Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Kembali ]


__ADS_3

"Ayo dimakan." Ajakku saat kue spongs cake dengan lapisan coklat dan taburan parutan kelapa kering sudah siap di atas meja. Pagi-pagi sekali aku sudah berkutat di dapur untuk membuat kue Lamington, kue khas Australia. Laura mengajariku, agar aku juga belajar mengenai makanan khas negaranya.


Kaysan sedaritadi berdiri di belakangku. Ia melingkarkan tangannya di leherku dan berkali-kali mengecup puncak kepalaku.


Semua keluarga berkumpul, termasuk keluarga Laura. Ada kehangatan, ada tawa, ada canda, dan juga ada kesedihan.


Hari ini adalah hari terakhir pertemuanku dengan Kaysan. Aku tak menyangka jika Kaysan meminta libur dua hari untuk menemaniku. Aku senang sekali


"Kenapa tidak dimakan, ini kelihatannya enak." Laura memecah kesunyian, saat ia mengangguk sopan di hadapan Ayahanda dan Ibunda.


Laura membantuku memotong kue dan membaginya menjadi potongan-potongan kecil di atas piring.


"Rinjani sudah belajar banyak di kedai, jadi rasanya sudah tidak seperti dulu."


Laura tersenyum lebar, berusaha meyakinkan mereka-mereka yang pernah mencoba kue buatan ku.


"Mas, tidak mau mencobanya? Kue Jani enak mas, dibuat dengan cinta dan rasa." Ku genggam tangan Kaysan sambil mendongak ke atas, dahinya terlihat berkerut.


"Kamu yakin, dik? Berikan aku kenangan indah dengan kue buatanmu. Selama ini, kamu slalu membuat kue yang aneh-aneh rasanya." Ku cubit pelan punggung tangan Kaysan.


"Namanya juga coba-coba mas, mengertilah membuat adonan kue tak seperti membuat adonan bayi." Aku cekikikan, aku tidak mau terlihat sedih dengan perpisahan ini. Aku mau berpisah tanpa meninggalkan sendu yang membuat ku dan Kaysan semakin enggan berpisah.


"Kay, makanlah kue buatan istrimu. Tidakkah kamu melihatnya susah payah tadi membuatnya." Bela Ibunda sambil menggigit kue buatan ku. Mata Ibunda melotot, dan susah payah menelannya.


"Kenapa Ibunda? Pait? Asin? Atau kemanisan?" ujar Sadewa.


"Enak! Jika kalian tidak mau memakannya, biar Ibunda saja dan Laura yang menghabiskannya."


Ibunda mengambil piring-piring kecil dengan kue yang masih utuh di atasnya.


Ayahanda menahan miliknya, "Apa kamu yakin istriku? Rasanya tidak seperti yang Kaysan katakan tadi?" Bagaimana Ayahanda juga ragu, padahal belum pernah mencicipi kue buatanku. Ha-ha-ha, aku tertawa dalam hati. Aku bisa menggunakan titik kelemahan Ayahanda sekarang.


"Ayahanda harus tahu, bahwa tadi cucu Ayahanda juga ikut memasaknya. Pasti enak."


Alis Ayahanda terangkat, "Sepertinya cucuku nanti akan menjadi koki."


Satu suapan mendarat di mulut Ayahanda. Ayahanda tersedak.


Semua menatap tajam ke arahku, "Mbak, apa yang kamu lakukan." Sadewa mengambilkan air putih untuk Ayahanda. Dengan cepat Ayahanda meminumnya.


"Rasanya memang tidak aneh, dan terlalu enak."


Sadewa, Nakula, Keenan, Bapak, Mbah Atmoe, eyang Dhanangjaya, terlebih Kaysan tidak percaya.


Kaysan mengambil piring bagiannya. Ia melahapnya dengan cepat.


"Jangan makan sisanya!" ucap Kaysan, ia mengambil satu piring kue dengan potongan besar dan ia simpan di dalam kulkas.


"Kamu berhasil, bubu. Kuemu tidak buruk lagi." Kaysan menghadiahiku dengan banyak ciuman di pipiku.


