Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Antologi cerpen [ Nakula V ]


__ADS_3

Aku melangkahkan kakiku dengan gontai menuju kamar.


Namun, saat aku membuka pintu kamar. Harus semerbak wangi parfum memenuhi ruangan. Ku lihat seorang wanita duduk di depan cermin sembari menyisir rambutnya yang basah.


"Kakak sudah selesai?" tanyaku sembari menghampirinya.


"Sudah, sekarang giliranmu yang mandi." Kak Rahma menunjuk handuk yang ia siapkan diatas meja.


"Baiklah, aku mandi dulu. Kakak kalau sudah ngantuk tidur aja dulu."


Kak Rahma menggeleng cepat.


"Rambut kakak masih basah, nanti pusing kalau dibawa tidur."


Aku mengangguk, membiarkan kak Rahma bersolek di depan cermin.


Dengan langkah gontai aku masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri dan mengguyur kepalaku yang pusing memikirkan bagaimana cara menghadapi malam pertama. Sungguh, ternyata menikah dan bersenggama tidak semudah yang aku bayangkan.


Tapi untuk kehilangan sosok wanita dewasa yang menungguku di atas ranjang, aku lebih takut membayangkan bagaimana hidupku setelahnya.


Selesai mandi. Aku keluar kamar dengan gugup. Terlihat kak Rahma sudah duduk di tepi ranjang sembari tersenyum manis.


Duh gusti... kak Rahma menagihnya.


"Kakak mau makan malam?" tanyaku sembari menyisir rambut dan memakai parfum beraroma Woody.


"Kakak tidak makam malam. Apalagi ini sudah jam sebelas. Kalau kakak gemuk gimana?" tanya kak Rahma dengan manja.


"Kakak gak usah diet! Nanti kalau kakak kurus, ayah Abraham mengira aku tidak memberi makan kakak."


Kak Rahma terkekeh, lalu ia menghampiriku dan memeluk...ku dari belakang.


"Sayang..."


Matilah aku. Apa ini pertanda akan segera dimulai malam pertama dan aku kehilangan perjaka.


Jantungku semakin berdenyut-denyut. Aku memegang tangan kak Rahma dengan ragu-ragu.


"Kakak mau sekarang?" tanyaku malu-malu.


Sungguh, aku memang tidak bisa romantis. Tapi semua kejujuran ku selalu dianggap hal paling romantis untuk kak Rahma.


"Nakula udah siap?"


"Kakak kan sudah tahu jawabannya." jawabku.


Lagi-lagi kak Rahma hanya tertawa.


"Terimakasih sudah menerimaku, sayang. Terimakasih sudah memilihku untuk menjadi istrimu."


Aku mengangguk, "Kakak sudah mau menerima Nakula dengan segala kerendahan hati dan kesabaran. Harusnya Nakula yang berterimakasih, kakak sudah mau menjadi pendampingku."


Kak Rahma menyenderkan kepalanya di punggungku. Cukup lama, hingga aku tidak tahu harus berbuat apa.


"Kakak tidur?" tanyaku memastikan.


"Sayang, usiaku sudah 30 tahun. Aku sudah lama menantikan hari dimana aku bisa merasakan hal yang sering teman-temanku ceritakan."


Aku memejamkan mata sebentar. Keinginan kak Rahma adalah hal yang lumrah. Mengingat bahwa teman-teman kak Rahma sudah berkeluarga dan memiliki anak.


Aku melepaskan pelukan tangan kak Rahma. Dengan gerakan pelan, aku memutar tubuhnya.

__ADS_1


Tinggi kak Rahma memang hanya setinggi bahuku. Berbekal pengalaman yang aku lihat dari mas Kaysan dan Mbak Jani yang sering Aku tangkap dalam ingatanku.


Aku mulai mengelus kedua bahu kak Rahma.


"Maaf ya kak, aku terlalu pengecut untuk melakukannya."


Kak Rahma justru memelukku dengan erat.


"Apa kakak menakutkan untukmu?" tanya kak Rahma sembari memandang wajahku lekat-lekat.


Mataku semakin terpusat pada bibir kak Rahma yang terlihat natural.


"Kakak...,"


"Tidak apa-apa, sayang. Lakukan sebisa mu." ujar kak Rahma begitu lembut.


Aku menghela nafas sesaat, sebelum akhirnya aku mulai mencondongkan kepalaku dan mencium bibir istriku.


Rasanya sungguh luar biasa. Aku bahkan tidak bisa berkata-kata saat bibirku dengan kaku merasakan bibir kak Rahma untuk pertama kalinya.


Ada kehangatan, ada kelembutan dan kasih sayang saat bibir kami saling bertaut.


Aku yang tak begitu fasih untuk berciuman, hanya mengingat kembali ajaran mas Kaysan.


Ya... sesekali mas Kaysan tadi mengelus pipi Mbak Jani, dan menarik pinggangnya untuk saling berdekatan.


Dengan ragu-ragu aku melakukan hal itu.


Kak Rahma mengerjapkan matanya. Menatapku tajam dan tersenyum kecil.


Pembawaan kak Rahma yang dewasa dan sudah mengerti seluk-beluk dalam hal 'kejiwaan', Kak Rahma seperti paham jika aku ragu untuk menyentuhnya.


Kak Rahma melepas ciumannya. Ia mencubit pipiku dan menyandarkan kepalanya di dadaku.


Ini adalah ciuman pertama kami. Wajahku bahkan sudah tersipu malu.


"Maaf." ujarku sembari mengeratkan pelukannya.


Kak Rahma mengangguk, belum juga aku bernafas lega dan memikirkan hal selanjutnya. Kak Rahma dengan cepat merangkulkan tangannya di leherku.


