Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Antologi cerpen [ Nanang VII ]


__ADS_3

Pesta perayaan wisuda tak berhenti sampai sore hari. Malamnya kami melanjutkan pesta kecil-kecilan yang di adakan di bakery and pastry milik keluarga Rinjani.


Meski bukan cumlaude, paling tidak IP ku tidak seburuk milik Sadewa.


"Nang, temen-temen mu di ajak makan. All you can eat. Hadiah dari Bapaknya Rinjani buat kamu." ujar Bunda sambil mengerlingkan matanya.


"Mbak sama mas belum kesini, Bun?" tanyaku.


"Belum. Masih di hotel. Katanya nyusul setelah urusannya selesai. Sudah jangan dipikirin!" kata Bunda menepuk pundakku. Bunda pergi menghampiri Ibunda dan Ayahanda yang dititipi Dalilah dan Suryawijaya.


Memang, Rinjani dan Mas Kaysan gak ada akhlak. Bisa-bisanya mereka bersenang-senang diatas peliknya menenangkan Suryawijaya yang cengeng.


Pesta malam ini hanya untuk keluarga dan sahabat dekat. Dari banyaknya sahabat, yang datang hanya Nina, Aji dan Cyntia yang hadir malam ini. Mungkin karena beberapa ada yang sungkan untuk berpesta karena ada Ayahanda.


"Tumben pake gamis?" ledekku pada Cyntia. Gadis pujaan Aji itu terkekeh, "Mana mungkin aku pake celana sobek-sobek dihadapan paduka Raja. Bisa langsung di depak waktu pemeriksaan satpam!" jelas Cyntia yang membuatku tertawa.


"Rinjani dulu juga sering pakai celana gemes. Eh... sekarang kalau di rumah pakai jarik, kebaya, sendal selop, rambutnya di sanggul. Wkwkw... wanita memang perlu berubah Cyn."


"Berubah kalau sudah ada suami. Apalagi suaminya istimewa. Lah aku? Gamis ini aja pinjem kakaknya Aji!"


"Beneran, Ji?" tanyaku.


"Beneran! Daritadi sore udah ribet banget. Dandannya lama, pilih bajunya lama. Mbak Indah sampai marah-marah bajunya berantakan gara-gara doi." Aji menunjuk Cyntia dengan dagunya. Membuat Cyntia hanya menggigit bibirnya.


"Tapi cinta kan?"


"Cinta dong."


Aku tertawa. Tapi dari semua tamu undangan yang hadir, Nina yang menyita perhatianku. Dia dekat dengan Bunda, dan Si kembar. Bahkan Ayahanda juga mengenal Nina karena dia sering datang ke rumah utama.


"All you can eat, Nin. Jangan khawatir." ujarku sambil duduk di depannya.


"Aku udah overweight, Nang. Kata asisten dokter aku harus diet sehat, karena di rumah sakit aku di tuntut untuk cekatan. Capek wira-wiri bawa badan segede ini."


Aku pengen ketawa, tapi saat Nina menghela nafas panjang dengan raut wajah yang tidak semangat. Aku tahu dia juga frustasi menahan nafsu makannya.


"Berapa sih berat badanmu? Gak gemuk-gemuk amat, cuma, overweight emang gak bagus untuk kesehatan." kataku. Nina mengangguk.


"Lebih dari 100kg. He-he-he." jawab Nina malu-malu.


"Yakin gak makan kue sama sekali? Satu aja gak mau?" tanyaku. Kasian juga lihat Nina yang hanya minum air putih. Sedangkan yang lain heboh mencicipi kue buatan Laura yang khusus ia buat malam ini. Kue khas Australia yang ia jual limited edition di hari-hari biasa.

__ADS_1


"Kalau ada buah-buahan aja, Nang. Apa saja deh. Makan kue cuma satu itu nanggung enaknya!"


Aku ketawa, "Kasian banget hidupmu. Tunggu bentar. Aku ke dapur dulu."


"But perhaps, you hate a thing and it's good for you. And perhaps, you love a thing and it's bad for you." jelas Nina sebelum aku pergi ke dapur.


"And Allah knows while you not. Al Baqarah ayat 2:216." lanjutku. Nina mengangguk dan tersenyum puas.


Di dapur aku menemui pak Herman, sedangkan Laura bergabung dengan Bunda dan Ayahanda, mengasuh cucu dan anak mereka bersama.


"Cari apa?" tanya pak Herman. Beliau sedang duduk-duduk santai sambil merokok.


"Buah-buahan segar ada, Pak?" tanyaku.


"Ada di kulkas. Untuk apa? Apa mau bikin jus? Biar Bapak buatkan."