"Kalian ciuman terus gak pernah bosan? Aku yang melihatnya saja muak." kata Sadewa, ia semalam marah-marah tanpa sebab yang aku tahu.


Aku dan Kaysan mengangkat bahu dan terkekeh, "Jangan cemburu, nanti ada saatnya kamu seperti kami."

__ADS_1


"Baguslah saat aku menikah nanti kalian sudah tua. Sudah tidak sekuat sekarang. Ha-ha-ha." Sadewa tertawa jahat. Ku balas ia dengan tawa mengejek, "Memang kapan kamu nikah, hatimu saja tak terpaku pada satu tuju. Lagian bukan Irene saja yang kamu dekati. Dasar Playboy."


Sadewa melengos, ia kesal karena sudah ketahuan.


"Besok-besok aku tidak mau curhat dengan Nakula. Ia pasti yang membocorkannya."


Nakula yang merasa di bawa-bawa, melempar tissue ke arahnya.


"Sembarangan, aku bukan penganut gosip murahan. Lagian aku dan kamu beda, aku setia!"


"Ingat, kalian ini kembar. KEMBAR!" ucapku telak dan tertawa.


Sebenarnya aku sendiri penasaran dengan kue buatanku, aku melahapnya. Benar saja, aku patut bangga dengan kue buatanku.


Kue ini sebagai bentuk pengharapanku agar, rumah tanggaku seperti kue ini. Manis dan legit. Tapi sayang, kue yang enak pasti banyak semut yang mengerubunginya.


*


Ibunda dan Laura berbincang tentang kehidupan sehari-hari mereka sebagai seorang istri dengan suami yang memiliki banyak kegiatan dan tanggung jawab. Begitu juga Ayahanda dan Bapak.


Aku yang masih terlalu kecil dan tidak paham pembicaraan mereka berempat memilih untuk mengambil kamera monolog dan mengabadikan momen berharga ini. Jarang-jarang keluarga ku berkumpul bersama, seperti ini seperti keluarga yang ada dalam bayanganku.


Memiliki ibu yang baik dan penyayang.


Memiliki ayah yang mampu melindungi ku.


Dan, memiliki adik-adik yang ceria.


Lengkap sudah kebahagiaanku. Aku terus dan terus mengabadikan momen ini. Hingga lensa kameraku menangkap sosok laki-laki yang terdiam di sudut ruangan. Kaysan.


Aku dan Kaysan duduk, membisu. Namun tatapan kami tertuju pada ruang tamu dengan gerak-gerik mereka yang asik bersandau gurau, membahas semua hal yang mampu menghangatkan suasana. Mereka seperti tak ada beban, tak seperti kami berdua yang sebentar lagi terpisah jarak dan waktu.


Ku sandarkan kepalaku di lengan Kaysan. Ia merangkulkan tangannya di pundakku.


"Aku bahagia, Jani. Aku bahagia melihat keluarga kita bersatu. Aku bahagia, jika dengan cara ini membuat segalanya membaik aku rela berpisah denganmu---hanya lima bulan saja." Kaysan mengeluarkan secarik cek dari kantong celananya, ia menaruhnya di tanganku.


"Cairkan cek ini di bank swasta yang aku tulis, gunakan untuk kebutuhanmu. Pastikan anak kita lahir dengan berat badan normal dan kebutuhannya terpenuhi. Kabari aku kapanpun kamu mau."


"Ini terlalu banyak, mas sendiri ada uang?"


Kaysan tersenyum, "Ada, untuk mentraktir anak didikku juga bisa."


Aku terkejut dengan jawaban Kaysan, jadi apa dia ada niatan menggoda anak didiknya selama tidak ada aku.


"Oh ada alasan terselubung di balik semua ini. Bagus, jangan sampai mas pulang nanti tidak bisa menemukanku dan anak ini. Awas saja, ini ancaman dariku jika mas berani main serong."


Aku melengos dan melipat kedua tanganku. Kaysan mengacak-acak rambutku, "Aku suka kamu cemburu." Ia mengambil kamera monolog milikku dan memotret wajahku yang sedang cemberut.