"Sayang, jika kamu masih ragu. Biar kakak yang memulainya."


"Maksudnya?" Kegugupan membuatku kehilangan kepintaran.


Aku terkesiap ketika kak Rahma mulai menghirup aroma tubuhku. Dan, berakhir kecupan-kecupan di leherku. Bulu-bulu halus ku otomatis meremang. Bahkan, yang harusnya masih tertunduk diam. Kini menunjukkan gejolaknya.


Aku horny... Dihadapan kak Rahma yang mulai memainkan jari-jari lentik di punggungku.


"Kak..."


"Sssttt..." Kak Rahma menaruh jari telunjuknya di bibirku.


"Mau foreplay?" tanyanya.


"Itu apa kak?" tanyaku.


Kak Rahma tersenyum genit. Lalu, tangannya dengan lembut mengelus dadaku dan berlabuh pada tonjolan di celanaku.


"Kak!"


"Nikmatilah sayang. Kamupun juga bisa melakukannya di sini." Kak Rahma menunjuk dadanya.

__ADS_1


Belum apa-apa lututku rasanya lemas. Kak Rahma membuat tubuhku semakin menegang dengan sentuhan-sentuhannya.


Tubuhku kaku, namun naluriku mengatakan aku tidak bisa diam saja. Mengingat bahwa kak Rahma sering di gosipnya menjadi perawan tua.


Aku mencium bibir kak Rahma yang sedaritadi tersenyum lebar dan menikmati setiap detik perbuatan yang disebut foreplay.


Kak Rahma membalasnya tanpa ragu-ragu. Pun, tangannya menarik tanganku dan menaruhnya di buah dadanya.


Wow....rasanya empuk seperti bermain squisy.


Semua kejadian ini berlangsung beberapa menit. Hingga aku harus mengatur nafasku yang memburu.


Kak Rahma melepas baju tidurnya. Dan, kini. Mataku benar-benar melihat sesuatu yang aku sentuh tadi.


"Ka-kak..." Suaraku hampir tercekat ketika kak Rahma menarik tanganku untuk duduk di tepi ranjang.


"Duduklah, biar kakak bantu."


"Bantu apa kak? Aku sedang tidak dalam kesulitan." elak ku.


"Suamiku, kamu kenapa gemesin banget sih. Kakak jadi tambah sayang sama kamu."


"Kak..." Aku menahan celanaku saat kak Rahma sudah mau menariknya.


"Kakak, aku malu." ujarku.


"Lihatlah, apa kakak malu seperti ini?" tanya kak Rahma sembari menunjukkan dirinya.


"Tepis lah rasa malu jika sudah menjadi suami istri. Sayang... cepat atau lambat kita pasti akan melakukannya. Dan, kita sudah halal. Kamu ingat waktu malam Midodareni kemarin dan ustadzah Siti mengatakan bahwa berhubungan suami istri sama saja melimpahkan rezeki dan pahala."


Aku mengangguk pasrah, tapi sejujurnya aku tidak ingat apapun yang dikatakan oleh ustazah Siti waktu malam Midodareni. Yang aku ingat hanya persiapan untuk ijab Kabul dan malam pertama.


"Kakak saja yang memulainya. A-ku, pasrah jika malam ini kakak mengambil keperjakaan ku."


Kak Rahma mencium bibirku dan melanjutkan kegiatannya untuk melepas celanaku.


Aku malu, wajahku bahkan tersipu saat ini. Entah apa yang akan dilakukan kak Rahma, aku benar-benar sudah pasrah dan menikmatinya.


"Sayang, yang aktif dong. Masa kakak terus memberimu hadiah." ujar kak Rahma yang sudah mendarat dipangkuan ku.


"Iya kak... Tapi maaf kalau aku belum mahir melakukannya. Dan, kakak jangan meledekku!"


Kak Rahma menggeleng.


Dengan niat ingsun untuk membuka pintu rezeki dan pahala untuk keluarga kecilku. Aku dengan kenekatan ku dan ilmu kamasutra yang tidak aku resapi dalam-dalam, aku mulai menjamah tubuh kak Rahma. Benar atau tidak aku tidak tahu, yang penting kata mas Kaysan pemanasan, pemasukan, dan klimaks.


Dulu, ku pikir suara desahan adalah suara yang sangat menjijikkan. Tapi, saat aku mendengar suara itu dari mulut kak Rahma. Aku merasa menjadi laki-laki seutuhnya yang mampu membuat istriku melayang ke udara.


Saat tubuhku dan tubuh kak Rahma sudah benar-benar siap untuk melakukannya.


Aku membaringkan tubuhnya di atas ranjang, "Maaf ya kak, kalau Nakula nanti membuat kakak kesakitan."


"Kakak mau... Jadi jangan ragu-ragu untuk melakukannya sayang."


Dibawah lampu LED yang masih menyala terang, aku mulai menggencarkan aksiku. Membuang rasa malu dan ketidakpercayaan diri untuk membuat calon penerus keluarga ku yang cantik seperti kak Rahma, dan cool sepertiku.


Aku benar-benar menikmati setiap detik malam yang akan menjadi malam pertama ku. Meski berkali-kali aku harus menyeka air mata yang keluar membasahi pipinya.


Aku menancapnya dengan cepat. Hingga membuat sesuatu terdengar sobek dan mengeluarkan darah.


Ketidaktahuan ku membuatnya meringis kesakitan. Namun kak Rahma terus berkata untuk melanjutkannya.

__ADS_1


Aku pasrah karena sudah terlanjur basah, namun sebenarnya aku diliputi rasa bersalah saat melihat istriku harus menahan kesakitan sampai aku benar-benar klimaks.


Happy reading πŸ’šπŸ˜‚


__ADS_2