Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Sudah waktunya ]


__ADS_3

Aku mencium punggung tangan Bapak, "Jani titip mas Kaysan ya, Pak. Jika mas Kaysan berbuat salah, Bapak berhak memarahinya. Jangan takut..." Aku mengedipkan sebelah mataku. Bapak malah tersenyum, "Suamimu lebih galak dari Bapak. Tapi demi kamu dan cucuku, Bapak akan memarahinya jika Kaysan nakal. Seperti kamu dulu."


Bapak mengelus rambutku, "Jaga dirimu baik-baik, Bapak akan pulang bersama Kaysan nanti." Ku peluk Bapak sebentar.


Sekarang aku beralih pada Laura yang berdiri di sebelah Bapak. Senyumnya tulus mengembang, "Laura, aku pulang dulu."


Laura mengusap wajahku, "Teruslah belajar."


Aku mengangguk, "Aku akan segera mengurus surat-surat pernikahan kalian. Titip Bapak dan mas Kaysan ya Laura. Kamu bisa menghubungiku jika mereka mulai berulah."


Laura terkekeh, "Tenanglah... Itu urusan mudah." Laura membisikkan sesuatu di telingaku.


Aku seperti tak percaya mendengar ucapan itu. Bagaimana tidak, Laura akan menyuruh anak buahnya yang notabene adalah kalangan anggota polisi untuk membuntuti Kaysan.


"Laura, aku sangat-sangat berterima untuk itu. Cepatlah menjadi ibuku, dan kamu akan merasakan menjadi aku. Menari, membuat sesaji dan satu lagi. Kamu akan memakai jarik dan kebaya. Ah, kamu pasti cantik sekali Laura." Kalimat pujianku membuat Laura tersipu, "Kamu ingin aku merasakan hal yang sama, sepertimu?" Laura tertawa dan mengangguk mantap.


"Suamimu sudah menunggu." Laura menunjuk Kaysan yang baru saja selesai bicara dengan Ayahanda.


Perlahan, aku mendekati Kaysan. Ia merentangkan kedua tangannya. Senyumnya mengembang tak seperti semalam.


"Baba..." Ku dekap Kaysan.


"Peganglah perutku dan katakan jika baba sedang mengajaknya bermain petak umpet."


Alis Kaysan terangkat, ia bingung dengan arah pembicaraanku.


Namun kemudian Kaysan membungkuk, ia mengecup perutku dan mengatakan apa yang aku katakan. Dalilah menendang berkali-kali membuatku mengelus perutku. "Baba tidak lama, baba akan menemuimu saat kamu sudah launching nanti. Gitu saja ngambek." Si jabang bayi semakin menendang hebat, "Mas dia marah." kataku sambil mengaduh kesakitan.


Kaysan mengusap-usap perutku dengan lembut, ia mengucapkan kata-kata mutiara untuk putrinya. Dalam sekejap, dalilah berhenti merengek.


"Kamu janjikan apa mas?" Kaysan tersenyum jail.


"Aku hanya bilang, jika dia tidak diam. Aku akan membuatnya menjadi kakak dari keempat adiknya nanti."


Kaysan kembali memelukku, "Dia akan ngambekan sepertimu, dan itu akan membuatku pusing jika kedua wanita dalam hidupku kerjaannya cuma ngambek dan ngambek."


"Maklum mas, perempuan memang tidak mudah untuk dimengerti. Dan, laki-laki memang harus peka terhadap perubahan sikap perempuan yang berbeda dari biasanya." Aku cekikikan.


"Jani pulang ya mas, aku akan menjaga Dalilah dan menunggumu pulang."


Aku dan Kaysan masih menikmati pelukan hangat, menyerap aroma tubuh masing-masing hingga membuat sentuhan-sentuhan yang menenangkan. Kami berdua seperti tak mau terpisahkan.


Hingga Ibunda dan Ayahanda harus melepas pelukan itu.


"Pesawat sebentar lagi take off. Kalian ini, tidak tahu jika sedaritadi kami hanya menunggu kalian untuk bermesraan." kata Ibunda.


Kaysan merapikan mantel yang aku kenakan, "I love you, Rinjani dan Dalilah Sekar Kinasih."


