
Rasanya aku ingin menolak terbangun dari mimpi. Saat semua keluarga berkumpul di meja makan dengan wajah-wajah yang masih menegang.
Aku membantu Ibunda membuat sarapan pagi. Memasak alakadarnya karena isi kulkas sudah menepis.
"Ibunda bawa kopi kesukaan Kaysan, cah ayu. Buatlah, sekalian untuk Ayahanda dan adik-adikmu."
Mbah Atmoe dan Eyang Dhanangjaya yang tak disebutkan namanya menghampiriku, "Kami tidak dianggap?"
Aku menyengir kuda, "Kakek tentu Jani anggap, Jani'kan cucu kakek paling cantik."
Dari meja makan suara itu menggelegar, "Cucuku juga cantik!"
Itu suara Ayahanda, beliau tahu jika yang aku kandung adalah seorang putri. Semalam Ibunda menerorku dengan jenis kelamin cucunya. Aku terpaksa memberi tahu, jika tidak sampai pagi menjelang Ibunda masih bertanya bagaimana keadaan cucunya.
Sadewa lemas, ia kalah dalam taruhan. Sesuai janjinya, ia akan membelikan aku perlengkapan bayi. "Apa benar dia perempuan? Aku tidak percaya jika bukan Dokter yang mengatakannya." Cecar Sadewa, Ayahanda mengangguk.
"Setelah ini kita pergi ke rumah sakit."
ucap Ayahanda telak.
Kaysan masih diam seribu bahasa, Ayahanda masih terus menatap perutku secara intens. Aku risi sekaligus takut.
Selesai membuat enam cangkir kopi aku membawanya ke meja makan. Tanganku bergetar, ini kali kedua aku membawakan kopi untuk Ayahanda.
Dan, rasanya semakin menakutkan.
Ku taruh satu persatu kopi ke hadapan enam lelaki yang menatapku aneh, "Mbak kenapa?" tanya Nakula.
"Iya Mbak gemetar." lanjut Sadewa.
"Bubu kenapa? Sakit?" tanya Kaysan sambil memeriksa suhu di keningku.
"Bubu? Panggilan apa itu? seperti ABG saja!" Sahut Ayahanda yang menyulut emosi Kaysan.
"Bukan hak Ayahanda untuk mengatur panggilan sayangku untuk Rinjani!"
"A-ku gak papa, mas. Jani cuma gerogi."
Kaysan menyuruhku untuk duduk disampingnya, "Ayahanda tidak gigit, cah ayu. Ayahanda sudah jinak." jelas Ibunda sambil menata masakan di atas meja.
"Tapi Ayahanda dari tadi melihat perutku Ibunda, Ayahanda seperti mau mencuri anakku."
Aku menutup mulutku, saat kata-kata itu begitu mudahnya lolos dari mulutku.
Kaysan menoleh, ia menghela nafas.
"Putriku bukan barang untuk di perebutkan."
"Tidak ada yang merebutkan anak kalian, kami hanya begitu senang sebenar lagi akan menjadi Granny dan Grandpa." ucap Ibunda, beliau menaruh nasi dan lauk-pauk di piring Ayahanda.
"Eyang Kakung dan eyang Uti! Mentang-mentang di buat di luar negeri, mintanya di panggil Grandpa dan Granny." Sahut eyang Dhanangjaya.
Kaysan menghela nafas, matanya terpejam sejenak.
"Lebih baik kalian membuat adik untuk Sadewa dan Nakula. Itu akan lebih baik daripada anakku yang kalian perebutkan."
Nakula dan Sadewa melotot, mereka berteriak, "TIDAK...!!!"
Mereka merengek dihadapan Ayahanda, membuatku geli dengan alasan mereka jika memiliki adik lagi.
"Jangan Ayahanda, jangan. Nanti harta warisan tidak terbagi rata."
"Cukup kami yang menjadi anak bontot Ayahanda, tidak apa-apa jika kami di suruh-suruh dan dimarahi, asal jangan memiliki adik lagi."
"Kami mohon Ayahanda." Mereka mengatupkan kedua tangannya, berharap Ayahanda tidak membuat adik untuk mereka.
Ayahanda mengangguk, "Tidak janji."
Nakula dan Sadewa mendesah pasrah.
Aku dan Kaysan cekikikan, sambil menendang kaki di bawah meja.
__ADS_1
"Sudah musim dingin, telat sarapan, tidur di sofa. Nasib." ucap Mbah Atmoe.
"Sudah-sudah, ayo sarapan. Tidak baik membiarkan kakek-kakek menahan lapar."
