Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Antologi cerpen [ Nanang IX ]


__ADS_3

Seminggu setelah konser metal yang aku datangi. Aku dihadapkan pada keputusan yang berat. Antara kuliah di Jerman atau melanjutkan bisnis clothing store.


Apakah aku yakin harus pergi ke Jerman dan melanjutkan S2 disana, sedangkan aku memiliki usaha yang aku geluti sejak lama. Tidak mungkin aku menutupnya sedangkan dulu mati-matian aku mengumpulkan uang untuk menyewa kios dan membeli alat kebutuhan sablon.


Sudah larut malam, aku masih ngobrol dengan Sadewa. Adikku sudah memiliki niat yang kuat untuk pergi ke Australia. Ia akan di antar dan di temani beberapa Minggu oleh keluarga Rinjani. Laura ingin mengajak putrinya untuk menikmati kampung halamannya sekaligus menjenguk cucu pertamanya. Beruntung Sadewa, ia tidak di lepas begitu saja oleh keluarga.


"Aku bawa lensa kamera yang 70mm." kata Sadewa.


Aku hanya berdehem. Semenjak Nakula nikah, aku dan Sadewa memang lebih dekat. Dekat karena jomblo sekaligus nasib percintaan yang tidak mujur.


Hobi kita hampir sama. Fotografi. Bahkan aku diminta Ayahanda untuk menjadi tim dokumentasi kerajaan.


"Rasanya pengen kuliah lagi aku, Wa. Semenjak lulus, aku justru di padang sebagai laki-laki dewasa yang membawa tanggungjawab besar." ujarku pada Sadewa.


Sadewa terkekeh, "Makanya aku lanjut S2. Beban berat sebagai pangeran belum sanggup aku lalui. Aku masih butuh bimbingan dan pengalaman hidup yang lebih banyak."


"Pengalaman hidup opo pengalaman pacaran! Alasan!"


Tawa Sadewa meledak, "Ojo maido to mas." Dan tawanya mengundang mas Kaysan masuk ke dalam kamar.


"Sudah malam! Jaga lisan!"


Aku dan Sadewa justru semakin terkekeh.


"Sudah malam mas Kaysan lebih baik kembali ke kamar!" balas Sadewa. Matanya mengerling nakal kepadanya.


"Gimana surat-surat pentingnya sudah kamu siapkan?" tanya mas Kaysan. Bukannya pergi, kakanda kesayangan Rinjani justru ikut duduk di tepi ranjang.


"Sudah beres, Mas." jawab Sadewa.


Mas Kaysan tersenyum, "Kalian sudah dewasa ternyata."


Aku dan Sadewa benci pembicaraan ini. Pasti mas Kaysan akan membicarakan tentang perasaannya dari hati ke hati.


"Udah mas jangan melankolis. Kami memang sudah dewasa, yakin, suer." cegah Sadewa sebelum mas Kaysan melanjutkan lagi pembicaraannya.


"Wa... Kamu hidup diluar negeri membawa gelar dari istana. Jangan berbuat macam-macam karena apapun yang kamu lakukan disana harus kamu hadapi sendiri segala akibatnya. Kamu paham?"


Sadewa mengangguk mantap. Aku yang melihat Nakula di rangkul mas Kaysan menahan geli.


Kami adik-adik mas Kaysan, khususnya adik bontot. Sangat tahu jika mas Kaysan memang sedang khawatir. Senakal-nakalnya kami dulu mas Kaysan hanya akan merangkul kami dan memiting leher seraya mengucapkan kalimat sakti.

__ADS_1


"Dimarahi eyang dan dikurung di kamar baru tahu rasa."


"Dan, kamu Nang. Sudah mengambil keputusan?" Mas Kaysan menatapku, aku mengangkat bahu.


"Masih bingung, Mas." jawabku.


"Lusa ada beberapa benda keramat yang harus difoto di istana. Puasa mutihan!" ujar mas Kaysan.


Gak bisa nolak, dan gak bisa bantah. Itulah aku jika sudah dapat titah dari mas Kaysan atau Ayahanda. Mereka berdua memegang penuh kendali atas seisi keluarga ini.


Ayahanda mengendalikan istri-istrinya.


Mas Kaysan mengendalikan adik-adiknya.


"Pasrah aja, Mas. Gak usah ke Jerman, di sini aja. Jadi tukang foto di istana. Lumayan kan kalau ada pengunjung yang bisa diajak kenalan." ledek Sadewa.


"Jarkoni!" [ Iso ngujari nanging ra iso nglakoni : bisa ngasih tahu tapi gak bisa melakukan sendiri ]


Mas Kaysan dan Sadewa tertawa.


"Sudah-sudah, kalian cepat tidur. Besok Sadewa harus ke bandara. Kamu juga Nang, kalau mau sahur cepetan sahur."


