Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Bab 93. [ Suara hati Kaysan - BRM Nanang ]


__ADS_3

POV Kaysan.


"Ada apa Tuniang?" tanyaku saat Rinjani dan adik-adikku sudah pergi meninggalkan meja makan.


"Apa sudah kamu pastikan dia tidak hamil Kaysan?"


"Sepertinya tidak, aku belum memastikan. Ada apa Tuniang?"


"Istrimu jatuh berkali-kali."


"Jangan terlalu memaksanya Tuniang."


"Tidak. Aku tidak memaksakan istrimu untuk berlatih, Kaysan. Istrimu hanya belum terbiasa menggunakan kain jarik.


"Baiklah, ada baiknya aku menemui Rinjani. Aku ingin memastikan dia baik-baik saja." Aku memundurkan kursiku, sebelum akhirnya Tuniang Dewi menahan tanganku.


"Dia tidak apa-apa, tenanglah."


"Apa ada yang mau Tuniang lagi bicarakan?"


"Tuniang rindu dengan Mala dan keluarganya, bisakah kamu mengizinkan mereka untuk datang bertandang ke rumah ini, Kaysan?"


Aku melotot mendengar permintaan Tuniang Dewi, bagaimana bisa aku mengajak keluarga Nurmala Sari datang kesini, bagaimana dengan Rinjani nanti. Dia pasti cemburu, dia pasti memiliki praduga buruk tentangku.


"Kamu khawatir dengan istrimu?"


"Tentu! Aku harus menjaganya, karena dia sudah tahu semuanya. Dia tahu adik-adikku bukan terlahir dari rahim Ibunda. Aku tidak mau Rinjani berasumsi jika aku juga akan mengikuti jejak Ayahanda."


"Maka lakukanlah. Kamu juga harus membuktikan jika Rinjani hanya memilihmu!"

__ADS_1


"Apa maksud Tuniang?" Dahiku mengerenyit dibuatnya, Rinjani memang hanya memilihku, tidakkah mungkin dia akan memilih laki-laki lain, Sukma dan Raganya sudah aku tandai.


"Adikmu tadi pulang bersama istrimu, mereka terlihat akrab." jelas Tuniang Dewi yang semakin membuatku melotot.


"Mereka memang sering bersama, dan aku sendiri yang menyuruh Nakula dan Sadewa untuk menjaga Rinjani."


"Bagaimana dengan kakak mereka, Kaysan?"


Aku menghela nafas panjang, Nakula dan Sadewa memang memiliki seorang kakak laki-laki. Dulu, ku pikir mantan Rinjani bukanlah Bendoro Raden Mas Nanang Adiguna Pangarep, melainkan Nanang-nanang yang lain, yang tidak memiliki darah yang sama denganku, darah biru. Ternyata dugaanku salah, gadis kecil yang slalu dibangga-banggakan adikku memanglah Rinjani. Memang benar adanya, kakak Nakula dan Sadewa 'lah mantan kekasih Rinjani.


Saat itu hujan deras mengguyur peraduan, saat aku membawa adik-adikku berkumpul untuk mengumumkan pernikahanku dengan Rinjani.


BRM Nanang dengan lantang menolak pernikahanku, dia bersumpah jika aku sampai menikahi Rinjani, dia tidak akan bertandang ke rumah apapun yang terjadi, sekalipun itu termasuk tradisi sembah sujud dan hari kelahiran Ayahanda. Sebab jika tanggal ambal warsa Ayahanda, semua anak dan istri-istri Ayahanda akan berkumpul di rumah utama.


BRM Nanang 'sangat' tahu bagaimana sifat Rinjani, bagaimana kesukaan Rinjani. Akupun tidak paham kenapa BRM Nanang bisa memikat Rinjani dan membawanya dalam hinggar bingar musik metal. Apalagi caranya menyembunyikan status kebangsawannya membuatku heran, racun apa yang ia masukan dalam otak Rinjani. BRM Nanang memang menyukai musik cadas seperti BRAy Sasmita, selir Ayahanda. Sebelum bertemu dengan Ayahanda, Sasmita adalah seorang penyanyi yang mengidolakan legenda musik metal, Ozzy Osbourne pentolan dari band Black Sabbath.


Pertemuan keduanya terjadi di salah satu panggung hiburan, saat Ayahanda berkunjung sebagai tamu kehormatan selaku kepala pimpinan, sedangkan GRAy Sasmita adalah penyanyi rock era 70'an. Mereka jatuh cinta, tapi Sasmita tahu Ayahanda pasti sudah memiliki istri dan anak, jelas! Semua kelahiran dan kematian yang terjadi di kerajaan akan di umumkan besar-besaran. Kecuali pernikahan! kadang aku menyesal telah menyembunyikan status pernikahanku dengan Rinjani. Aku menyesal! andai dulu aku menahan egoku dan tetap berpacaran dengan Rinjani hingga waktunya tepat untuk sebuah pernikahan, mungkin semua tak akan serunyam ini.