Ayahanda memimpin Do'a. Dan, sarapan pun berlanjut dalam keheningan.
Pagi masih berkabut, namun Kaysan dan eyang Dhanangjaya tetap harus pergi bekerja. Sedangkan Mbah Atmoe sudah di jemput Keenan untuk pergi ke peternakan. Sadewa ikut bersamanya, dengan dalih ingin menemani Mbah Atmoe bekerja. Dia pembohong ulung, jelas Keenan sering bercerita padaku jika Sadewa sering menghubungi Irene. Teman mainnya.
Semalam Bapak tidak pulang, ia sudah mengirim pesan padaku untuk tinggal sementara di gedung KBRI. Hatinya kalut mengetahui besannya ada dirumah. Bapak belum siap bertemu dengan Ayahanda. Ah, dasar pengecut. Dimana jiwa menyebalkan itu. Jiwa yang sering bertindak seenaknya sendiri, kini justeru malah bersembunyi.
Dirumah hanya ada aku, Nakula, Ibunda dan Ayahanda. Keadaan benar-benar hening. Kaysan memberi peringatan untuk berjaga jarak antara diriku dan Ayahanda. Ibunda dan Nakula saksinya.
Sejak semalam mobil polisi masih terparkir di depan rumah. Mereka akan mengawal kemanapun Ayahanda pergi.
"Ibunda, boleh tidak Rinjani pergi ke pasar?"
"Tidak!" Itu jawaban Ayahanda.
"Ibunda, bahan masakan dan kayu bakar sudah habis. Jani harus pergi ke pasar."
"Tidak!!!"
Ayahanda berdiri, ia memanggil Nakula untuk bergabung.
"Kalian berdua tinggal di rumah saja, tunggu tukang servis pintu datang. Biar Ayahanda dan Nakula yang belanja."
Aku terhenyak mendengar permintaan Ayahanda.
"Ehm... Ehm... Ayahanda sudah tua, jadi di rumah saja." kataku sambil menunduk.
Sebenarnya aku ingin bernafas lega sejenak sebelum nanti Ayahanda akan membombardir pertahananku dan Kaysan. Aku tahu, Ayahanda pasti punya maksud lain dengan kedatangannya.
"Tidak putriku. Izinkan Ayahanda memperbaiki semuanya."
Aku terharu, mataku berkaca-kaca. Apa Ayahanda mengatakannya dengan tulus. Aku rasa iya.
Ibunda mengangguk meyakinkan.
"Nakul..."
"Hmm."
"Jaga Ayahanda." bisikku di telinganya.
"Geli Mbak!" Desis Nakula.
"He-he-he..."
Aku mengambil semua kertas dan menulis apa saja yang harus di beli. Nakula dulu pernah ikut pergi ke Queen Victoria Market. Ia pasti tidak bingung.
"Mintalah bantuan dari polisi jika kamu bingung mencarinya." Ku serahkan selembar kertas itu ke tangan Nakula.
"Uangnya?" Minta Nakula.
Aku menggeleng.
"Minta saja Ayahanda, uangnya pasti banyak." Aku tersenyum kecut.
"Dasar, kita ini tamu kehormatan. Sudah di suruh belanja, di suruh bayar. Hmm... Jangan sampai putrimu menyebalkan sepertimu Mbak!"
Ku tepis bahu Nakula, "Berdoalah yang baik-baik untuk keponakanmu. Sudah sana pergi. Jangan pulang terlalu siang."
Nakula hanya berdehem, ia menghampiri Ayahanda yang sudah siap di depan pintu.
"Biar satu polisi berjaga di sini, kalian berdua hati-hati dirumah." Ayahanda tersenyum dan melambaikan tangan.
Aku tidak tahu, sebenarnya apa yang terjadi di istana ataupun di rumah utama Ayahanda, yang pasti memang sedang terjadi sesuatu. Ayahanda pun terlihat berbeda, lebih terlihat seperti seorang ayah pada umumnya.
Ibunda menepuk sofa di sebelahnya. Menyuruhku untuk duduk disebelahnya. Sedangkan seorang polisi, duduk di sofa sambil menahan pintu.
Dia masih terlihat muda, seusia suaminya Sheila. Tampan. Aku melihatnya tersenyum ke arahku.
__ADS_1
"Akhirnya Ibunda memiliki waktu untuk berbicara denganmu, Nduk."
Aku tersenyum, "Jani kangen Ibunda."
"Setiap hari kalau bukan jatah Ibunda menemani Ayahanda, Ibunda tidur di kamar kalian. Di temani Kitty."
"Kitty?"
