Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 40. [ Aku juga punya dua ]


__ADS_3

Mentari pagi muncul seperti biasanya, menghangatkan suasana pagi yang masih menyisakan embun pagi.


Aku sudah mandi, setelahnya aku merindukan telur ceplok mata sapi dengan lelehan kecap manis dan nasi hangat. Belum menggorengnya aku sudah menelan ludah sendiri, tidak sabar untuk memakannya.


Aku ingat dulu ibu sering membawakan bekal menu seperti ini untuk sekolah, karena ibu tidak memberiku uang jajan seperti teman-temanku yang lain.


"Satu atau dua?" Ku tunjuk dua butir telur yang terdiam.


"Dua sepertinya cukup, aku butuh banyak protein supaya nanti tubuhku tidak gampang kurus jika memikirkan banyak perasaan." Tawaku sambil menghidupkan kompor, kalau boleh jujur aku tidak bisa memasang tabung gas. Aku selalu merepotkan tetangga sebelah jika urusan memasang tabung gas dengan regulatornya. Ketakutanku suka berlebihan, dan itu membuatku takut untuk mencoba hal-hal baru. Karena pikirku jika gas bocor akan meledek dan merusak rumah kontrakan ini, lalu aku harus ganti rugi, lalu aku harus menjual salah satu ginjalku untuk renovasi.


Aaaa... pikiranku kadang jahat menakut-nakuti.


Ku tabur garam setelah memecahkan telur ke dalam wajan. Pantatnya sudah menghitam karena kebanyakan dipakai untuk memasak diatas tungku perapian [ dingkel dan pakai kayu sebagai bahan bakar ]


Ku cium aroma telur yang mulai matang, indera perasaku sudah tidak sabar untuk menyecapinya. Hmmm..


Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, ku bawa sepiring nasi dan segelas air putih ke sofa tempat biasa bapakku tidur. Janjinya akan datang jam delapan. Jadi aku bisa sarapan dengan tenang. Seperti anak kecil yang mendapat makanan kesukaan, aku terus menatap dua telur dengan pinggiran yang kering dan berwarna kecoklatan. Ah! Kulit telur ini akan jadi gongnya nanti.


Setelah merapal do'a mau makan, aku mulai melahapnya perlahan, Enak! Ku sisihkan kulitnya, tapi aku sebal saat ketukan pintu rumah mengacaukan sarapan pagiku.


Aku berjalan menuju pintu depan tanpa berselera, ku buka pintunya. Laki-laki yang sama seperti semalam.


"Katanya jam delapan. Ini masih pagi untuk bertamu." Aku mendengus kesal.


"Salahkan saja rindu."


"Rindu bisa ditahan."


"Tidak, kata dilan rindu itu berat. Biar aku saja."


"Tapi mas Kaysan bukan dilan, masuk." ajakku sambil berjalan menuju sofa, ku lihat telurku yang merana.


"Jani baru sarapan?" tanyanya sudah duduk didepanku. Hanya ku angguki dan mengambil piringku lagi, "Jangan bicara dan melihatku saat makan." Aturan yang aku buat jika tidak aku akan kesulitan untuk menelan nasi dan telurnya.


"Kenapa?" Mata Kaysan terpincing heran melihat porsi makanku.


"Dua telur?"

__ADS_1


"Ya, sudah diam. Kalau perlu pejamkan mata."


"Kenapa?"


"Nanti kamu pengen telurku." kataku sambil melahapnya lagi.


"Tidak, aku juga punya dua."


Aku tersedak mendengarnya. Apa-apaan coba. Jelas aku tahu apa maksudnya, anak IPA pasti pernah menggambar alat reproduksi saat kelas XII. Aku menggeleng, ternyata Kaysan juga bisa bercanda.


Ku ambil air putih dan meminumnya.


Mataku mendelik, "Apa perlu dijelaskan juga, jika cuma satu harus dipertanyakan bukan?"


"Sudah makan lagi telurmu itu. Aku tunggu."


Aku menyaut piringku dan berjalan ke dapur, "Duduk yang manis. Jangan mengikutiku!"


Kaysan tersenyum lebar melihat tingkah lakuku yang tersipu. Bicara biologis membuat psikologisku memikirkan hal-hal konyol diluar akal sehatku. Dia benar-benar ngeselin.