"Jelek!!!" kataku sambil berusahalah mengambil kameraku, "Kembalikan."


"Hahaha, coba saja." Kaysan yang tinggi ditambah tangannya yang berada di naikkan ke atas membuatku kesulitan untuk mengambilnya.


"Mas sedang mengajakku bercanda? Iya?" Aku menggelitik pinggangnya tanpa ampun. Kaysan kegelian, ia akan berteriak memintaku untuk berhenti. Wajahnya merah, perutnya mengeras. Aku tertawa puas, saat nafasnya memburu. Dengan kesal ia mengembalikan kameraku.

__ADS_1


Satu jepretan wajah konyol Kaysan sudah aku abadikan. Aku cekikikan.


"Lebih melelahkan daripada bercinta. Aku menyerah." ucapnya sambil berjalan tertatih mengambil air putih.


Aku memilih berkumpul dengan si kembar dan Keenan. Nakula dan Keenan tertawa puas melihat Sadewa yang harus mengeluarkan uang taruhannya sebagai bukti.


"Benar-benar nyesel aku ikut ke Ausie, gak ketemu Irene, kalah taruhan, sudah semalam di buat pusing dengan tingkah mas Kaysan dan ini..." Sadewa menunjukku dengan dagunya.


"Apa!?" ujarku


"Apa-apa... Lihat saja lehernya, seperti polkadot warna merah yang abstrak."


Aku menepis bahunya dan menutup leherku, aku lupa mahakarya buatan suamiku. "Suaramu menyebalkan."


Sadewa menyilangkan jari telunjuknya di depan keningku, mengataiku sinting.


"Harusnya aku Mbak yang sebel, harusnya aku yang marah mendengar suara menyebalkan itu. Mbak gak berpikir jika suara ah-ah-ah itu bisa membuat adikku ikut berkicau. Hah!!!"


Kaysan membekap mulut Sadewa, "Apa yang kamu katakan?"


Sadewa melepas paksa bekapan tangan Kaysan, "Mas dan Mbak membuatku ingin nikah muda. Ini salah kalian!"


Ibunda dan Ayahanda yang mendengar ribut-ribut menghampiri kami berlima.


"Ada apa?"


"Sadewa ingin nikah muda Ayahanda, katanya sudah gak kuat." ujar Nakula yang menggunakan kesempatan ini untuk mengerjai kembarannya.


Aku beranjak, bersembunyi di balik badan Kaysan. Tawaku ingin meledak saat Sadewa mengusap wajahnya kasar.


"Ayahanda, mas dan Mbak gak tau aturan. Mereka harusnya memiliki kamar kedap suara. Aku jijik mendengar suara mereka saat bercinta."


Ayahanda mengelus rambut Sadewa, "Sabar."


"Sabar?! Ayahanda tidak memikirkan jiwa mudaku, jiwaku meronta-ronta." Sadewa menepuk dadanya berkali-kali.


Semua tawa meledak. Sadewa menajamkan matanya ke arahku dan Kaysan.


"Apa?" tanya Kaysan. Suamiku menghentikan tawanya. Ia membalas tatapan tajam ke arah Sadewa.


"Pecat saja aku mas. Aku nyerah, aku pasrah..."


Kaysan menjentikkan jarinya di dahi Sadewa, "Jangan harap."


*


Tak lama kemudian, mobil polisi datang. Begitu juga bus mini eksekutif sewaan Ayahanda.


"Kita harus bergegas ke hotel. Kemasi barang-barang yang akan di bawa." titah Ayahanda. Semua bubar ke kamar masing-masing menyiapkan barang bawaan.


Tidak ada yang perlu aku siapkan lagi. Hanya perlu menguatkan hatiku agar tidak menangis di hadapan Kaysan.


Ku tarik koperku keluar kamar. Sejenak, ku lihat semua kenangan indah yang tertinggal di kamar bersama sejuta cerita dan harapan yang melambung tinggi. Sudah saatnya, "Aku kembali..."

__ADS_1


Happy Reading ๐Ÿ’š


__ADS_2