Suamiku Seorang Ningrat

Suamiku Seorang Ningrat
Season 2. [ Perkara BH ]


__ADS_3

Kadang kita tak bisa mengetahui apa yang menjadi kehendak Sang Hyang Jagat untuk diri kita. Kita hanya bisa menaruh semua kepercayaan kepada-Nya, agar Sang Hyang Jagat bisa menganugerahkan keajaiban yang luar biasa di luar gegayuhan kita.


Sejatinya manusia hanya bisa menanti keajaiban atau membuat keajaiban diiringi dengan laku prihatin yang bisa kita lakukan.


Begitu juga Panji, ia diam-diam melakukan semedi dan laku prihatin yang tak kalah khusyuknya untuk menggagalkan rencana Sultan Agung Adiguna Pangarep dalam penjemputan Kaysan ke benua kangguru.


Sudah sejak zaman kerajaan sebelum Masehi. Saat sebuah kedudukan dapat membuat semua keindahan berada di genggaman tangan. Itulah yang membuat Panji gelap mata. Ia rela menggadaikan nyawanya demi niat jahat yang terselebung. Jatuh-menjatuhkan sesama anggota keluarga sudah seperti soal biasa, hingga hasrat kerakusan telah menguasainya sejak dulu. Sejak Ayahanda dipilih menjadi Raja menggantikan posisi Gusti Prabu Sultan Agung, kakek Kaysan.


Pada perjamuan terakhir, Do'a-do'a yang keluar dari mulut Panji mulai melemah, darah keluar dari hidungnya.


Hingga, ia tak sadarkan diri.


Keesokan paginya, seorang penjaga yang diutus untuk memeriksa kondisi Panji setelah 40 hari bertapa, dikejutkan oleh Panji yang sudah tergeletak di atas lantai dengan denyut nadi yang melemah.


*


"Sudah sering aku katakan padamu, jangan pernah mengusik ketenangan jiwaku jika kamu tidak mau menuai akibatnya." Suara Ayahanda terdengar tenang, tapi kalimat berikutnya begitu penuh ancaman, "Belum sampai pada titik darah penghabisan, adikku. Hiduplah dengan tenang tanpa perlu bersusah-payah menghancurkan dirimu sendiri. Satu lagi, jangan lupa, siapa yang menjagaku."


Ayahanda memberikan surat perjanjian kontrak kepada sang adik tiri,


"Kerjakan perusahaan di luar kota setelah kesembuhanmu."


Mata Panji membulat sempurna tanpa bisa berkata apa-apa. Ia cukup terhenyak mendengar permintaan sang kakak untuk mengerjakan perusahaan di luar kota, perusahaan yang bergerak di sektor industri pengolahan minyak goreng.


*


Pesawat Garuda mendarat di landasan pacu bandar udara internasional Melbourne.


Hari ini setelah empat puluh hari berjuang dengan laku prihatinnya, Ayahanda sudah bertekad untuk menjemput Kaysan dan Rinjani. Apapun hasilnya.


Satu bus aparatur negara mengamankan iring-iringan Raja dari tanah Jawa yang disambut antusias oleh duta besar RI untuk Australia. Sudah jauh-jauh hari pihak negera menghubungi kedutaan besar RI untuk menyiapkan segala pengamanan terkait keberlangsungan hidup Ayahanda selama di Melbourne, Australia.


Ayahanda tersenyum ramah khas orang Jawa. Namun wajahnya menunjukkan ketegasan dan kegetiran. Sang duta besar mengajak Ayahanda untuk berkunjung ke KBRI untuk menikmati pesta sambutan, sebelum akhirnya menuju ke kediaman Kaysan.


*


Sedangkan kedua sejoli itu sedang berada di tahap bahagia tak terkira. Kehamilan Rinjani sudah masuk usia tujuh bulan lebih. Perutnya sudah besar, berat badannya naik banyak.


Setiap ada jadwal kontrol kandungan, Kaysan tidak hanya meminta satu foto hasil USG, tapi ia akan meminta lima lembar foto dengan pose putrinya yang berbeda-beda. Sungguh permintaan calon seorang ayah yang tidak normal. Ia pikir anaknya sudah bisa berpose seperti seorang model.


"Beliin BH mas." ucap Rinjani, ia menyerahkan BH yang sudah kekecilan di tangan Kaysan.


"Udah gak cukup, kalau pakai ini Jani gak bisa nafas."


Kaysan mengangkat BH milik Rinjani, BH dengan warna hitam itu tampak kecil jika dibandingkan dengan bentuk payudara Rinjani sekarang.


