
Sepekan pertama yang berat? Aku rasa.
Terlalu banyak bilangan hari telah berlalu. Keadaan berubah, namun tak ada yang bisa mengubah nama yang terpatri di hatiku. Anisa masih ada meski masih banyak kekacauan yang tersirat dalam hati. Kadang terpikir kenapa harus bertahan jika seseorang bisa pergi dan menukar kesedihan dengan kebahagiaan?
Cinta adalah perkara yang manusiawi. Siapa saja bisa berada di posisiku, dan ini bukan salah Rinjani ataupun Anisa. Kedua perempuan itu hanyalah dua orang yang tak sengaja bertemu denganku. Dengan takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.
Tapi aku rasa cinta bukan prioritas utamaku sekarang. Aku masih ingin lulus kuliah dan mengembangkan bisnis clothing store milikku. Jika Anisa memang tidak mau mengerti keadaanku, satu pikiran tiba-tiba mengusikku.
Aku mengambil ponsel dari saku kemejaku bermaksud untuk menghubungi Anisa dan membicarakan tentang hubungan kita. Ia menyetujuinya nanti malam sekalian mengembalikan motor.
Hari ini aku masih di rumah karena malam Minggu. Di kampus pun tidak ada kegiatan lain selain hanya nongkrong dan membahas skripsi dengan teman-teman seangkatanku. Adikku Sadewa juga sedang gila-gilaan merevisi skripsi, uring-uringan kalau masih ada bab yang di tolak dosen pembimbing. Gak jauh beda denganku.
Skripsi dan asmara seperti dua hal gila yang membuatku menikmati kesemrawutan ini dengan cara memandanginya dari jauh.
Rinjani.
Wanita itu menjauhiku sampai sekarang. Selentingan kabar jika mas Kaysan dan Mbak Jani akan pindah dari rumah utama terus santer terdengar. Bunda jelas tahu masalah ini, masalahku dan Anisa. Apalagi motor keluarga yang di bawa Anisa belum juga di kembalikan.
Aku termangu memandangi Rinjani, hingga wanita itu kini berada di depan ku.
"Kata Nina, store milikmu lagi ada diskon?" tanya Rinjani sembari menggendong Suryawijaya. Tangannya sesekali menyuapi Suryawijaya yang sedang makan siang.
"Iya." jawabku singkat.
"Habis ini Mbak mau ketemu Nina sekalian cari diskonan untuk di bawa ke rumah belajar."
"Lalu apa hubungannya denganku?" Alisku terangkat sebelah. Bingung dengan apa yang ia mau.
"Hidupku slalu ada hubungannya dengan dirimu! Mas Kaysan sedang menemani Dalilah les menari, Mbak tidak bisa nyetir mobil sendiri. Hmm..."
Suryawijaya terdengar bergumam lalu di jawab Rinjani dengan anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Pakai taksi online!" kataku, sudah jelas jika Rinjani memang memintaku untuk mengantarnya ke store. Aku bukannya tidak mau, tapi lagi-lagi aku harus terlibat dalam kegiatannya yang membuatku harus berada di dekat Rinjani. Bukan tidak mungkin jika Anisa melihatnya justru semakin membuat hubungan ini semakin keruh.
Kapasitas cemburunya dengan Rinjani sungguh di luar biasa mengerikan.
"Masih marahan sama Anisa?" tanya Rinjani, kini mata hitam bundar yang menyenangkan itu melihat mataku dalam-dalam.
"Aku pengen kamu bahagia. Seperti aku yang bahagia dengan mas Kaysan. Lepaskan saja... cemburu buta akan sulit di atasi meskipun itu dengan kejujuran."
"Aku senang kamu bahagia." Kalimat itu sungguh menyesakkan dada. Suryawijaya menatapku, Rinjani tersenyum tipis. Ia mengusap bibir putranya dengan tissue lantas menepuk-nepuk pantatnya supaya tidur siang.
"Kami semua akan bahagia jika kamu bahagia Om Nanang. Beberapa Minggu lagi aku dan mas Kaysan pindah ke rumah di dekat pabrik gula. Kamu... hanya perlu menentukan pilihanmu." Rinjani tersenyum.
"Ayahanda akan marah!" lanjutku setelah Rinjani menunjuk wajah yang begitu serius.