Sial! Tapakan kaki itu mengarah ke dapur, dengan cepat-cepat aku bersembunyi di balik pintu.


"Rinjani..." panggilnya pelan. Ku lihat matanya mengedar mengamati keadaan sekitar.


"Rinjani..." Aku menutup mulutku menahan tawa. Hingga langkahnya mendekati pintu, tawaku sudah mau meledak. Bahkan bermain umpet-umpetan seperti ini membuatku ingin ngompol. Aduh, gawat!


"Rinjani..." panggilnya lagi,


"Ha-ha-ha..." Akhirnya tawaku meledak mengagetkannya, dengan terpogoh-pogoh aku lari ke kamar mandi.


Ketika aku keluar dari kamar mandi, Kaysan berdiri sambil menatapku dengan tajam. Kepalanya menggeleng melihat kelakuanku.


"Childish..."


"Sometime's..."


Ku peluk pinggangnya, "Kan sudah aku bilang duduk yang manis."

__ADS_1


Dia elus punggungku dengan pelan, "Kamu lama." Aku menyembunyikan wajahku di ketiaknya, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Di dapur bobrok ini, atapnya tak menggunakan plafon dan lantainya hanya sebatas cor-coran semen yang tidak rata. "Mas sudah sarapan?" tanyaku sambil melepas pelukan itu, karena aku takut genting ini akan roboh melihat kemesraan kami berdua.


Aku menyibakkan gorden dan keluar dari dapur, diikuti Kaysan yang merangkul bahuku.


"Sudah. Ayo ke rumah ibu Rosmini. Setelah itu kita akan fitting baju."


"Mas?" Aku ingin menanyakan sesuatu, tapi aku ragu.


"Iya, katakan?"


"Apa mas sudah membicarakan pernikahan dengan Ibunda dan Ayahanda?"


"Kamu hanya perlu menyiapkan dirimu saja Rinjani, semua sudah aku urus. Setelah fitting baju nanti. Aku akan sibuk lagi."


Wajahku sudah masam dibuatnya, sibuk lagi itu artinya diulur lagi seperti layangan. Terombang-ambing dilautan kegelisahan.


"Jangan kau tekuk wajahmu seperti kertas lipat, Rinjani. Bukannya setelah nikah nanti, kita akan sering bertemu dan hidup bersama."


"Harus secepat ini ya mas kita nikah? Gimana kalau Ayahanda nanti tidak suka dengan bapakku dan aku?" Bukannya itu lebih perih dari menabur garam di luka yang mengangga.


"Kalau sudah siap ayo cepat berangkat dan selesaikan urusan kita."


Begitulah kata-katanya sebelum ia keluar dari rumah. Kenapa dia senang sekali memberiku kepastian yang tidak pasti. Aku harus menerka-nerka sendiri jawaban atau membuktikan sendiri atas semua pertanyaanku. Ini curang! Dia membuatku harus mengerti sendiri arti semua bahasa tubuh yang ia lakukan.


Aku masuk ke dalam kamar, mengambil tas selempangku dan memakai cardigan. Memoles sedikit bibirku dengan lipmatte warna peach dan menabur bedak bayi di wajahku.


Ku lihat pantulan wajahku di cermin. Aku seperti bidadari yang kehilangan selendang saat numpang mandi di kali. Ini terlalu putih, bahkan aku tak memakai bedak saja sudah cantik, Ehm... ku hapus bedak bayiku, lalu merapikan rambutku.


Ku dengar klakson motor Kaysan, menandakanku untuk cepat-cepat keluar. Aku bergegas, memang ada baiknya tidak menunda sesuatu yang baik dan dapat pahala.


Mungkin takdir sedang berlaku baik untukku sekarang, entah besok atau lusa. Semesta kadang suka sekali mempermainkan perannya. Maka aku tak lebih dari seorang wayang yang siap memainkan peran apapun dalam kehidupan.


Bukankah kita adalah wayang Tuhan yang sedang memainkan peran penting kehidupan. TUHAN-lah dalang atas segalanya yang ada. Percayalah, Tuhan menciptakan rasa untuk mengerti jika rasa yang kamu miliki akan membuatmu lebih mengerti arti sebuah perjalanan.


*


Lanjut, jangan lupa bantu like ya silent reader ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2