Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ kejutan ]


__ADS_3

Aku dan Kaysan terkejut bukan main, saat melihat adik-adik yang kami rindukan berada di dalam rumah. Terlebih, bunda Sasmita juga terlihat batang hidungnya.


"Mbak, Mas...." Nakula dan Sadewa berhambur mendekati kami. Mereka merentangkan kedua tangannya, memelukku dan memeluk Kaysan secara bergantian.


"Lihatlah, Mbak gendut." Belum apa-apa Sadewa sudah mengejekku. Nakula apalagi, mulutnya sudah cerewet sekali.


"Mbak kebanyakan mode getar, jadi sebentar lagi akan ada bayi pengacau ketenangan. Ketenangan untuk wikwikwik." Nakula terkekeh. Kaysan menggeleng dengan tingkah adik-adiknya.


Aku hanya membalasnya dengan senyuman, berbeda saat bunda Sasmita yang memelukku. Matanya yang sayu mulai meneteskan air mata.


"Kalian berdua memang gak waras. But congrats! Kaysan, you going to be a father, and you; a mother. I'm happy for you both." Bunda memeluk kami berdua. Berkali-kali bunda Sasmita menepuk bahu Kaysan, seperti memberi kekuatan untuk slalu bersabar.


Aku menatap Kaysan sejenak, senyumnya kaku, sepertinya Kaysan cukup tersentak dengan kehadiran mereka, saat tempat persembunyian kami begitu mudah terendus oleh adik-adik Kaysan yang masih mengingat tempat ini.


"Kalian hanya bertiga?" tanyaku.


"Ada kejutan di dalam kamar kalian, lihat saja." ucap Sadewa.


Aku dan Kaysan saling menatap.


"Mas saja yang ke kamar, aku mau ambil makanan dulu di bagasi mobil. Aku lihat tadi ada yang memberi coklat." Aku semringah, Kaysan menyerahkan kunci mobilnya. "Aku lupa, ambillah."


*


Di dalam kamar, ku dengar Kaysan meminta maaf kepada Ibunda. Ibunda berkali-kali memukul-mukul dada Kaysan. Ibunda rindu sekaligus marah dengan Kaysan. Berkali-kali mulut Ibunda menyebut Kaysan anak kurang ajar yang tidak pernah memberi kabar.


Aku diam-diam mengintip dari balik pintu. Karena sejujurnya aku juga takut bertemu dengan Ibunda.


"Jangan suka ngintip, nanti anak kalian akan begitu. Seperti Sadewa dan Nakula. Mereka berdua suka ngintip karena sewaktu hamil mereka dulu Ayahanda keseringan main petak umpet." Bunda Sasmita berdiri di belakangku, aku nyaris terantuk pintu. Hingga Kaysan dan Ibunda menghampiriku.


"Mbakyu, anakmu ini diam-diam nguping." jelas Bunda Sasmita yang menunjuk ke arahku.


"Maaf Ibunda. Maaf Mas." kataku, aku menunduk tak berani menatap wajah Ibunda yang masih memerah.


"Kalian berdua benar-benar kompak."


Sadewa dan Nakula datang, mereka menunjukkan senyum yang merekah.


"Maaf Mbak, Mas. Harusnya hanya kami berdua yang kesini untuk liburan semester. Tapi sayang, seluruh penerbangan ke luar negeri memblokir nama kami. Tidak ada yang boleh ke luar negeri, kecuali ada izin dari orangtua kami. Aku terpaksa mas, mengajak Bunda kesini." jelas Sadewa. Bunda Sasmita yang mendengar kata terpaksa akhirnya memberi jeweran di telinga Sadewa.


"Sakit, Bun." Bunda Sasmita terkekeh, "Ada baiknya Ayahanda memblokir nama-nama anak kita, kan Mbakyu. Salah-salah, tiga anak Ayahanda hilang semua." kata bunda Sasmita.


"Sudah-sudah, kamu sama anakmu sama saja Sas." Ibunda mencibir bunda Sasmita.


Aku mencium punggung tangan Ibunda, mencium kedua pipi Ibunda.


"Maafin Rinjani, Ibunda."


"Kalian tidak Ibunda maafkan jika kalian tidak ikut Ibunda pulang!"


Kaysan menghela nafas, aku tahu dari raut wajah Kaysan yang belum menginginkan untuk kembali ke tanah Jawa.

__ADS_1


"Bunda, lebih baik kita berkumpul dengan yang lain. Kaysan dan Rinjani pasti akan kembali, tapi tidak sekarang." jelas Kaysan.


"Kapan Kay, Ibunda mau kumpul dengan cucu Ibunda!" ucap Ibunda mengebu-gebu.


Kaysan merangkul pundak Ibunda, "Nanti Ibunda sayang, biarkan Kay dan Jani menikmati masa-masa kehamilan disini."


Ibunda menghela nafas, "Kalian benar-benar keras kepala."


Di ruang keluarga, semua sanak keluarga berkumpul. Termasuk Keenan yang di perkenalkan Bapak sebagai anak sambungnya.


"Banyak sekali kejutan malam ini." Ibunda berucap sambil tersenyum.