Istriku tidak bersalah, dia hanyalah korban dari keegoisanku. Dulu sekali, hubunganku dengan Nanangpun biasa saja, layaknya kakak beradik, karena kami bersepuluh mempunyai kesibukan sendiri-sendiri.


BRM Nanang pergi dengan menundukkan kepalanya, dia mengucapkan ketidakadilan yang terjadi padanya. Dia berpesan kepadaku untuk menjaga Rinjani, jika tidak, "Aku akan kembali mas!" kata-katanya penuh penekanan.


"Kaysan bicarakan dengan Ibunda dan Ayahanda, Tuniang istirahatlah." kataku sambil beranjak menjauhi Tuniang Dewi. Langkahku menuju rumah utama, jika jam segini Ayahanda sibuk dengan ritus [ ritual khusus ] malamnya.


"Izinkan Kaysan untuk berbicara Ayahanda." kataku sambil membungkukkan hormat.


"Duduklah."


"Tuniang Dewi ingin bertemu dengan Keluarga Tirtodiningratan."

__ADS_1


Berbicara dengan Ayahanda memang tidak butuh basa-basi, semua harus clear dan diselesaikan, kecuali urusannya dengan Rinjani. Butuh waktu, butuh pembuktian.


"Maka lakukanlah putraku."


Aku ingin menolaknya, jelas ini akan membuat Rinjani terasingkan. Sedangkan Ayahanda adalah laki-laki dengan wibawa tinggi dan 'sama' sepertiku, tidak menerima bantahan.


"Sudah lama Ayahanda tak bertemu mantan calon besan, putraku. Memang ada baiknya keluarga Tirtodiningratan bertandang ke sini, ada beberapa hal yang Ayahanda ingin bicarakan."


"Hentikan perjodohan dengan Nurmala Sari!" Tanganku mengepal kuat, geram.


"Memang apa yang bisa istrimu banggakan, putraku? Bahkan untuk melayanimu diranjang saja dia pingsan."


"Jika Ayahanda masih ingin Kaysan meneruskan tahta kerajaan, maka hentikanlah!"


"Sudah lama Tirtodiningratan bersekutu dengan kita, putraku. Jika kamu ingin keadaan baik-baik saja, maka turutilah permintaan Ayahanda. Kelak, dalam kepimpinanmu kamu butuh bantuan dari kerajaan Tirtodiningratan."


"Kaysan akan mengundurkan diri sebagai penerus tahta Hadiningrat! Jika Ayahanda masih membujuk Kaysan menikahi Nurmala Sari!" ucapku mengebu-gebu, amarah sudah menumpuk di rongga dadaku.


"Kembalikan putraku yang kamu singkirkan karena istrimu, anakku. Maka Ayahanda tak akan pernah memintamu untuk bersanding dengan Nurmala Sari, satu lagi, jika istrimu masih bertingkah laku seperti anak kecil, jangan harap kamu akan memimpin kerajaan Hadiningrat dengan baik."


"Dia masih belajar! Dan sampai kapanpun akan belajar menjadi seperti Nurmala Sari yang terus Ayahanda banggakan."


"Kembalikan Bendoro Raden Mas Nanang."


Aku berangsur mundur dan meninggalkan Ayahanda yang tersenyum lebar. Bagaimana bisa aku membawa BRM Nanang kembali ke rumah, sedangkan Rinjani tidak tahu jika mantan kekasihnya adalah adik tiri ku.


Di pinggir kolam ikan, aku frustasi. Banyak sekali yang harus aku lakukan, Gusti. Mau dibawa kemana langkah ini bersama Rinjani. Aku yang telah membawanya dalam duniaku, sedangkan aku sendiri tak bisa meyakinkan diri untuk slalu ada buat Rinjani. Istri kecil yang perlahan mengepakkan sayapnya, jika ia tak bisa terbang, dia hanya akan terjatuh, atau sayap-sayapnya akan patah.


Dikamar Rinjani seperti biasa, dia tak berubah, slalu cengengesan dan itu membuatku senang. Semakin kesini dia semakin belajar cara untuk memuaskan kebutuhan biologisku, di kursi belajar kami bersenggama layaknya tak punya tempat lain untuk bercinta. Tapi aku suka cara Rinjani menari di atasku, pinggulnya seperti baut yang sedang dimasukan di mesin bor.

__ADS_1


Bagi laki-laki ranjang adalah nyawa, sedangkan bagi perempuan perhatian adalah kebutuhan. Tak heran jika urusan ranjang dan perhatian menjadi hal yang begitu tamak dalam kehidupan berrumahtangga. Karena disitulah nyawa kehidupan pasutri.


Happy reading ๐Ÿ’š


__ADS_2