"Baba malu kalau beli sendiri, bubu saja yang pilih nanti baba temani."


Rinjani cemberut, "Ini sudah musim dingin, sehari saja bubu sudah pipis berkali-kali. Baba saja, ukurannya 38B."


jelas Rinjani, ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Tangannya mengelus perutnya. "Lihat, Jani saja sekarang lebih sering memakai kaos milik baba."


Kaysan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membeli BH adalah hal konyol yang ia lakukan setelah dulu ia membelikan Rinjani pembalut.


"Sayangku Rinjani... Apa sopan menyuruh seorang suami membeli BH?"


Rinjani akan kalut jika sudah berurusan dengan tata krama terhadap suami, ia menghela nafas, "Ya sudah ayo, tapi Jani pinjem jaket baba, semua baju Jani sudah sempit."


"Cepatlah berkemas, sekalian saja nanti beli daster."


"Daster? Baby doll saja mas, Jani gak suka pakai daster."


"Hmm... Jika tidak beli saja lingerie, aku mulai suka melihatmu memakai lingerie." Senyum Kaysan menyeringai.


"Tuman!"

__ADS_1


Rinjani beranjak berdiri, ia menuju kamar dan membuka almari.


Setelah bersiap-siap dengan jaket tebal dan penutup kepala, Kaysan mengamati baik-baik tampilan Rinjani.


"Bubu, kamu terlihat tambah gendut jika seperti itu." Ejek Kaysan, sedangkan Rinjani malah mendekap erat tubuh suaminya.


"Di luar dingin, nanti kalau bubu ngompol gimana. Baba tidak malu?"


"Baba tidak malu, hanya saja nanti kamu aku tinggal pergi dan pura-pura tidak kenal."


Rinjani memukul dada Kaysan, pelan.


"Pura-pura tidak kenal? Yasudah nanti Jani beli lingerie yang banyak.


Awas saja jika mas minta jatah. Awas!" seru Rinjani sambil mengusap punggung Kaysan.


"Membayangkan bagaimana kamu memakai lingerie sudah membuat si kecil yang sangat berharga menegang." Bisik Kaysan di telinga Rinjani.


Senyum Jani mengembang,


"A kiss?"


"More."


Kaysan mengecup bibir Rinjani dengan mesranya, hingga Rinjani tak mau melepasnya.


Kaysan mendorong bahu Rinjani, bibir yang bertaut itu lepas, Jani mendongkak.


"Belum cukup."


Kaysan mengacak-acak rambut Rinjani, senyum manis terbit di bibir Kaysan.


"Jadi beli BH atau mau berakhir di kamar?" ucap Kaysan, ia merapikan rambut Rinjani yang berantakan karena ulahnya.


Rinjani kesal, "Sekali lagi."


Rinjani tersenyum saat bibir itu masih bertaut, hingga Kaysan dengan usil menggigit bibir bawahnya.


Tangan Rinjani menepuk bahu Kaysan, "Tidak ikhlas."


Kaysan tertawa, ia suka sekali melihat wajah Rinjani yang cemberut.


"Sudah ayo, keburu malam nanti tambah dingin." Ajak Kaysan sambil menarik tangan Kaysan.


*


Kaysan tak langsung mengajak Rinjani untuk belanja kebutuhan pribadinya, mereka masih berkeliling untuk menikmati kabut tebal yang menutupi seluruh wilayah Melbourne sore ini. Keadaan ini mengingatkan mereka saat pertama kali datang ke Melbourne kala itu. Kala hati mereka dirundung gelisah, takut dan marah akan perpisahan.


"Itu KBRI, tempat Bapak bekerja." jelas Kaysan sambil menunjuk gedung yang ramai dengan mobil polisi yang bersiaga.


"Mas tidak malu Bapak hanya menjadi OB dan tidak seperti yang mas harapkan saat membawa Bapak kesini?"


Kaysan fokus melihat gedung itu sekilas dan mengetuk-etuk kemudi mobil.


"Mas malu ya? Maaf mas, Jani dan Bapak hanya merepotkan mas dari dulu." Rinjani menatap wajah Kaysan lekat-lekat. "Mas... mikirin apa?"


Rinjani menepuk bahu Kaysan. Ia tersentak, hingga menekan pedal rem secara mendadak. Rinjani menjerit.


Ia memegang perutnya, hal pertama yang ia jaga setelah di dirinya sendiri.


"Maaf, Dik. Maaf." ucap Kaysan sambil mendekap tubuh Rinjani. Dalam dekapan Kaysan, Rinjani dapat merasakan detak jantung Kaysan yang berdetak cepat.