"Tanpa sepengetahuan mu, aku dan mas Kaysan sudah membicarakannya dengan Ayahanda. Ayahanda setuju." Rinjani menarik nafas, "paling tidak kamu dan Anisa sama-sama memiliki perjalanan yang mendewasakan diri."
"Tidak ada yang boleh keluar dari rumah ini apapun alasannya!" Aku berusaha mencegah terjadinya masalah internal lagi, apalagi ini hanyalah masalah pacaran. Toh, aku masih berharap agar Anisa bisa berubah.
Wanita yang memakai daster batik itu berlalu pergi.
Sudah banyak sekali transformasi yang Rinjani lakukan. Ia bukan lagi gadis yang suka memakai celana pendek dan kaos band metal. Ia bukan lagi gadis yang suka cengengesan dalam melakukan banyak hal. Ia sekarang menjadi wanita yang keibu-ibuan, walaupun tidak jarang kelakuan wanita itu mencuri banyak perhatian.
*
Aku dan Rinjani akhirnya memutuskan untuk pergi ke store berdua. Tapi sebelumnya kami harus menjemput Nina di rumahnya.
Entah kenapa Rinjani hari ini sangat gelisah, ia hanya diam dan menikmati perjalanan menuju ke rumah Nina. Sesekali ia tersenyum sendiri, seperti ia sedang menerawang masa lalunya.
Tiba di rumah Nina, Rinjani memintaku untuk stay di dalam mobil, beberapa bingkisan kue ia bawa, karena sebelumnya kami mampir dulu ke bakery and pastry milik ibunya.
Dari dalam mobil, ku lihat Rinjani bertemu ibunya Nina. Mereka berpelukan sebentar, lalu Nina muncul dan mencium punggung tangan ibunya.
__ADS_1
Kedua sahabat itu berjalan beriringan sembari bergandengan tangan. Keduanya saling tersenyum, dan dengan sadar aku juga ikut tersenyum.
"Cie... jalan berdua." Nina masuk ke bangku penumpang, Rinjani juga.
Aku berdecih,
"Jadi sopir kalian nih? Okelah... Mau kemana kita?"
"Jemput Anisa!" jawab mereka serempak.
"Kalian jangan macam-macam ya. Mbak! Apapun rencana mu, batalkan sekarang juga!" Aku menoleh menatap tajam ke arah Rinjani.
Rinjani tersenyum jenaka, "Masalah tidak boleh di biarkan berlarut-larut, Nang. Kita bisa bersenang-senang sekarang. Biar Anisa tahu sisi lain dari diriku dan sahabatmu." Rinjani dan Nina mengangguk bersama-sama, kedua wanita di belakangku ini pasti sudah bersekongkol dengan baik, "Anisa juga sahabatku." lanjutnya Rinjani lagi.
"Jadi kita jemput Anisa, lalu ke store?" tanyaku memastikan. Kedua perempuan itu mengangguk sambil tersenyum lebar.
Selama perjalanan, aku menjadi pendengar obrolan receh keduanya. Rinjani mengkhawatirkan Suryawijaya yang ia tinggal bersama pengasuhnya. Memang, Suryawijaya lebih sensitif dibanding dengan Dalilah. Bocah itu bakal rewel sepanjang hari jika ibunya tidak ada di rumah, sampai-sampai, Rinjani sekarang kuliah di rumah dengan dosen yang di undang secara langsung oleh Ayahanda.
Tiba di rumah Anisa, aku menghubunginya untuk memastikan dia ada di rumah. Saat aku bilang jika aku sudah ada di depan pintu rumahnya, Anisa lalu membuka pintu dengan wajah gugup sekaligus tegang.
"Janjinya nanti malam." katanya sambil menunduk.
"Aku tunggu kamu ganti baju dan siap-siap." jawabku yang dibalas dengan kerutan di dahinya.
"Kenapa bawa mobil? Bukankah kamu harus bawa motormu pulang?" tanyanya lagi.
"Itu mudah. Sekarang pergilah bersiap."
Dalam kebingungan, Anisa hanya mengangguk. Entah bagaimana reaksinya saat tahu jika di mobilku ada wanita yang sangat ia cemburui. Aku pun dibuat was-was.
Happy reading ๐
__ADS_1