
Gadis itu memang suka berkelit, suka tarik-ulur. Bagaimana tidak, untuk meminangnya aku harus mencari ibunya. Tanpa ciri-ciri, tanpa sebuah nama. Licik! sekaligus pintar. Aku tahu dia sedang menguji keseriusanku, apa boleh buat. Akan ku cari ibunya sampai ketemu!
Hari itu juga aku mengumpulkan orang-orang kepercayaanku selepas mengantar pulang gadis kecilku, Jani. Di sebuah rumah khusus untuk pertemuan penting. Abdi-abdiku datang secara bersamaan, sudah lumrah jika di lingkungan kerajaan kedudukan tertinggi mendapat sebuah kehormatan khusus. Sejak masih belajar jalan, aku sudah mendapatkan perlakukan istimewa. Disegani, dituruti dan dihormati. Layaknya Ayahanda, aku Kaysan Adiguna Pangarep tak ada yang berani menentangku atau menatapku tajam. Kecuali, tatapan Rinjani.
"Gusti Pangeran Haryo Kaysan, ada apa mengumpulkan kami selarut ini?" Salah satu tetua kepercayaanku mendatangiku, tanpa aku suruh dia sudah mendaratkan tubuhnya di bangku paling ujung.
"Dengarkan aku baik-baik." Semua abdi-abdiku mengangguk, dan segera duduk melingkar seperti sedang ingin merundingkan perjanjian.
"Katakan Kaysan, ada apa? Apa Sultan Agung membutuhkan sesuatu." Aku tersenyum kecut, hanya tetua yang bergelar Abdi dalem tertinggi yang berani memanggilku Kaysan. Tapi lagi-lagi gadis itu juga pernah memanggilku, Kaysan. Sungguh gadis yang berani. Semoga keberaniannya mampu menyandingiku, nanti.
"Aku butuh informasi. Carikan, kapan dan tanggal berapa laki-laki bernama Herman melakukan sidang terakhir di pengadilan agama."
Semua orang tampak saling melempar pandang, sungguh titah yang tidak biasa. Bahkan satu RT pun memiliki nama Herman lebih dari satu. Lalu, dengan seketika mereka harus mencari keberadaan 'Herman' disuatu pengadilan agama di satu kabupaten kota. Ini memang ngawur, tapi hanya itulah clue yang diberikan Rinjani. Orangtua mereka berpisah saat sidang terakhir dan terakhir pula Rinjani dan ibunya bertemu.
"Herman? Siapa laki-laki itu, Kaysan. Ada perlu apa kamu dengannya? Katakan yang jelas! Biar kami tidak perlu pusing-pusing memikirkannya." Tetua bernama Dhanangjaya itu mengebrak meja.
"Sabar, sudah tua. Kendali emosimu Dhanangjaya." Aku tersenyum kecut sambil menajamkan pandanganku.
"Kalian dengar baik-baik, titah ini diluar kinerja kalian dikerajaan. Lakukan dengan rahasia dan hati-hati. Jika sampai terdengar keluarga atau para petinggi kerajaan. Kalian sudah tahu sendiri akibatnya." Dhanangjaya tersenyum lebar, "Kau mengancamku, Kaysan! Bahkan aku tahu semua rahasiamu!"
"Hahahaha." Aku tertawa lebar, "Jelas kamu tahu semua rahasiaku, Dhanangjaya. Bukankah saat aku kecil, kamu pulalah yang mengasuhku. Lalu, apa yang mau kamu jabarkan. Memberitahu pada semua orang, jika aku adalah korban."
Dhanangjaya tak kalah tertawa terbahak-bahak, "Apa yang perlu kami cari dengan nama Herman? Cepat katakan!"
"Cari nama itu, dan siapa mantan istri Herman. Cari data kependudukan yang memiliki anak bernama Rinjani Alianda Putri. Lakukan secepat jika perlu cari menggunakan tim ahli di bidang pengintaian dan penyadapan. Aku tak yakin kalian biasa bergerak cepat jika ku lihat dari kulit-kulit kalian yang sudah berkeriput."
__ADS_1
Alis Dhanangjaya bertemu, menyeringai. "Jika memang rahasia apa boleh buat, kami akan mencarikan agen mata-mata dikota ini untuk mencari laki-laki bernama Herman dan nama mantan istrinya, Merepotkan!"
Dhanangjaya mengambil cerutu dari kantong celananya dan menyesapnya, "Kalian pulanglah, kita akan bertemu besok selepas meyelesaikan tugas di kerajaan. Ingat, jangan sampai ada orang yang curiga!" itulah titah dari Dhanangjaya sebelum akhirnya asap cerutu mengepul dari lubang hidungnya.
