Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Cinta tanpa syarat ]


__ADS_3

Pagi ini terasa berbeda dari biasanya. Kehamilanku membuat Kaysan lebih banyak mengambil alih pekerjaan rumah. Ia tak malu membantuku untuk mencuci baju atau mencuci piring.


Ketiadaan pembantu dan uang pas-pasan membuat aku dan Kaysan harus berhati-hati dalam menggunakan keuangan. Baginya ada hal yang harus ia jaga, tak terkecuali saat ia melepas pangkatnya.


"Susu untukmu ibu hamil." Segelas susu hangat rasa coklat Kaysan taruh di tanganku, "Minumlah."


Aku tersenyum, "Terimakasih, Mas. Anak ini beruntung memiliki cinta tanpa syarat darimu."


"Syaratnya cuma satu. Anak ini harus mirip dengan ku."


Aku menenggak habis susu coklat yang Kaysan buatkan. "Enak saja" ucapku.


"Anak ini kita buat bersama, jadi anak ini harus mirip denganku. Kan, aku yang membawanya."


"Tapi aku yang sering bergoyang, kamu hanya diam dan menikmatinya." Ku cubit hidung Kaysan, "Terserah mas saja. Mau mirip dengan mas atau aku, anak ini autentik buatan kita. Anak yang aku harap bisa membuat Ayahanda menerima kita." Kaysan merangkul bahuku, membiarkan aku bersandar di dadanya.


"Aku juga merindukan mereka. Tapi, kehidupan kita di sini membuatku bahagia. Tak ada tekanan mental yang membuatmu berada dalam kondisi tidak stabil." jelas Kaysan, ia mengecup keningku berkali-kali. Ada rasa hangat sekaligus pertanyaan lain yang ingin aku tanyakan pada Kaysan.


"Tapi kita akan pulang, kan, Mas. Ke tanah Jawa?"


"Aku akan membawa kalian pulang saat waktunya sudah tepat. Aku janji." ucap Kaysan pasti. Aku tersenyum maklum,


"i love you, my husband."


Wajah Kaysan tersipu, "Tumben, bilang cinta. Ada yang kamu inginkan?" tanya Kaysan menatap lekat wajahku.


Aku menggeleng. "Maafin Jani ya, mas. Andai cinta ini tak mengubah ambisi menjadi kegilaan. Kita tak akan seperti ini."


Di atas sofa ruang tamu, aku dan Kaysan masih membicarakan anak yang masih lama keluarnya. Kami berandai-andai, jenis apakah yang akan keluar nanti. Akankah ia seperti Rinjani, anak begajulan yang mengerti kenekatan yang ia lakukan atas dasar cinta telah membuat banyak kerapuhan dihati masyarakat dan keluarga.


Akankah ia seperti Kaysan, yang dibutakan cinta gadis kecil yang membuatnya melepas segalanya.


Oh, Tuhan. Kuatkan kakiku untuk melihatnya tubuh dewasa dan memiliki cinta tanpa syarat. Seperti cinta Kaysan terhadapku.


*


"Kalian yakin tidak ikut ke altar?" Bapak datang dari balik kamar. Ia sudah rapi dengan kemeja putih dan tuksedo hitam. Beberapa hari yang lalu, ia juga menyemir rambutnya agar terlihat hitam legam.


"Tidak bisa, Pak. Nanti aku dan mas Kaysan ditangkap polisi." kataku sambil terkekeh kecil. Kami berdua seperti pengecut yang sedang bersembunyi dari ramainya dunia. Dunia yang kadangkala tak berpihak pada kita. Seperti TRI PUSAT KEHIDUPAN. Manusia, Tuhan dan Alam semesta slalu bersinergi membentuk misteri yang mengajari manusia agar slalu menyangkutkan segala persoalan kepada Tuhan. Dan, menyerahkan kepada alam semesta. Manusia sejatinya adalah wadah, wadah atas rasa dan karsa yang terkadang menjelma menjadi keegoisan akan memiliki dan menguasai.


"Baiklah. Bapak harus menemani Laura. Kalian baik-baik dirumah, jangan lupa makan yang banyak." pinta Bapak tulus. Aku mengangguk, "Kalau ada makanan sisa bawa pulang, Pak. Itung-itung ikut prasmanan dirumah." ucapku yang langsung diberi jeweran di telingaku.


"Apa sih, Mas!" Aku mencibir Kaysan.


"Kasian anakku nanti, kalau ngeyel juga bakal di jewer sama bapaknya." Aku beranjak dari sofa untuk mengambil kado. Kado yang aku beli dengan Kaysan saat mencari kebutuhan dapur sore itu.

__ADS_1


"Titip buat Laura, pak. Sebagai ucapan terimakasih dari mas Kaysan." Aku menyerahkan sebuah kotak kado ke tangan Bapak.


"Apa isinya?"


Aku dan Kaysan kompak menjawab, "Rahasia..."


Bapak pergi, meninggalkan kami berdua. Sedangkan Mbah Atmoe dan eyang Dhanangjaya pergi ke tetangga sebelah untuk merayakan ulang tahun seorang lansia.


"Memang Mbah Atmoe dan eyang bisa bahasa Inggris, mas? Kok aku khawatir ya." ucapku kembali duduk di sebelah Kaysan.


"Entah. Biarkan saja." jawab Kaysan. Ia asik membaca artikel tentang cara merawat ibu hamil.


"Satu bulan lagi Rinjani kontrol."


Aku menyandarkan kepalaku di lengan Kaysan, ia mengusapnya.


