
Kami hanya menghabiskan waktu di dalam kamar hotel. Sebelum room servis datang aku disuruh Kaysan untuk keluar kamar, entah membeli kopi di restoran bawah atau sekedar berjalan-jalan di koridor hotel sambil menunggu room servis selesai melakukan pekerjaannya.
Setelahnya, aku akan mengendap-endap masuk ke dalam kamar. Laksana tikus yang sudah berhasil mencuri keju, kamar ini adalah persembunyianku dan Kaysan.
"Berhasil." kataku sambil membawa beberapa potong kue dan kopi hitam pesanan Kaysan.
Hari ini sudah hari Minggu, sudah terhitung dua hari kami ada di dalam kamar hotel. Rasanya tidak membosankan meski hanya berduaan, melihat film, membaca artikel, membaca modul pembelajaran, atau bercinta sampai pagi menjelang. Tubuhku remuk, sekaligus senang.
"Tikus cantik, hari ini kita pulang ke rumah." Kaysan mengambil cup kopi hitamnya, sedangkan aku masih setia dengan latte full cream.
"Tidak bisakah satu hari lagi denganmu, Mas."
"Hahaha."
Kaysan tergelak, ia menaruh cup kopinya. Lalu berdiri, tangannya mengacak-acak rambutku.
"Belum merasa cukup?"
Aku memeluk pinggang Kaysan, menyembunyikan wajahku di perutnya, "Kamu bisa menjadi dirimu sendiri saat tidak ada Ayahanda yang mengawasimu, Mas. Dan, aku menyukai semua perlakuanmu."
"Lain waktu kita akan menghabiskan waktu berdua lagi. Ibunda sudah menunggu dirimu, begitu juga guru tarimu."
Aku menepuk bokong Kaysan, mencubitnya, "Jadi besok kita sudah sibuk sendiri-sendiri? Jadi ini adalah alasan mas mengajakku berlama-lama disini."
Kaysan tetap membisu, jadi aku seperti bicara sendiri. Muncul keinginan untuk menolak mentah-mentah untuk berlatih menari, tapi mengingat Kaysan yang menyukai SNSD akhirnya aku tersenyum untuk menyembunyikan rasa jengkelku pada Kaysan. Awalnya terasa berat, "Jani mau menari, asalkan beri Jani izin untuk membawa motor sendiri."
"Tidak!"
"Mas, ini hanya untuk mempermudah mobilisasiku ke kampus dan rumah. Tidak mungkin Jani dan si kembar saling menunggu untuk pulang bersama. Jam kuliah kita berbeda, Mas."
Aku harus berhati-hati jika merayunya, salah-salah aku sudah memancing Kaysan untuk menegurku. Bisa jadi dia semakin tidak mengizinkanku pergi sendiri.
"Kamu tahu aku siapa, Rinjani. Jika kamu salah mengartikan izin yang aku berikan. Kamu akan mendapat hukuman."
"Iya, Mas." kataku, "Terimakasih."
Hatiku ingin berlonjak girang, itu artinya aku bisa sering bertemu dengan Nina atau bu Rosmini. Aku tersenyum manis, sambil mengelus tulang belakang Kaysan.
"Sudah-sudah, aku tahu pikiranmu. Hentikan rayuanmu."
Kepalaku mendongkak, "Jani tidak merayu."
"Lalu untuk apa kamu masih memeluk perutku, jika sedang tidak merayu."
"Aku hanya rindu, itu saja."
"Bohong! Apa uang jajanmu sudah habis, Rinjani?"
Aku berdecih, "Katanya tahu semua tentangku, berarti tahu juga uang jajanku masih utuh. Dari kemarin kalau pergi Nakula yang membayarnya."
__ADS_1
"Baiklah, jam satu nanti kita menjalankan rencana tikus."
Dua tikus beraksi.
Mataku menelisik koridor hotel dimana kami berdua singgah selama tiga hari. Dilantai 9 ini nampak sepi. Hanya ada cctv yang mengamati pergerakan kami.
"Aman." kataku sambil berjalan menunduk, sedikit tergesa-gesa melupakan jati diri yang sudah menjadi seorang putri.
Suara dari balik telepon masih menemani langkahku, "Keluar." kataku menyuruh Kaysan untuk menjalankan misinya.
"Baik." jawabnya.
Sebelum kami memutuskan untuk menjalankan rencana tikus, Kaysan sudah mengganti atributnya. Tikus jantan itu keluar menggunakan atribut serba hitam, tak lupa master yang menutupi wajahnya.
Aku menghela nafas, tikus cantik sepertiku harus seperti maling yang ingin keluar dari persembunyian. Sedangkan tikus jantan harus menuju tempat parkir mengambil kendaraannya.
Tiba di lobby hotel, aku diingatkan Kaysan untuk berjalan santai tanpa menaruh curiga.