Dihadapan sanak keluarga, Kaysan menciumku tanpa jeda. Ia melabuhkan bibirnya seakan tak rela bibir kami berpisah selama lima bulan lamanya. Sejujurnya aku juga tidak sanggup melepasnya.


Kembali Ayahanda dan Ibunda memisahkan kami berdua. Kaysan menggeram kesal, "Kenapa?" Ia kembali melanjutkan kecupannya.

__ADS_1


"Benar kata adik-adikmu. Jika kalian berdua ada baiknya di kurung di dalam kamar kedap suara. Tidak punya malu!" Ibunda menarik telinga Kaysan.


Mau tidak mau Kaysan menurut, "Tunggu aku kembali." ujarnya sambil mengecup keningku.


"I love you so much." Aku menunduk malu. Aku yakin jika kejadian ini menjadi tontonan orang-orang yang berlalu lalang di ruang tunggu keberangkatan pesawat. Terlebih banyak polisi yang masih menjaga rombongan kami, termasuk pihak Intel yang akan menjaga kami saat penerbangan nanti.


*


Cuaca memburuk, kami harus menunggu sampai keadaan kembali stabil. Aku dan Kaysan menggunakan kesempatan ini untuk bermesraan di pojokan. Tentunya di ruang tunggu private yang disewa Kaysan Sedangkan yang lainnya menghabiskan waktu di restoran untuk mengisi perut mereka yang kelaparan. Mbah Atmoe dan Eyang Dhanangjaya. Mereka asyik berjalan-jalan diseputaran bandara dengan kawalan ketat polisi, mereka ingin menikmati liburan terakhir di luar negeri, sebagai bekal cerita untuk cucu-cucunya nanti di kampung.


Bodoh sekali jika semalam Kaysan memintaku untuk tidak melakukan hubungan intim. Tapi sekarang, justeru Kaysan meminta lebih.


"Ada cctv, mas jangan gila." Aku mendorong bahu Kaysan saat tangannya sudah membuka resleting mantel yang aku kenakan.


"Jangan menghalangiku." Nafsu sudah menguasainya. Ia berjalan ke arah cctv dan menutupnya dengan kupluk yang tadi ia kenakan.


"Ini akan cepat. Tidak perlu takut."


Aku memukul lengan Kaysan, "Mas memang gila, bisa-bisanya bercinta saat keadaan diluar sudah genting."


Kaysan tertawa menggoda, "Pria slalu menggunakan kesempatan, sekalipun itu disaat yang tidak tepat."


Kaysan melepas resleting mantelku, ia memintaku untuk membalikkan tubuhku. "Jani tidak mau membuat skandal!" seruku ketakutan.


"Sssttt... ini akan menjadi kenangan indah."


Kaysan menurunkan celana legging yang aku kenakan. Sesuatu yang hangat sudah menempel di bokongku, Kaysan menggeseknya pelan. Benar, celana legging ini memudahkan akses Kaysan untuk menyatukan dua organ intim kami.


Aku yang ingin menyudahinya, akhirnya mengambil alih permainan Kaysan. Ia cukup kaget karena aku membalas dengan cepat gerakan tubuhnya. "Bubu jangan banyak bergerak!"


"Tidak akan selesai-selesai, jika setiap gerakan mas nikmati dengan khidmat. Jani lapar, mas!" seruku, sambil menghentak mundur pinggulku. Kaysan mengerang nikmat, "Bubu pintar sekali, teruss Bu...terus..."


*


Seorang gadis berlari ke arah kami, dengan seorang pria dewasa yang mendapat anggukan hormat dari polisi muda yang berjaga di sekitar rombongan kami.


"Sadewa..." panggilnya.


Sadewa seperti mendapat panggilan jiwa. Ia berjalan mendekati kedua Bapak-anak yang tampak terkesiap melihat Ayahanda dan Ibunda.


"Dia ayah temanmu?" Irene mengangguk, "Yes, papa." Papa Irene yang diketahui bernama Jacob Paulinho, menurunkan pistolnya. Ia membungkuk hormat kepada Ayahanda.


Ayahanda menepuk bahu Jacob dan berkata untuk tidak menghormatinya secara berlebihan.


Jacob mengangguk, ia kembali beralih pada putrinya. "Irene hanya ingin mengantar kepergian kekasihnya pulang."


