
Sudah habis dua cangkir kopi latte, Nina tak kunjung datang.
Di kedai kopi yang tak jauh dari kampusku dan Nina, aku sudah membuat janji untuk kopi darat dengannya. Ini yang aku sukai, tanpa ada Nakula atau Sadewa. Tidak ada orang yang akan mengadu pada Kaysan. Toh, laki-laki itu, suamiku sama sekali tidak menghubungiku.
Segitu sibuknya dia dengan urusannya, sampai lupa denganku disini yang butuh perhatian. Butuh kasih sayang dan belaian.
"Ketemu lagi." Aku mendongkak dan berdecih padanya, "Ganggu!"
"Takdir memang sedang baik padaku, Jani."
"Tapi takdir sedang tidak baik padaku." sergahku cepat.
"Sedang apa?" tanyanya sambil duduk di bangku di depanku.
"Sedang nunggu tem..."
"Nanang...!!!"
Aku mengumpat saat Nina dengan tergesa-gesa menghampiriku dan Nanang yang asik terdiam menatapku.
"Salam dulu, woy!"
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Dengan serentak aku dan Nanang menjawabnya.
"Kalian berduaan?" tanya Nina sambil menatapku tajam
"Gak berduaan, rame-rame. Tuh, liat." Aku menunjuk kerumunan mahasiswa lain yang menunggu jam mata pelajaran selanjutnya. Kedai kopi yang di desain dengan tempo jaman dahulu membuat tempat ini asik untuk sekedar ngopi-ngopi di sela jam istirahat ngampus. Tempat yang cozy membuat kedai kopi ini asik untuk mengerjakan tugas.
"Aku kangen banget sama kamu, Jani." ucap Nina, sambil memelukku. Dikecup pipiku sebelah kiri.
"Aku juga." saut Nanang dengan senyum manisnya.
"Aku juga kangen kalian." Seulas senyum aku sunggingkan, "Kurang Aswin nih."
"Kamu kemana aja, Jani? Aku sering lewat di depan tempat kerjamu. Tapi, kata pegawai baru kamu udah gak kerja disana."
Nina melihatku dengan mata yang mendelik.
"Pesan makanan sana, Nin. Kamu juga, Nang." Suruhku sambil mengetik jawaban tugas di laptopku. Benar kata Nanang, jika jawabannya ada di halaman 13.
"Daritadi belum kelar tugasmu, by the way kenapa kamu tiba-tiba kuliah, Rinjani?" tanya Nanang, "Kenapa gak dari dulu?" Lanjutnya lagi. Aku menghela nafas panjang, sebelum akhirnya aku menatap Nanang dengan tatapan tajam.
"Diem, aku sedang belajar."
"Nang, sudah." Nina menepuk bahu Nanang, kepalanya menggeleng.
"Tapi aku suka, Jani. Itu artinya aku bisa melihatmu dikampus yang sama."
Aku mengacak-acak rambutku frustasi, "Iya, iya. Terserah kamu, Nang. Tapi ingat, jangan mengangguku!"
"Aku slalu mengingatmu, dan mendoakanmu."
Nina mengebrak meja cukup kencang.
"Apa aku harus menjadi kacang!"
Aku dan Nanang terperanjat.
"Sorry, Nin. Sana pesan makanan, tolong pesankan aku dua latte full cream." Nanang mengambil dompet, mengeluarkan kartu debitnya. Ya, aku masih hafal kartu ini, kartu debit yang kadang aku bawa saat pacaran dulu.
"Dua? Bukan buat Rinjani, 'kan? Dia sudah habis dua cangkir, bisa jadi nanti malam dia bakal begadang."
Nina menyaut kartu debit yang di genggam Nanang.
"Makan siang aja deh, Nang. Kalau mau traktir aku." Seruku dengan girang.
"Boleh, makan malam juga boleh." Nanang menyengir kuda.
__ADS_1
"Ehm, ehm. Ingat, Tuhan maha melihat."
"Semprul!" batinku.
Nina pergi ke kasir, memesan makanan dan kopi.
"Kamu beda, tambah cantik."
Aku cemberut, "Memang dulu, jelek?"
"Enggak, cuma kamu lebih terlihat rapi dan bersih."
"Oh."
"Kamu tinggal di mana, kontrakanmu sepi."
"Tinggal di kost-kostan."
