, kemana perginya Lastri. Wanita malang yang aku rindukan kasihnya.


Mataku berair, dengan cepat aku menghapus air mataku sebelum Kaysan menyadarinya.


Karena tidak lucu, tiba-tiba aku cemburu melihat anak kecil dengan kuncir dua yang diapit kedua orangtuanya. Dia seperti Rinjani saat kecil.


"Mas..." Panggilku sambil menoleh.


"Iya Rinjani."


"Mas kita mau kemana?" tanyaku menebak-nebak, karena jalan yang kami lalui adalah jalan menuju rumahnya.


"Rumah, Rinjani."


"Kenapa kerumah mas, aku malu."


Lebih malu lagi jika harus bertemu Ibunda Ratu, pemilik perintah dari semua perintah dikediamannya.


"Malu sama siapa?"


"Sama Ibunda dan Ayahanda." jawabku lirih. Sambil menundukkan kepalaku, "Mas gak bilang,'kan sama ibu kalau kita u..."


Aku menjeda ucapanku, terlalu malu mengatakan itu.


"U..., apa Rinjani?" Kaysan berhenti tepat didepan gerbang rumahnya, ini alasan tepatkan untuk menjawab pertanyaannya.


"Udah sampai mas." Aku tersenyum seperti agen pulsa jika sedang menawarkan produk barunya.

__ADS_1


"Kamu mau bilang jika kita udah jadian." Tatapan Kaysan begitu mendalam, aku terpojok.


"Kita tidak jadian, kita hanya sedang mendalami karakter." Aku melengos saat Kaysan malah terkekeh mendengar ucapanku


Baru kali ini aku mendengarnya tertawa. Setelah pertemuan kami yang belum cukup memenuhi jumlah jariku. Baru kali ini dia tertawa, sungguh langka. Apa dia bahagia, segitu bahagianya,'kah bisa pacaran dengan anak penjudi.


"Mas, sudah ketawanya. Mas membuatku semakin malu." Wajahku tersipu.


Kami masih berada di depan gerbang, dengan mesin mobil yang masih menyala, bahkan Parto si penjaga pos gerbang sudah membuka pintunya sedaritadi. Dia melongok kedalam melihatku dengan tatapan sinis, sepertinya dia tidak ridho aku berada satu mobil dengan juragannya. Mungkin dia menganggap ku tidak selevel dengan Kaysan, bangsawan dari tanah Jawa.


"Kamu lucu, Rinjani." Mobil mulai melaju dengan kecepatan perlahan, Kaysan membunyikan klakson untuk memberikan salam pada Parto yang membungkuk hormat.


"Mas, Ibunda ada dirumah?"


"Ada, Ayahanda juga ada."


"Mas, aku malu."


Bahkan disampingmu saja jantungku sudah tidak karuan, apa lagi nanti. Ibunda yang perangainya sama dengan anaknya, suka perintah. Sulit aku menolaknya, apalah daya jika aku hanyalah rakyat kecil.


Bukannya rakyat harus patuh dengan perintah Raja dan Ratu.


Mobil sampai di pelataran parkir rumah ini, berdampingan dengan mobil-mobil keluaran Jerman lainnya. "Mas, tidak apa-apa bawa seorang gadis ke rumah?"


"Aku bukan membawa gadis kerumah, tapi aku membawa calon istri kerumah."


Aku tertegun, "Mas, belum juga satu hari pacarannya. Udah bilang bawa calon istri, masih panjang kita mendalami karakternya."


Ini belum terlalu jauh, mendalami karakter tidak semudah yang dibayangkan. Jalani saja sebisa mungkin, jika tidak kuat cukup lambaikan tangan saja.


"Satu hari bersamamu rasanya satu detik dalam hidupku, Rinjani." Kaysan turun dari mobil, akupun begitu. Aku mengikuti langkahnya, melewati taman disamping rumah utama. Mataku mengedar, mencari sosok Ibunda Ratu yang kadang-kadang suka datang tanpa suara.


Kedatangannya suka mengejutkan.


Dari sebuah perjalanan bukan hanya hasil yang kita dapat, tapi proses itulah yang membuat kita mengerti makna perjalanan itu sesungguhnya. Proses saling mengenal karakter inilah yang membawaku kemari. Mengenal dunia yang bahkan jauh dari anganku, cita-cita ku dulu hanya satu.


Bertemu laki-laki yang bertanggung jawab.

__ADS_1


Karena tanggung jawab laki-laki sudah memenuhi semua syarat kriteria laki-laki idaman.


Jika tampan dan gagah itu sudah bonus anak Sholehah sepertiku. Walaupun aku pernah melakukan dosa zina karena pernah berciuman, tapi aku sudah berusaha untuk bertaubat dan memperbaiki diri.


Kami tiba di gazebo taman belakang, dua orang abdi yang sudah melihat kedatangan Kaysan dan aku, berduyun-duyun menghampiri Kaysan. Aku hanya tersenyum, tapi abdi ini tidak menatapku. Mereka seperti menganggapku tidak terlihat. Dua abdi tunduk hormat dan membungkuk. Menanyakan apa ada yang bisa mereka bantu, Kaysan terlihat berbincang-bincang sebentar, sebelum akhirnya Kaysan menyuruhku untuk duduk.


Jika siang hari taman ini tampak asri, cocok sekali untuk rebahan. Bahkan rasa kantukku mulai menyerang p-e-r-l-a-h-a-n, udara segar membuat mataku mendadak berat.


Mataku berkeliaran, meneliti lebih detail rumah ini. Luas sekali, untuk main futsal pun bisa, badminton bukan lagi. Atau kejar-kejaran seperti film India di bawah pohon Cemara.


"Ibunda dimana mas, kenapa tidak terlihat?"


"Mau bertemu Ibunda?"


"Mau, tapi malu."


Kaysan tersenyum, "Kita hanya sebentar dirumah. Setelah semuanya siap. Kita pergi lagi."


"Kita mau kemana mas?" Aku ngantuk loh ini, kenapa kalau pergi harus ke rumah dulu. Tadikan langsung bisa cus ke tujuan.


"Pantai."


Dua abdi tadi datang membawa dua helm, jaket kulit milik Kaysan, dua masker dan kunci motor.


"Jauh mas?"


"Semua pantai disini ditempuh dalam waktu satu jam lebih, Rinjani."


"Tapi aku ngantuk mas, gimana dong."


"Nanti tidur diatas motor."


Aku mengerutkan keningku, "Mas mau aku jatuh." Aku menepuk bahu Kaysan. Dia menggenggam tanganku, "Nanti mas tangkap."


Aku tersipu malu. Pipiku sudah mengembang seperti adonan donat kebanyakan ragi.


Ternyata ragi cinta memang berbahaya untuk kesehatan manusia. Sering senyum-senyum sendiri adalah tanda ragi cinta itu bekerja.

__ADS_1


Next, Jangan kendor kasih like n votenya πŸ™πŸ’š


__ADS_2