Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Antologi cerpen [ Santosa III ]


__ADS_3

"Usia saya 39 tahun jika harus menunggu kamu menentukan pilihanmu. Sedangkan usiamu pasti juga sudah menginjak usia 30an. Tidakkah itu membuatmu dipandang sebelah mata oleh tetanggamu?"


"Om Santosa kenapa to? Kenapa tiba-tiba begini. Aku kan gak enak sama Mbak Nindy!"


Pipinya yang tembem tambah terlihat seperti bakpao jika cemberut seperti itu. Saya suka melihatnya. Kalau sudah sah, pasti suka saya cubit. Hayalan saya memang suka aneh dan liar tak terkendali. Tapi itu kan wajar, wong saya juga laki-laki normal.


"Saya sudah mengamatimu jauh-jauh hari selama saya bekerja dengan GPH Kaysan. Saya memang tidak tertarik awalnya denganmu karena saya tidak bisa leluasa untuk melakukan hal pribadi yang ingin saya lakukan."


"Lalu kenapa aku Om? Jangan gitulah... Aku menghormati Mbak Nindy. Aku menghormati keluarga besar Kanjeng Sultan. Aku tidak mau jadi ribet."


"Menjadi istri pangeran dan seorang Ningrat Jawa itu artinya kamu harus bisa menari dan melepas hijab yang kamu pakai. Kamu juga harus memahami Islam kejawen. Apa kamu bisa melepas hijabmu hanya untuk menjadi bagian dari istana?"


Saya terlihat jahat, tapi begitulah adanya. Menjadi istri pangeran harus siap dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan istana.


Seperti halnya ndoro ayu Rinjani, Ninapun harus bisa membuat sesaji, menari, dan mengikuti semua ritus kerajaan.


"Hah... Kenapa Om Santosa yang pusing sendiri. Kalau aku gak bisa menunggu Nanang sampai lima tahun lamanya, akupun juga tidak memilih om Santosa menjadi pendamping hidupku!"


Sekarang saya paham kenapa persahabatan bisa terjalin cukup lama karena keduanya sama-sama memiliki sifat atau karakter yang sama.


Dan, karakter yang Nina dan ndoro ayu Rinjani sama-sama ngeyel dan keras kepala.


"Kamu yakin? Saya siap meninggalkan rumah utama Kanjeng Sultan jikalau kamu tidak enak dengan Mbak Nindy. Saya sedikit tergesa-gesa karena usia saya juga tidak muda lagi. Hmm... Ta'aruf saya juga mau? Nina mau mencobanya?"


Saya pikir-pikir lagi, gelagat saya justru seperti laki-laki yang pengen banget disayang dan di harapkan.


Sedangkan saya justru menolak perasaan dan kasih sayang dari Nindy.


Hidup memang tidak slalu lurus-lurus saja.

__ADS_1


Kadang menyakiti tapi juga disakiti...


Kadang mencintai tapi tidak dicintai...


"Saya juga seorang pangeran, meskipun keluarga saya tidak sekaya keluarga Sultan Adiguna Pangarep. Tapi saya sanggup membawamu menjadi satu-satunya permaisuri dan tidak menuntutmu untuk melepas hijabmu."


Nina semakin marah-marah. Kepalan tangannya terlihat memukul dasbor mobil.


"Aku gak mengharap apa-apa dari Nanang. Aku juga gak cinta sama Om Santosa. Aku hanya mau hidup damai sejahtera entah dengan siapa aku nanti menikah. Allah pasti sudah menyiapkan semua ya g terbaik untukku. Lagian Aku gak pengen cepet-cepet nikah! Aku belum lulus dari sekolah keperawatan!"


Perbincangan itu terjadi saat saya mengantarnya pulang ke rumah Nina setelah sidang kasus asmara tadi malam.


Sekarang saya hanya dihadapkan pada situasi yang tidak enak.


Nindy memusuhi saya, ndoro ayu Rinjani marah karena sudah membuat semua menjadi salah kaprah.


Pangeran Nanang tidak tahu bagaimana kabarnya, sedangkan keputusan menikahi Nina lima tahun lagi akan benar-benar terlaksana atau tidak saya tidak sanggup menerkanya. Saya hanya bisa berdo'a, kelak selama lima tahun yang akan datang, pangeran Nanang di Jerman menemukan Cinderella atau kaum bangsawan Eropa.