Dirumah khusus yang aku beli tanpa sepengetahuan keluarga, tinggallah aku dan Dhanangjaya. Dia adalah laki-laki tua yang umurnya lebih dari Ayahanda, lebih tepatnya dia adalah abdi paling tua dikeluarga kami dari penerus tahta sebelum Ayahanda. Banyak rahasia yang tersembunyi di dalam kepalanya.
"Ada apa anakku?" Dhanangjaya menanggapku seperti cucunya, cucu yang ia rawat sejak kecil. Kelakuan nakal ku saat kecil dialah yang tahu, dia juga adalah guruku. Guru dalam banyak hal.
"Apa pernikahan berbeda kasta bisa dilakukan di dalam kerajaan eyang?"
"Katakan apa maksudmu?"
"Herman adalah bapak dari kekasihku, Rinjani."
"Rinjani? Gadis yang tempo lalu dibicarakan abdi-abdi estri di rumahmu?"
"Hahaha, kurang ajar. Aku yang setua ini masih harus memanggilmu dengan embel-embel kerajaan. Lalu, apa maksudmu dengan pernikahan berbeda kasta, kau ingin menikahinya Kaysan?"
"Katakan sebab dan akibatnya eyang?"
Dhanangjaya menjejakkan putung cerutu ke dalam asbak.
"Sejatinya pernikahan berbeda kasta tidaklah ada. Semua umat manusia 'sama' dimata sang Kuasa. Hanya saja, darah yang mengalir dalam darahmu adalah darah turun temurun dari leluhurmu. Darah istimewa! Sebab, jika pernikahan berbeda kasta terjadi karena kamu menginginkan gadis itu, tak akan ada yang melarangmu, bahkan rakyat pun akan patuh dengan pilihanmu. Hanya saja akibatnya adalah pada gadis itu. Kamu tahu Kaysan, butuh satu wanita yang kuat dalam sebuah pimpinan."
Aku menghela nafas panjang dan ragu akan ucapan Dhanangjaya, memang butuh wanita kuat dalam sebuah pimpinan, terlebih yang akan aku pimpin bukan kerajaan kecil, melainkan kerajaan yang sudah berdiri sejak ribuan tahun yang lalu, "Ayahanda sudah merestuiku untuk memilih gadis biasa. Hanya saja gadis itu memintaku untuk mencari ibunya, sebagai imbal balik dia berjanji menikah denganku."
__ADS_1
"Ya, bisa diakui dia cukup berani menyuruhmu. Tunggu kabar besok, biar aku yang memimpin pasukan pemburu cinta."
Dhanangjaya menghampiriku, menepuk bahuku. "Jika memang pernikahan berbeda kasta itu benar-benar terjadi, eyang tidak mau sesuatu yang menimpa ibumu terulang kembali. Camkan itu baik-baik cucuku, berdamailah."
*
Siang itu aku mendapat kabar jika pasukan pemburu cinta yang dipimpin Dhanangjaya sudah bertemu dengan agen mata-mata.
Disebuah mall besar yang aku tahu adalah relasi bisnis keluarga kami, Adiguna Pangarep. Dua punggawa besar Mall yang berdiri atas dasar cinta sejati yang hanyut karena perselingkuhan. Mall itu ditunjuk sebagai dua mall yang saling tertaut antara Rindu dan Dendam masa lalu. Dua mall yang terhubung atas dasar cinta keluarga. Ya, mall itu tak lain adalah Mall Bhagawanta.
Salah satu pemiliknya adalah agen mata-mata Brandles Wolfgang, anak ketua pimpinan. Kabar yang aku baca dari Dhanangjaya, jika wanita yang bernama Jasmine Adriana sedang mengandung diusia tua.
"Ada apa eyang?" Telepon masuk dari Dhanangjaya disela-sela pekerjaanku yang membludak.
"(.....)"
"Katakan saja sejujurnya, jika memang agen profesional mereka akan menutup rapat rahasia."
"(.....)"
"Baik, lakukan saja sesuai titah. Terimakasih eyang, istirahatlah jangan terlalu dipaksa."
"(.....)"
Aku tertawa terbahak-bahak dengan ucapan terakhir Dhanangjaya, sungguh dia sedang menggerutu di cereweti ibu-ibu yang tidak mau dipanggil ibu. Jasmine Adriana lebih suka dipanggil Mommy. Tanpa pandang bulu siapa penyebutnya. Apalagi dia hamil diusia yang menginjak 41tahun, ajaib pikirku.
__ADS_1
Besok part Spesial, jangan lupa like ya ๐