"Lalu, bapak dimana?" tanya Nanang penasaran.
"Bapak pergi ke luar kota." jelasku.
"Apa yang pernah kita jaga. Tak berarti akhirnya."
"Cukup, semua sudah berakhir."
"Apa kita bisa menjadi teman?" Nanang melipat laptopku, kini ia menatapku dalam.
"Aku tak pernah menganggapmu musuh, tapi bukankah kita harus menjaga jarak?"
"Kenapa?"
"Aku sudah ada yang punya."
Nanang tersenyum smirk. "Siapa pacarmu, beri tahu aku?"
"Bukannya kalau teman harus terbuka?"
Aku berdecih, "Jangan buat aku mengganti statusmu menjadi musuh. Kalau teman tidak memaksa."
"Aku heran dengan kalian berdua. Kalau ketemu adanya cuma berdebat kisah masa lalu, ayolah kenangan harus diurai."
Aku mendengus sebal, harusnya aku bisa curhat dengan Nina, tapi dengan kedatangan tamu tak diundang membuatku urung menceritakan kisah nelangsaku.
"Makan gih, satu jam lagi aku ada kelas lagi. Jadi gak bisa lama-lama." kataku sambil mengambil mie goreng yang antar pelayan kedai.
"Aku masih kangen, Jani." ucap Nina dengan mata sedihnya, "Aku mau curhat, aku putus dengan Aswin."
"Kenapa?"
"Aswin bawa cewek ke tongkrongan." ucap Nanang, setelah ia menyesap kopi latte dari cangkirnya.
"Beneran, Nin." Aku menaruh sendok lagi ke tempatnya, lalu menatap Nina. "Baguslah, kamu bisa dapatkan laki-laki lebih dari Aswin."
"Ya, aku percaya Allah punya rencana bagus untukku. Tak, apa. Sakit dulu bersenang-senang kemudian." Senyum ceria menghiasi wajah Nina.
"Maaf, Nin. Aku gak ada, waktu kamu merana ditinggal kekasih hati pergi."
Ku peluk Nina.
"Tapi sepertinya kamu yang lebih merana, Jani. Kamu baik-baik saja, 'kan?"
Kata baik-baik saja seperti jauh dari perkiraan cuaca hatiku sekarang, "Aku baik-baik saja." Aku terpaksa tersenyum, "Sudah ayo makan, kasian Nanang."
Mantan kekasihku hanya diam sambil menyesap rokok ditangannya. Matanya menerawang ke udara.
"Nang, makan." Ucapanku tak ia gubris, ia masih sibuk menyesap rokoknya. "Masih sama."
Akhirnya aku memilih diam dan menyantap makan siangku. Begitu juga Nina, dia asik menyantap mie goreng sambil bermain dengan laptopku.
__ADS_1
"Laptop baru terus gak diisi apa-apa?" tanyanya heran.
"Ya, gunanya cuma buat garap tugas. Lainnya masih aku simpan di HP." [ garap : ngerjain ]
"Udah lihat foto-foto acara kemarin belum, aku ada di flashdisk kalau mau."
Nina mengobrak-abrik tasnya mencari benda kecil yang bisa menyimpan berjuta rahasia.
"Boleh, kirim aja, Nin."
Ku lihat Nanang menengguk kopinya, lalu beranjak berdiri, "Aku cabut duluan. Next time, we will meet again." Nanang pergi meninggalkan senyum khasnya.
Senyum yang slalu ia berikan, saat dia tahu aku sedang tidak baik-baik saja. Seulas senyum yang menyisakan lesung pipi yang semakin sempurna diwajahnya. Jika dulu dia menyukaiku karena kesederhanaanku, berbeda denganku, aku jatuh cinta karena lesung pipi di sebelah kirinya.
Setelah Nanang pergi, aku dan Nina membereskan semua barang bawaan. Kami berpisah di parkiran, Nina harus pulang untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Sedangkan aku juga harus pergi ke kampus lagi. Tugasku sudah selesai, hari ini aku bisa bernafas lega untuk tugas pak Rahmat.
*
Perjalanan menuju rumah adalah perjalanan panjang yang aku lalui. Pulang kerumah artinya mengingat kembali siapa aku. Masihkah aku Rinjani yang dahulu?
Tiba di pelataran parkir mobil, masih belum ku dapati mobil BMW Kaysan terparkir disini. Kaysan belum kembali, apa kabarnya kekasihku di Bali. Apakah dia sedang mencari kekasih lagi untuk mengisi posisi baru.
