
Barang kali memang benar, pergundikan sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Ketika perempuan dengan mudahnya 'diminta' hanya dengan jentikan jari.
Di zaman yang belum mengenal kata pelakor atau pebinor. Selir sudah menjadi bagian dari kehidupan di tanah kerajaan, bahkan hingga sekarang. Tak heran, jika selir sendiri juga memiliki gelar berupa K**BRAy ; Kanjeng Bendara Raden Ayu**.
Memang sepertinya tidak lazim, ketika seorang raja tidak memiliki selir atau garwa ampeyan. Bahkan selentingan kabar jika ada salah satu Raja dari tanah Jawa memiliki selir lebih dari 40 orang, belum termasuk satu permaisuri dan empat istri sah lainnya. Banyak yang percaya jika para Raja-raja dari trah Jawa memiliki aji Asmaragama.
Ketika kelaziman ratusan tahun yang lalu masih teranut hingga sekarang, rasanya muskil jika seorang Raja bisa terlepas dari seorang selir. Semakin banyak selir semakin menunjukkan besarnya wilayah tanah kekuasaan dan kedudukan.
Aku mengerti, semua ini tak akan terlepas dari darah leluhur yang mengalir dalam darahku, tapi kelaziman seperti itu tidak akan aku terapkan pada tahun kekuasaanku. Permaisuriku hanya satu, Rinjani. Biarkan adat, budaya, dan aturan lainnya aku lanjutkan tanpa merubah paugeran yang ada, kecuali perkara ranjang.
*
Putaran roda empat terus menggelinding dengan cepat menuju tanah perkebunan di ujung kulon perkotaan. Aku meninggalkan Rinjani, dia menggerutu kesal saat tahu aku akan meninggalkannya selama tiga hari. Bukan mauku, hanya saja aku tahu sifat Ayahanda yang keras akan semakin keras jika tidak dituruti keinginannya.
Ayahanda terlahir sejak kemerdekaan ada ditangan NKRI. Ayahanda dibentuk menjadi pribadi yang kuat, segala macam ilmu beladiri Ayahanda pelajari, berkuda, memanah, sekaligus ilmu kebatinan. Ini dilakukan oleh eyang tak lain hanya untuk membentuk Ayahanda menjelma sebagai pengganti yang mumpuni dalam segala bidang, karena eyang paham. Semakin berkembangnya zaman, akan banyak perubahan yang terjadi diranah kerajaan. Maka perlu hati yang lapang dan kepala yang terbuka.
Sejatinya aku paham, Ayahanda hanya menginginkan agar semuanya selaras seperti sebelumnya. Tanpa ada problematika besar di internal kerajaan yang akan mempengaruhi pertahanan dan perlengseran jabatan.
Sepertinya aku harus kooperatif dengan masalah Ayahanda dan Rinjani, kedua orang yang aku hormati dan sayangi dalam konteks yang berbeda.
Aku adalah bentuk muda Ayahanda, dan rahim Rinjani akan membentuk cerminan diriku selanjutnya.
Mobil sampai di pekarangan rumah. Disinilah rumah yang menjadi tempat pengasinganku selama tiga hari, membayangkan Rinjani yang aku tinggalkan sendiri membuatku merasa tidak tenang. Ah! Gadis itu.
Di kediaman Juwita Ningrat.
Matahari bergulir tepat diatas kepala. Saat sukmaku selesai bercengkrama dengan pemilik alam semesta, ketukan terdengar dari balik pintu.
Aku merapikan rambutku, sambil berjalan mendekati pintu.
"Ibunda?" sapaku.
"Apa Ibunda mengganggu?" Ibunda tampak mengamati baik-baik sikapku.
"Tidak Ibunda, Ehm... ayo masuk Ibunda." ajakku sambil menggenggam tangan Ibunda.
Kami berjalan mendekati sofa yang menjadi tempatku bercengkrama dengan Kaysan sebelum ia pergi bekerja selama tiga hari. Aku kesal, dia benar-benar membuatku menyimpan rindu dengan waktu yang cukup lama. Jangankan dua Minggu, tiga hari bagiku sangat lama untuk sekarang.
"Ibunda, ada apa?"
__ADS_1
"Sepi ya tidak ada Kay?"
Aku mengangguk, "Tak apa Ibunda."
"Mainlah dengan adik-adikmu diluar, nanti akan ada tukang yang mengisi kamarmu dengan lemari baru."
"Boleh ya Ibunda, tapi kata mas Kaysan. Jani, gak boleh terlalu dekat dengan adik-adik Mas Kaysan yang laki-laki." kataku sambil menatap Ibunda.
"Yang tidak boleh itu ketika hanya berduaan saja, jika ramai-ramai tak masalah."
"Baik Ibunda."
"Rinjani, kamu sudah tahu kan kalau besok kamu akan kuliah. Sudah siap?"
