
Sewaktu Anisa masuk ke dalam mobil, ia terbelalak. Matanya hampir meloncat keluar dari tempatnya.
Rinjani dan Nina tersenyum, mereka berdua saling bersandar sembari memberi salam kepada Anisa.
Anisa menjawabnya dengan gagu, lalu matanya mengarah kepadaku.
"Kita jalan bareng." jelasku yang tidak dijawab apapun oleh Anisa. Ia hanya menunjukkan wajah seperti ingin berkata 'Apa maksudmu, apa rencanamu, aku gak suka!'
Aku terdiam sesaat, lalu menoleh ke bangku penumpang. "Jadi ke store?"
Kedua wanita itu mengangguk. Sedangkan Anisa duduk dengan gestur yang menegang, gelisah, dan tidak nyaman.
Hanya ada keheningan selama kami berempat menuju ke clothing store milikku. Hingga rintik hujan mulai turun membasahi bumi dan membuat suasana semakin sendu.
Tiba di parkiran store, aku menelepon Aji untuk membawakan payung ke parkiran. Selang beberapa menit, dia datang lalu mengetuk kaca mobil.
"Siap dulu yang mau turun?" tanyaku.
"Aku duluan!" Rinjani berucap. "Habis ini Nina!" lanjutnya lagi saat Aji sudah membuka pintu belakang. Ia mengantar Rinjani ke dalam store. Berikutnya Nina yang menyusul.
Di saat hanya ada aku dan Anisa di dalam mobil. Anisa mulai meracau tidak jelas, ia mengatakan bahwa aku sengaja melukainya dengan cara yang sama.
Bola mataku berputar malas, "Apa lagi yang kamu curigai?"
Anisa tersenyum tipis. Dia hanya berdehem, membuat suaranya kembali serius.
Hujan seketika berubah menjadi deras. Aku menelepon Aji untuk tetap berada di store dan memenuhi kebutuhan Rinjani dan Nina. Seluruh pegawaiku sudah tahu siapa Rinjani, bahkan kedatangannya sering di anggap keberuntungan karena tidak jarang pegawai ku sering berswafoto dengan dirinya.
Ada jeda sesaat mengisi ketegangan di antara kami. Sampai akhirnya kudengar Anisa menghela nafas. Begitu dalam.
"Bagaimana dengan hubungan kita?" tanya Anisa.
"Bagaimana?" tanyaku pada diri sendiri.
Aku menyandarkan tubuhku di sandaran jok mobil. Lalu, mengambil ponselku dan menyerahkannya pada Anisa.
"Bukalah. Seperti yang kamu lakukan
__ADS_1
saat kita ketemu."
Punya pacar posesif memang tidak mudah. Ada beberapa hal yang harus aku tunjukkan bahwa aku tidak main-main dengan hubungan yang aku jalani.
Anisa memegang ponselku. Ragu-ragu untuk membukanya atau tidak.
"Sejak awal aku sudah bilang. Menerimaku, artinya menerima masa lalu yang ada di kehidupanku. Anisa, sampai kapan kamu curiga terhadap Rinjani?" kataku dengan suara tercekat.
Anisa murung dan gelisah, penuh ketidakpastian. Aku was-was, tak yakin apa aku lebih takut diputuskan Anisa atau sebaliknya. Yang aku tahu hubungan ini memang tidak mudah untuk dijalani. Sedangkan Rinjani dan mas Kaysan sudah banyak berkorban demi keutuhan rumah tanggannya.
Untuk mas Kaysan, keberadaanku diantara rumah tangganya memang sesuatu yang tidak perlu di bicarakan lagi sekarang. Berbeda saat awal pernikahan mereka. Aku memilih untuk menjauh sampai hatiku benar-benar lega dan memastikan Rinjani baik-baik saja dengan mas Kaysan. Keadaan akan berbalik jika saat itu pernikahan mas Kaysan dan Rinjani berada di ujung tanduk. Aku akan berada di garis terdepan, menarik Rinjani lagi ke dalam pelukan meskipun aku harus bertepuk sebelah tangan. Untuk Anisa, keadaan ini memanglah tidak bisa hanya sekedar kalimat-kalimat yang menenangkan harapan.
"Kamu tahu Anisa. Mas Kaysan dan Mbak Jani akan keluar dari rumah utama untuk memastikan hubungan kita baik-baik saja. Aku rasa, setelah ini masalahnya bukan hanya sekedar urusan kepercayaan dan kecemburuan yang berlebihan terhadap Rinjani. Kamu bisa berubah? Atau paling tidak mengerti keadaanku?"
"Apa maksudmu?" tanyanya, tidak benar-benar memahami perkataan ku.
"Maksudnya, kalau kita masih melanjutkan hubungan ini. Aku rasa, masih banyak yang perlu kita perbaiki. Aku bukan wayang yang bisa kamu mainkan dengan peran yang sesuai keinginanmu. Kamu pun bukan sinden yang harus menyanyikan tembang dengan merdu. Kita bukan makhluk yang sempurna, adakalanya aku lelah melakukan hal yang terbaik untuk menjadi yang terbaik."
Anisa menolah, ia menaruh ponselku dan kini jari-jarinya mengisi kekosongan sela-sela jariku. Dengan sadar aku menarik tanganku, Anisa cukup kaget dengan penolakan ku, "Waktu seminggu ternyata sudah mengubah banyak hal tentangmu, tentang kita."
