Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 74. [ Gara-gara sapi ]


__ADS_3

Setelah selesai menemani Nakula pergi mencari action figure, aku mengendus aroma masakan dari lantai paling atas, lantai khusus restoran dan food court. Aku menimang-nimang kantong belanjaanku sambil menatap Nakula.


"Apa?"


Aku mengulas senyum, "Laper, kata mas Kaysan jangan telat makan."


"Alasan."


"Kata Ibunda juga gitu, biar gak gampang sakit."


"Alasan."


Aku memasang wajah masam, sambil menggerutu kesal.


"Take away juga boleh."


"Mau apa? Aku sudah lelah, Mbak. Tugas kuliahku banyak."


"Aku juga banyak, lebih sulit malah."


Nakula menghela nafas berat, "Take away saja, setelah itu pulang."


Aku mengangguk senang, "Nakul, mau yang western. Aku belum pernah mencobanya."


"Ndeso!"


Aku berdecih dan memukul bahu Nakula.


"Maklum aku bukan orang sepertimu, waktu kecil dulu aku sering makan nasi sama garam. Enak tapi bikin darah tinggi, makanya dulu bapak suka marah-marah tidak jelas." Nakula menatapku dengan mata nanarnya.


"Mau apa, western yang gimana?"


"Kayak di master chef itu, tenderloin steak."


Nakula menepuk jidatnya, "Sapi."


"Bukan, tenderloin steak."


"Sapi?"


Aku menggeretakan kakiku diatas lantai, "Sapi metal." Aku melengos, tidak mau melihat wajah Nakula yang meledekku.


Nakula terkekeh dibalik masker kainnya, "Ndeso, ndeso."


"Biarin. Ndeso gini juga kakakmu." kataku ketus sambil berjalan mendahului Nakula.


Kami tiba di lantai paling atas, aroma apa saja tercium dilantai ini. Dari mulai jajanan pinggir jalan yang dibalut tampilan kekinian, hingga restoran mewah dengan harga fantastis yang bikin kantong kembang kempis.


"Tetep tenderloin steak, tidak mau nyoba western lainnya. Sushi, atau makanan Korea?"


"Tidak, maunya tetep steak." Aku bersikukuh dengan pilihanku, karena melihat di TV kadang membuatku berkhayal untuk bisa menikmatinya.

__ADS_1


Nakula mengangguk, "Kalau makan steak harus ditempatnya, tidak bisa take away."


Aku melihat jam yang melingkar dipergelangan tanganku, waktu sudah menunjukkan jam 15.45, itu artinya satu jam lagi Kaysan juga pulang dari kerja. Dan, kegiatan sore sampai malam harinya akan terus bersamanya, manja-manjaan, cubit-cubitan berujung kelon-kelonan. [ berpelukan dalam tanda kutip ]


Tapi, dia berhutang penjelasan padaku, tentang dirinya yang seorang rektor universitas. Pantas saja dia kemarin menunjukkan kartu parkir VIP.


Nakula mendahului langkahku, ia menuju salah satu restoran western penjual beragam makanan dari olahan sapi.


Mungkin jika aku pacaran dengan orang biasa, aku bisa merasakan indahnya pacaran meski hanya sekedar jalan-jalan di mall, atau sekedar mengunjungi toko buku sambil numpang foto-foto. Tapi dengan Kaysan, laki-laki yang sudah menikmati tubuhku aku tidak pernah merasakan indahnya pacaran versiku, pacaran milenial ala rakyat biasa.


"Kalau melamun tidak jadi makan."


"Enak saja, sudah kepalang tanggung. Perutku sudah keroncongan."


"Apa yang kamu ketahui memang kebenaran, aku adalah anak dari selir. Ayahanda. Tapi, statusku dan saudara-saudara lainnya tetap sama dimata Ayahanda dan petinggi istana, kami memiliki gelar Bendoro Raden Mas."


"Tapi kenapa, mas Kaysan tidak memberitahuku?"


"Itu adalah hal yang tidak aku ketahui alasannya, Mbak. Tapi bukankah diluar sana sudah banyak selentingan kabar jika seorang Raja pasti memiliki selir, atau istri lebih dari satu. Harusnya Mbak tahu sebab dan akibatnya menikah dengan keluarga Ningrat."


Aku menutup wajahku, getaran di relung hatiku merembeskan air mata yang perlahan membasahi telapak tanganku.


"Ibunda adalah malaikat tak bersayap kami. Dia menerima kami yang bukan dari rahimnya untuk menerima kasih sayang yang sama seperti anak kandung Ibunda. Percayalah, jika kamu menjadi ratu dan permaisuri akan tumbuh rasa yang berbeda. Rasa yang membuat hatimu akan seluas samudera."


Penjelasan Nakula semakin membuatku terisak, apa itu artinya jika aku sudah 'membosankan' Kaysan dengan mudahnya bisa menikah lagi, tanpa ataupun izin dariku.


Dadaku semakin sesak. Aku menjadi tidak berselera untuk makan atau sekedar membuang nafas.


"Bersiap sewajarnya saja, seperti kamu tidak tahu apa-apa tentang kami. Sampai akhirnya mas Kaysan sendiri yang menjelaskan padamu. Aku tahu, mas Kaysan punya maksud tersendiri."