Saya menunggu di tempat biasa saya dan GPH Kaysan bekerja. Karena hanya GPH Kaysan yang bisa saya mintai bantuan sekarang.


Sekelebatan pikiran tentang masa depan saya sudah mencuri sebagai fokus saya untuk bekerja.


Saya memilih keluar dari ruangan untuk mencari udara segar. Tapi hanya pada rokok lah saya mencari ketenangan.


"Sudah lama?" tanya GPH Kaysan.


"Tidak, Gusti pangeran." jawab saya sambil membungkuk.


GPH Kaysan terlihat tersenyum, "Nindy adalah adikku. Nina adalah sahabat istriku. Nindy mencintaimu, sedangkan Nina mencintai adikku, Nanang. Jika kalian berempat bersama, kalian sudah pasti saling menyakiti satu sama lain sebagai keluarga. Keputusanmu kemarin benar-benar tidak aku duga, Sam. Kamu cukup berani menyatakan hal itu dihadapan Ayahanda."

__ADS_1


GPH Kaysan juga mengambil rokok dan menyesapnya.


Saya menghela nafas diiringi asap rokok yang keluar dari hidung saya.


"Saya tidak tahu Gusti. Sepertinya pilihan saya memang sangat terburu-buru. Tapi saya tidak bisa memaksakan perasaan saya kepada Nindy. Gusti pangeran pasti tahu silsilah keturunan Salahuddin Rumi. Diantara kami tidak ada yang menikah dengan... Maaf."


Saya membungkuk hormat.


GPH Kaysan menepuk bahuku, "Aku tahu. Tapi bukankah Nindy sudah mendapatkan hukuman dan pengampunan atas kesalahannya. Cinta yang tulus dari seseorang apa masih gak sanggup membuka pintu hatimu? Apalagi cinta seorang wanita itu sulit untuk terurai meskipun sudah berkali-kali di tolak, pun rasa lukanya juga akan sulit memudar."


Saya membungkuk lagi, "Saya tidak pernah mencintai wanita sebelumnya. Hanya sebatas mengangumi dan itu kepada ndoro ayu Rinjani. Maafkan saya Gusti pangeran saya sempat lancang. Tapi itu dulu."


GPH Kaysan tertawa kecil, "Yang sudah ya sudah. Aku tidak lagi membahas soal itu, sekarang masalahnya adalah kamu dan Nindy. Ada baiknya kalian berbicara dari hati ke hati."


GPH Kaysan berdiri setelah rokok di tangannya sudah habis.


"Nina memanglah gadis yang baik, Sam. Tapi kamu butuh waktu untuk membuka hatinya. Satu lagi yang bisa aku ingatkan padamu. Mencintai tidak cukup membuat orang bisa menerima, dicintai pun tidak cukup membuat orang bisa bahagia. Yang jelas, apapun keputusanmu semoga kamu bijak dalam memilihnya."


GPH Kaysan pergi dari hadapannya saya.


Saya memang butuh berbicara dengan Nindy. Sebisa mungkin waktunya harus sekarang karena saya juga tidak mau keberadaan saya disini membuatnya semakin menderita.


Saya mencarinya di taman belakang, dia pasti sedang menemani Suryawijaya bermain.


Benar saja, dari kejauhan saya melihatnya. Dia masih bisa tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah Suryawijaya.


Saya tidak tahu harus memulai darimana pembicaraanku dengan dirinya. Membawa Nina dalam hubungan ini pun rasanya tidak mungkin. Saya salah telah menjadikannya alasan untuk menolak perasaan Raden Ayu Nindy.


Sekarang saya bingung. Pengabdian saya tidak akan pernah usai meskipun saya menikah nanti. Saya masih harus berjuang untuk mencapai tujuan awal datangnya saya di kerajaan ini.

__ADS_1


Dan, pernikahan dengan anggota keluarga Sultan Agung Adiguna Pangarep akan meningkatnya kerjasama antar kerajaan. Yang berarti, saya harus mencoba memulai perasaan yang lebih konkret terhadap Raden Ayu Nindy.


__ADS_2