Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 106. [ ]


__ADS_3

Pacaran di taman bunga sudah biasa, pacaran di pinggir pantai apalagi. Coba pacaran di kebun binatang, sambil mengamati bagaimana cara orangtua mendidik anak-anak mereka untuk mencintai binatang. Eh... asal jangan mencintai buaya darat saja, itu berbahaya bagi kesehatan. Terutama untuk kesehatan hati.


*


Pagi ini kami berkemas, tepat pukul delapan nanti kami akan berangkat menuju Melbourne Zoo.


Aku memakai celana pendek dan kaos hitam, tak lupa kemeja flannel yang dibelikan Nanang waktu itu sudah aku ikat di pinggangku. Sedangkan Kaysan menggunakan baju safari berwarna coklat pramuka, gayanya tak berubah tetap seperti bapak-bapak yang ingin mengajak putra dan putrinya bertamasya ke kebun binatang. Hanya saja lengan panjang yang ia gulung membuat lengan kekarnya terlihat semakin seksi, ditambah kemejanya dibiarkan terbuka memperlihatkan kaos dalamnya.


"Mas sudah siap mengasuh kami berempat?" tanyaku sambil duduk di pangkuannya. Tangan Kaysan memelukku, "Hitung-hitung sambil belajar mengasuh anak-anak kita nanti."


Aku membayangkan ketiga we ware bare yang sibuk sendiri menyiapkan petualangan nanti. "Kalau anak-anak kita seperti adik-adikmu itu, Rinjani sudah pingsan duluan."


Kaysan mencium pipiku, "Kenapa?" tanyanya.


"Ngeyel!" jawabku sambil menyengir kuda.


"Kamu mau hamil kapan, satu tahun lagi atau mau di proses sekarang?"


"Sebenarnya kita sudah sering memprosesnya, tapi tidak jadi. Rinjani pikir, masih banyak yang perlu di lakukan, kalau Rinjani hamil sekarang, semua jadi tertunda, nanti Rinjani harus cuti kuliah dan tidak bisa berlatih menari, 'kan Rinjani sedang ingin melakukan pemberontakan." Aku menutup mulutku karena keceplosan.


"Pemberontakan apa maksudmu? Kamu sedang tidak ada rencana jahat untuk pergi dariku, 'kan! Jawab!" Kaysan melotot, aku menggeleng. "Enggak kok mas, suer..." Dua jari peace ku terangkat.


"Lalu apa katakan, jika tidak! Jangan harap bisa jalan-jalan ke Bonbin." Kaysan mengancam ku.


"Nanti Rinjani beri tahu, sekarang ayo kita pergi dulu. Ini sudah jam delapan pas. Kita bukan sedang berada di negeri karet, jadi harus tepat waktu."


"Sebentar." Kaysan menahan tanganku saat aku sudah beranjak dari pangkuannya.


"Apa lagi mas, Rinjani gak akan pergi. Tenangkan hatimu."


"Boleh cium?"


"Gak! Semalam udah banyak."


"Yasudah aku jadi gak semangat buat menemanimu jalan-jalan di kebon binatang."


Kaysan merajuk. "Yasudah gak papa, Jani bisa pergi dengan bapak dan trio we ware bare."


"Apa itu we ware bare?"


"Makanya lihat kartun, jangan cuma lihat SNSD terus" Aku bersorak.


"Kalian jadi piknik gak... kalau enggak, mending tutup pintunya. Kelakuan kalian gak berfaedah." Sadewa melongok ke dalam kamar. Aku terkesiap, Kaysan dengan santainya tetap menjawab, "Masukan dulu barang-barangnya ke dalam mobil, tunggu lima menit lagi."


Sadewa menutup pintu dengan kencang. "Anak-anak sudah marah, lebih baik kita keluar dan bergabung mas."


"Cium dulu sebelum pergi."


Aku separuh kasian dengan wajah Kaysan yang terlihat masam. Ku merangkulkan tanganku di leher Kaysan, sebelum bibir kami bertemu, tangan Kaysan menyusup ke dalam bajuku. "Hanya lima menit!"


"Mas, kamu slalu kurang dan kurang."


"Mau ya?" tanyanya.


"Nanti malam!"


"Yasudah, anggap saja ini pemanasan."


Aku mendengus. Suamiku slalu saja menggunakan kesempatan disaat-saat aku tidak bisa menolaknya.