"Mas Kaysan sendiri kenapa belum tidur. Mbak Jani marah?" tanya Sadewa.


"Ya sudah, kita tidur bareng-bareng aja mas. Sudah lima belas tahun kita tidak tidur barsama. Aku kangen."


Rasanya aneh ketika pria-pria dewasa tidur dalam satu ranjang yang sama. Apalagi tubuh mas Kaysan yang besar sangat mendominasi ranjang. Huft...


*


Kepergian Sadewa ke Australia di sambut kesedihan yang mendalam bagi Nakula. Kini ia yang dibuat kehilangan sebagian dirinya setelah membuat Sadewa merasa kehilangan sebagian dari dirinya sebelumnya.


Nakula membelikan hadiah kenangan yang selama ini Sadewa inginkan. Sepatu Nike Air Jordan. Dan, sepatu itu langsung di gunakan Sadewa sebelum berangkat ke bandara.


Ayahanda sengaja menyewa bus pariwisata mengingat banyaknya koper yang harus Sadewa dan besannya bawa.


Bunda menangis sedaritadi, Bunda terus memeluk Sadewa dan tidak membiarkan Sadewa menjauh dari dirinya.


Sedangkan Dalilah juga tidak mau lepas dari pangkuan Sadewa. Bocah itu terus merangkulkan tangannya di leher Sadewa seraya terisak-isak pelan, sedih karena teman bercandanya akan pergi dengan waktu yang cukup lama.


Kami yang melihatnya juga ikutan sedih. Bagaimana nasib Bunda jika aku juga memutuskan kuliah di Jerman. Kesedihan Bunda pasti kembali berlarut-larut.

__ADS_1


Selama perjalanan menuju Bandara, aku terus memikirkan keputusan yang tepat. Dan tetap tidak menemukan jalan keluarnya, apalagi hari ini aku puasa ditambah semalam aku juga tidak bisa tidur nyenyak. Sesuatu yang komplit untuk menikmati kebingungan.


Tiba di Bandara. Suasana haru masih terjadi, sedangkan Sadewa dengan sikap kelakarnya menggoda semua orang untuk tidak menangis lagi.


Sungguh, kami akan kehilangan sosok jenaka yang memeriahkan suasana di rumah.


*


Kami kembali ke rumah setelah Sadewa dan keluarga Rinjani mengudara ke langit Australia.


Bunda sudah tidak menangis, tapi kini Bunda terus mendekatiku, merengek meminta agar tidak perlu ke Jerman.


"Aku lagi puasa loh, Bun! Aku lemes."


"Nang... Bunda kesepian kalau semua keluar negeri. Nakula sibuk kerja dan sudah punya keluarga sendiri. Cuma kamu Nang yang bunda harapan."


Aku tak menggubris perkataan Bunda. Sampai perkataan bunda yang satu ini membuatku ingin menjadi anak pembangkang. Bisa-bisanya Bunda mengatakan bahwa ia akan memiliki anak lagi jika aku tidak menuruti keinginannya.


"Ayahanda sudah tua! Bunda juga sudah menopause!" ujarku.


"Siapa bilang? Bunda masih menstruasi!"


"Bunda..."


"Bunda jadi sedih. Segitu pahit kah kisah cinta kalian, segitu inginnya kalian pergi jauh dari sini untuk mengejar cinta dan melupakan cinta. Lalu bagaimana jika kalian jadi Bunda? Apa kalian juga memilih menghilang dan tenggelam di antara perihnya luka dan pahitnya cinta. Dan tak ingin menikmati hangatnya keluarga."


"Ambyar, Bun. Ambyar!"


"Jadi tentukan pilihanmu, Nang. Bunda berharap Do'a Bunda dikabulkan Gusti Allah kalau kamu tidak jadi ke Jerman. Amin."


"Bunda!" gumam ku.


Bunda terkekeh kecil, lalu menepuk pundakku.


"Besok kabarnya juga ada donor darah di istana. Nina diajakin biar badannya sehat."


Nina? Pikiranku langsung berlari kecil mengingatnya. Sudah seminggu dia tidak ada kabar setelah kami membicarakan tentang niatnya untuk diet.


Nina memang tidak menjelaskan secara rinci. Tapi ada satu hal yang membuatku merasa tidak nyaman. Nina memang menginginkan agar badannya sehat, tapi juga untuk mengejar cintanya dan itu AKU.


Aku masih tak mengerti kenapa ia bisa menjadi optimis dan percaya diri untuk membuatku jatuh cinta atau menerima cintanya. Karena aku sama sekali tidak memiliki rasa yang lebih selain hanya persahabatan yang tulus.

__ADS_1


Happy Reading ๐Ÿ’š


__ADS_2