"Aku menunggu kabar baiknya. Kabar baik yang menyenangkan untukku." Kaysan menyeringai. Ia menaruh iPadnya di atas meja.


"Hanya ada kita berdua. Apa kamu tidak mau bersentuhan denganku." Bulu-bulu halusku meremang, saat Kaysan mengangkat daguku.


Wajahku tersipu, memerah.


"Tegang amat." Cela Kaysan. Ia terkekeh geli, padahal aku sudah memejamkan mataku. Berharap Kaysan mengecup bibirku.


"Di pending sementara, karena berawal dari kecupan berakhir dengan *******. Aku suka gak tahan." jelas Kaysan, ia mengecup keningku.


Aku terkekeh melihat tingkah Kaysan yang mengusap kasar wajahnya. "Adikku akan libur panjang."


Aku tersenyum manis, "Kalau mas mau Rinjani bisa bantu." Aku menyeringai, Kaysan mengerutkan keningnya.


"Bantu gimana?"


"Kata Ibunda banyak cara untuk memuaskan suami. Dan, kali ini Rinjani mau mencobanya."


Aku mengusap paha Kaysan hingga berujung pada pangkal pahanya.


"Mau apa kamu?!" seru Kaysan menahan tanganku.


"Sssttt..." Aku menaruh jari telunjukku di depan bibirnya. "Aku bantu." Bisikku di cuping telinganya. Kaysan meremang, ia melepas celana cargonya dan menyisakan celana kolornya.


"Jangan malu-malu." Godaku pada Kaysan. Ia menengadah menatap langit-langit rumah, membiarkan aku bermain dengan organ kejantanannya.


Lenguhan panjang terdengar dari mulutnya. Kaysan menikmati sentuhan lembut yang aku berikan.


"Cepatlah, sudah mau keluar." ucap Kaysan dengan nada terbata-bata. Nafasnya tersengal-sengal. Sedangkan aku hanya tersenyum manis, menuruti semua keinginan Kaysan.

__ADS_1


Gerak tanganku semakin cepat, hingga akhirnya bagian bawahnya berdenyut-denyut mengeluarkan benih darah biru yang terbuang ditanganku.


Kaysan memegang pipiku, "Kecil-kecil sudah nakal." Gerutunya sambil tersenyum lebar.


"Mas Kaysan adalah objek yang menyenangkan. Jani suka, Jani dapat pahala." ucapku sambil beranjak dari sofa. Kaysan mengikuti ku, ia membawa celananya.


"Aku harus mandi. Setelah ini aku temani untuk memasak makan siang." Aku mengiyakan, sambil membasuh tanganku di wastafel.


Waktu menunjukkan pukul 11 siang, aku menyiapkan bahan-bahan untuk membuat masakan. Kerinduanku akan tanah Jawa membuatku lebih senang menyantap makanan dari kampung halaman.


"Mau makan apa, istriku?" Kaysan datang, rambutnya sudah basah, bajunya sudah ganti. Kilatan kedewasaan terus terpancar dari wajahnya, apalagi setelah ia mandi.


"Mau bikin cah kangkung sama telur ceplok." kataku sambil memetik satu persatu daun kangkung.


"Justru saat kamu hamil, aku malah tidak bisa memberikan yang terbaik untukmu dan anak kita." ucap Kaysan, tangannya mengambil pisau untuk memotong bawang.


"Yang terbaik dari semua ini adalah kebersamaan kita. Kata Mbah Atmoe, anak ini bisa merasakan apa yang aku rasakan. Jadi mas tidak perlu bersedih hati, karena Rinjani sudah menerima ini dengan senang hati. Mas tahu, ada yang membahagiakan selain kehadiran janin ini." Aku tersenyum. Mata Kaysan berkaca-kaca.


"Aku tidak kuat." katanya sambil menaruh pisau di atas meja. Ia berdiri, langkah kakinya menuju wastafel.


"Cuci tangannya dulu! Kalau di usap pakai tangan mas nanti tambah pedih." Aku berteriak, tanganku menyaut beberapa tissue.


"Aku akui bahwa kehebatan wanita tidak hanya di atas ranjang, tapi juga urusan dapur." Kaysan mengusap wajahnya dengan tissue yang aku berikan.


"Mas duduk yang manis, tugas mas nanti hanya menyuapiku saja."


Aku melanjutkan membuat makan siang. Ditemani Kaysan yang asik memainkan HPnya.


"Sibuk apa, Mas?"


Aku menaruh sajian masakan di atas meja. Aromanya sudah menggugah selera makan ku.


"Sebelum liburan musim panas akan ada pementasan wayang teaterikal. Jadi aku akan sibuk." jawab Kaysan.


"Yasudah, sekarang suapi dulu. Sebelum mas Kaysan tidak ada waktu luang."


Kaysan menaruh HP-nya. Ia mengambil piring, menaruh nasi dan lauk pauk ke dalamnya. Senyumnya mengembang,


"Buat tabungan saat melahirkan nanti. Jadi aku harap, bersabarlah."


Kadang aku kasian melihat Kaysan berjuang keras mencari penghasilan. Aku yang tak bisa berbuat banyak, akhirnya hanya berkaca-kaca melihat Kaysan dengan manisnya menyuapiku.


"Jangan sedih." ucapnya sambil menyeka air mataku.


"Maafin, Jani." Aku mengunyah cah kangkung dan telur, bersamaan dengan air mata yang masih mengalir deras di wajahku.

__ADS_1


Kaysan tertawa kecil, "Hormon ibu hamil memang berubah-ubah."


Happy Reading ๐Ÿ’š


__ADS_2