Jacob menunjuk Sadewa. Sadewa pias, ia tersenyum kaku.


Ayahanda melambaikan tangannya pada Sadewa, "Ya, Ayahanda?" Sadewa menundukkan kepalanya.


"Benar dia kekasihmu?"

__ADS_1


"Ehm..." Sadewa tampak ragu menjawabnya.


Kaysan yang sudah terpuaskan hasratnya menepuk bahu Sadewa, "Be gentleman."


Tergagap-gagap Sadewa berkata iya.


Semua terkekeh melihat tingkah laku Sadewa yang tak seperti biasanya. Sadewa kikuk, Sadewa menjadi pendiam. Nakula menyenggol lengan Sadewa, "Kenapa, bro?"


Sadewa menginjak kaki Nakula, "Ternyata jadi kamu gak enak. Mulutku sudah gatal untuk berbicara."


Rinjani yang baru saja bergabung setelah membersihkan diri di toilet umum. Ia mendapati Sadewa dan seorang gadis menjadi pusat perhatian.


"Ada apa?" Rinjani memegang lengan Kaysan. Kaysan berbisik. Rinjani tiba-tiba tertawa, "Benarkah?" Kaysan mengangguk.


"Ayahanda, semalam mereka kepergok berciuman." Sadewa melotot, "Dasar ember!!" katanya menutupi kegugupannya saat Jacob malah kebingungan mendengar percakapan orang-orang di depannya. Jacob menatap Irene, dan bertanya---tentunya menggunakan bahasa Inggris.


"No, papa. Just a little kiss."


Ayahanda menghela nafas, "Kamu benar-benar mau nikah muda, le?"


Sadewa kebingungan, "Ampun Ayahanda, Sadewa ingin kuliah dulu."


Ayahanda tersenyum, "Bagus, selesaikan pendidikanmu dan kamu boleh menikah dengan Irene."


Sadewa berlonjak girang, membuat Irene mengernyit saat tahu sifat Sadewa sebenernya. "Dengan satu syarat, semua yang akan menjadi menantuku harus belajar adat istiadat yang sudah leluhur kita ajarkan." Titik, telak.


Sadewa mengangguk saja, ia berpikir menikah masih tujuh tahun lagi. Saat ia sudah dewasa dan berumur 30 tahun-an.


Rinjani tersenyum, Ayahanda seperti memberi isyarat baginya untuk melanjutkan pendidikannya dan terus belajar budaya leluhur mereka.


*


Badai sudah reda, beberapa pekerja terlihat membersihkan landasan pacu dari genangan air. Begitu juga awak pesawat mulai memasukkan koper-koper ke dalam bagasi pesawat.


Aku memeluk Kaysan untuk terakhir kalinya, "Kami menunggumu." Kaysan mengecup keningku sekilas.


"Kabari aku jika sudah sampai di rumah. Jangan lupa untuk melakukan tradisi mitoni, Ibunda akan menyiapkannya seminggu lagi."


Aku mengangguk, "Udah ah, dari tadi kita melakukan salam perpisahan tapi di pending terus. Bye, baba. Jaga baik-baik adikmu yang sangat berharga ini, jangan sampai mabur ke tempat yang salah."


"Tidak akan, aku setia pada lubangmu."


Sadewa dan Nakula menarik kedua tanganku, "Sudah-susah, mas dan Mbak kalau begini terus tidak jadi pergi-pergi. Mas, istrimu berada di orang yang tepat. Jangan risau." ucap Nakula.


Ibunda terus mewanti-wanti Kaysan untuk tidak melakukan kesalahan saat tak ada aku yang menjadi pemuas nafsunya.


Bapak, Laura, Keenan dan Kaysan melambaikan tangannya saat kami semua sudah berpamitan dalam haru. Kaysan tersenyum, berusaha merelakan kepergianku.


Pesawat mulai mengudara, aku yang memilih duduk di dekat jendela, tak kuasa menahan air mataku, saat daratan Australia sudah tak bisa ku jangkau dengan kedua indera penglihatan ku. Jarak benar-benar akan terbentang luas. Dan, rindu dengan mudahnya akan membelenggu sukmaku.


Happy Reading ๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2