"Bukankah kamu juga melakukan hal yang sama, kamu rela melakukan apapun untuk Rinjani dan kebahagiaannya. Hidup pasti ada hukum timbal balik." ujar Anisa, "Aku mau kita bahagia."
Aku tertawa garing, "Sebaiknya kita turun, pakai kemejaku untuk menutupi kepalamu dari hujan." Aku melepas kemejaku dan memberikan kepadanya, setelahnya aku turun dan berlari kecil menuju store.
Meskipun aku dan Anisa masih dalam proses berbaikan atau sebaliknya, aku menunggunya keluar dari mobil dan mengajaknya untuk bergabung dengan Rinjani dan Nina.
Aku masih ragu dengan pilihanku, sama seperti saat aku dan Rinjani putus dan memutuskan untuk kembali lagi dan berakhir putus lagi. Jika sudah begini, aku pun bingung harus mencari jalan mana. Putus atau masih melanjutkan hubungan ini yang jelas-jelas sudah bobrok.
"Maaf basah." Anisa mengeringkan rambutku dan kedua lenganku dengan kemeja yang ia gunakan untuk menutupi kepalanya.
"Thank's."
Aku membuka pintu store yang terus di sambut dengan sorakan 'cie...' dari pegawai ku dan Rinjani.
"Udah makan siang? Gimana, toko rame gak?" tanyaku pada Aji.
"Biasa bos. Ada diskonan, semua senang." jawab Aji, kasir sekaligus orang kepercayaan yang aku percayai menghandle toko jika aku sibuk di istana.
__ADS_1
Salah satu temen nongkrong yang tahu sejarah percintaan ku dan Rinjani.
Aku masuk ke ruangan ku, ruang khusus yang aku jadikan tempat untuk membuat desain kaos ataupun untuk meeting. Aku mengambil baju gantiku dan mengganti bajuku yang basah.
"Makan siang kali ini harus spesial dong, Bos. Ada tamu istimewa nih." tuntut Aji.
"Iya nih, aku udah borong baju-baju mu. Traktir makan kali kita-kita." timpal Rinjani.
"Iya, Bos. Aku lapar, hujan, dingin, sendirian... Bakso enak kali bos." lanjut Nina.
"Anisa mau juga? Mau apa? Sebutin aja permintaanmu, biar Nanang penuhi. Dia baik kok, sama kita-kita aja royal, apalagi sama istrinya nanti." kata Rinjani lagi, aku menatap Anisa. Gadis itu duduk di sofa, menyendiri. Sungguh, sebenarnya aku kasian melihatnya tidak ada teman yang menemaninya. Apalagi keberadaan Rinjani sudah menyita sebagai perhatian untuk dirinya.
Kemudian aku duduk di dekat Anisa, berusaha membuatnya nyaman dan terlindungi, "Mau makan apa?" tanyaku, "Apa saja." jawab Anisa. Tangannya kemudian memegang lenganku.
"Aku khawatir dengan Suryawijaya, Nin. Anakku pasti udah bangun." kata Rinjani, wanita itu gelisah. Mondar-mandir, "Mas Kaysan juga belum pulang, apa aku minta mas Kaysan untuk menjemput ku disini sekalian laporan kalau uangnya habis buat borong baju-bajunya Nanang."
Nina mengangguk setuju, di ikuti kalimat sorakan fans mas Kaysan yang tak lain adalah pegawai ku yang berjenis perempuan.
"Ati-ati, Mbak. Cyntia ngefans banget sama suamimu." kataku yang langsung di angguki oleh Cyntia, cewek yang suka memakai celana pendek sobek-sobek.
"Suamimu TOP banget Mbak, keren. Aku bangga bisa kerja disini, paling enggak bisa ketemu langsung sama pangeran-pangeran." ujar Cyntia, matanya berbinar-binar senang.
"Suamiku memang keren. Aku beruntung bisa ketemu mas Kaysan. Aku beruntung bisa dicintai laki-laki yang mencintaiku apa adanya. Seperti cinta Nanang dulu kepadaku. Tapi kita gak jodoh ya, Nang... Kita hanya di takdirkan Tuhan sebagai saudara selamanya."
Aku mengangguk sambil tersenyum. Cyntia bertepuk tangan, "Kapan aku di taksir sama pangeran? Apa aku harus jadi anak metal? Atau jadi sinden? Bos... Apa aku gak cantik?" tanya Cyntia.
Rinjani, Nina dan Aji... Menahan tawa saat Anisa menghentikan kakinya di lantai dengan keras. Seperti menyiratkan emosi.
"Eh... Kak Anisa, maaf ya. Suka keceplosan. Sayang banget, bos Nanang udah punya pacar. Jadi aku gak bisa liar. Miaww..." Cyntia berlagak seperti kucing kecil yang sok manis. Sontak semua orang di dalam store tertawa.
Aku bisa saja berusaha lari dari masa lalu, tapi kelihatannya masa lalu belum selesai denganku. Rinjani masih menceritakan tentang kisah cintanya saat bersamaku. Ada yang ia lebih-lebihkan, apa juga yang ia kurangi.
Aku berpaling menghadap Anisa dan meraihnya; Anisa nangis, "Ada apa?" tanyaku penuh kekhawatiran.
"Aku gak sanggup lagi!"
Happy reading ππ
__ADS_1