Aku menggeleng cepat, "Nina diet, Pak. Gak mau makan kue. Maunya buah-buahan segar." jelasku sambil membuka kulkas, beruntung masih ada anggur, stoberi, dan jeruk.


Pak Herman tertawa, "Baguslah kalau dia punya keinginan untuk memiliki tubuh ideal. Paling tidak dia tidak kesusahan dalam mobilitas dirinya sendiri."


Aku mengangguk sambil mencuci buah-buahan tadi. Setelah siap, aku membawanya masuk kembali ke dalam ruangan yang semakin ramai.


"Kasian banget temen kita, Nang." ujar Rinjani.


Ku taruh buah-buahan itu di depannya, "Habisin biar kenyang, kalau kurang ambil aja di dapur." kataku, duduk di depan mereka berdua.


Nina tertawa, "Sungguh makanan itu lebih berat dari godaan setan!"


"Jalani aja dulu. Tapi dietnya jangan sampai kayak Rinjani. Kerempeng!" ledekku.


"Hei! Aku gak kerempeng, cuma kurang lemak. Seminggu tiga kali aku harus olahraga. Capek, keringetan." bela Rinjani.


Aku dan Nina jengah. Pasti olahraganya juga gak jauh-jauh dari suaminya. Itu-itu saja terus yang di bicarakan sampai aku sudah bosen mendengarnya.


"Nang, besok jadi gak ke Jakarta? Anak-anak udah pada bingung mau naik bus atau kereta?" tanya Nina.


"Jadi dong. Bunda udah beliin tiket masuk. Lebih aman dan cepat pake kereta." jawabku.


"Kalian mau ngapain ke Jakarta?"


Aku dan Nina saling melempar pandang, lalu tersenyum jail.

__ADS_1


"Slipknot, Megadeth, Slayer, Within Temptation bakal manggung di Jakarta. Event Hammersonic festival."


Mata Rinjani membulat sempurna. Ia beranjak berdiri sembari mencari mas Kaysan.


"Ribet urusannya, Nang. Dia pasti minta suaminya buat ngizinin ikut ke Jakarta." jelas Nina yang sudah menghabiskan semua buah-buahannya.


"Gak papa, sekali-kali. Lagian jarang-jarang ada band kesukaan Rinjani manggung di Indonesia. Event ini bener-bener gila sih menurutku."


Nina mengangguk tanda setuju dengan gagasanku.


"Kalian pasti meracuni pikiran Rinjani!"


Mas Kaysan datang, duduk di sebelahku. Begitu juga Rinjani yang menggendong Suryawijaya kembali ke tempat duduknya semula.


Aku dan Nina mengangguk, "Ayolah mas. Kapan lagi kita main ke Jakarta. Gak bosen ngurus pabrik terus?"


"Betul banget mas. Kita cuma tiga hari kok di Jakarta. Pulang-pergi." jelas Nina.


"Sejak kapan saya jadi mas-mu?"


Nina gelagapan, ia tersenyum kikuk.


"Sejak aku dan Nanang pacaran." jawab Nina yang sontak membuatku terperanjat.


Rinjani ternganga. Mas Kaysan mengulum senyum.


"Sejak kapan kalian pacaran? Adik saja tidak pernah menjelaskan status kalian dengan kami sekeluarga." tanya mas Kaysan.


"Sejak mas Kaysan menyuruh saya berdo'a dua bulan yang lalu. Saya berdo'a agar Nanang dan Anisa putus. Ternyata Do'aku di ijabah Allah." Nina tersenyum, pipinya yang tembam dan wajahnya yang bulat semakin membuatnya terlihat gemas. Aku hampir pingsan mendengar penuturan Nina, apalagi Rinjani. Ia sudah mengguncang bahu Nina berkali-kali.


"Cuma bercanda. Jangan serius gitu." jelas Nina. "Suamimu lama-lama serem juga, Jan. Serius amat hidupnya. Sepertinya emang harus di bawa ke konser metal. Biar hidupnya rilex, santai seperti di pantai."


"Rinjani tidak boleh ikut ke Jakarta. Apapun alasannya."


"Kok gitu mas. Rinjani kan sudah jadi istri yang baik. Rinjani sudah patuh dan taat. Tidak ada hadiah ya? Sekali saja." rayu Rinjani.


"Gak ada yang ke Jakarta! Batal! Aku mau ke Jerman saja!" sergahku cepat setelah rengekannya selesai, "Kalian nikmati saja waktunya, makan yang banyak sampai kenyang terus pulang." Aku berangsur mundur dan menghampiri saudara yang lain. Tidak aku pungkiri aku masih terhenyak mendengar perkataan Nina jika kita pacaran.


Ada apa dengan Nina? Jangan-jangan dia diet untuk....


Happy reading πŸ’šπŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2