__ADS_1


Bibir ranum ku sudah di cumbu bibir Kaysan, sedangkan tangannya sudah berada di balik bajuku. Astaga! Lama-lama jadi apem kukus milikku ini.


"Kalian sudah siap?"


Pintu kamar terbuka. Aku melepas ciuman dan menutup bajuku. Sedangkan Kaysan hanya mendengus kesal.


"Brengsek, kalian emang gak tau waktu." gerutu Nanang sambil menutup pintu.


"Lihat kan, Nanang pasti sakit melihat ini." Aku beranjak berdiri, sambil membetulkan bajuku.


"Kenapa kamu begitu peduli dengan perasaannya? Tidak tahu kalau yang dibawah ini sudah ada yang bergerak."


"Apa hidup hanya akan sebrengsek ini mas? Banyak hati yang harus kita jaga!" Aku menyaut tas selempangku dan bergegas keluar, membiarkan Kaysan dengan tombak keperkasaannya berdiri.


Di luar rumah semua sudah bergabung, kecuali Kaysan. "Maaf, tadi ada insiden." kataku sambil menatap getir wajah Nanang. Hatinya pasti kalut dengan kejadian tadi, meski Nanang hanya melihatnya dari belakang.


"Mana mas Kaysan?" tanya Sadewa.


"Kamar mandi, lagi boker, katanya perutnya mules." jawabku berbohong.


Ku dekati Nanang yang acuh terhadapku, "Maaf." gumamku lirih.


"Lupakan!"


Aku mengepalkan tanganku dan memukul kaca mobil. 'sepertinya keberadaanku hanya menyusahkan banyak orang', aku semakin yakin bahwa aku perlu melakukan sayembara itu.


Tak lama Kaysan keluarga dari rumah.


"Ada yang ketinggalan?"


"Sepertinya ada mas, di kamar mandi." Celetuk Sadewa.


Aku memilih untuk melihat pemandangan diluar jendela saat mobil sudah melesat di jalanan Rathdowne menuju Melbourne Zoo yang hanya ditempuh dengan waktu lima menit.


Ekor mataku sesekali melirik Nanang, dia melamun. Wajahnya kusut. Sesal bersemayam di dalam dadaku. Hingga tak terasa, mobil sudah sampai di lahan parkiran kebun binatang.


"Turun-turun, ayo kita lihat jerapah." seru Sadewa dengan semangat, bukannya tadi malam dia yang mengejekku seperti bocah karena mainnya ke kebun binatang. Dasar!


Kami berenam layaknya muda mudi yang ingin bersenang-senang pada umumnya. Aku seperti gadis kecil yang dijaga bodyguard. Kaysan dan bapak berada di barisan belakang, Nanang dan Nakula berada di barisan belakang, sedangkan Sadewa ribet membawa barang bawaannya. Dari mulai kamera, tripod, dan alat penunjang pemotretan lainnya. Dia pikir kita mau melakukan pemotretan di dalam studio foto. Aku menggeleng, bukannya ini justru kenikmatan studio alam yang harus dinikmati tanpa keribetan, ditambah ciptaan Tuhan yang maha sempurna menambah bahwa kita terlalu kecil dihadapannya.


Tiba diloket, Kaysan membayar biaya masuk dan biaya pajak kamera profesional yang dibawa Sadewa. Sadewa cuek, dia asik melenggang ke dalam. Dia sudah punya tujuan sendiri disini. Hanya tersisa ke lima orang yang sibuk menata ulang kembali hati yang pernah tersakiti.


Aku membuka peta lokasi hewan-hewan yang ingin aku kunjungi. Tujuan ku kesini tak lain dan tak bukan adalah melihat jerapah, bagaimana caranya mereka kawin, sedangkan mereka sama-sama tinggi. Pikiran kotorku membuat ku senang dan tersenyum.


"Nakul, lihat jerapah yuk." Ajakku, karena hanyalah dia tempat paling aman saat ini. Bukan Kaysan, Bapak, ataupun Nanang. Biarkan mereka bertiga sibuk dengan urusannya sendiri. Biarkan laki-laki dewasa itu menyelesaikan urusannya dengan adiknya.


"Mas, Pak. Aku dan Nakula jalan-jalan ke kandang jerapah. Nanti kita ketemu dikandang serigala." Aku menunjuk peta dan bergegas masuk sambil menarik tangan Nakula untuk mengikutiku.


"Mbak." panggil Nakula.