"Keen, besok ikut kami pulang ke tanah Jawa."


Keenan yang merasa takut-takut dengan kehadiran Ibunda, cukup terhenyak mendengar permintaan Ibunda.


Keenan menggeleng, semua yang ada di ruang keluarga tertawa.


"Keen, Ibunda tidak gigit, tidak makan orang. Tapi, Ayahanda mungkin iya." kataku lirih. Ibunda tersenyum dan mengelus rambutku.


"Belum saatnya membahas Ayahanda." Aku mengangguk.


"Ibunda dan bunda Sasmita membawa makanan dari rumah, mungkin kamu rindu." Aku terkekeh, dibalas Kaysan yang menggelengkan kepalanya.


"Dia akan menghabiskannya, Bunda."


"Kamu juga, Kay. Makan yang banyak, bunda melihatmu sedikit kurus."


Ibunda lalu mengambil piring dan menyuapi Kaysan.


"Mas, aku pura-pura gak tahu, aku juga gak akan bilang sama anak kita. Kalau mas Kaysan masih di suapin Ibunda." Aku memasang wajah jenaka. Kaysan mengeratkan genggaman tangannya.


"Memang kamu saja yang suka di suapin. Iri bilang bos!!!" ucap Kaysan yang kehilangan jati dirinya di hadapan kami sekeluarga.


Semua terkekeh, dan membiarkan ibu-anak itu melepas rindu.


Pesta kecil-kecilan terjadi di ruang keluarga dan taman belakang. Aku yang merasa masih muda, ikut ke pekarangan belakang rumah. Bersama adik-adikku yang muda-muda.


"Mbak, happy?" tanya Nakula.


"Tentu saja, kalau tidak. Mbak tentu gak hamil-hamil. Lihatlah, dia masih kecil." Aku mengelus perutku.


Nakula tersenyum, "Mas Nanang pacaran dengan Anisa, teman kuliah Mbak."


Senyumku masih bertengger di bibirku, "Memang sudah waktunya Nanang move on. Kenapa dia tidak ikut?"


Nakula tersenyum, "Mas Nanang menemani Ayahanda. Dia titip salam buat Mbak dan Mas."


Nakula memberiku sepucuk surat.


"Itu dari Anisa." Pantas saja, warna merah muda.

__ADS_1


"Misi ini seharusnya rahasia. Tapi keadaan benar-benar genting di tanah Jawa. Ayahanda memblokir semua nama kita."


"Bagaimana kabar Ayahanda? Sehat, kan?" Aku memasang wajah menyelidik.


"Mau dibilang sehat atau tidak, Ayahanda memang sudah tua. Sudah sering lelah, lebih lelah lagi memikirkan mas Kaysan."


Aku menatap langit malam.


"Maaf ya, gara-gara Mbak kamu juga terkena imbasnya."


Nakula menepuk bahuku, "Enggak, Mbak. Hal seperti ini pasti terjadi."


Keenan dan Sadewa datang, dengan cepatnya mereka berdua sudah akrab.


"Adikmu boleh juga, Mbak." ucap Sadewa.


"Kakaknya polisi, ati-ati aja kamu nyakitin dia sedikit saja di door." Keenan tertawa.


"Dia lucu, Mbak." kata Keenan yang mengarah pada Sadewa.


Aku ikut terkekeh saat Keenan juga memanggilku dengan sebutan Mbak.


"Rencananya besok kita mau jalan-jalan, Mbak mau ikut?"


Aku mengangkat bahu, "Harus izin dulu dengan mas Kaysan."


Ketiga laki-laki itu mendengus pelan.


"Dikit-dikit mas Kaysan, dikit-dikit mas Kaysan."


"Aku, kan istri yang patuh. Jadi harus seizin mas Kaysan." ucapku sambil mengambil beberapa kue tradisional yang dibawa Ibunda.


"Makan yang banyak, biar keponakanku gendut." Cibir Sadewa.


"Ayo taruhan, besok anak mas Kaysan sama Mbak Jani keluarnya cewek atau cowok?" Ajak Sadewa dengan ide bodohnya. Bodohnya lagi Nakula dan Keenan menyetujuinya.


"Aku cewek." Nakula


"Aku hmm... Cewek." Keenan


"Dua pilih cewek, aku pilih cowok. Dia pasti gagah seperti mas Kaysan." Sadewa dengan mantap menyebutkan pilihannya.


Aku yang mendengar hanya menggeleng dengan ide konyol mereka. Dan, taruhan bagi yang kalah adalah membelikan aku perlengkapan bayi.


"Boleh juga tuh idenya. Jangan lupa belikan juga box bayi, pampers, susu ibu menyusui, minyak telon, kalau perlu sewakan juga baby sitter." Kalimatku terurai begitu saja.


"Ngomong-ngomong soal menyusui, nanti mas Kaysan iri gak ya. Gunung kembarnya di ambil alih."


Aku tersedak kue hingga malam ini aku teriaki pembuat onar yang aku rindukan.


"SADEWA!!!"

__ADS_1


Happy Reading ๐Ÿ’š


__ADS_2