"Mas baik-baik saja? Mas kenapa pucat?" tanya Rinjani setelah Kaysan melonggarkan pelukannya.


"Kita harus pergi, rumah kita sudah tidak aman lagi." jelas Kaysan. Ia menekan pedal gas dan putar arah.

__ADS_1


"Tapi Jani harus beli BH dulu mas..."


"Nanti setelah kita pergi."


Rinjani berdecak kesal, kakinya ia gertakan di alas mobil.


"Mas mau lihat Rinjani gak pake BH terus, Jani malu."


"Aku bilang nanti ya nanti!" Kaysan sedikit membentak Rinjani. Rinjani kaget. Baru kali ini ia mendapat bentakan dari Kaysan.


*


Tanpa di sadari, Herman yang menjadi office boy di gedung KBRI dibuat kaget sekaget-kagetnya dengan kedatangan tamu istimewa yang di bicarakan rekan kerjanya.


"Aku dengar kabar yang beredar jika Raja dari tanah Jawa akan menjemput anaknya yang kabur ke sini."


"Benarkah? Kenapa tidak ada berita di media sosial?"


"Kabarnya ada pihak yang meretas situs yang mengumumkan berita itu."


Herman menaruh alat pembersih kaca, ia bergegas menuju gedung utama. Benar saja dari balik kaca jendela, ia melihat besannya dan si kembar sedang menikmati jamuan istimewa khas benua Australia.


"Kaysan dan Rinjani harus tahu." Dengan tangan gemetar, Herman mengambil ponselnya, ia berniat untuk menghubungi Rinjani.


"Angkat, Nduk. Angkat."


Herman mendesis, ia berganti menghubungi Kaysan.


Lagi-lagi panggilan itu tidak diangkat, karena Kaysan dan Rinjani sedang berdebat dan tak menghiraukan panggilan telepon.


Rinjani menangis, ia tak biasa diperlakukan kasar oleh Kaysan.


"Mas jahat, padahal Rinjani cuma minta BH."


Rinjani meronta-ronta dalam dekapan Kaysan.


"Mas minta maaf, oke. Mas salah, jangan menangis lagi." Kaysan mengelus punggung Rinjani dan terus membisikan kata maaf.


"Baiklah kita beli BH jika itu membuatmu tenang."


Rinjani mengangguk, dan menghapus air matanya.


"Semoga yang aku lihat hanya halusinasi, tadi bukan Ayahanda dan Ibunda. Tidak mungkin mereka kesini lagi." Batin Kaysan mensugesti dirinya sendiri.


Wajah Rinjani yang sembab tak menyurutkan niatnya untuk memilih BH yang sesuai ukurannya. Banyak sekali BH yang berbentuk lucu-lucu hingga Kaysan harus menahan malu karena menanggapi ocehan Rinjani untuk membantunya memilih BH mana yang seksi dan sesuai dengan kesukaan Kaysan.


"Memang ada baiknya Rinjani memiliki anak perempuan, agar kelak bukan aku yang menemaninya membeli BH."


gerutu Kaysan dalam hati, ia hanya menyingungkan senyum pias di hadapan Rinjani.


"Jadi beli lingerie?" tanya Rinjani saat ia sudah mengambil lima BH pilihan Kaysan.


"Terserah kamu saja."


"Kamu!!!" Rinjani menekan kata 'kamu' dihadapan Kaysan.


"Terserah bubu saja, yang penting jangan warna mencolok."


Kaysan bingung, baginya yang tak pernah berhadapan dengan banyak wanita membuatnya bingung untuk menghadapi tingkah perempuan yang tidak mudah ditebak, terlebih ibu hamil di depannya yang masih meracau karena Kaysan memanggilnya dengan sebutan 'kamu'.


"Mas saja yang pilih lingerienya, Jani sudah bad mood." Rinjani duduk di kursi tunggu. Bola mata Kaysan membulat sempurna saat dihadapkan dengan manekin-manekin yang menggunakan lingerie seksi.


"Duh Gusti, godaan syahwat memang ada-ada saja. Kenapa wajah manekin disini berbeda, apalagi kalau anggota SNSD yang memakainya." Kaysan senang, dan tersenyum-senyum sendiri.


"JANGAN MESUM, BUANG JAUH-JAUH PIKIRAN KOTORMU!!!" teriak Rinjani. Kaysan menyengir kuda dan meneruskan memilih lingerie yang cocok untuk Rinjani.

__ADS_1


Happy Reading ๐Ÿ’š


__ADS_2