Mahasiswa yang nyasar tiga hari ini cukup menyita perhatian. Entah apa yang dipikirkan resepsionis kemarin. Aku tak peduli.
Sampai di hall hotel, aku menghentikan taksi yang lewat.
"Misi berhasil, ganti." kataku lirih, setelah memberi tahu tempat tujuanku kepada sopir taksi.
*
Akhirnya kedua tikus berhasil keluar dari persembunyian, meninggalkan sisa-sisa perkawinan dan hasil curian yang dibayar. Ah, tikus. Apa tidak ada istilah lain selain tikus, yang lebih keren gitu seperti Tom Cruise dan Rebecca Ferguson di film Mission Impossible, kalau beginikah aku jadi ingat tikus berdasi yang mencuri uang rakyat. Jadi sebel sendiri dengan pencuri berpendidikan tinggi yang gak punya hati.
"Terimakasih, Pak." kataku sambil membayar biaya perjalanan.
"Sama-sama." Balasnya sambil menyelipkan sejumlah uang dikantong bajunya.
Aku keluar dari taksi dan menghampiri mobil Kaysan.
Dia sudah berjanji menungguku untuk pulang bersama. Ah, paparazi. Jikalau kalian tahu aku dan Kaysan akan seromantis ini, kalian pasti sudah iri. Dan tak jemu-jemu memuja kami sebagai pasangan serasi.
"Seperti aku butuh kostum yang lebih keren, Rinjani."
"Untuk apa, Mas?"
"Seru, aku suka seperti memacu adrenalin."
Aku menepuk jidatku, "Gak lagi-lagi deh, Mas. Sudah cukup sekali saja."
"Diulangi tikus cantik. Kamu akan menjadi partner in crime."
"Yasudah besok kita beli kostum untuk mempertunjang penampilan. Aku akan membeli kostum cat women, mas beli kostum Hulk. Terus adik-adik beli kostum Avengers lainnya. Sekalian saja kita buat film, melakukan aksi pemberontakan terhadap Ayahanda yang suka bertindak sewenang-wenangnya." kataku mengebu-gebu.
"Memang berani?"
__ADS_1
"Enggak!" Aku tertawa, begitu Kaysan juga.
Tibalah kami di gerbang rumah. Pak Parto membuka pintu gerbang dan mengetuk kaca mobil Kaysan.
"Ada apa, pak?" tanya Kaysan setelah menurunkan kaca mobilnya.
"Gawat, 'den. Bapak marah-marah dari kemarin."
Kaysan hanya menjawabnya dengan tersenyum simpul.
"Baik, terimakasih."
Pak Parto membungkuk, menutup pintu gerbang lagi setelah mobil berhasil masuk ke pelataran parkir rumah.
"Mas, Ayahanda pasti marah denganku."
Kaysan menarik tuas rem tangan. Lalu melihatku dengan tatapan mata yang mengisyaratkan tidak perlu takut ada aku disini.
"Tidak masalah, Ayahanda pasti sedang pusing memikirkan kerajaan dan rakyatnya. Jikapun Ayahanda marah pada kita. Paling tidak kita sudah menghabiskan kesenangan bersama. Jangan lupakan itu."
Aku mengangguk, Kaysan menggengam tanganku dan mengecupnya.
"Luaskan hatimu seluas samudera. Jika perlu sampai ke palung Mariana. Palung paling dalam di dunia."
"Tak perlu jauh-jauh ke palung Mariana, palung hatiku sudah sedalam entah."
Kaysan tertawa kecil, "Keluar, aku sudah rindu dengan ayam kintan."
Kami berdua keluar dari mobil, berjalan menuju kamar. Melewati halaman depan pemisah rumah utama dan rumah kedua.
"Kenapa tidak ayam bangkok saja, Mas. Kata bapak kalau menang sabung ayam harganya lebih mahal."
"Repot, harus beli ke Thailand untuk beli bibit unggulnya. Sedangkan aku takut kesana." kata Kaysan sambil merangkul bahuku.
"Takut kenapa?"
"Disana cantik-cantik, tapi belum tentu original. Tidak sepertimu, original luar dalam."
Ku balas pelukannya, sambil tersenyum memandangi wajahnya.
"Untung Ibunda dulu sering mencubit hidungmu, Mas. Jika tidak kamu tak kan setampan Romeo."
Kaysan menghentikan langkahnya, akupun juga.
Dia memelukku entah kenapa.
Setelahnya terdengar suara bagai orang yang menghardik. Kami berdua menoleh bersama, "Ayahanda." ucapku lirih.
Kaysan mengecup keningku, "Tunggulah dikamar."
__ADS_1
Aku memilih diam, mengikuti saran Kaysan. Bagai ingin mengatur keadaan, Kaysan menghampiri Ayahanda. Dia membungkuk lalu mencium punggung tangan Ayahanda. Aku tahu karena aku masih asik mengintip dari kejauhan.
Happy Reading ๐