"Hmm..."


"Apa yang terjadi?"


"Apa yang terjadi, terjadilah. Mas Nanang lihat Mbak dan mas Kaysan ciuman." jelasku dengan gamblang.


"Banyak foto Mbak yang masih terpajang di kamar mas Nanang. Bunda berkali-kali sudah berniat untuk membuangnya, tapi mas Nanang slalu melarangnya."


"Kenapa?" tanyaku.

__ADS_1


"Laki-laki slalu memiliki satu wanita spesial dalam hidupnya, bisa seperti Narnia, Nurmala ataupun Rinjani."


"Sebaiknya kita sekarang bersenang-senang, karena sepertinya sepulang dari Australia, akan banyak hal yang harus aku lakukan, Nakula."


"Jangan buat semuanya jadi kacau." Aku tak menghiraukan ucapan Nakula. Ku ajak langkah kakiku melihat berbagai jenis binatang yang ada disini. Aku riang gembira seperti anak kecil yang di asuh Bapak-Nakula. Langkahnya ogah-ogahan tapi tak jarang ia ikut tersenyum melihat tingkah konyol yang aku lakukan, "Gitu dong, jangan cuma cemberut." Ku senggol lengannya.


"Nakul, keluarkan HPmu." pintaku.


"Untuk apa?" tanyanya.


"Foto-foto dong."


"Pakai HP Mbak sendiri!"


"Kamera Mbak jelek, hanya beberapa pixel."


"Merepotkan!" Nakula merogoh HPnya dari saku celananya. "Sekali jepret seratus ribu."


Aku tersungut-sungut. Ku kembalikan lagi HPnya yang berlogo apel kecokot itu ke tangannya.


Terik matahari membuat tengorokanku terasa dahaga, "Nakul, telepon mas Kaysan untuk membawakan minuman." kataku sambil duduk di bawah pohon, "Bilang di dekat kandang badak." Aku menyandarkan diri di batang pohon. Nakula segera mengambil HPnya dan bercakap-cakap dengan orang dibalik telepon.


Selang 15 menit laki-laki menyebalkan itu datang dan bergabung dengan kami berdua. "Minumlah." Kaysan memberiku sebotol air mineral, "Terimakasih."


"Mau naik wahana?" tanya Kaysan setelah ia mengusap keringat ku dengan tissue. "Capek, Rinjani mau duduk disini saja. Kalian bersenang-senanglah."


"La, Bapak dan mas Nanang ada di food court, kamu makan siang dulu."


Tanpa menjawab apapun, Nakula melenggang pergi.


"Kamu apakah Nakula?" tanya Kaysan.


"Memang Rinjani apakan? Badannya masih utuh. Cuma hatinya tadi aku cubit." jawabku seadanya.


"Semakin kamu menyuruh Nakula untuk melupakan Narnia, semakin ia tidak bisa melupakan bayangannya."


"Harusnya mas bisa mengajaknya untuk melangkah maju. Bukan hanya membiarkan terus terpuruk dalam bayangan semu kekasihnya."


"Apa yang Nakula pendam adalah salah satu gangguan kesehatan mental, yang harus di atasi dengan psikiater." lanjutku lagi.


"Termasuk kamu?"


Aku menatap Kaysan sejenak, "Jika nanti di rumah Rinjani berubah, itu adalah satu sisi lain dariku. Jani, harap mas mengerti."


"Baiklah, besok kamu dan Nakula aku carikan psikiater yang bagus."


"Sepertinya mas juga butuh psikiater. Jangan sampai apa yang mas pendam berubah menjadi penyakit. Apalagi penyakit hati."


Kaysan memiting leherku, "Sudah pandai menasehati sekarang?"


Aku meronta, "Lepas gak mas, kalau gak nanti Rinjani gigit." Ancamku.


"Apa kamu mau jadi zombie, Jani...!" Kaysan berteriak saat lengannya sudah aku gigit.


Aku terkekeh. "Mas?"


"Ayo kita temui Bapak, karena dua hari lagi kita sudah kembali ke Indonesia."


"Baik mas."

__ADS_1


Layaknya pernikahan yang harus kita jaga, kesehatan mental pun harus sama-sama kita jaga, agar apa yang kita rasakan di dalam hati dan pikiran slalu selaras dan yang keluar dari dalam hati kita adalah sebuah ketulusan. ๐Ÿ’š


__ADS_2