Ibunda menggengam tanganku, seulas senyuman terlihat dari sudut bibirnya. Kerutan di dekat mata yang membuatku semakin merasa ada pesan yang tersirat dalam.
"Siap tidak siap Ibunda." Aku terkekeh kecil saat Ibunda mencubit hidungku,
"Ibunda seperti mas Kaysan. Suka mencubit hidungku." lanjutku.
"Hidung Kaysan mancung karena dari kecil suka Ibunda cubit, Jani." Ibunda membuka loker kecil di bagian meja didekat sofa. Sebuah album foto kecil bersampul coklat, "Lihatlah, dia adalah Kaysan kecil. Hidungnya pesek, karena ngeyel tidak mau mendengar apa perkataan Ibunda dan Ayahanda, hidungnya menjadi korban."
"Anak-anak kami di didik untuk mengerti tata krama di dalam keputren. Tapi Kaysan kecil dengan bandelnya sering bersembunyi dibalik pohon mangga yang ada di belakang istana. Bocah itu sering bolos untuk latihan menari, latihan membuat sesaji, dan upacara adat. Hingga Ayahanda sering menghukumnya."
"Menghukumnya dengan cara apa Ibunda?"
"Dikurung didalam kamar, Jani." Ibunda menutup album foto, lalu menatapku dengan paras yang sulit diartikan.
"Kamu seperti Kaysan kecil, akan belajar menari, membuat sesaji, dan belajar tata krama di rumah ini yang nantinya akan kamu terapkan saat kamu sudah menjadi Ratu."
Aku mengangguk, "Lalu jika Jani ngeyel apa Jani juga akan dihukum Ayahanda?"
Ibunda tersenyum simpul, "Apa seorang calon Ratu harus ngeyel?"
Mataku membulat, "Ibunda..."
"Menurutlah anakku, semua demi kamu dan Kaysan."
Aku menunduk, tak mengerti lagi harus berkata apa. Ibunda dengan lembut memberi belaian lembut di kepalaku.
__ADS_1
"Satu lagi anakku, jangan dimasukkan hati jika Ayahanda sedang bicara. Anggap saja itu seperti semangat yang membakar jiwamu untuk terus menjadi istri yang bisa di banggakan suamimu."
"Ibunda." ucapku lirih.
"Mainlah dengan adik-adikmu, sebelum semua waktumu tersita oleh kegiatan dan tugasmu."
"Apa uang yang diberikan mas Kaysan boleh untuk apa saja?" Ya, sebelum Kaysan pergi bekerja. Kaysan memberiku kartu debit dengan limit yang tidak aku ketahui.
"Bijaklah dalam melakukan apapun, itu saja pesan Ibunda. Satu lagi Rinjani, sering-sering minum jamu."
Pipiku tersipu, "Ibunda, apa mas Kaysan baik-baik saja?"
Di pekarangan kebun teh.
Dirumah sederhana yang terlihat seperti pondok istirahat untuk para pekerja pemetik pucuk teh ini aku merasa sepi.
Landscape siang ini tak lebih dari sekedar hamparan tanaman teh yang tumbuh dengan subur. Tumbuh diatas tanah tampak siring, menjadikan kawasan kebun teh ini menjadi daya pikat wisatawan. Banyak muda-mudi yang menghabiskan waktu disini, sekedar berpacaran atau berfoto ria dengan kerabat dekat.
Jika sudah siang, tidak ada pekerja yang membawa hasil panen mereka untuk di kumpulkan di gudang penyimpanan sebelum akhirnya di jemput truk pengangkut hasil ketikan daun teh yang nantinya akan dibawa ke pabrik pengolahan. Semua pekerja, termasuk mandor pengawas hanya akan bekerja sampai jam sembilan pagi. Tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini, kecuali hanya memeriksa kondisi perkebunan.
Bagaikan seorang Bapak yang meninggalkan anak gadis di rumah tuan tanah. Aku khawatir dengan Rinjani. Dia pasti marah karena sepertinya rindu itu akan terlalu membabi buta dan membebani hati.
Seandainya Rinjani tahu, aku juga enggan harus begini, tiga hari disini semata-mata aku lakukan untuk menenangkan hati Ayahanda.
*
Aji Asmaragama sesungguhnya memiliki ‘piwulang adiluhung' dalam mengarungi bahtera rumah tangga berupa :
(1) Asmara tantra
(2) Asmaranala
(3) Asmaratula
(4) Asmara turida
(5) Asmaradana
(6) Asmaragama
__ADS_1
Teks Asmaragama sendiri memiliki kekuatan daya magis dan semuanya tertulis dalam serat Centhini karya Raden Ngabehi Rangga Warsita. Mudahnya Asmaragama adalah kitab kamasutra dari tanah Jawa.