*
Kesel sama mas Kaysan, tapi rindu. Kasih POV Kaysan ah.
Bali
Setibanya di bandara, mobil jemputan khusus sudah menunggu di area parkir VIP.
Sudah lama sekali aku tak pernah kesini, bahkan aku sudah lupa kapan terakhir kalinya menginjakan kakiku ditanah seribu pura.
Dulu, jika aku menikah, aku ingin membawa istriku kesini. Bulan madu sambil menikmati sunrise di pantai Kuta, atau hanya menikmati keindahan alam sambil menikmati tubuhnya.
Pikiranku melayang ke rumah, kira-kira istriku sedang apa disana. Apa ia baik-baik saja. Aku tahu dari Mbok Darmi, jika aku tidak ada dia slalu ketakutan jika sudah memasuki jam makan malam, apa lagi jika ada Ayahanda.
Rinjani hanya akan menunduk sambil menikmati makanannya dengan malas Aku tahu ia tertekan dengan keadaan ini. Tapi, aku juga bisa apa. Membawa Rinjani keluar dari rumah itu artinya aku tidak bisa mengawasinya. Apalagi kesibukanku akan membuat dirinya kesepian jika harus memilih tinggal diluar rumah utama.
Aku menyadari waktuku dengan Rinjani semakin terbatas, hanya pagi dan malam kami bertemu, jika malam pun aku masih sering disibukkan dengan urusan pekerjaan.
Aku slalu mengagumi Rinjani. Dia istri yang slalu sabar memenuhi hasrat seksual yang aku miliki, dia memiliki kemampuan untuk membuat ranjang kami dipenuhi gelak tawa sebelum akhirnya panas melingkupi tubuh kita bersua.
Tiba di villa, waktu sudah menunjukkan dini hari. Firasatku sedang tidak baik-baik saja, ada sesuatu yang tidak beres dirumah.
Ku hubungan pihak dalam untuk memeriksa kondisi Rinjani di dalam kamar.
Rahangku mengeras. Rinjani telah lancang! Dia ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri diatas lantai. Bisa-bisanya dia berani menyentuh selendang itu, padahal sudah sering aku katakan untuk tidak menyentuhnya.
Di villa milik keluarga, aku hanya bisa berharap Rinjani baik-baik saja. Selendang hijau itu bukan selendang biasa, harus ada rapalkan Do'a dan sesajen sebelum menggunakannya.
Mbok Darmi pasti bisa mengatasi, dengan sabar aku menunggu kabarnya.
*
Pagi menjelang, hari ini aku harus menyelesaikan pekerjaan yang harus bertemu dengan kasta Brahmana, kaum bangsawan dari tanah Bali.
Pertemuan yang jarang terjadi antara kaum Royal Blood dan kasta Brahmana adalah pertemuan sakral yang mengharuskan melakukan pembersihan diri. Dan pertemuan ini adalah pertemuan hubungan imbal balik.
Salah satu kasta Brahmana yang aku cari adalah seorang guru penari. Tarian tradisional Indonesia semua sudah ia lahap mentah-mentah, semua gerak tubuhnya seakan memiliki makna sendiri, begitu pula semua ritual yang harus dilakukan sebelum menari dia sudah hafal betul caranya.
Dia adalah wanita yang tepat untuk menjadi guru menari untuk Rinjani.
Imbal baliknya adalah tanah 5 are sebagai ganti biaya pelatihan Rinjani.
Pertemuan yang berlangsung selama beberapa jam akhirnya selesai sudah. Semua perjanjian tertulis maupun tidak sudah disepakati bersama. Kini tinggal menyelesaikan pembelian 5 are tanah untuk pembangunan pura dan sanggar tari sebagai bentuk kenangan Tuniang Dewi Sekartaji sebelum dirinya berangkat ke tanah Jawa untuk waktu yang cukup lama.
Masih ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dengan Tuniang Dewi sebelum keberangkatan menuju tanah Jawa. Beliau masih ingin menemani anak mantunya untuk melahirkan. Cucu dari kasta Brahmana ini pasti juga akan seperti Rinjani, ia akan berlatih menari, membuat sesaji dan berlatih sopan santun dalam griya.
Like n Favorit ya π ππ
__ADS_1