
Pernikahan yang akan diadakan tiga hari lagi, membuatku semakin gelisah. Inilah hal yang sebenarnya aku tunggu-tunggu dengan Nurmala Sari dulu. Tapi sayang, gadis kecil berambut hitam panjang telah mencuri sebagian kewarasanku hingga membulatkan tekad ku untuk meminangnya.
Gadis kecil yang perlahan mengisi imajinasiku dari awal pertemuan pertama dulu. Gadis kecil yang suka sekali menggodaku untuk menciumnya. Kesalahan kedua tak mungkin aku buat, cukup Nurmala Sari saja yang mendapat perlakuan tidak baik dariku. Karena mencium seorang gadis dalam keluarga kami adalah 'sebuah kesalahan' yang tak patut dicontoh.
Berhari-hari menjelang pernikahan, kesibukan dirumah benar-benar tak terelakkan. Ditambah tradisi pingitan yang harus aku jalani dengan Rinjani, membuatku kehilangan selera. Tidak tahu kenapa, justru menjelang pernikahan ketakutanku semakin berlebihan, tidak seperti dulu saat aku tidak pernah menghubunginya karena kesibukan kerja.
Aku menyadari, aku terlalu mengabaikan Rinjani. Ketakutanku semakin memburu saat pikiranku menerawang jauh lebih dalam, aku takut Rinjani tidak sanggup menahan diri saat sudah menikah denganku. Aku takut Rinjani akan menyerah sebelum bertempur. Rinjani adalah orang awam yang akan menjadi bagian baru dalam keluargaku, Rinjani akan menjadi sosok yang baru. Sosok yang akan terlahir menjadi seorang Ningrat. Kelak dia akan mendapat gelar nama, Rinjani Alianda Putri hanya akan tinggal kenangan.
*
Abdi dalem estri yang menjaga Rinjani adalah orang kepercayaan Ibunda. Abdi dalem yang sudah mengabdi selama puluhan tahun seperti Dhanangjaya. Ia diberi tugas untuk menjaga Rinjani, takut-takut anak ndablek itu akan kabur dari rumah. Meski sebenarnya jalan keluar masuk ke rumah Rinjani sudah dijaga ketat oleh orang suruhanku. Tapi aku hanya ingin memastikan Rinjani baik-baik saja dengan menaruh orang dalam.
Mbok Darmi namanya, abdi dalem estri yang sebagian rambutnya sudah beruban dan slalu disanggul polos slalu menyelipkan ponselnya di stagen yang ia pakai. Beliau juga yang mengirimku kabar jika Rinjani dirundung oleh tim perias kerajaan. Hal ini membuatku geram, aku takut Rinjani menjadi pesimis untuk melanjutkan pernikahan. Seperti perangai Ibunda. Beliau adalah orang yang ditakuti abdi-abdi lainnya. Beliau tahu apa yang harus dilakukan, beliau pulalah yang akan menjadi guru untuk Rinjani.
Sore menjelang, dirumah aku sudah bersiap dengan penata rias seorang sesepuh kerajaan. Rapalan Do'a terdengar dari mulutnya, tangannya yang sudah melekat antara tulang dan kulitnya dengan teliti membelitkan satu persatu kain ditubuhku. Sebelum keris diselipkan di belakang punggungku, beliau berkata, "Urip Sadermo Nglakoni Tumekaning Takdir" ~ [ Menjalani takdir dengan tulus, ikhlas dan bersyukur agar hidup menjadi tenteram dan damai. ]
*
Selesai melakukan tradisi siraman dan sungkeman. Aku berserta keluarga yang berjumlah sepuluh orang menuju rumah Rinjani untuk melakukan prosesi srah-srahan.
Selama menuju rumah Rinjani adalah perjalanan paling lama yang aku tempuh dalam hidupku. Meski sebenarnya rumah itu hanya berjarak 15 km dari rumah utama.
Ayahanda berkali-kali menyuruhku untuk tidak tegang, tapi Naas aku sudah tak alang kepalang. Gerogi merambat ke sekujur tubuhku.
Tiba dirumah Rinjani, tampak riuh orang-orang yang sudah siap menyambut kedatanganku dan keluarga. Termasuk bapak Herman calon mertuaku, dia terus membungkuk dan menyunggingkan senyum.
Rinjani disembunyikan, padahal melihat seujung jari manisnya saja aku sudah senang. Berkali-kali aku mencarinya tapi tak ada, hingga akhirnya aku harus ditegur Ibunda untuk bersikap layaknya seorang Ningrat.
*
Malam berputar, malam terakhir sebelum keperjakaanku dan keperkasaanku aku buktikan. Malam terakhir sebelum semuanya menjadi satu kesatuan. Sembilan belas jam lagi, ku pinang engkau dengan bismillah.
"Kenapa Ayahanda tidak tidur?"
__ADS_1
"Memikirkan nasibmu, putraku."
"Ayahanda ragu? Bukankah Ayahanda tidak akan menolak pilihanku? Katakan keraguanmu Ayahanda?"