Ibunda mengangguk, "Iya, Ibunda berpikir kamu sudah sebesar Kitty, ternyata dugaan Ibunda benar. Kamu terlihat gendut." Ibunda mencubit pipiku dengan gemas, sang polisi yang melihatku masih tersenyum.
"Ibunda dan Ayahanda berniat menjemput kalian untuk kembali ke tanah Jawa. Mau ya cah ayu, agar Ibunda dan Ayahanda bisa menjagamu."
Aku bimbang, aku tidak mau pulang jika tidak bersama Kaysan. Bagiku Kaysan adalah separuh hidupku, tak ada Kaysan aku kesepian. Tidak ada Kaysan aku bukanlah siapa-siapa, terlebih pulang ke tanah Jawa seperti mengukir kembali kisah beberapa bulan yang lalu. Pasti sekarang sudah banyak yang mengenaliku. Bukan hanya seorang Rinjani anak metal, tapi anak mantu dari seorang Raja. Pasti keadaan tak seperti dulu lagi, dan aku takut menghadapinya sendiri.
"Jani memang berniat untuk pulang saat musim dingin, tapi Jani mau pulang bersama mas Kaysan." jelasku pada Ibunda. Ibunda mengangguk, "Nanti kita bicarakan lagi dengan Kaysan dan Ayahanda. Oke."
Ibunda mencubit pipiku lagi, "Pantas saja Kaysan gemas denganmu." Lanjutnya lagi sambil tersenyum.
"Oke. Nanti Jani buat kue yang di ajari Laura. Ibunda harus mencobanya."
Aku menguap, Ibunda menepuk pahanya memintaku untuk menyandarkan kepalaku disana. Sambil berbaring, tatapan sang polisi masih menatapku. Tugasnya memang untuk menjaga aku dan Ibunda. Tapi kelakuannya sedikit menghiburku.
"Dia memang cantik, tapi tidak sopan melihat istri orang seperti itu. Kamu bisa di bunuh Kaysan jika putraku mengetahuinya." ujar Ibunda, tentunya menggunakan bahasa Inggris.
Aku masih tersenyum, Ibunda mengelus rambutku. Lama-lama aku terpejam dan tak menghiraukan keadaan di sekitarku.
*
Bunyi sebuah mesin membuatku terbangun, mataku mengerjap-erjap. Saat mataku sudah terbuka, aku kaget sekaligus tersentak.
Ayahanda dan sang polisi duduk di sofa, berbincang-bincang sambil menunjuk diriku.
Aku merasa di telanjangi diam-diam.
"Ibunda...!!!" teriakku.
Dari arah dapur, Ibunda tergesa-gesa menghampiriku.
"Ada apa Putriku?"
"Ibunda kenapa aku di tinggal sendirian!"
"Ibunda harus memasukkan bahan makanan ke dalam kulkas dan membuat makan siang putriku. Kamu tertidur pulas, Ibunda tidak tega membangunkanmu."
jelas Ibunda yang semakin membuatku merengek.
Aku beranjak, dan berbisik di telinga Ibunda. "Jani takut melihat tingkah mereka Ibunda, Jani takut."
Nakula terkekeh, ia menunjukkan foto yang ia potret saat aku tertidur.
"Mas Kaysan akan semakin marah jika melihat ini."
"Hapus gak. Hapus!!!" Rasa kantukku perlahan menghilang. Aku khawatir, Kaysan semakin tidak mau membuka hatinya untuk Ayahanda jika ia melihat foto itu, foto dimana Ayahanda tersenyum begitu juga sang polisi.
"Nakula... HAPUS..." Aku memohon. Ibunda hanya menggeleng sambil menaruh kembali bahan masakan ke dalam kulkas.
Nakula mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, "Jangan harap!" katanya.
Aku memukul dada Nakula, "Jangan membuat suasana semakin panas!"
"Baiklah-baiklah, tapi aku akan menjadikan foto ini sebagai alat untuk menolak permintaan Mbak yang aneh-aneh." Nakula tertawa licik.
"Terserah, awas saja jika mas Kaysan sampai tahu!!!"
Aku berjalan menuju kamar dan menguncinya. Sayup-sayup masih ku dengar tawa mereka.
"Pantas aku tadi mimpi buruk."
Ku sandarkan punggungku di sandaran kursi. "Bagaimana jika mas Kaysan tidak mau pulang, bagaimana dengan anak ini. Tidak mungkin aku melahirkan disini, biayanya mahal. Belum lagi cuaca dingin pasti membuat putriku kedinginan."
Aku gelisah, aku bimbang.
__ADS_1
Happy Reading ๐