"Hapus air matamu, aku tidak mau terlihat seperti laki-laki yang menyakiti seorang gadis."


Aku menarik salah satu sudut bibirku, "Lalu siapa adik mas Kaysan yang belum aku jumpai?"


"Laki-laki yang memberimu kepingan piringan hitam waktu itu?" Aku mengangguk.


"Aku rasa kamu tidak perlu tahu, karena dia tidak akan pernah datang ke rumah utama Ayahanda."


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


Nakula tersenyum simpul.


"Terlalu banyak tahu membuat hatimu tidak tenang. Makan!" Nakula mengingatkan.


Dua hot plate berisi tenderloin steak dengan saus barbeque mendarat di meja nomer 7, dua gelas jus melon dan satu gelas air putih dingin menyusul kemudian. Ku tatapan irisan kentang goreng, mix vegetable, dan hot plate yang mengepulkan asap panas. Perutku semakin keroncongan.


Seakan lupa dengan kegundahan hatiku, aku mulai memegang pisau dan garpu. Tanpa peduli jika wajahku sudah sembab dan terlihat mengkilap, aku mulai menyantapnya. Panas tenderloin steak ini tidak sepanas hatiku yang tercemar oleh rasa yang disebut kecewa.


*


Sebelum pulang dari Mall, aku menyempatkan diri untuk membeli beberapa roti dengan merk dagang BreadTalk. Aromanya sudah ku endus daritadi, kini beberapa potong roti dengan bentuk yang mengemaskan sekaligus menggiyurkan sudah berada di nampan ku.

__ADS_1


Bukan karena uang yang dengan mudah aku peroleh sekarang. Kesempatan seperti ini adalah keajaiban. Aku tidak mau menyia-nyiakan untuk bisa membeli jajanan mahal ala rakyat dengan ekonomi menengah ke atas. Sepertinya aku harus bersyukur sebelum penderitaan mulai menyergapku diam-diam.


*


Senja sudah menghilang, bersamaan dengan awan hitam yang masih menggantung di langit malam.


Aku terlambat, Kaysan pasti sudah pulang dan menungguku di rumah. Bukannya habis dari jalan-jalan aku merasa senang, tapi aku malah dirundung gelisah.


Ada ketakutan sendiri saat aku melakukan kesalahan, bisa jadi kesalahan yang aku lakukan menjadi pertimbangan Kaysan untuk memiliki istri lagi. Dengan alasan, karena aku lalai dengan perintah suami dan aturan lainnya.


Setelah mobil kodok Nakula tiba pelataran parkir rumah. Aku membawa barang bawaanku yang cukup banyak.


"Jangan berlari!" Nakula mengingatkan.


Aku hanya berdehem dan mengamati baik-baik keadaan sekitar. Dirasa cukup aman, aku melangkahkan kakiku lebar-lebar.


Mobil BMW milik Kaysan sudah terparkir rapi di pelataran parkir. Itu artinya Kaysan benar-benar dirumah. Kepanikan melandaku. Aku menghela nafas panjang, sebelum masuk ke dalam kamar.


Ku intip sebentar dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.


Kaysan memangku laptop, membiarkan TV yang melihatnya. Pasti jika TV itu bisa bicara pasti dia akan mengeluh. 'Apa gunanya aku, apa aku hanya sebagai peredam suara saat kalian sedang asyik-asyiknya bercinta.' Kasian sekali TV itu, batinku.


Dengan langkah perlahan aku masuk ke dalam kamar. Kaysan menoleh, aku terkejut.


"Jam berapa ini?"


Mampus, batinku. Aku menaruh barang bawaanku di sofa. Berjalan mendekati Kaysan dengan tersenyum kaku.


"Maaf, Jani terlambat." Aku menundukkan kepalaku.


"Boleh pergi tapi juga tahu waktu! Aku mengizinkanmu karena aku tahu, aku juga tidak bisa leluasa menemanimu."


"Maaf." ucapku menyesal. Harusnya aku yang marah karena kebohongan yang Kaysan tutupi, tapi kenapa aku yang dimarahi karena terlambat satu jam.


"Mandi dan sholat! Kerjakan tugas-tugasmu."


Aku sedikit tersentak, "Tugas-tugas yang mana, Mas?" tanyaku bingung. Karena tugas seorang istri adalah banyak.


"Tugas kampus! Hari ini aku akan pergi ke Bali. Menjemput guru menari untukmu."


Kaysan menunjukkan tas ransel yang ia taruh di dekat lemari.


"Mas, marah?"


Apa ini hukuman untukku, gara-gara sapi aku harus ditinggal suami pergi beberapa hari.


"Waktu Maghrib hanya sedikit, kerjakan. Aku tak mau disebut lalai menjadi suami karena tidak mengingatkanmu!" Suaranya penuh tekanan, dengan langkah seribu aku mulai menuju kamar mandi.


*


Dan, aku tahu sebab menikah dengan keluarga Bangsawan. Namun, akibatnya, aku tidak tahu jika akan serumit ini.

__ADS_1


Hanya pada pemilik Alam Semesta ini aku mengadu. Mengadu tentang keluh kesahku.


Tuhkan, makanya jangan ngeyel. Authorkan pusing harus ngehalu ke Bali. πŸ’šπŸ˜‚


__ADS_2