Aku duduk bersila di depan Ayahanda, waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Terlihat di pendopo belakang tempat Ayahanda duduk sambil menikmati secangkir kopi hitam, matanya nanar menatapku. Pendopo inilah yang akan menjadi saksi bisu pernikahanku dan Rinjani nanti malam.
Aku hanya tidur selama tiga jam, karena pagi ini aku harus menjalani puasa Mutihan. Orang kejawen Islam mempercayai puasa ini bertujuan untuk memperlancar hajat dan membersihkan diri. Bahkan sunan Kalijaga pun sering melakukan puasa Mutihan.
"Ayahanda tak ingkar janji, putraku. Ayahanda hanya tidak yakin, kamu dan istrimu nanti bisa menggantikan posisi Ayahanda dan Ibunda."
"Seperti Ibunda, Rinjani akan belajar. Kaysan akan membantunya."
"Putraku, dalamnya lautan bisa kamu ukur. Dalamnya batin siapa yang tahu. Ayahanda hanya berpesan, ketahuilah. Pernikahan ini adalah pernikahan pertama penerus keluarga dan kerajaan yang sudah di dirikan berabad-abad lamanya. Ayahanda tidak mau, kamu memalukan diri sendiri nantinya."
"Rinjani tetap akan menjadi istriku, Ayahanda. Rinjani tetap akan menjadi ratuku."
"Keras kepala, putraku benar-benar sepertiku. Istirahatlah, anakku harus terlihat gagah dan wibawa. Jangan, seperti burung hantu yang berkeliaran saat malam, tidurlah lagi."
Aku mengangguk, "Tenanglah Ayahanda, percayalah jika Rinjani bisa seperti Ibunda."
"Baik Ayahanda. Terimalah Rinjani seperti Ayahanda membuka tangan lebar-lebar untuk Nurmala Sari."
"Ayahanda tahu apa yang kamu lakukan, tidurlah putraku."
Aku tersenyum kecut, "Kebanyakan kopi akan membuat kantung mata Ayahanda semakin menghitam. Masuklah ke rumah Ayahanda, Ibunda pasti mencari Ayahanda."
"Ibundamu juga tidak tidur, dia memikirkan gadis itu."
"Baiklah, Kaysan akan menemui Ibunda."
Aku berangsur mundur, meninggalkan Ayahanda. Aku tak habis pikir, kenapa orang-orang dirumah ini menjadi burung hantu sama sepertiku.
Tiba di ruang keluarga, Ibunda sedang mengayun kursi goyang tempatnya bersandar, dengan mata yang terpejam.
__ADS_1
Aku duduk bersimpuh di hadapan Ibunda, Ibunda tersenyum, "Anakku, ada apa?" Matanya mengerjap.
"Tidurlah dikamar Ibunda."
"Ibunda sulit tidur, Kay."
"Apa karena Rinjani Ibunda, apa keputusan Kay untuk menikahi Rinjani adalah kesalahan?"
"Bukan kesalahan, tapi kenekatan."
"Apa Kay harus membatalkan pernikahan ini?"
Ibunda beranjak dari tempatnya, berdiri dibelakangku sambil memegang kedua bahuku. "Jangan pernah merubah apa yang sudah menjadi keputusanmu, lanjutkan sedikit lagi kamu akan mendapatkan gadis itu. Ibunda hanya tidak menyangka apa yang ibu katakan dulu membuatmu benar-benar mengejarnya. Ibunda tahu, masih banyak hal antara kamu dan Rinjani yang perlu di selaraskan. Ibunda hanya bisa mendoakanmu Kay. Restu ibu sudah ditanganmu dan Rinjani. Ibunda percaya dia bisa membuatmu bahagia."
Aku berbalik, membungkuk mencium punggung kaki ibu. Seraya mengucapkan sembah sujud ku untuk Ibu.
"Sudah, jangan membuat Ibunda menangis sepagi ini."
"Ibunda, istirahatlah di dalam kamar. Kay, antar."
"Kay, ingat malam pertama. Kamu harus memperlakukan Rinjani dengan lembut."
Aku mengulum senyum, "Kaysan puasa Ibunda. Jangan membahas malam pertama."
Sambil menggenggam tangan ibunda, aku mengantar Ibunda masuk ke dalam kamarnya. Kamar dengan nuansa serba putih ini adalah kamar yang tak pernah berubah sejak dulu. Masih banyak ornamen-ornamen lawas, dan pigura-pigura lawas potret pernikahan Ayahanda dan Ibunda.
"Sudah sana Kay, kamu juga istirahat. Ingat kamu harus menyiapkan diri untuk nanti, Ibunda akan berkunjung ke kamarmu nanti siang."
"Baik, Ibunda." Aku mengecup punggung tangan Ibunda dan berlalu pergi.
*
Di dalam kamar, hatiku bimbang. Pendalaman karakter dengan Rinjani tak memakan waktu tiga bulan. Itu adalah waktu yang singkat untuk memulai sebuah pernikahan. Masa lalu Rinjani yang kelam, akan membuatnya menjadi gadis yang tegar. Akan menjadikannya sekuat karang. Dan aku percaya.
__ADS_1
[Masih flashback ^_^, salam Rahayu ๐]